Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Maukah Kau Diculik Olehku


__ADS_3

Eve menunduk. Padahal dirinya tidak membuat kesalahan sama seperti biasanya, tetapi mengapa sekarang dia merasa akan diinterogasi sama seperti seorang penjahat. Sekarang di hadapannya berdiri Duke of Lumiere terlihat sedang bersidekap dengan dagu mendongak, sangat congkak. Lalu di sebelahnya juga ada Declan yang menatap datar adiknya.


"Langsung saja kukatakan. Sikapmu akhir-akhir ini sangat menyebalkan dan aneh. Saudara-saudaramu menjauh karena kau selalu menutup pintu kamar sepanjang hari dan menghiraukan panggilan mereka sampai-sampai kemarin Beckett bersikap seperti pengemis yang tidak dibukakan pintu. Sebenarnya ada apa denganmu, lady."


Menyebalkan dan aneh? Ucapan itu lebih terdengar seperti hinaan menurut Eve yang sejak tadi berusaha menahan air mata. Duke sialan, awas saja nanti dia akan membalas dendam sesaat setelah menjadi kuat!


"Tidak ada apa-apa, Your Grace. Anda berleb—"


"Apa susahnya mengatakan yang sebenarnya kepada kami?!"


Eve berjengit kaget. Ya ampun!


"Kenapa Anda marah-marah."


"Aku marah karena aku berhak tahu."


"Sejak kapan Anda berhak?" Eve mengusap matanya kasar. Jangan cengeng, apalagi dihadapan duke gila ini. "Biarkan saja masalahku menjadi beban sendiri untukku, kau tidak perlu ikut campur!"


Walau kedua tangannya masih bersidekap, namun tidak bisa di dustakan bahwa hati Zachary saat ini seperti dilempari beling. Cukup sakit saat keberadaannya seolah tidak pernah dibutuhkan oleh anak perempuan satu-satunya ini.


Wajahnya mengeras.


"Katakan."


Eve mendongak.


"Katakan bagaimana caranya agar kau bisa menganggap ku sebagai ayahmu sendiri." Zachary berusaha menekan intonasi suara.


"Mengapa kau ... begitu sulit untuk percaya padaku? Sebegitu tidak pentingnya kah hubungan kita ini?"


"Jika saya melemparkan pertanyaan yang serupa, apakah hubungan kita ini penting. Kira-kira apakah jawaban Anda?" Eve berdecih lalu berdiri.


"Apapun itu terserah. Jangan halangi ke manapun aku pergi."


"Eve," panggil Declan lirih.


"Oh, aku mengerti sekarang." Zachary berbalik, senyum terluka menghiasi wajahnya dalam sekejap. "Aku dengar akhir-akhir ini kau dekat dengan putra mahkota, iya, 'kan."


Eve berhenti melangkah. Entah mengapa dia merasa gelisah bercampur sedikit takut setelah tahu bahwa Duke of Lumiere ternyata mengetahui hubungannya bersama Lucas. Pria itu ... Lucas tidak boleh terlibat lebih jauh lagi atau ia akan mendapat skandal di awal jabatannya.


"Kau bahkan belum menikah, tapi sudah berniat selingkuh, iya, kan. Bodoh, ternyata anak dan ibu sama saja. Sama-sama pengkhianat!" bentak Zachary meluap-luap.


"Jangan sebut-sebut nama mama dengan mulut kotor itu. Perlukah saya mengambilkan cermin agar bisa berkaca, bahwa Anda lah pengkhianat sesungguhnya!"


"Ibumu lebih memilih keluarganya dibandingkan aku!" Zachary mengeraskan suara. "Keluarganya itu, sama seperti inang di dalam Lumiere."


Eve menoleh lewat bahu. "Dari mana Anda mengetahui bahwa mama telah berkhianat."


"Kalian ... sudahlah. Tid—"


"Kenapa Anda tidak menanyakannya secara langsung, Your Grace. Seharusnya Anda tanyakan, mengapa Her Grace membiarkan keluarganya tinggal di sini!" sambung Eve terengah-engah.


