
"Your Grace, Keluarga Aslein sudah datang."
Panggilan Baron O'Neil memutus pembicaraan Eve dan sang duke. Zachary, pria itu mengangguk sedikit. "Biarkan mereka masuk." Matanya beralih kepada putrinya. "Kau, berdiri di sampingku."
"B-berdiri?!"
"Kau bilang akan mengikuti segala permintaanku, kan?"
Senyum Eve mengembang. Dengan semangat, dia meringsek maju. "Berarti Anda menyetujui permintaanku, Your Grace? Benarkah, benarkah?!"
"Tidak."
Entah mengapa telapak tangan Eve rasanya gatal. Gadis itu ingin sekali melemparkan sesuatu ke arah sang duke. Seperti guci ataupun batu, barangkali? Ah, omong-omong Zachary ini juga belum pernah merasakan ketapel maut Eve melesat di bokongnya. Lain kali, Eve harus melakukannya agar dia tidak berbicara sesuka hati.
"Akan aku pertimbangkan jika kau bisa bersikap baik padaku."
Eve terbelalak, "Y-YA, TENTU SAJA AKU BISA BERSIKAP MANIS PADAMU, YOUR GRACE!"
Zachary mengerjap. Tidak-tidak, maksud bersikap baik yang dirinya harapkan itu contohnya seperti tidak membuat masalah, selalu patuh, dan ... yah, bertingkah layaknya lady. Sudah itu saja, tidak ada embel-embel manis apalagi jika sampai mengikutinya kemana saja.
Tapi sebelum Zachary sempat menyampaikan maksudnya tersebut, pintu kembali di buka. Kali ini, tampak empat orang berdiri di depan pintu. Satu orang pria dewasa yang Eve perkirakan dialah yang bernama Viscount Aslein, di sebelahnya berdiri seorang wanita dengan gaun violet yang hampir menyatu dengan warna rambutnya, dan juga dua orang gadis muda di belakang mereka sekarang tengah asyik menatap kagum interior ruang tamu Lumiere yang mewah dan nyaman.
Eve buru-buru berdiri di samping Zachary. Usai merapikan gaunnya yang sedikit berkerut, Eve beralih menepuk-nepuk dada Zachary, berniat membersihkan debu yang mungkin saja ada beberapa yang menempel walau sebenarnya sama sekali tidak terlihat ada setitik noda pun di sana.
"Eve, apa yang kau lakukan?" gumam Zachary kesal.
"Hanya memastikan agar Anda selalu tampan dan bersih, Your Grace," jawab Eve lalu tersenyum manis. Lihatlah, dalam sekejap sikapnya berubah menjadi seekor kucing yang manja.
Keempat tamu mereka yang mendengar jawaban Eve yang ambigu itu tentu saja merasa terkejut. Hubungan antara Zachary dan gadis asing di sampingnya menjadi tanda tanya besar di benak mereka. Mungkinkah....
"Kenapa kalian masih berdiri di sana?"
__ADS_1
"E-eh?" Viscount Aslein tergagap lalu dengan cepat berjalan maju diikuti Viscountess dan kedua putrinya untuk memberikan hormat. Walau dalam segi usia dirinya lebih tua, tetapi Duke of Lumiere tetaplah orang berkuasa yang berada jauh di atasnya.
"Selamat pagi, Duke of Lumiere. Saya merasa terhormat karena Anda sudi menerima kehadiran Keluarga Aslein di dalam kastil super mewah Anda ini," sanjungnya lancar. Dia bergeser, memberikan istrinya ruangan yang cukup di sebelahnya. "Dia adalah istri saya, Viscountess Elizabeth. Dan mereka berdua—" Viscount Aslein yang memiliki nama asli Demian itu menunjuk dua orang gadis di belakangnya. "Adalah putri saya yang cantik dan anggun. Membuat saya sangat berharap agar salah satu dari mereka beruntung dan bisa menjadi salah satu anggota keluarga Lumiere."
"Hormat kami, Your Grace." Ketiga wanita itu serempak mengangkat ujung gaun lalu menundukkan kepala.
