Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Bisakah?


__ADS_3

"Aku tidak menyangka kau akan menjadikan gaun Lady Britney seperti ini."


Sekarang Eve menjadi pusat perhatian pelayan-pelayannya. Bahkan Mia yang menyiapkan gaunnya pun ikut dibuat terperangah. Bagaimana tidak, gaun polos yang sebelumnya berwarna merah darah itu dipotongnya di bagian lengan, kemudian dijahit ulang menggunakan brokat hitam yang memamerkan lengan putih bersihnya dengan sleeve berbentuk flutter. Sebagai pelengkap, Eve menggunakan sarung tangan yang dia jahit dari kain yang sebelumnya sudah dipotong. Tak lupa juga dengan tambahan renda brokat yang sama.


"Gaun kuno bisa kau sulap menjadi gaun cantik?" Beckett masih memandang tidak percaya. "Ini benar-benar luar biasa. Bakat mu tidak perlu diragukan lagi!"


"Ibuku sering menjahit gaun untuk dijual kepada para bangsawan." Eve tersebut bangga, "apalagi saat musim debutante. Kami kadang meraup keuntungan sepuluh kali lebih banyak!"


"Sejenis bisnis keluarga, ya?" Mendengar penuturan Beckett, entah mengapa membuat Eve geli sendiri mendengarnya.


"Bukan seperti itu, hanya usaha kecil!"


"Melihat bakat mu, aku rasa kau bisa melakukannya lebih baik dari penjahit di sini." Beckett menjentikkan jarinya di hiasan kepala Eve yang dia buat dari kain brokat sisa yang dijahit membentuk beberapa kelopak bunga. "Contohnya ini. Sangat cocok untukmu."


"Tidak ada yang tidak cocok denganku."


Diiringi obrolan ringan, mereka berdua sama-sama keluar dari dalam kastil. Setelah pintu utama dibuka, terlihatlah beberapa kereta kuda yang berlambangkan bendera Lumiere tampak berjejer siap di depan anak tangga. Tapi bukan itu yang menjadi fokus Eve. Sejak tadi, dia memperhatikan Declan yang terlebih dahulu masuk ke dalam kereta pribadi miliknya lengkap dengan berlembar-lembar kertas —yang mungkin belum sempat dia baca— di tangannya.


"Apakah kita akan berada di satu kereta?"


Eve kembali menoleh ke arah Beckett. "Maaf, sepertinya kali ini tidak bisa. Bagaimana saat pulang nanti aku ikut di keretamu?"


"Ah, baiklah kalau begitu," sahut Beckett, "tapi kereta pribadi untukmu belum disiapkan. Jadi kau akan ikut kereta siapa?"


Eve menunjuk kereta yang sudah Declan naiki. "Aku ada urusan dengannya. Sebelum bocah itu kembali kabur, aku harus bicara!"


"Bocah?" Beckett mengerjap polos. Kalau Declan yang notabenenya adalah yang tertua setelah Ethan, lalu bagaimana pendapat Eve tentang dirinya?


Setelah berpamitan dan sesuai dengan perkataannya, Eve segera mendatangi Declan yang terlihat dari balik kaca sedang larut dalam bacaannya pada sebuah jurnal. Tapi sebelum Eve berhasil menyentuh gagang pintu, seseorang menginterupsi gerakannya dari belakang.

__ADS_1


"Maafkan saya, My Lady. Tetapi His Lordship sedang sibuk."


Eve memincingkan mata. "Siapa kau sehingga berani melarang ku menemui kakakku sendiri."


Mendengar suara adiknya dari arah luar, Declan menoleh ke jendela kereta. Dugaannya tidak salah. Di sana terlihat Eve yang sibuk berdebat dengan tangan kanannya sambil meletakkan kedua tangan di pinggang.


"Saya Rai. Pengawal pribadi His Lordship. Beliau sendiri yang meminta agar tidak ada seorang pun yang—"


Declan mendadak membuka pintu. "Ada apa?"


"Lady Luvena memaksa untuk masuk ke dalam kereta yang sama dengan Anda, My Lord," jawab Rai menjelaskan.


Eve menatap Declan dengan binar penuh harap di balik mata birunya itu. Ditambah dengan pipi yang mengembung lucu, entah mengapa membuat Declan tidak bisa berbuat banyak.


Pria muda itu menghela napas. Walau berberat hati, akhirnya tangan kanannya melambai, "kemari lah."


Senyum Eve merekah sempurna. Sebelum melangkah riang menghampiri sang kakak kandung, dia kembali menoleh ke arah Rai dan menjulurkan lidahnya, mengejek. Melihat hal itu Rai hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah unik anggota keluarga Lumiere termuda itu.


