
Saat langit sudah gelap, ketiga pria yang sama-sama putra dari Duke of Lumiere itu memasuki gerbang kastil dengan gagah berani. Kuda yang mereka tunggangi tampak sehat dan berkilau sehingga menambah kharisma tuannya yang duduk di atas. Setelah gerbang utama dibuka, tampaklah sebuah taman yang membelah jalan menjadi dua berbentuk lingkaran yang di bagian tengahnya dibangun sebuah air mancur setinggi lima meter.
Orang yang pertama kali turun dan menyerahkan kekang kudanya kepada penjaga istal adalah Ethan, satu-satunya pria bersurai hitam —yang diwariskan ibunya, Britney— diantara ketiganya. Dia mengernyit, lalu kembali meraba-raba punggung kudanya dengan ekspresi kebingungan.
Merasa ada yang tidak beres dengan kakaknya, Declan si anak kedua yang baru saja turun dari kuda itu datang menghampiri. Pria dengan rambut pirang yang dicukur rapi itu pun bersuara, "Ada apa, Ethan?"
"Aku meletakkan kantong uang disekitar sini. Anehnya benda itu sudah hilang." Ethan masih berusaha mencari benda yang ia maksud walau sudah jelas, kantong uang itu sudah lenyap. "Atau aku sudah lupa meletakkannya di mana?"
Beckett, si bungsu yang memiliki rambut pirang sebahu menyusul kedua kakaknya yang mondar-mandir mengelilingi kuda Ethan. Menyaksikan hal itu, dahinya membentuk kerutan samar. Lalu dia pun turun dari kuda dan memutuskan mengamati keduanya dalam diam.
"Tidak ada. Sepertinya sudah hilang," celetuk Declan menyerah namun matanya masih bergerak ke sana kemari, masih berusaha mencari benda yang dimaksud Ethan.
"Ah, ya sudahlah. Lagipula isinya sedikit." Ethan menggeleng, berusaha melupakan kantong uang tersebut. "Ayo, kita masuk ke dalam."
Mereka bertiga sama-sama masuk ke dalam kastil. Saat pintu utama dibuka, pelayan-pelayan sudah menyambut mereka dengan kepala tertunduk, berjejer rapi dari daun pintu membentuk formasi garis lurus sampai ke depan anak tangga. Declan selaku pewaris mengambil langkah lebih dulu diikuti Ethan dan Beckett. Walau dari segi usia Ethan lebih tua, tetapi dari segi posisi dasar Declan lah yang lebih utama karena dilahirkan oleh istri sah Duke of Lumiere saat itu. Sedangkan Ethan lahir dalam keadaan ibunya yang masih berstatus sebagai simpanan.
"Sebenarnya apa yang Ethan cari?" Beckett akhirnya buka suara saat mereka sampai di lantai dua. Dia menatap kedua saudaranya bingung, "Mungkin aku bisa bantu."
"Benda itu sudah hilang, Beckett. Sudahlah, hanya beberapa keping uang emas," sahut Ethan yang merasa tidak perlu memperpanjang masalah kecil.
"Oh, hanya uang?" Beckett terkekeh, "Sampai mencari sekeras tadi demi sedikit uang yang biasa kita habiskan dalam sekali pergi keluar sana? Ethan, tolong jangan bersikap seperti orang miskin."
"Bukan miskin yang dipermasalahkan di sini." Ethan menyugar rambut hitamnya lalu duduk di sebuah sofa putih susu yang disediakan di ruang hangat. Disusul oleh Declan dan Beckett yang duduk tak jauh dari dirinya. "Tapi kantong yang hilang itu ... sebenarnya milik Declan."
Merasa namanya disebut, Declan refleks menegakkan punggungnya lalu menatap Ethan sekali lagi. "Apa? Tolong katakan dengan jelas."
