
"Akhirnya Eve sudah ditemukan!" Beckett berseru girang. Matanya kemudian menangkap keberadaan sang ayah yang menangkap tubuh Eve dari ketinggian. "Eh, Your Grace."
"Kalau begitu aku permisi." Eve mendorong dada ayahnya lalu turun dengan tergesa-gesa. Wajahnya jelas menampilkan kekesalan, berbeda dengan sang duke yang justru terkekeh penuh kemenangan. Namun bukan Beckett namanya jika tidak penasaran. Setelah pamit dan meminta maaf akibat perbuatan Eve yang semena-mena, pria pirang sebahu itu akhirnya menyusul si gadis yang kini sedang dongkol.
"Setelah aku tindih, seharusnya dia patah tulang. Atau paling tidak, pinggangnya sakit. Mengapa dia bisa sekuat itu?" gumam Eve disepanjang lorong.
"Eve!"
Eve tidak repot-repot menoleh saat Beckett sudah berjalan bersisian dengannya. "Apa yang terjadi, apa kau sakit. Atau ada sesuatu yang mengganggumu, katakan saja!"
"Tidak terjadi apa-apa." Eve meletakkan kedua tangannya yang terlipat tepat di depan dada. "Kenapa mencariku?"
"Para pelayanmu ribut karena kau tiba-tiba hilang dari dalam kamar," sungut Beckett sembari menopang lengannya di bahu Eve. Terlihat jelas jika keduanya sangat akrab. "Tahu-tahunya kau duduk di atas pohon Lady Britney."
Eve mengernyit, "Pohon siapa?"
"Pohon milik Lady Britney," ulang Beckett santai. Dari cara dia menyebut ibunya, Eve tahu bahwa Beckett tidak begitu dekat dengan si duchess baru. "Pohon itu, ditanam atas perintahnya beberapa tahun silam. Siapa sangka tumbuhnya begitu cepat."
"Pantas His Grace menyuruhku lekas turun dari sana. Oh, ternyata pohon itu kesayangan istrinya, ya."
Beckett meringis tidak enak. "Mungkin bukan begitu. Bisa saja His Grace khawatir kau jatuh, kan."
"Dia bukan tipikal orang yang seperti itu."
"Kita tidak pernah tahu." Beckett kembali menjawab cepat saat teringat dengan satu hal. "Eh, Eve. Apa kau tahu jika kita akan diundang ke istana?"
"Oh ya? Aku baru tahu." Eve menjawabnya acuh, "Memangnya kapan?"
__ADS_1
"Malam ini!" sahutnya antusias. "Gaun apa yang akan kau pakai. Sebagai putri satu-satunya, kau harus terlihat cantik maksimal. Kalau perlu, buat Pangeran Clainton Roosevelt membatalkan pertunangannya dengan putri Marquess Alger, haha!"
Eve tampak tertarik. Jika dia bisa menggaet pangeran di sini, mungkin dia tidak perlu bersusah-payah untuk menikah dengan pangeran dari Brodsway. Dia akan menetap di Sasania dan bisa bertemu dengan Margaret kapan saja.
"Apa dia tampan?" tanya Eve penasaran. Tidak, Eve bukan tipikal pecinta lelaki tampan. Hanya saja dia ... ingin tahu sedikit.
"Tentu saja."
"Uangnya pasti banyak, kan." tanyanya lagi sambil mengedipkan mata birunya yang terang.
"Tentu saja. Dia adalah putra kedua raja."
"Berapa usianya?"
"Mungkin mendekati usia ibumu."
"Kau menyuruhku mendekati pria yang usianya hampir setara dengan usia ibuku?" Sekali lagi, pukulan ganas menghantam bahu Beckett. Sayang, pukulan itu bukan apa-apa baginya yang memiliki badan jauh lebih besar. "Diam atau aku pukul lagi!"
"O-oke, aku berhenti." Beckett mengelap sisa-sisa air mata yang hinggap di sudut matanya masih disertai sisa-sisa tawa yang belum reda. "Kalau bukan Pangeran Clainton, bagaimana dengan Pangeran Lucas. Dia sangat—"
"Sudah cukup. Untuk saat ini aku tidak ingin berurusan dengan laki-laki." Eve membawa kakinya berjalan lebih cepat kembali ke kamarnya. "Masih banyak hal penting. Sekarang, lebih baik kau membantuku."
