
Uap dingin yang berhembus dari napas mereka bukanlah hal sulit yang harus ditaklukkan. Memang, iklim di Carmelion sangat sulit untuk ditebak. Terkadang musim salju bisa datang jauh lebih cepat dibanding tempat lain, atau bahkan lebih lama. Tetapi ini adalah para pasukan Ksatria Nyx, bukan orang yang akan gentar hanya karena iklim tak menentu. Justru dengan panjangnya musim salju, mereka dapat melatih ketahanan diri terhadap es sampai kebal dari hipotermia.
"Kemarin aku sudah mengatur strategi bersama Lady Luvena dan semua Komandan. Sesuai rencana, pasukan akan dibagi menjadi lima kelompok."
Di samping Lucas, Eve berpunggung tangan sembari menatap kagum kepada deretan Ksatria Nyx yang berbaris super rapi. Walau begitu, garis matanya tidak berubah dari dua hari yang lalu, seolah tidak ada emosi apapun dari dalam dirinya.
Akhir-akhir ini gadis itu berusaha keras untuk mengubah ekspresinya. Raut wajah datar adalah yang terbaik. Selain tidak bisa ditebak, rasa segan akan ikut muncul sejalan dengan ucapannya.
Apapun itu yang diinginkan, pasti memerlukan pengorbanan, 'kan. Dan Eve siap mengorbankan apapun agar layak berdiri di samping Lucas.
Jika Lucas setinggi langit, maka Eve siap ditempa menjadi bintang. Tidak mudah, namun semuanya akan baik-baik saja selagi mereka bersama.
Contohnya seperti saat ini. Eve tidak bisa menutupi kedinginannya. Mau bagaimana pun, dia masih belum terbiasa dengan iklim seekstrem ini, terlebih lagi terpapar langsung di alam terbuka. Tangannya bergetar dan Lucas mengetahui hal itu.
"Kelompok pertama berisi pasukan pemanah, akan ditempatkan di sisi gunung timur. Pastikan anak panah kalian sudah dilumuri pemantik api dalam dua kali tembakan, lalu untuk pemanah barisan kedua berikan mereka tembakan api. Dengan begitu api akan sulit untuk dipadamkan."
Diam-diam Lucas menarik tangan Eve masuk ke dalam jubahnya. Dingin. Sedikit rasa bersalah menyerang Lucas, dia tidak senang terhadap dirinya sendiri.
"Maaf sudah menempatkan mu di dalam kondisi seperti ini," bisiknya ditengah-tengah keheranan pasukan.
Apa yang sedang mereka bahas?
Seiring dengan tangannya yang menghangat, begitu juga dengan hatinya. Tersenyum tipis, Eve menggeleng.
"Tidak, justru aku senang bisa berada di sini bersamamu."
Seolah menular, Lucas juga tersenyum. Hanya untuk Eve. Namun berhasil membuat pasukannya sendiri gempar.
Pemimpin mereka ternyata masih bisa tersenyum? Garis bawahi, tersenyum! Selama kurang lebih sepuluh tahun mereka hampir tidak pernah melihat Lucas seekspresif sekarang. Dan ... Ya Tuhan, sepertinya calon Nyonya mereka itu benar-benar harus diperjuangkan!
Mereka hanya tidak tahu, Lucas selalu menggunakan topeng yang berbeda saat ketika dirinya menjadi pemimpin Ksatria Nyx dan menjadi Putra Mahkota. Seolah mereka adalah dua orang yang berbeda, namun berhubung saat ini di dalam pasukan belum ada yang mengetahui bahwa dirinya dan putra mahkota adalah orang yang sama, jadi sudah sewajarnya mereka hampir tidak pernah melihat Lucas versi putra mahkota yang memiliki imej ramah terhadap semua orang.
Lucas kembali menghadap ribuan pasukannya. Wajah dingin itu kembali mendominasi. Hening kembali mengambil alih.
"Kelompok kedua berisikan pasukan berpedang. Lebih baik kalian menyebar di sekitaran lembah sampai jenderal utama memberikan sinyal untuk maju."
Seorang pria berbadan kekar yang di tangan kanannya membawa gada, tampak mengangkat tangan.
"Kenapa kami harus menunggu? Bukankah kami bisa saja menyerang mereka secara langsung?"
