Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Kita Akan Pulang Hari Ini Juga


__ADS_3

Kereta biru tua itu baru saja terparkir rapi di depan mansion putih milik Duke of Lumiere di Kota Serenious. Seorang pria sepuh keluar dari kereta tersebut. Wajahnya yang keriput itu selalu saja menampilkan kesan angkuh dan dingin. Baron O'Neil. Walau statusnya berada di bawah Duke of Lumiere, tetapi dia selalu berhasil mempengaruhi sang duke agar selalu mengikuti sarannya.


Dia orang penting di dalam keluarga Lumiere. Walaupun statusnya hanyalah kerabat dekat paman Zachary dari pihak ibu.


"His Grace ada di dalam?"


Prajurit yang berjaga di depan pintu masuk itu mengangguk, "His Grace baru saja pulang dari tempat pembangunan stasiun kereta api beberapa jam yang lalu."


Baron O'Neil mengangguk. Langkahnya yang cepat membawanya masuk semakin dalam menuju ruangan Zachary yang berada di tengah-tengah mansion putih itu. Omong-omong tentang stasiun kereta api, beberapa bulan yang lalu Duke of Serenious pernah datang ke Carringtown untuk meminta bantuan kepada Zachary agar programnya dalam pembuatan transportasi umum itu bisa berjalan lancar. Selain masalah finansial, Duke of Serenious juga meminta pendapat Zachary mengenai desain dan tenaga kerja yang dia pilih. Oleh sebab itulah, sekarang Duke of Lumiere terdampar di Serenious.


"Your Grace."


Zachary yang awalnya sibuk memperhatikan miniatur stasiun dan kereta api itu pun menoleh ke arah pintu.


"Oh, Baron O'Neil. Baru tiba?" tanya Zachary berbasa-basi.


Pria sepuh itu melepaskan kacamatanya. Pening. Dia tampak memijit batang hidungnya yang mancung. "Perjalanan kemari sangatlah panjang. Punggung saya rasanya sakit sekali karena duduk di kereta hampir seharian penuh tanpa henti."


"Mau teh?"


Baron O'Neil mengangkat bahu, "Jika tidak merepotkan Anda."


Sembari sang baron duduk di sebuah kursi berukir, Zachary menyerahkan secangkir teh hangat yang sebelumnya sudah disiapkan. Uap hangat tampak mengepul di atasnya, menyebarkan aroma harum yang khas merebak di dalam ruangan tertutup tersebut.


"Mau gula?"


"Cukup satu saja. Penyakit saya tidak dalam keadaan baik-baik saja dalam beberapa hari ini," jawabnya sambil menerima satu blok gula batu yang diseduh hingga larut, "salah satu penyebabnya adalah kehadiran putri Anda itu. Dia benar-benar gadis nakal yang perlu dididik ulang layaknya bangsawan. Benar-benar tidak bermoral!"


"Oh ya?" Zachary tertawa, "sudah kuduga sejak awal. Margaret memang tidak pernah becus mengurus anak sampai-sampai putrinya memiliki sifat aneh seperti itu. Jangan khawatir, baron. Besok aku akan mengurus kepulangan ku ke Carringtown dan mendidik putri Margaret itu dengan benar."


Baron O'Neil sambil menyesap tehnya perlahan, memberikan ekspresi heran di balik kedua mata sayunya. "Pulang lebih awal? Apakah pekerjaan Anda di sini sudah selesai?"

__ADS_1


"Hampir selesai dan aku percaya Duke of Serenious bisa menanganinya sendiri. Hanya tersisa perkara kecil." Zachary mengambil cangkir lainnya yang berisikan kopi. Meminumnya hingga setengah sebelum dia melanjutkan, "aku ingin melihat sendiri. Seberapa mengerikannya kah gadis kecil itu sampai-sampai berhasil mengganggu kesehatanmu. Jika perbuatannya tidak bisa ditolerir, terpaksa aku mengadukan hal ini kepada His Majesty agar dia memberi keringanan lain. Seperti menarik perintah konyolnya ini misalnya. Daripada putri Margaret, akan lebih bagus jika dia memilih putri bangsawan lain yang bisa diandalkan."


Sebagai respon akhir, Zachary menggeleng merendahkan. "Kali ini aku tidak mengerti dengan pemikiran His Majesty."


"Senang mendengar respon Anda dan semoga saja His Majesty akan berbaik hati." Baron O'Neil kembali menceritakan kegelisahannya. "Your Grace, Saya harap Anda tidak terkejut akan berita ini. Sekedar informasi, dari hari pertamanya tiba, Lady Luvena berhasil membuat Lord Declan mengetahui segalanya."


Oh, jadi Margaret memberinya nama Luvena?


"Declan mengetahui segalanya? Apa maksudmu."


