Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Kentaur


__ADS_3

Sama seperti namanya, festival yang diselenggarakan setahun sekali itu dalam sehari mampu membuat jalanan begitu terang benderang tak kalah dari cahaya matahari di siang hari. Di sepanjang jalan, lilin seukuran tubuh pria dewasa berjejer rapi dengan api besar yang menyala di atasnya. Selain itu, indra penciuman orang-orang benar-benar dimanjakan kali ini sebab tak mau kalah dari lilin penerangan, lilin aromaterapi juga ikut serta dalam memeriahkan festival tersebut. Tawa anak-anak dengan kembang api di tangan mereka semakin memperindah suasana. Ah, tiba-tiba Eve kembali merindukan desanya.


"Pangeran, mau?" tawar Eve menyodorkan sebatang permen kapas raksasa yang baru saja dia beli.


Lucas terkekeh. "Makanan manis hanya untuk orang yang manis juga, sama seperti dirimu."


"Berarti kau tidak manis, benar begitu?" Eve menyipitkan matanya jenaka lalu permen kapasnya tidak sengaja menyentuh pakaian yang Lucas kenakan. "Eh, maaf-maaf!"


Lucas tersenyum, "Tidak masalah. Lagipula tidak kotor."


Mengindahkan ucapan Lucas, Eve buru-buru menyapukan tangannya di permukaan dada bidang sang pangeran. Namun bukan debu yang dia dapatkan, melainkan sebuah lencana unik yang menggantung di sana membuat mata Eve berkilat, penuh penasaran.


"Apa ini?" ujarnya pada akhirnya.


"Lencana biasa. Seseorang memberikannya padaku." Senyum Lucas semakin melebar. Ah, dalam seharian ini rasanya dia selalu tersenyum, tertawa, dan senang.


"Bentuknya unik," komentar Eve masih mengamati lencana tersebut.


"Lencana ini berbentuk kentaur." Lucas kembali terhibur dengan ekspresi mengernyit Eve yang lucu. "Tahu apa itu kentaur?"


Eve mengangguk. "Makhluk mitologi berupa manusia setengah kuda. Aku pernah mendengarnya," gumam Eve lalu mendengus penasaran, "aku rasa benda ini memiliki arti. Hei, pangeran, katakan, apa yang coba kau rahasiakan?"


"Oh, terlihat jelas kalau aku menyembunyikan sesuatu? Baik-baik, aku akan mengaku." Lucas mengangkat kedua tangannya di udara. Meski begitu, senyumnya sama sekali belum surut. "Lencana kentaur memang memiliki makna tersendiri. Kelak kau akan mengetahuinya, tapi tidak sekarang."


"Ini terbuat dari besi biasa, kan?"


Lucas mengangguk. "Tidak ada yang spesial, sebenarnya."


"Hm, untuk kali ini aku coba percaya padamu. Lencana kentaur ini—"

__ADS_1


Belum sempat Eve menyelesaikan ucapannya, sekelompok prajurit yang melihat mereka si seberang jalan sana tiba-tiba menoleh dan berjalan menghampiri —bahkan hampir mengejar. Eve tidak sempat mencerna keadaan, dan syukurnya Lucas yang tanggap segera meraih tangannya dan melarikan diri dari sekelompok prajurit barusan.


"Tuan, Nona! Tunggu!"


"Eh, mereka itu...."


"Prajurit Lumiere," jawab Lucas cepat. Namun begitu dia tidak memperlambat langkahnya, justru semakin cepat. "Memang lucu untuk menghindari mereka. Tapi ada beberapa hal yang perlu kutanyakan padamu. Jadi jangan pulang dulu."


Gang-gang sempit yang dipenuhi lilin-lilin menyala rasanya sudah cukup untuk Lucas yang membawa Eve kabur. Sepersekian detik kemudian, setelah berhasil meresap semua perkataan Lucas, Eve baru merasa panik. Sekelompok prajurit yang mengejar mereka ternyata bukan prajurit biasa, melainkan prajurit dari keluarganya sendiri!


"Mengapa mereka mengejar kita seperti seorang buronan," ujar Eve dengan napas terputus-putus. Tangan kanannya senantiasa digenggam Lucas, menyebabkan percikan hangat dari telapak tangan sampai ke pipi. Ah sial, bukan saatnya tersipu disaat-saat menegangkan seperti ini.


"Mungkin mereka tahu putri tunggal Lumiere kabur dari rumah?" tebak Lucas dengan senyum misterius yang terpatri di bibirnya. Tak lama mereka berkelok, melewati sela-sela gedung yang cukup sempit, lalu bersembunyi di balik bangunan tua tak terpakai di sisi jalan lainnya.