"Anda bisa mengetahui alasannya tanpa perlu mengira-ngira...."

__ADS_1


Baik Duke, Declan, maupun Eve pun terdiam setelahnya.


"Cobalah untuk menurut sekali-sekali. Setiap kali aku bicara padamu, selalu saja terjadi perdebatan yang tidak ada habisnya." Zachary melirik Declan yang berada di sampingnya. "Bawa dia kembali ke kamarnya sebelum aku main tangan. Lady Luvena tidak boleh pergi ke mana pun sampai mendapatkan izin dariku."


Jujur di dalam lubuk hatinya, Zachary sedikit menyesali ucapannya tadi. Mengatai putrinya sendiri pengkhianat, sungguh dirinya tidak bermaksud.


Zachary kembali duduk di sebuah sofa tunggal lalu memijit kening. Emosi sesaat benar-benar berbahaya, dia tidak bisa mengontrol ucapannya lagi. Semoga saja Eve bisa memaafkan dirinya tanpa dia yang meminta maaf secara langsung. Ego Zachary terlalu besar untuk melakukan itu.


Declan mengangguk. Dia mendekat, lalu mendekap erat bahu adiknya, untuk menguatkan.


"Maafkan aku, Eve. Tapi setidaknya turutilah permintaan His Grace untuk sekali ini. Lagipula sebentar lagi Pangeran Julius akan kembali kemari untuk dirimu," bisiknya pelan.


"Aku tidak membutuhkan pria sampah itu." Declan mengeratkan cengkeramannya pada pundak Eve. Tanda peringatan. "Melihat wajahnya saja sudah membuatku malas."


"Eve...."


"Awalnya aku mengira kalau aku adalah anak yang beruntung karena terlahir sebagai Lumiere," lirih Eve menggemertak gigi. "Ternyata salah. Justru aku mendapatkan sial karenanya."


Tanpa menunggu Declan, Eve keluar dengan langkah lebar. Dadanya terasa panas, amarah begitu menguasai sampai napasnya memburu.


Ah, apakah dia tidak boleh egois atas masa depannya sendiri? Eve ingin memilih pasangan hidupnya sendiri tanpa embel-embel perjodohan. Apalagi jika dia mendapatkan pria seperti Pangeran Julius. Memang tampan, namun sikapnya dalam beberapa hari ini sungguh tidak bisa ditoleransi. Kekayaan, paras, kepopuleran, dan segalanya akan lenyap jika seseorang itu memiliki tabiat yang buruk!


Eve kembali berjalan ke kamarnya. Di depan pintu, kebetulan dia melihat Frederick, kepala pelayan sekaligus orang pertama yang bersikap ramah padanya di kastil ini. Sudah lama semenjak terakhir kali Eve melihatnya, entah apa yang dia kerjakan. Pria tua itu tak lama juga menoleh. Memberikan senyum simpul sembari membungkuk hormat.


"My Lady," sapanya sopan.


"Paman Frederick, sepertinya aku harus melupakan mimpiku."


"Di pertemuan pertama kita, aku pernah mengatakan kepadamu bahwa aku berambisi menjadi duke dan menggantikan posisi Duke of Lumiere, kan." Eve menerawang jauh, teringat akan kejadian waktu itu, di mana dia masih baru di sini. "Aku sekarang tahu, tidak mungkin anak perempuan lebih-lebih anak bungsu sepertiku ini bisa melangkahi ketiga kakak laki-laki yang cerdas seperti mereka."


"Ah, masalah itu." Frederick mengangguk-angguk. Ingatannya mengalami sedikit masalah tetapi akan hal sepenting ambisi Eve itu masih melekat sedikit di otaknya.


Pria tua itu mengembuskan napas lega. "Syukurlah jika sekarang Anda sudah mengerti."


"Tapi bukan berarti aku menyerah." Eve membuka pintu kamarnya. Sekali lagi, ditatapnya sengit pelayan yang sudah melayani keluarga Lumiere selama puluhan tahun itu. "Jika gagal menjadi duke, maka aku akan menjadi ratu!"