"Membantu apa?"
"Tolong pilihkan gaun untukku malam ini, ya?"
"Memilih gaun?" Beckett senantiasa mengikuti Eve bahkan sampai mereka masuk ke dalam kamar putih sang putri. Sayangnya sangat sedikit pelayan di sana. Yang Beckett lihat hanya ada Mia yang sudah menunggu dengan sabar.
__ADS_1
Eve menoleh ke arah pelayan pribadinya itu. Tidak seperti wanita bangsawan kebanyakan, Eve menatap wanita yang berbeda kasta dengannya itu dengan penuh hormat. Bagaimanapun, Mia tetap lebih tua dibanding dirinya. "Apakah gaunku untuk malam ini sudah siap?"
"Sudah, My Lady. Silakan pilih yang Anda suka." Mia memerintahkan pelayan lainnya untuk membawakan gaun-gaun itu masuk. Diantaranya memiliki warna biru tua dengan kain brokat di bagian dada. Lalu ada pula gaun merah darah polos, dan gaun kuning dengan renda-renda rumit di bagian bawah.
"Bagaimana menurutmu, Beckett. Sangat cantik, kan?" Eve tersenyum lembut seraya menyentuh permukaan gaun berwarna merah darah. "Mungkin aku akan memakai yang ini."
Beckett terdiam. Tanpa sepengetahuan Eve, kedua tangannya mengepal kuat. Dia tahu betul milik siapa gaun-gaun itu sebelumnya. Gaun bekas ibunya, Lady Britney, wanita yang tidak pernah sudi memakai gaun sama untuk kedua kalinya.
Beckett menoleh ke arah pelayan pribadi adiknya itu. "Apa kalian tidak membeli gaun baru? Atau uang yang diberikan oleh His Grace kurang sampai-sampai menyuruh Lady Luvena memakai gaun ini? Ganti!"
Mia sama sekali tidak memberikan tatapan kasihan. "Maaf, My Lord. Mengenai gaun ini, His Grace sendiri yang menyuruh Lady Luvena untuk mengenakannya. Jika dia tidak bersedia, maka kami lah yang akan terkena imbas." Jawaban sang pelayan tentu semakin membuat Beckett mendidih. "Tolong tuan jangan memperumit keadaan. Lagipula, beberapa jam lagi Anda harus sudah pergi."
"Tahu apa kamu?!" Beckett semakin menatapnya sinis. Dia menarik tangan Eve, berusaha membawanya pergi dari sana. "Eve, ikut aku. Daripada gaun-gaun sialan itu, lebih baik kita membeli yang baru menggunakan uangku."
"Bukan begitu, Beckett." Eve berusaha melepaskan pegangan kakaknya. "Aku tidak ingin seseorang dihukum hanya karena aku."
"Lalu apa? Kau ingin dipermalukan di perjamuan malam ini, begitu?" Beckett menatapnya marah. "Tidak bisa. Jika kau tidak ingin ikut denganku, aku akan bicara pada His Grace dan menghentikan kelakuan gilanya ini."
"Beckett, kau sangat pemarah."
Setelahnya, Eve tertawa geli. Melihat reaksi adiknya yang terlewat santai, tentu membuat Beckett semakin geram. "Eve, kau—"
"Sifat pemarah hanya akan membawa ketergesa-gesaan dalam mengambil keputusan. Hasilnya akan berakhir buruk, atau bisa jadi gagal." Eve kembali menyentuh gaun polos yang akan dia kenakan nanti malam. "Cobalah untuk tenang. Dengan begitu, kau bisa berfikir jernih untuk membalas lawan mu."
Beckett mengernyit, "Jadi apa rencanamu selanjutnya?"
"Tentu saja dengan membalas His Grace." Eve tersenyum lebar, ekspresi polosnya itu berbanding terbalik dengan pemikirannya yang sudah dipenuhi rencana-rencana untuk memutarbalikkan kelakuan ayah laknatnya.
__ADS_1
"Sekarang, aku memerlukan bantuan mu lagi. Sesuai dengan keinginan His Grace, aku akan memakai pakaian ini ke perjamuan nanti malam," tukas Eve santai lalu melenggang pergi meninggalkan Beckett yang terperangah di belakangnya.