
Di dalam tenda, beberapa komandan kepercayaan Lucas sudah menunggu dengan raut wajah berbeda. Komandan Selatan, yang bertugas menjaga keamanan bagian selatan Pulau Carmelion sekaligus pemimpin ekspedisi pencarian harta berharga bawah laut, terlihat ... cukup berbeda dengan sebelah kaki terpotong, digantikan dengan tongkat persis seperti bajak laut.
Eve mengalihkan pandangan. Tidak etis mengamati sesuatu yang bisa saja menyinggung perasaan sang komandan. Namun berbeda dari pemikirannya, sapaan ramah yang tiba-tiba keluar dari mulut Kepala Selatan itu melunturkan keraguan Eve tentang keganasannya.
"Hoi, inikah calon istri Anda, Ketua? Tidak salah pilih, benar-benar cantik. Pantas saja Anda berambisi menghancurkan negeri lain demi bisa mendapatkannya." Lalu bersamaan dengan itu, tawanya menggelegar mirip cara tertawanya orang bar-bar. Eve mengernyit. Selama hidup di desa, dia mengenal banyak orang. Dan orang yang tipikalnya sama seperti Komandan Selatan ini, biasanya adalah orang yang paling mengerikan di medan perang. Tak salah Lucas memintanya bergabung menjadi bagian dari pasukan utama.
Lucas hanya mengangguk. Tangannya mengarah kepada Eve yang masih berdiri di sampingnya.
"Lady Luvena, putri tunggal Duke of Lumiere dan saudari kandung Lord Lumiero. Tolong perlakuan dia dengan baik sama seperti kalian memperlakukan aku," ujarnya memperkenalkan.
"Betapa beruntungnya Ketua mendapatkan wanita berkasta tinggi seperti Lady Luvena," ledek Komandan Timur yang duduk tak jauh dari Jenderal Selatan. Jika Komandan Selatan tidak memiliki kaki, maka Jenderal Timur ini tidak memiliki mata kiri. Menurut informasi, matanya rusak parah akibat tertusuk anak panah selagi ia masih kecil.
Komandan Barat, dengan keadaan fisik yang terlihat sehat-sehat saja tampak tertawa renyah. Walau sekilas terlihat tidak memiliki cacat, namun pria ini kabarnya pernah menjadi korban kebiri oleh penduduk pedalaman yang tidak pernah berinteraksi dengan manusia di luar suku mereka. "Menikah dengan Ketua sama saja dengan mempertaruhkan nyawamu sendiri, Lady. Tidak setiap saat pasukan berada di sekelilingmu. Jadi intinya, kau harus siap dengan konsekuensi apapun entah itu bisa menguntungkan atau justru merugikan dirimu sendiri. Hidup Ketua itu dipenuhi darah, jika tidak sanggup lebih baik kembali saja ke kastil mu yang nyaman."
Lucas ingin buka suara namun dengan cepat Eve mencegahnya. Wajah dingin —yang Eve percaya dapat menaklukkan tekad seseorang berdasarkan pengamatannya terhadap Declan— kini kembali dipasangnya. Dagunya diangkat sedikit, disertai tatapan memincing.
"Ho? Kalian tidak percaya dengan kemampuanku? Kalau begitu akan aku buktikan."
Diam-diam Eve tersenyum. Inilah saatnya dia menunjukkan kebolehannya dalam seni berpedang setelah berhenti berlatih selama beberapa bulan. Tepatnya setelah tinggal di kastil.
"Jangan ada satupun yang membantuku dalam perang selama seharian penuh. Jika sebelum matahari terbenam aku sudah tiba di kamp, maka kalian harus mengakui kehebatanku."
"Lady!"
"Aku mampu." Eve menatap Lucas yang khawatir. Tepat di dalam bola matanya, meyakinkan. "Aku ingin mendapatkan namaku sendiri di dalam Ksatria Nyx, bukan hanya bergantung pada namamu saja. Tolong biarkan aku melakukannya."
__ADS_1
Lucas menatapnya sulit. "Bagaimana jika...."
"Itu namanya kau tidak mempercayai aku." Eve terkekeh, namun berbeda dengan Lucas yang berusaha mengubah persepsi Eve tentang dirinya.
"Hanya satu hari." Mohon Eve lagi bersungguh-sungguh. "Ya?"
"Aku kalah." Lucas mengalihkan tatapan dengan kedua tangan diangkat. Mendengar persetujuan itu, tentu saja Eve senang bukan main. Akhirnya, setelah sekian tahun dia akan menghadapi manusia sungguhan, bukan hanya boneka kayu atau cuma berlatih, tapi benar-benar perang. Ini kesempatannya.
"Bukankah permintaan yang seperti itu sama saja seperti bunuh diri?" ucapan Komandan Selatan diangguki oleh dua komandan lainnya.
"Jika aku masih hidup, memangnya apa yang akan kalian lakukan?"
"Perang bukanlah ajang main-main. Terlebih lagi, yang akan dilawan adalah sebuah negeri, bukan kelompok tertentu," sahut Komandan Timur masih kurang yakin.