Lain halnya Eve, gadis itu sekuat tenaga menahan dirinya agar tetap berdiri tegak. Padahal mereka baru datang, tapi rasa kantuk langsung menyerang Eve tanpa ampun sampai-sampai matanya berair dan berat. Eve ingin pergi secepatnya, mendekap erat bantal empuknya lalu terbang di alam mimpi.
Tetapi sejak awal kedatangan sampai sekarang, tatapan tajam dari kedua putri Aslein masih belum lepas dari sosok Eve. Entah apa kesalahannya, Eve juga tidak tahu dan tidak peduli. Yang jelas sekarang yang dia perlukan adalah kasur dan angin sepoi-sepoi seperti di taman Utara. Ah, dia memiliki ide. Besok-besok Eve berjanji akan mencoba untuk tidur siang di sana.
"Mengenai kejadian tempo hari, saya sudah mendengar cerita detailnya langsung dari putri saya. Berharap Anda selaku kepala keluarga Lumiere bisa menindaki hal ini dengan bijak," ujar Viscount Aslein sedikit gentar, "kesalahan jelas terletak kepada Lady Jeniffer Aslein, putri saya karena telah berani menyinggung kekasih Lord Lumiero. Untuk itu, kami datang kemari dan menebus dosa tersebut dan memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian."
Zachary mengernyit, "Kekasih Lord Lumiero?"
"T-tunggu, Your Grace." Eve berusaha tersenyum manis. Sudah cukup, matanya hampir terpejam jika kunjungan ini masih dilanjutkan sampai lima menit ke depan. Eve berpikir, akar masalahnya ada pada dirinya. Maka dari itu, otak praktisnya mengatakan jika dia memaafkan si Aslein itu sekarang, mungkin dia bisa kabur dari ruang tamu tersebut lebih cepat dan tidak bertele-tele. Dia menoleh ke arah empat orang tamunya. "Aku sudah memaafkan kalian. Sebenarnya tidak perlu susah-susah kemari, besok juga Declan akan memaafkan kalian dan melanjutkan kerja sama yang sebelumnya hancur."
Mereka kembali tercengang karena dengan mudahnya Eve menyebut nama akrab Lord Lumiero tanpa rasa takut sama sekali. Tapi mengetahui Duke of Lumiere sama sekali tidak keberatan dengan sebutan yang Eve lontarkan barusan, itu jelas lebih mengejutkan. Siapapun tahu, sang duke sangat menjunjung tinggi nilai-nilai penghormatan terhadap para bangsawan. Seharusnya dia ... tidak mungkin membiarkan hal ini!
"Kau mau pergi?" Zachary yang sudah hafal dengan gerak-gerik Eve mengatakannya tepat sasaran. Sebagai balasan, Eve meringis.
Zachary menghela napas. Benar-benar...
"Pergilah," putus sang duke setelahnya. Senyum Eve merekah, sementara tamu-tamu Aslein itu kembali dibuat terperangah. Ada apa ini? Menurut ciri-ciri yang pernah diceritakan Jeniffer Aslein, bukankah wanita itu adalah kekasih Declan? Lalu mengapa dia juga menggoda Duke of Lumiere? Hubungan rumit macam apa ini?!
Sementara itu, Viscountess Elizabeth Aslein tersenyum tipis. Jika berita ini dia sebarkan, mungkin Keluarga Lumiere akan menjadi bahan hujatan. Setidaknya pamor mereka akan berkurang, dengan begitu Keluarga Aslein tidak perlu susah payah untuk mengemis seperti sekarang.
"Duke tampan memang yang terbaik!" Tampan? Memang, Zachary masih terlihat tampan di usianya yang tidak lagi muda, jadi Eve tidak bohong. Dengan langkah riang, dia keluar dari ruang tamu tersebut. Perasaannya bahagia. Sepertinya berusaha menjadi putri yang manis tidaklah buruk. "Sampai jumpa~"
Zachary kembali menatap Keluarga Aslein setelah pintu kembali ditutup. "Jadi, apa lagi yang kalian perlukan?"