"Tadi pagi saat menarik pajak, aku lupa membawa kantong atau sejenisnya. Kebetulan ada kantong yang cukup besar ku temukan di ransel kudamu, Declan. Jadi aku berniat meminjamnya," jawab Ethan walau awalnya dia sedikit ragu. Tapi ia tahu betul Declan bukanlah orang yang pelit apalagi suka mencari masalah dengan hal-hal kecil. "Jangan khawatir, berapapun harga kantong uang itu pasti akan aku ganti. Jangan takut."
Declan mengepalkan tangannya. Beckett dan Ethan jelas melihat hal itu sehingga membuat keduanya saling berpandangan. Saat Ethan menoleh ke arah Beckett, pria itu membalasnya dengan gelengan samar.
__ADS_1
"Lain kali jangan pernah mengambil benda-benda dari dalam ranselku."
Declan mendongak, matanya berubah merah akibat menahan emosi. "Apakah kalian tahu, dari mana aku mendapatkan kantong itu?"
Ethan dan Beckett sama-sama menggeleng. Menyaksikan Declan marah cukup membuat mereka merasa tidak aman. Sebab dari mereka bertiga, Declan lah yang memiliki tempramen paling buruk.
Besar tanpa orang tua yang lengkap dan hidup bersama olok-olokan orang atas hubungan ayah dan ibunya yang retak membuat Declan tumbuh menjadi pria berhati dingin. Dan hari ini, andai bukan perintah langsung dari Duke of Lumiere, Ethan sangsi Declan sudi melaksanakan tugas bersama dirinya dan juga Beckett. Declan benar-benar orang yang tertutup.
"Kantong itu pemberian terakhir dari ibuku di malam sebelum dia benar-benar pergi dari sini. Dan Ethan sudah menghilangkannya. Terima kasih, kau berjasa besar, saudaraku. Sampai-sampai aku tidak memiliki peninggalan lain lagi dari mantan duchess."
Itu ironi. Bibir Ethan terkatup rapat. Sebagai lelaki tangguh, berat rasanya untuk mengucapkan 'maaf' walau status mereka adalah sesama saudara. Tanpa menunggu pembelaan diri dari Ethan, Declan beranjak dari sana. Berjalan ke arah pintu lalu menutupnya kembali dengan sedikit emosi sehingga terdengar bunyi benturan keras yang dihasilkan pintu tersebut.
"Kau membuat masalah dengannya," komentar Beckett yang sama sekali tidak membantu memperbaiki suasana hati saudara kandungnya yang kini menyandarkan kepalanya, pasrah.
Ethan berdecak, menatap Beckett jengkel, "Itu juga salahnya sendiri. Sudah tahu benda berharga, kenapa malah dibawa kemana-mana?"
"Ya, memang dicuri—" Ethan seketika terdiam setelah menyadari hal itu. Benar, Ethan ingat dengan jelas jika ia menambatkan kantong itu kuat-kuat, mustahil jatuh begitu saja. Besar kemungkinan jika benda kesayangan Declan itu benar-benar sudah dicuri.
"Dari mana kau tahu?!"
"Aku melihat wajah pencurinya," ujar Beckett santai. Pria itu kembali mengingat akan wajah Eve. Wanita yang dalam seharian ini sudah mereka temui sebanyak dua kali dan di akhir pertemuan mereka pasti saja menimbulkan kerugian di pihak mereka. Beckett akui, wanita itu benar-benar pencuri ulung. "Jika kau tahu siapa pencurinya, pasti akan sangat kesal."
"Benarkah? Memangnya siapa?" Selidik Ethan penasaran.
"Minta maaf kepada Declan dulu, baru aku sebutkan siapa orangnya," balas Beckett menyeringai geli. Dia tahu, Ethan tidak pernah sudi mengucapkan kata maaf kepada siapapun di muka bumi ini.
"Aku tidak salah. Pencuri itu yang mengambilnya, bukan aku!"
"Egomu terlalu besar untuk mengaku salah," ujar Beckett lagi membuat Ethan kesal lalu bangkit dari tempat duduknya. "Hei, mau ke mana?"
