
"Jangan lakukan itu lagi, Eve. Duke of Lumiere tidak pernah main-main dengan ucapannya."
Setelah Zachary pergi, barulah Beckett bersuara. Yang dimarahi Eve, tapi entah mengapa Beckett merasa jauh lebih takut. Dia takut Eve benar-benar dijatuhi hukuman karena keberaniannya barusan.
"Tidak masalah. Jika dia mau menghukum ku, ya, tidak masalah. Toh, aku memang sengaja membuatnya marah. Ternyata menyenangkan juga melihatnya emosi seperti itu. Lain kali kau juga harus membuatnya marah." Eve tertawa lalu memukul bahu Beckett dengan gestur akrab.
"Masih banyak hal menyenangkan lain selain membuat His Grace marah." Beckett mendengus. "Dan tadi, seharusnya aku mengatakan yang sebenarnya pada His Grace. Agar dia tidak salah paham. Aku yang membuat roda keretanya tidak bisa bergerak, bukan dirimu."
"Kau mau jujur atau tidak, tetap tidak berpengaruh apa-apa. Lagipula di matanya, aku sudah terlanjur dianggap buruk. Tambah buruk lagi, pun, ya tidak ada bedanya." Eve menarik lengan Beckett. "Di sini kurang menantang. Bagaimana jika kita main di luar tembok kastil?"
"Apa?!" Beckett menggeleng. "Tidak ada izin, maka tidak boleh."
"Izin siapa? Ayo—"
"Jika kalian ingin pergi, setidaknya harus izin denganku."
Eve dan Beckett sama-sama menoleh ke arah barat. Di sana, Declan menghampiri mereka sambil menunggangi kuda kesayangannya.
"Kenapa harus minta izin denganmu? Seharusnya meminta izin kepada Declan saudaraku!"
Beckett mengerjap. Di depan mereka ini, kan, memang Declan. Apa ada yang salah?
Declan memberi kode agar Beckett tetap diam.
"Memangnya kau mau mengakuinya sebagai saudara?"
Eve mengangguk, "Tentu saja. Lagipula, apa alasanku jadi menolak keberadaannya? Jika dikarenakan masa lalu, aku tidak bisa membencinya hanya karena itu. Baik aku ataupun dirinya, sama-sama memiliki kesulitan, kan?"
Declan terhenyak. Hatinya benar-benar lega saat Eve sudah menjawab hal yang menjadi bebannya selama beberapa hari ini. Jika seperti ini, Declan ingin Eve cepat-cepat tahu mana 'Declan' yang asli. Dia ingin mencurahkan isi hatinya, berbagi keluh kesah, dan ketakutannya selama ini kepada adik kecilnya itu.
"Sudah rapi. Mau pergi kemana?"
__ADS_1
Lamunan Declan terhenti. Menyadari tatapan penasaran Beckett, Declan pun menjawab, "Suatu tempat. Tolong jangan katakan kepergian ku ini kepada His Grace. Sebelum siang, aku akan kembali."
Usai mengatakan hal tersebut, tanpa berpamitan, Declan menghentakkan kekang kudanya hingga hewan berkaki empat itu melaju kencang menerobos gerbang keluar di sebelah timur. Kembali meninggalkan Eve bersama Beckett dengan tatapan bingung.
"Apa yang ingin Ethan lakukan?"
"Ethan?" Beckett mengernyit walau akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti alurnya saja. "Mana aku tahu. Dia saja tidak bilang."
Eve menghela napas. "Sudahlah, Beckett. Aku tidak berselera lagi untuk melihat-lihat luar kastil lagi."
"Tumben sekali. Jadi apa yang akan kita lakukan?"
Eve menatap Beckett dari atas ke bawah. "Apa kau tidak sesibuk Ethan? Aku lihat dia paling sibuk diantara kalian."
Tentu saja dia paling sibuk. Dia yang kau maksud itu Declan, bukan Ethan. Pewaris sah keluarga Lumiere. Ingin sekali rasanya Beckett mengatakan hal itu keras-keras. Tapi apa daya, melihat Declan tadi melarangnya bicara, membuat Becket berpikir ratusan kali untuk mengungkapkan yang sebenarnya.
"Dia sibuk karena ingin sibuk." Beckett berbalik. Namun belum melangkahkan kaki, Eve menarik kerah bajunya lebih dulu.
"Mau kemana?"
"Tidak bisa. Aku mau ikut!"
"Ikut? Ya sudah, ayo!" Sedetik kemudian, Beckett menarik tubuh Eve lalu menggendong gadis itu di atas punggungnya yang lebar, menyebabkan Eve kaget lalu refleks memukul kepala Beckett. Bukannya marah, Beckett justru membalasnya dengan tawa lepas lalu berlari kencang seperti anak kecil.
"Sialan kau, Bucket. Turunkan aku atau lehermu aku cekik!"