"Aku tahu kalian semua hebat, bahkan seluruh daratan dunia juga mengakui akan hal itu. Namun kita juga memerlukan strategi agar bisa mendapatkan kemenangan telak dari mereka. Jebakan bisa diletakkan di mana saja, jadi untuk kali ini kita harus berhati-hati. Karena selama ini kita lebih fokus terhadap pembasmian pemberontakan di Sasania dan Dallindale, jadi ini adalah perang pertama kita dalam menghadapi negara lain, 'kan. Jadi ku harap jangan sampai ada yang bergerak sendiri tanpa dikomando oleh jenderal utama, mengerti?"
"Mengerti!"
Pria berbadan kekar itu mengangguk paham. "Baik, maafkan saya karena sudah meragukan Anda."
"Selanjutnya..." Lucas menoleh ke sampingnya.
"Untuk kali ini Komandan Utara tidak akan ikut dalam pasukan manapun."
__ADS_1
Bisik-bisik menyebar luas begitu Lucas menyelesaikan penyampaian strategi. Tidak ada satupun dari ksatria Nyx yang tidak mengetahui siapa Komandan Utara. Sepak terjangnya di dalam dunia pembunuhan dan kekejaman sudah bukan lagi rahasia umum. Semua orang tahu seberapa ganasnya dia, dan berhasil mengajaknya masuk ke dalam petinggi Ksatria Nyx adalah sesuatu yang luar biasa.
Namun mengapa justru yang terhebat malah disia-siakan, pikir mereka, pendek.
"Bagaimana, Komandan Utara?"
Pria yang kira-kira berusia sedikit lebih tua dari Lucas itu mengangguk.
"Pasti ada sebabnya mengapa Anda menginginkan saya untuk tidak ikut campur dalam perang ini."
"Aku suka dengan orang yang tidak bertele-tele sepertimu." Lucas kembali memperhatikan pasukannya yang sejauh mata memandang, sudah siap dengan barang bawaan mereka. Semuanya menunggang kuda agar perjalanan bisa ditempuh secepat mungkin sehingga pasokan makanan juga tidak terpakai sepenuhnya.
"Berangkat!"
Kuda-kuda itu mengikik tatkala penunggangnya menarik tali kekang dan berlari sekuat tenaga menerobos gerbang utama yang telah dibuka lebar. Sesuai arahan, mereka bergerak berdasarkan kelompok masing-masing yang setiap kelompoknya juga dipimpin oleh satu orang paling andal dan pandai membaca situasi.
"Ketua," panggil Komandan Utara, "jadi apa tugas saya?"
"Kawal Lady Luvena."
"Ap-apa?!"
"Kataku, kawal." Lucas berbaik hati mengulang ucapannya. "Jangan sampai kau mengira dirinya tidak penting sehingga tidak perlu mendapatkan pengawalan darimu."
"Ketua ... mengawal wanita hanya akan mempersulit pergerakan kita. Mengapa tidak menyuruh yang lain saja untuk melakukannya. Saya lebih berguna di medan perang ketimbang harus memijit kaki mulusnya itu, Ketua. Walau kenyataannya pahit, namun inilah kebenarannya, saya rasa dia memang tidak perlu dikawal ke sana kemari seperti seorang tuan putri. Itu risikonya. Risiko karena berani berdiri di samping Anda."
Eve mendengar itu semua namun dia masih berusaha tenang, bersikap seolah tidak tahu apapun mengenai percakapan mereka berdua. Lucas berbalik, seiring dengan ekspresinya yang berubah lucu.
"Aku harus pergi. Di sini ada Komandan Utara, Eris Greyson yang akan menjagamu."
Eve mengangguk. "Tanpanya sekalipun, aku masih bisa menjaga diri sendiri."
Eris semakin mengernyit tidak suka. Ya ampun, sombong sekali tuan putri yang manja ini. Mimpi buruk apa dia tadi malam sampai-sampai harus terlibat dengan wanita favorit ketuanya ini yang jelas-jelas bukan wanita spesial.
Menurutnya, selera Lucas sangat rendahan. Hanya bermodalkan cantik, dan pasti tidak bisa memasak —mengingat statusnya—, apalagi memegang senjata. Untuk apa dia berada di sini.
"Tidak, dia akan menggantikan ku. Maaf, kita harus berpisah untuk sementara. Tidak masalah, 'kan? Atau kau berubah pikiran dan mau ikut bersamaku sekarang?"