__ADS_1
"Kemana saja asal tidak melihat wajahmu," acuh Ethan dongkol lalu meraih gagang pintu. Sebelum ia berhasil menariknya, benda tersebut lebih dulu didorong dari luar menyebabkan Ethan mundur beberapa langkah.
"Kebetulan kalian ada di sini." Zachary Lumiero berdiri di ambang pintu. Kedua tangannya dilipat di depan dada sambil mengawasi kedua putranya. "Di mana Declan?"
"Di suatu tempat," jawab Beckett asal-asalan. "Ada apa, Your Grace?"
"Ada beberapa hal yang perlu aku sampaikan kepada kalian." Zachary masuk, mengambil posisi duduk tepat berada di seberang Beckett. Dengan helaan napas, Ethan terpaksa kembali ke tempat duduknya. "Aku akan pergi ke Serenious selama beberapa hari jadi tanggung jawab kastil ku serahkan kepada kalian, khususnya kepada Declan."
Ethan mengernyit, "Bukankah biasanya kau juga pergi? Lalu kenapa kali ini kau pamit kepada kami?"
"Seseorang akan datang," jawab Zachary pelan, "Dia ... bisa dibilang adik perempuan kalian. Adik kandung Declan. Dia selama ini dibawa mantan duchess ke mansionnya setelah kami berpisah. Yah, kita harus menerimanya tinggal di sini."
"Adik perempuan?" beo Beckett tidak terima. "Tidak-tidak, aku tidak suka. Tolak saja kedatangannya, kalau perlu tutup semua akses masuk ke dalam kastil Lumiere supaya dia menderita di luar sana dan memilih pulang!"
"Ini permintaan Yang Mulia Raja, Beckett." Zachary menatap putranya itu serba salah. Ya, dia juga menginginkan hal yang sama seperti putra bungsunya itu, tapi apa boleh buat ....
Ethan mendesah lelah, "Sama seperti Beckett, sebenarnya aku juga menolak kedatangan anakmu yang lainnya, Your Grace." Ethan berdehem, membersihkan kerongkongannya yang tiba-tiba mengering. "Bagaimana jika dia hanya mengaku-ngaku sebagai putrimu? Kita perlu waspada, musuh Lumiere bertebaran seperti bintang di luar sana. Lagipula selama ini kau tidak pernah membahas putrimu itu pada kami, Your Grace."
"Aku tidak menyukainya," jawab Zachary pendek. "Andai dia berasal dari ibu yang sama dengan kalian, mungkin akan ku pertimbangkan sebagian hartaku untuknya. Sayang, dia terlahir dari Margaret dan juga perempuan. Tidak ada gunanya."
"Pria pilih kasih," cibir Beckett berani. Walau dia berasal dari rahim Britney, rasanya ada banyak rasa kasihan yang sering ia tujukan kepada anak-anak Margaret khususnya Declan. Declan sendiri pun, keberadaannya di kastil Lumiere bisa dikatakan hanya sebagai pewaris sah saja. Britney berasal dari rumah bordil, pernah menjadi harta jarahan perang yang kemudian ditemukan Zachary. Dengan kedudukan yang seperti itu, makanya mustahil putra-putranya bisa mendapatkan dukungan bangsawan lain sebagai pewaris Duke of Lumiere.
Margaret hanya digunakan sebagai penghasil penerus Lumiere? Beckett rasa memang begitu.
Merasa tidak perlu menanggapi lebih jauh, Zachary kembali berdiri. "Yap, itu saja yang ingin aku katakan pada kalian. Karena dia akan datang di saat aku tidak berada di sini, ku harap kalian bisa menyambutnya. Tidak perlu sambutan mewah, cukup awasi setiap perlakuannya sampai aku kembali."
...----------------...
Hayo loh bacanya hari senin aja. Jangan begadang😆
__ADS_1