Bucket? Terdengar aneh. Khusus untuk Eve yang mengucapkannya, Beckett tidak masalah justru semakin senang. Ibaratnya seperti panggilan kesayangan. Tapi jika yang memanggilnya seperti itu adalah orang lain, maka siap-siap saja untuk pembalasan si bungsu Putra Lumiere.
Sementara itu, di balik jendela besar yang mengarah ke halaman kastil, sepasang mata biru memandangi dua orang kakak beradik itu dengan tatapan sulit. Di belakangnya, Baron O'Neil masih menunggu dengan patuh.
"Ternyata benar. Dia sudah mempengaruhi putraku Beckett."
__ADS_1
Baron O'Neil mengangguk setuju. "Jika begini terus, tidak heran kebaikan Lord Beckett akan dimanfaatkannya demi kekuasaan, Your Grace. Lihatlah sikapnya itu. Wanita mana yang berani bersikap begitu kurang ajarnya dengan ketiga putra Lumiere terlebih lagi ... kepada Anda."
Setelah beberapa saat bercakap-cakap mengenai ketidaksukaan mereka terhadap Eve, Frederick si pelayan utama datang dengan sepucuk surat yang diletakkan di atas bantal empuk berlapis kain merah. Setelah mengetuk pintu, Zachary menghentikan pembicaraannya dengan Baron O'Neil, lalu mempersilakan orangnya itu untuk masuk.
"Your Grace, senang melihat Anda kembali."
"Katakan."
"Istana mengirimi Anda sebuah surat." Frederick menyerahkan surat yang dia bawa dengan penuh kehati-hatian.
"Bukan surat resmi?" gumam Zachary setelah melihat bagaimana surat berlapis emas itu diserahkan begitu saja padanya tanpa disertai pengawal. Begitu dia berhasil meraih surat tersebut dan membuka bagian atasnya, aroma citrus menguar di udara.
Zachary membacanya dengan serius. Dahinya sempat mengerut, tapi beberapa saat kemudian, dia tertawa puas.
"Ada apa, Your Grace?" Frederick tidak bisa menahan rasa keingintahuannya usai melihat ekspresi Zachary barusan.
"Yang Mulia Raja ingin aku mengajak putri Margaret itu pergi ke istana." Zachary menggeleng pelan, merasa miris sekaligus senang. Melupakan dua orang yang tadi ia awasi, pria bersetelan rapi itupun duduk kembali di atas kursi kebesarannya. "Ini perintah His Majesty sendiri. Jika nanti anak kampung itu membuat masalah di sana, aku tidak akan ikut campur. Biar Yang Mulia Raja sendiri yang pada akhirnya melempar putri Margaret itu kembali ke kampung asalnya."
"Mengundang Lady Luvena?" Begitu Zachary dan Baron O'Neil menatapnya tajam, Frederick berdehem. "Tapi untuk apa?"
"Hanya ada kita bertiga. Tidak perlu memanggilnya dengan hormat begitu," sahut Zachary sinis. Padahal jika itu putranya yang lain, semua orang tetap diwajibkan memanggil dengan sebutan hormat meski dalam keadaan apapun.
"Baik. Maafkan saya."
"Sepertinya Yang Mulia ingin melihat 'barang yang ingin dijualnya'." Zachary mengetuk-ngetuk ujung mejanya, memikirkan sesuatu. "Malam ini sepertinya tidak akan sempat. Beberapa urusanku masih belum selesai. Bagaimana jika besok malam saja?"
Frederick mengangguk hormat, "Menurut saya juga begitu. Jika malam ini, gaun untuk Luvena tidak sempat dibuat. Sementara di kastil ini, hanya ada bekas gaun Lady Britney."
"Tidak ada menyuruhmu untuk membeli gaun baru." Zachary menjawabnya lugas.
"Anda ingin Luvena memakai gaun bekas?" Mata Frederick terbelalak. Menurut kebangsawanan, memakai gaun bekas sama halnya dengan kehinaan. Tidak terpandang sama sekali. Bahkan untuk bangsawan yang berstatus di bawah keluarga Lumiere saja tidak pernah memakai gaun yang sama sebanyak dua kali.
__ADS_1
"Anggap saja itu pelajaran untuknya yang berani melawanku." Zachary hanya ingin bocah itu tunduk padanya. Titik. "Jika nanti dia menangis lalu meminta maaf dan memohon padaku sampai bersujud, barulah akan aku ampuni. Walau dia adalah darah daging ku sendiri, sama seperti Declan, tinggal di kastil ini tentu saja tidak gratis. Dulu saat seusia mereka, aku juga merasakan hal yang sama."
"Bersedia menjadi bangsawan, berarti bersedia menjadi manusia tanpa perasaan. Kebebasan yang dia idam-idamkan itu ...." Zachary menutup kalimatnya dengan tatapan antara kejam dan kosong. "Hanyalah angan-angan belaka."