"Tuan tadi sepertinya belum jauh. Ayo berpencar!"


Usai teriakan tersebut dan beberapa waktu berlalu, Lucas mencoba mengintip. Napas lega meluncur dari bibirnya, menandakan orang-orang Lumiere itu sudah pergi dari hadapan mereka. Perlahan dia melepaskan dekapannya dari Eve.


Menyadari tangan mereka masih bertaut, Lucas buru-buru melepaskan dengan canggung. Eve membuang muka, sementara sang pangeran berdehem sebagai peralihan dari rasa malu. Ok, anggap saja kejadian barusan tidak pernah terjadi. Titik!


"Luvena."


Setelah keterdiaman beberapa saat, Lucas bersuara, suara berat khas yang hanya dimiliki pria. Eve kembali menoleh, sedikit mendongak. Lucas cukup tinggi bagi dirinya. Di tempat yang terisolir dari festival lilin di luar sana, hanya cahaya bulan yang menjadi penerang alami mereka. Namun begitu, Eve bisa melihat dengan jelas netra jernih Lucas yang berkilau, seperti sebuah mutiara di dasar laut. Dalam sesaat, dia terpana. Seolah tersesat dan terperangkap di dalam manik kelabu gelap tersebut agar Eve tidak bisa melihat laki-laki lain selain sang pangeran.


"Jika keluargamu mengetahui kau pergi tanpa izin, apa yang akan kau lakukan?"


"Aku? Ya sudah, biar saja. Toh, kemarahan mereka sudah sering kudapatkan," jawab Eve ringan.


"Tapi kali ini beda masalah, Lady. Kau pergi bersama pria yang bukan keluargamu. Masalah ada di depan mata jika salah satu Lumiere mengetahuinya." Lucas menghela napas. "Begini saja, aku akan mengantarmu pulang. Anggap saja jalan-jalan singkat tadi cukup sebagai pemutus janjimu kepadaku beberapa waktu yang lalu. Jika Lumiere mengetahui, aku siap dihukum seorang diri, bagaimana?"

__ADS_1


Eve terdiam. Tidak dapat dibohongi, hatinya dipenuhi rasa kecewa. Dirinya terhitung jarang keluar kastil, dan itupun diperbolehkan hanya saat mengunjungi istana. Walau beberapa menit sebelumnya jantungnya berdegup kencang karena takut, bukan berarti Eve ingin mundur. Eve sudah antusias akan festival lilin pertamanya ini. Sungguh.


"Jadi?"


"Aku tetap bersamamu di sini," gumam Eve sedikit ragu. Ah, hukuman apa yang akan dibayarnya karena kesenangan sementara ini? "Jika ingin mengantarku pulang, pastikan matahari sudah terbit. Baru aku memperbolehkan dirimu mengajakku kembali masuk ke dalam sangkar emas itu lagi!"


"Syukurlah jika kau berpikiran seperti itu," ujar Lucas tertawa kecil. Benar-benar gemas sampai-sampai tangannya berani mencubit pipi Eve yang seketika memerah.


"Heh, pangeran!"


"Cukup panggil aku Lucas. Tidak perlu terlalu kaku seperti itu," balasnya lagi. "Ah, iya. Jika berada di luar istana kau bisa memanggilku dengan nama yang sama di saat awal kita berkenalan. Ingat, di balkon kamarmu hari itu."


Eve mengangguk pelan. Ah, Lucas dan Xerr itu adalah orang yang sama, namun memiliki kepribadian yang berbeda. Semacam topeng lainnya selain dari sosok pangeran?


Dan yang terpenting, Eve baru menyadari dan tahu betul apa maksud Lucas yang tiba-tiba menawarkan dirinya pulang padahal festival lilin sendiri baru saja dimulai.


Pria ini ... ingin mengetes sejauh mana keberanian Eve. Entah untuk apa, tapi kedepannya Eve merasa akan terjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari kejadian hari ini. Dan juga, pria itu belum menanyakan sesuatu tentang apa yang ingin dia tanyakan, kan?


......................


...Centaur/Kentaur...


Makhluk mitologi yang cukup terkenal dengan wujud manusia setengah kuda. Kalau pernah nonton Narnia, pasti udah gak asing sama yang satu ini🤣



cr:Pinterest


Tapi kentaur punya Lucas itu berbentuk lencana atau kayak pin gitu, yaa. Bukan orangnya beneran yang ditempel di baju😭👍🏻

__ADS_1


See you next episode, jangan sering begadang dan jaga kesehatan👋


__ADS_2