"Em ... itu, mengenai kerjasama pendistribusian bahan mentah dari pelabuhan sampai pasar ...."
__ADS_1
"Aku belum memutuskan bangsawan mana yang cocok mendapatkan posisi di situ," potong Zachary tanpa basa-basi. "Karena selain Keluarga Aslein kalian, masih banyak keluarga bangsawan lain yang lebih aku percayai untuk mengemban tanggung jawab sebesar itu." Sang duke mengangkat kepala, memberitahukan perbedaan derajat mereka tanpa kata. "Aku lebih tahu dengan apa yang aku kerjakan. Jika sekali lagi kalian memohon-mohon padaku, jangan salahkan hukuman yang diberikan Lord Lumiero berlaku selamanya untuk Aslein."
"B-baik, saya mengerti!" Viscount Aslein mengangguk cepat.
"Baguslah jika kalian tahu tempat." Setelahnya Zachary kembali sibuk memeriksa berkasnya satu-persatu. Tidak mempedulikan keempat orang yang duduk di depannya. Paham jika sang duke sedang sibuk, Viscount Aslein segera berdiri diikuti istri dan kedua putrinya.
"Maaf jika kedatangan kami telah membuang waktu berharga Anda, Duke of Lumiere. Kalau begitu, kami permisi."
Tanpa kata, Zachary mengangguk. Bahkan sekedar menoleh pun, pria itu enggan.
"Ayo," ujar Viscount Aslein kepada keluarganya lalu keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan tenang. Setidaknya kerjasama antara Aslein dan Lumiere tidak putus. Sudah, itu saja sudah cukup.
"Aku yakin betul bahwa wanita tadi lah yang aku temui malam itu. Dia bersama Lord Lumiero tampak mesra," ucap Jeniffer bingung. "Tapi ... bagaimana bisa dia juga dekat dengan Duke of Lumiere?!"
"Apakah duke dan putranya memiliki selera yang sama?" Mata Viscountess berkilat semangat. Jiwa bergosip wanita itu sudah membara andai saat ini dia tidak berada di kastil Lumiere. Dia memelankan suara, "kalian harus mencari tahu!"
"Tentu saja. Agar cerita lebih meyakinkan, harus banyak bukti yang jelas," ungkap Syann, putri kedua Aslein yang memiliki surai berwarna ungu. "Tunggu apa lagi? Kami akan menetap sebentar di sini, sedangkan kalian pulang saja. Tunggu kabar dari kami."
"Kalian yakin ingin mengetahui masalah ini?" Viscount ingin memberitahu perihal keberatannya. Namun Viscountess dengan cepat menyela.
"Tentu saja yakin. Lumiere hampir tidak pernah terlibat skandal. Saatnya menunjukkan kepada dunia bahwa mereka tidaklah sesempurna yang dilihat!" Dia terlihat antusias. Viscountess kembali menatap kedua putrinya. "Ibu akan pulang dan berusaha menyebarkan rahasia ini secepat mungkin. Sangat cepat sampai-sampai Lumiere tidak bisa menghentikannya. Kalian baik-baik, jangan membuat satu orangpun curiga, mengerti?"
Jeniffer dan Syann mengangguk, "Kami mengerti, Bu."
"Bagus. Suamiku, ayo kita pulang," ajak Viscountess Elizabeth menggandeng tangan suaminya lalu pulang dengan perasaan bangga karena berhasil menemukan kelemahan Lumiere.
Tanpa tahu siapa dan apa kedudukan Eve di dalam keluarga tersebut.
......................
Hello semuaa!
__ADS_1
Maaf banget karena akhir-akhir ini jarang update. Tugas author sebagai seorang siswa masih banyak, belum lagi revisi sana-sini. Hehe, jadi aku minta pengertiannya, yaa pembaca sekalian 😩🙏🏻
Okee sekian curhat dari aku. Jika ada yang ditanyakan, kolom komentar tersedia untuk kalian. See you~