Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Xerr


__ADS_3

Lonceng yang diletakkan di atas pintu toko bunga berdentang pelan saat seseorang mendorong pintu untuk masuk. Madam Fiona, pemilik toko yang berstatus janda di usianya yang ke-tiga puluh dua itu menoleh cepat ke asal suara. Senyumnya mengembang tatkala tahu siapa yang berdiri di ambang pintu. Sekop dan bunga yang akan ditanamnya langsung ditinggalkan. Melepas sarung tangannya, Madam Fiona langsung menghampiri si pelanggan.


"Xerr, lama tidak kemari. Bagaimana kabarmu?" tanya wanita itu antusias. Baginya, Xerr sendiri sama halnya seperti putra walau usia mereka tidak terpaut jauh.


Xerr, pria muda dengan surai sepekat arang itu tersenyum lebar. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, dia akhirnya mengaku. "Beberapa minggu ini terjadi banyak hal sehingga aku tidak sempat mampir kemari. Tapi madam tenang saja, aku selalu sehat, kok!"


"Terjadi apa? Kau selalu merahasiakan banyak hal kepadaku!" Madam Fiona ingin sekali memukul Xerr andai pria yang memiliki tinggi badan jauh darinya itu tidak sigap menghindar. Madam Fiona mendelik, "apakah sampai saat ini kau tidak menganggapku seperti ibumu sendiri?!"


"B-bukan begitu, Madam!" Berusaha menghindar, Xerr tidak sengaja menoleh ke belakang wanita itu. Dalam beberapa detik tatapannya terkunci pada sepasang manik biru yang ikut menatapnya balik. Mereka melakukan kontak mata, namun dengan cepat gadis bermata biru seperti permata itu membuang muka.


"Kena kau!" Madam Fiona akhirnya berhasil mendaratkan pukulannya di atas punggung Xerr, sedangkan yang dipukul hanya diam seolah tidak pernah terjadi apa-apa. "Hei, apa yang sedang kau lihat!"


"Siapa dia, madam?" Xerr kembali menatap Madam Fiona. "Pelanggan barumu? Aku belum pernah melihatnya datang kemari."


Madam Fiona berdecak, "Kau ini, selalu saja memperhatikan setiap pelangganku apalagi pelanggan wanita. Memang tidak salah, kau harus cepat-cepat menikah." Wanita itu akhirnya memutuskan undur diri. Kembali melakukan rutinitasnya tanpa menghiraukan Xerr seperti awal. "Sarah, Devina, Erlia, Cala, Demore, British, Roxie, Gabriella? Mereka semua cantik, menyukaimu, dan ... lumayan kaya. Jadi, apa yang kurang." ia menggeleng pusing. "Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu."


"Jangan membahas hal itu lagi, madam. Kau masih ada tamu." Xerr menunjuk Eve yang duduk di belakangnya dengan jempol. "Oh, iya. Sama seperti biasa tolong siapkan buket bunga anyelir putih untukku, jangan lupa bungkus dengan kotak."


Setelah pria itu menjauh, Madam Fiona terdiam kemudian bergumam, "Rupanya kau selalu merindukan mendiang ibumu, Xerr."

__ADS_1


Puluhan tahun berlalu dan Xerr masih berduka atas kematian ibunya. Yang Madam Fiona tahu, ibu Xerr kehilangan nyawanya saat berjuang melawan penyakit. Sudah itu saja. Xerr tidak memberitahukan dengan jelas. Tapi satu hal yang pasti, sampai hari ini Xerr masih berduka dan biasanya dia akan memesan buket bunga anyelir putih untuk diletakkan di atas pusara sang ibu.


Xerr tahu, dia tidak akan tahu jika tidak mencari tahu. Dengan memasang ekspresi ramah, dia menghampiri Eve yang terlihat duduk sendirian di sebuah sofa tunggu. Gadis itu tampak terganggu apalagi setelah Xerr berhasil mendaratkan bokongnya tepat di samping Eve.


Eve menghela napas kasar. "Masih ada tempat lain yang kosong, Tuan," geramnya sambil melirik sofa kosong di samping Xerr.


"Aku tidak bisa duduk di sana," jawab Xerr santai. "Seperti ada magnet tak kasat mata di dalam dirimu sehingga aku tidak bisa membuat diriku sendiri pergi jauh."