"Tidak masalah. Aku akan tetap di sini sampai sore, menunggu tanda-tanda dari Beckett."
"Kalau begitu aku pergi."
"Hati-hati."
Hening. Namun Lucas masih betah berdiri di tempatnya tanpa berpindah sedikitpun. Bahkan Komandan Utara di belakangnya ikut terheran-heran dengan sikap Lucas yang jauh dari biasanya.
Lucas yang ini dengan yang sering dilihatnya, seperti sosok dua orang yang berbeda!
Eve mengerutkan kening. "Ada masalah?"
__ADS_1
"Bisakah ... kau memberiku sedikit semangat. Kita akan berpisah selama beberapa hari, kan."
"Dengan cara apa?"
"Ini." Lucas menepuk pipinya lalu terkekeh geli saat tahu bagaimana ekspresi canggung Eve menatapnya. "Sekali saja, ya. Janji tidak lebih."
"I-itu ..." Eve melirik Eris susah payah.
"Oh, aku paham." Tanpa seizin Eve, Lucas berhasil mencuri ciuman di kedua pipinya. Gadis itu benar-benar malu, gurat merah bahkan menjalar sampai ke telinganya. Lucas semakin gemas melihatnya. Dibawanya Eve masuk ke dalam dekapannya yang hangat, meninggalkan Eris yang mendengus sembari memalingkan muka.
"Hei, pandai mencuri kesempatan dalam kesempitan, ya. Cepat pergi sana, pasukanmu sudah lama menunggu di gerbang depan."
"Ya, aku tahu." Lucas cemberut. "Besok sore kau harus sudah tiba di kamp, mengerti?"
"Iya, pak ketua. Saya mengerti," sahut Eve asal-asalan.
"Manis sekali." Untuk yang terakhir kalinya, Lucas memberikan usapan lembut di puncak kepalanya sembari tersenyum hangat bak mentari pagi. Katakan ... wanita mana yang tidak akan salah tingkah jika diperlakukan sedemikian istimewanya oleh orang sehebat Lucas? Eve ingin sekali berteriak senang, namun masih ada Eris tak jauh dari mereka.
"Jangan lama-lama di sini atau aku cemburu pada Komandan Utara."
Eris yang sempat mendengar ucapan terakhir Lucas sebelum dia menghentak kekang kudanya itu terperangah. Tidak perlu cemburu, Eris tidak pernah berminat kepada wanita yang hobinya hanyalah merias diri. Lebih-lebih lagi dia seorang lady entah dari keluarga mana.
"Kau Komandan Utara, kan?"
"Saya, Nona." Meski kesal, namun Eris masih berusaha bersabar dan bersikap baik.
"Tugasmu sekarang adalah memperhatikan langit. Jika ada keanehan sedikit saja dari sisi Selatan, segera melapor."
"Baik, apakah ada tugas lain?"
"Sementara hanya itu," jawab Eve sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Dan, ya, aku tidak pernah meminta Ketua memerintahkan mu menjadi pengawal ku. Tidak sama sekali. Justru sebenarnya aku masih bisa melakukan semuanya sendiri namun dia tetap bersikeras. Aku menerimamu bukan karena takut sendirian, melainkan karena tidak ingin membuatnya cemas. Jadi jangan khawatir, kau tidak perlu sampai memijit kakiku. Setelah tugas memperhatikan langit selesai, silakan pergi bergabung dengan yang lainnya dan tinggalkan aku sendiri."
Eris terdiam. Tidak menyangka Eve akan berani mengatakan hal itu kepadanya. Sepertinya salah jika dia menilai Eve sebagai putri manja karena dari yang terlihat, justru sebaliknya. Gadis ini memiliki keberanian yang jauh lebih besar dibanding gadis seusianya.
Berdiri di sampingnya, mungkin akan Eris pertimbangkan lagi.
...****************...
Udah mulai perang, nih, guys. Kira-kira persiapan apa aja yang sudah Eve dkk siapkan?
Ksatria Nyx vs Brodsway, menurut kalian siapa yang bakal menang😆
Nantikan kelanjutannya. Berhubung sebentar lagi IdulFitri, jadi bakalan ada bonus episode buat kalian😉
Jangan lupa like, komen, dan kasih vote, yaaa, kawan-kawan😱
See you next episode👋😉
__ADS_1