"Mengenai mantan duchess, Your Grace." Baron O'Neil membasahi bibirnya. "Itu ... Declan sudah mengetahui bahwa mantan duchess selama ini tidak tinggal di mansion Averish, tapi tinggal di sembarang tempat. Your Grace, jika terus begini maka tidak ada lagi cara untuk menekan Lord Declan agar mau mengikuti perintah Anda."


"Putri sialan," desis Zachary geram, "apa dia berpikir bahwa dengan mengatakan segalanya maka dia akan menang melawanku?"


Zachary tertawa sembari bertepuk tangan. Menertawakan Eve yang dia anggap hanyalah anak kecil kurang kerjaan. Baiklah kalau begitu. Sebagai tanda ketidaksukaan, Zachary akan membalasnya dengan senang hati.


"Kalau begitu tidak perlu besok. Kita akan pulang hari ini juga."


"Selanjutnya aku harus mengerjakan apa, Mia?"


Pelajaran pertamanya sudah selesai. Eve merenggangkan tubuhnya yang terasa penat. Panas matahari bahkan tidak dihiraukannya, karena di desa Eve sudah terbiasa dengan semua ini. Justru Mia yang sedari tadi tampak risau, takut kenyamanan Eve terganggu gara-gara tidak disediakan payung.


Mia menunduk, "Menjawab Anda, My Lady. Setelah ini guru tata bahasa yang akan mengajari anda. Kemungkinan beliau akan menunggu di perpustakaan."


"Aish, pelajaran yang membosankan," gerutu Eve sembari melipat kedua tangannya kesal. "Berapa bahasa yang harus aku kuasai?"


"Minimal lima bahasa. Semakin banyak, maka kredibilitas Anda sebagai seorang putri akan semakin tinggi. Mereka akan sangat menghargai Anda."


"Mereka siapa?"


"Eh?" Mia menutup mulutnya. Keceplosan. Lady Luvena memang belum diberitahu mengenai tujuannya datang kemari. Untuk hal itu biarlah duke yang menjelaskannya. "Lupakan apa yang barusan saya ucapkan. Em ... apakah Anda memerlukan sesuatu? Apa Anda haus?"

__ADS_1


Eve tahu bahwa Mia berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Namun alih-alih mengembalikan pembahasan awal mereka, Eve memilih mengikuti alur. Dia mengangguk, "Sedikit haus. Tolong bawakan minuman dingin, langsung antarkan saja ke perpustakaan."


Mia mengerti. "Ada lagi, My Lady?"


"Ah, dan juga payung. Cuacanya cukup cerah, aku tidak bisa kemana-mana tanpa payung."


"Baik, kalau begitu akan saya ambilkan."


Baru beberapa langkah Mia pergi, wanita gemuk itu kembali mendekati Eve.


"Tapi jika saya pergi, siapa yang akan bersama Anda?"


"Aku bisa sendiri, Mia. Lagipula, aku sudah hafal jalan menuju perpustakaan. Jangan khawatir, di setiap sudut bahkan ada banyak prajurit yang berjaga. Aku tidak akan tersesat," ujar Eve meyakinkan.


"Tapi ...."


"Cepatlah, Mia. Apakah kau mau menungguku sakit tenggorokan dulu baru mengambilkan air minum?" cerca Eve tak sabaran.


"B-baik, tunggu saya di perpustakaan. Tidak. Jangan kemana-mana, tunggu di sini saja dan jangan bergerak. Saya akan kembali dalam sepuluh menit!" balas Mia sebelum tubuh gempalnya itu hilang di antara pilar-pilar besar yang saling bersebelahan.


"Pelajaran bahasa itu membosankan. Jika tidak ingin aku tidur di kelas, maka biarkan aku pergi." Eve terkikik geli. Membayangkan bagaimana reaksi Mia saat tahu dirinya kabur di jam pelajaran penting.


Eve memilih pergi dari sana. Dari sudut kiri kastil, dia memilih lorong sebelah selatan. Salah satu lorong yang belum pernah dijelajahinya karena Frederick pernah mengatakan bahwa jangan sekali-kali berani menginjakkan kaki di sini.


Semakin dilarang, Eve semakin tertantang.


Dan sekarang, di sinilah dia berada. Lorong yang dipilihnya tadi membawa Eve ke sebuah ruangan luas yang gelap. Awalnya Eve tidak bisa melihat apa-apa karena tidak ada penerangan sama sekali di sana. Tapi begitu dia melihat pantulan cahaya dari beberapa pedang yang disusun rapi pada sebuah rak tepat di sampingnya, Eve tahu bahwa ada sesuatu di depan sana.


Tak lama, suara cicitan yang dilanjutkan pekikan keras mengejutkan Eve. Jantungnya sempat berdegup kencang sebelum gadis itu memutuskan hal gila yang tidak akan pernah orang lain lakukan.


Dia akan memeriksa apa yang terjadi di depan sana.

__ADS_1


__ADS_2