Usai pintu kembali ditutup Rai dari luar, Declan kembali duduk. Kedua tangannya dilipat di depan dada, "Sayangnya aku lebih senang jika gadis-gadis itu menjauhiku. Ah, sesuai nasihatmu barusan, maka aku akan bersikap semakin dingin."


Eve bersungut-sungut. "Tidak suka dengan gadis? Hm, aku curiga dengan orientasi mu."


"Eve, jaga bahasamu!"


"Iya-iya, aku hanya mengeluarkan isi hatiku. Jangan marah." Berikutnya, Eve tersenyum jahil. "Atau ... melihat dari tingkat emosimu, apa kecurigaan ku itu memang benar adanya?"


Sekarang Declan menyesal karena telah mengizinkan Eve berada satu kereta dengannya. Adik perempuannya ini ternyata sangat menyebalkan dan suka bicara seenaknya. Bukan, bukan bicara seenaknya tapi bicara apa adanya. Perlahan, mereka merasakan pergerakan pertanda bahwa kereta sudah bergerak menuju istana.


"Tampan, sih. Tapi sayangnya tidak suka lawan jenis. Iya, kan?" Ejek Eve lagi sambil memencet-mencet pipi Declan dengan jarinya.

__ADS_1


"Hentikan." Declan menepis tangan Eve sehingga gadis itu dibuatnya cemberut. "Urusanku tidak ada hubungannya denganmu. Sekarang, biar aku yang bertanya. Kenapa kau memakai gaun ini?"


Declan memonitori pakaian adiknya yang tampak ... memukau. Dia tidak suka jika adiknya menjadi pusat perhatian. Bisa-bisa, bukannya menjadi syarat perdamaian antara Sasania dan Brodsway, Eve malah menjadi istri salah satu pangeran yang menyukainya.


Iya. Itu alasan Declan sehingga dia tidak suka Eve memakai gaun yang indah. Y-ya ... Declan sendiri sebenarnya kurang yakin dengan dirinya sendiri.


"Bodoh jika aku terima-terima saja dengan gaun butut pemberian His Grace. Sebagai putri cerdas, aku harus berimprovisasi!" sahut Eve semangat. Dia memperlihatkan brokat hitam di lengannya. "Kain ini, Beckett berikan secara percuma untukku. Benar-benar saudara yang pengertian, kan?"


Declan hanya meliriknya sebentar sebelum kembali menatap deretan pohon yang diselimuti gelapnya malam. "Hanya selembar kain. Apa yang spesial dari itu?"


"Kainnya mungkin tidak spesial, tapi spesial yang aku maksud itu adalah dia yang selalu ada di saat aku memerlukan."


Deg


Ditimpa fakta tersebut, Declan merasakan sakit di dadanya. Benar. Dirinya tidak pernah ada di saat Eve dan mama mereka dilanda kesulitan. Sebagai anak laki-laki, sudah menjadi kewajibannya untuk memperhatikan keluarga inti Lumiere yang tersisa. Tapi dibalik kesedihan yang dia rasakan itu, ekspresi Declan sama sekali tidak berubah. Masih terlihat datar dan dingin.


Selanjutnya, Declan membuang muka. Dia tidak tertandingi jika dihadapkan dengan berbagai masalah politik. Tetapi jika masalah keluarga, entah mengapa hatinya tidak pernah terbiasa dengan hal itu.


"Di dunia ini, laki-laki tidak diciptakan untuk menangis!"


Sedetik kemudian Declan tersadar lalu menghela napas. Perkataan Duke of Lumiere benar. Bagi pria, tidak ada waktu untuk menangis.


Gadis itu mengamati pria muda di sebelahnya. Mendengar helaan napas Declan, Eve berpikir keras untuk memahami apa yang terjadi. Dalam hitungan detik, matanya membulat, "T-tunggu, D-Declan. Di sini aku tidak bermaksud menyinggung siapa pun!"


"Itu benar perbuatan ku, untuk apa tersinggung?" Declan memperhatikan adiknya lamat-lamat. "Kau dan juga mama sudah berjuang bertahan hidup selama ini tanpa meminta bantuan dari siapa pun. Aku mungkin terlambat, tapi ...."


"Setelah ini, biarkan aku yang melindungi kalian. Menjadi perisai di keluarga kecil kita yang tidak lagi utuh. Bisakah?"


Selanjutnya, Eve termenung. Ucapan Declan benar-benar berada di luar dugaannya. Perlahan dia mendongak, lalu mengangguk. Tak lupa sebuah senyuman lebar menghiasi paras cantiknya.

__ADS_1


"Selamat datang di keluarga kita, Kakak."


__ADS_2