Eve melirik sinis lalu bergeser perlahan. Apa-apaan rayuan murahan itu?!


"Siapa namamu, Nona." Xerr ikut bergeser sampai mereka kembali berdesakan. "Apakah kau berasal dari keluarga pedagang, keluarga kaya raya, atau bahkan keluarga bangsawan? Woah, jika kau benar berasal dari keluarga bangsawan, maka aku benar-benar akan terkejut."


Selanjutnya, bukan menghindar seperti tadi, Eve justru balas menatap dengan seringai tajam di wajahnya. Kini jarak keduanya sangat dekat, bahkan Xerr dapat mencium aroma jeruk dari gadis di sampingnya.


Di dalam hatinya, Xerr membatin puas. Merasa senang dengan mainan barunya yang menggemaskan. Tanpa menunggu lama, dia segera menghampiri Eve yang sudah keluar dari toko bunga dengan buket bunga di tangannya. Xerr tidak kalah. Dia juga langsung mengambil sekotak buket bunga miliknya lalu menyusul gadis itu, melupakan Madam Fiona yang berteriak padanya dari balik dinding kaca.


"Jangan berpikiran buruk tentangku. Aku ini pria baik-baik," ujar Xerr masih merecoki walau Eve sama sekali tidak menoleh kepadanya. "Masih tidak percaya? Untuk memastikannya, bagaimana jika kita saling mengenal satu sama lain. Ku dengar festival lilin sebentar lagi akan diadakan."


"Festival lilin masih dua bulan lagi, jangan mengada-ada!" Eve tidak tahan jika tidak berkomentar. "Lagipula apa hubungannya festival lilin dengan pemikiran ku bahwa kau bukan pria baik-baik?"

__ADS_1


Xerr tersenyum lebar lalu memeluk leher Eve seperti teman dekat. Eve dengan sekuat tenaga berusaha menyingkirkan lengan berotot pria itu, namun dia tidak bisa. "Kita bisa berjalan-jalan bersama, menikmati acara sampai larut malam atau mungkin sampai pagi. Dengan begitu kau bisa lebih mengenalku, kan."


"Lakukan saja di dalam mimpimu!" Tidak kehabisan akal, Eve akhirnya menggigit lengan Xerr kuat-kuat sampai dia memekik sakit dan rangkulan pria itu berhasil terlepas.


"Ganasnya," gumam Xerr namun kilatan geli dari manik abu-abunya tidak bisa dibohongi. "Tapi suka ataupun tidak, kita harus tetap pergi bersama. Titik."


Diam-diam Eve melirik Xerr dengan tatapan kasihan. Pria malang ini belum pernah merasakan kemarahan Declan dan jika dia tetap nekat, amukan Declan sudah pasti akan diterimanya.


Oh, dan juga dua saudara Eve yang lainnya. Ethan dan Beckett. Mereka pastinya juga tidak akan tinggal diam.


"Jika kau bisa menemui ku saat festival lilin diadakan, maka aku bersedia mengikuti permintaanmu barusan." Eve tersenyum miring. Saat festival berlangsung, Eve berniat mendekam di dalam kastil seharian penuh. Tidak mungkin pria bersurai hitam pekat di depannya ini bisa menembus pertahanan kastil Lumiere yang ketat. Tantangan yang dia berikan sama saja dengan mustahil. "Selamat tinggal. Aku harap kita tidak pernah bertemu lagi."


Xerr masih berdiri mengamati saat Eve menaiki kereta kudanya dari kejauhan dan perlahan menghilang dari pandangannya. Bendera resmi kebangsawanan memang tidak ditancapkan di atas kereta kuda tersebut karena tidak digunakan dalam menghadiri acara formal, hanya pergi untuk membeli bunga. Tapi Xerr tahu betul milik siapa kereta itu.


Bangsawan Lumiere. Keluarga bangsawan yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan keluarga kerajaan.


"Aku menagih janjimu, Lady Luvena," gumam Xerr sebelum pergi dalam sekejap bayangan.


......................

__ADS_1


Hayo, apa ada yang bisa menebak siapa Xerr ini sebenarnya? Apakah dia memiliki peran penting di dalam cerita ini atau cuma pemain figuran? Komen di bawah!πŸ˜ΊπŸ‘‡πŸ»


Btw, thanks to Noveltoon buat covernya. Haha, lucu banget, iya gak?πŸ˜†


__ADS_2