Lucas, mendengar perkataan itu tentu saja membuat dirinya marah. "Tampaknya kalian bekerja sama untuk menyudutkan Lady Luvena. Apakah karena dia seorang lady. Mengapa, tidak suka dengan keputusanku? Tidak perlu takut, aku selalu ada untuk melindunginya jadi tidak perlu ada pengakuan-pengakuan dari kalian. Suka atau tidak, kami tetap akan bersama."
"Luke." Eve memanggilnya pelan, sembari mengusap punggung tangan pria itu.
"Ketua tahu sendiri, kan, bagaimana bangsawan itu biasanya bersikap," sahut Komandan Barat, terlihat kurang suka terhadap topik pembicaraan mereka kali ini. "Suka mendiskriminasi, egois, dan sesuka hati sekali. Mereka tidak akan peduli terhadap rakyat biasa seperti kita, dan takutnya, lady ini juga memiliki pola pikir yang sama buruknya. Cukup hidup di luar sana, kami harus dikucilkan hanya karena terlahir dari keluarga miskin. Di sini, lady harus mengikuti aturan dari Ketua. Tidak membedakan satu sama lain, entah berasal dari mana, semuanya sama. Yang membedakan hanyalah kekuatan masing-masing."
"Ya, itu peraturan dari aku sendiri," akunya terus terang. "Para komandan, aku ingin menanyakan sesuatu kepada kalian."
"Apakah selama memimpin, aku pernah membeda-bedakan kalian?"
"Tentu saja tidak!" Komandan Timur menggebrak meja, dan hal itu diangguki yang lain. "Bagaimana pun situasinya, Anda selalu menghargai keberadaan kami dengan saling bertukar pikiran sehingga sampai sejauh ini, Ksatria Nyx hampir tidak pernah mengambil keputusan yang gegabah."
__ADS_1
"Apakah aku pernah egois?"
"Siapa yang berani mengatakan omong kosong seperti itu?" geram Komandan Selatan sedikit terpancing emosi. "Jika Anda egois, maka Ksatria Nyx tidak akan bisa sekuat sekarang!"
"Lalu, apakah aku pernah berbuat sesuka hati?"
"Semua pasukan tahu, Anda adalah sosok yang selalu memperhatikan keamanan orang lain sebelum keamanan diri Anda sendiri." Komandan Timur bersuara. "Dari aspek itu saja, di mana letak sesuka hatinya? Jabatan sebagai ketua, adalah kedudukan yang sempurna untuk Anda."
"Jawaban kalian aku simpan." Lucas memperhatikan para komandannya itu satu-persatu. "Dan sekarang, aku ingin mengakui sesuatu. Seharusnya Komandan Utara juga harus tahu hal ini, tetapi karena sibuk, maka masih ada kesempatan untuknya di lain hari."
"Anda jangan membuat kami takut, Ketua." Komandan Timur berucap dengan nada bercanda, namun ketakutannya itu sungguh nyata.
Ketua ... tidak pernah seserius ini.
"A-apakah jangan-jangan ... Anda juga seorang bangsawan?" tanya Komandan Selatan dengan wajah pias.
Lucas menggeleng. Tentu saja kelegaan bak air dingin seolah mengguyur habis kekhawatiran terbesar mereka. Syukurlah. Mereka tidak dapat membayangkan jika itu benar-benar terjadi. Ketua adalah bangsawan, lalu bagaimana jika—
"Tetapi aku adalah anggota keluarga kerajaan. Putra Mahkota Lucas Roosevelt, putra Yang Mulia Raja. Dan ini." Lucas menggandeng tangan Eve lembut. "Secara tidak langsung dia adalah sepupuku karena Yang Mulia dan Duke of Lumiere masih memiliki ikatan persaudaraan."
Eve melihat ketiga komandan itu tidak bisa berbicara barang sepatah kata pun. Mereka masih terlalu syok dengan kenyataan yang baru saja Lucas ungkapkan. Ketua tidak pernah berbohong, jadi mereka tidak terpikir untuk meragukan ucapannya. Mereka yang selama ini mengira Lucas berasal dari kalangan yang sama seperti mereka, tentu tidak menyangka dengan fakta yang baru saja dibeberkan.
Mereka baru saja menghina para bangsawan, keluarga royal yang setia terhadap kerajaan. Rasanya cukup malu menampakkan wajah di depan Ketua setelah mengetahui semuanya. Terlebih lagi keluarga kerajaan, sosok yang selama ini mereka kira tidak peduli, nyatanya adalah orang pertama yang selalu ada untuk mereka. Bukan sebentar bagi mereka bernaung secara cuma-cuma di bawah komando sang putra mahkota. Saat itu tepatnya sepuluh tahun yang lalu, seorang anak kecil dengan mata tajam menawarkan tempat tinggal yang layak bagi mereka. Sekaligus, awal pertemuan mereka dengan Ketua yang jauh lebih muda dibanding mereka berempat, para komandan arah mata angin.
"Aku tidak pernah mengajarkan kalian untuk menebar kebencian terhadap suatu kelompok masyarakat, para komandanku. Tapi aku percaya, pasti ada sesuatu yang menyebabkan kalian membenci para bangsawan. Aku tidak melarang, tetapi satu hal yang pasti; tidak semuanya berlaku jahat, seperti yang kalian pikirkan."
__ADS_1