Eve menutup pintu, meninggalkan Frederick tertegun di depan pintunya. Sementara itu, terlihat Declan berjalan cepat ke arah pria tua itu.


"Lady Luvena?"


"Di dalam kamarnya, My Lord," sahut Frederick.


Declan berniat mengetuk pintu namun hal itu diurungkannya setelah berpikir ulang. Mungkin bicara dengannya saat ini belum kondusif mengingat Eve sendiri juga terpancing emosi.


Yah, setidaknya beri dia waktu sendiri.


"Ada apa, My Lord?" tanya Frederick lagi melihat Declan kembali menurunkan tangan.


Declan menggeleng. "Aku akan kembali nanti," ujarnya sebelum berbalik lalu meninggalkan Frederick menyelesaikan pekerjaannya di sana.


Sementara itu Eve duduk di ujung ranjang. Matanya meneliti sekitar sambil mengutuk dalam hati.


Kemewahan sialan!

__ADS_1


Sekarang dirinya tidak bisa kemana-mana. Dari balik jendela, terlihat di bawah sana penjagaan diperketat. Pintu belakang bahkan digembok sehingga tidak menyisakan akses masuk atau keluar selain gerbang utama. Benar-benar diperlakukan seperti tahanan.


tok tok


Belum ada jawaban, Eve masih termenung di depan jendela.


tok tok


Barulah gadis itu menoleh ke arah balkon. Matanya terbelalak begitu menyadari keberadaan Lucas yang terkunci di luar kamarnya. Langkah kakinya bergerak cepat, membuka balkon dan memeriksa tubuh Lucas dari atas ke bawah.


"Ada apa?"


"Kamarku sangat tinggi dan kau berhasil naik tanpa terluka sedikit pun adalah hal yang mustahil."


Sayangnya Eve tidak menemukan goresan sekecil apapun di tubuh pria itu. Lucas ini ... manusia atau bukan?!


Tak disangka, Lucas terkekeh. "Lucu."


"Siapa yang lucu?"


"Siapa lagi. Hanya ada kita berdua di sini." Tangannya tergerak untuk mencubit pelan kedua pipi Eve yang terlihat menggemaskan di matanya.


"J-jangan mengalihkan pembicaraan!" Eve tersipu. "Kau kemari. Apakah terjadi sesuatu?"


"Aku ingin meminta izin darimu."


Eve mengerjap, "izin untuk apa?"


"Izin menculikmu dari sini." Lucas menarik lembut tangan gadisnya itu lalu mengecup punggung tangannya yang masih tertutupi sarung tangan sesiku.


"My Lady, maukah kau diculik olehku?"


Sebagai respon, Eve tertawa renyah.


"Suatu kehormatan bagi saya, Yang Mulia."


...----------------...


Hallo all, long time no see!


Sedih bangettt aku lagi ujian sekolah jadi belum bisa update seminggu dua kali sama seperti biasanya. Gapapa, ya, seminggu sekali. Biasanya aku ngetik ini juga sambil nyuri-nyuri dari jam belajar. Insyaallah Mendadak Bangsawan bisa tamat sebelum ramadhan tiba aamiin, mari doakan!🤲🏻


Berarti bentar lagi mau tamat, dong, kak?🤔


Betul, tapi enggak deket-deket banget juga sih. Paling lama kira-kira ... 10 episode lagi lah. Mungkin lebih sedikit dari itu dan kalau memungkinkan bakal ada tambahan ekstra part atau spin off. Diantara dua itu, kalian suka yang mana?🤔


Ekstra part, itu episode tambahan. Bisa menceritakan cerita Lu-na yang sudah punya baby, atau sudah punya cucu, cicit, dan seterusnya....


Sedangkan spin off itu cerita lain dari tokoh sampingan. Misalkan ceritanya si Declan ketemu jodohnya, atau cerita kehidupannya putra mahkota lama a.k.a Pangeran Felix yang hidup mandiri di luar istana.


Kira-kira itu opsinya. Kalian suka yang mana, tulis di kolom komentar. Jangan lupa tinggalkan jejak suka di cerita ini🤩💙


See you next episode👋

__ADS_1


__ADS_2