Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Negosiasi


__ADS_3

Pagi itu sarapan berlangsung damai. Walau beberapa kali Eve tidak sengaja mendentangkan garpunya saat berusaha mengambil roti, —yang mana setiap kesalahan itu akan dihadiahi pelototan Zachary— maka sisanya tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan lagi.


"Aku dengar baru-baru ini Declan memblokir keluarga Aslein dari kerjasama Lumiere karena terjadi kesalahpahaman. Benar begitu, Declan?" ujar Zachary membuka pembicaraan.


Oh, jadi kepala rumah tangga Aslein sudah melaporkan hal ini kepada Duke of Lumiere?


Declan berdehem. Makanannya sudah selesai dihabiskan. Para pelayan dengan sigap membereskan meja makan seperti semula. Tanpa ragu, Declan mengangguk, "Benar, Your Grace."


"Aku tahu kau melakukannya berdasarkan suatu hal. Yah, aku sebenarnya juga tidak keberatan dengan tindakanmu ataupun dengan alasan mengapa kau melakukannya."


Duke of Lumiere tidak marah meski tahu penyebabnya adalah Eve? Gadis yang duduk di seberang Declan itu mengerjap bingung. Ada apa dengan duke, bukankah pria itu membencinya?


"Terima kasih, Your Grace."


"Tapi hari ini Keluarga Aslein akan berkunjung kemari untuk meminta keringanan hukuman." Netra tajamnya itu dengan cepat beralih menuju Eve yang masih asyik memasukkan pudding buah ke dalam mulutnya. "Luvena, karena akar masalah ini berasal dari mu, maka aku harap kali ini kau bisa menjadi tuan rumah yang baik."


Eve hampir tersedak andai ia tidak bisa mengendalikan diri. Apa tadi, apakah telinganya salah dengar? Dia menatap Zachary tidak percaya. Eve yakin pria angkuh itu tahu akan keberatannya, tapi dia memilih acuh.


"Kalau begitu biarkan saya tetap tinggal. Eve masih perlu belajar beradaptasi, dia memerlukan bantuan saya," ujar Beckett yang duduk di sebelah Eve, menatap adiknya itu khawatir. Mendengar tawaran bantuan tentu membuat Eve mengangguk cepat mengiyakan.


"Tidak," jawab sang duke tegas. "Kalian bertiga selalu memanjakannya sama seperti memperlakukan bayi. Untuk kali ini, biarkan dia melakukannya sendiri. Aku ingin melihat sampai sejauh mana dia bisa berkembang menjadi bangsawan terhormat." Dari nada bicaranya, Eve tahu si tua yang satu ini tidak ingin dibantah. "Setelah dia menikah dan menjadi putri di Brodsway, kalian tidak akan bisa membantunya lagi. Maka dari itu, mulai saat ini biasakanlah dia hidup mandiri."


"Sejak awal aku terbiasa hidup mandiri, Your Grace. Sejak awal." Eve menyingkirkan pudingnya yang tersisa setengah. Kemudian memangku wajahnya di antara kedua telapak tangan dengan ekspresi prihatin. "Apakah selama ini aku hidup dalam gelimang harta? Atau kasih sayang kakak-kakakku? Jawabannya tidak." Di akhir kalimat, Eve meniru gaya bicara Zachary barusan. "Hanya setahun. Biarkan aku menikmati hak hidupku sebagai putri tunggal Lumiere di sini. Setelahnya, kau bebas berbuat sesukamu. Sama seperti sebelumnya."


"Luvena ...," gumam Zachary kesal.


"Walau begitu, bukan berarti aku takut menjadi tuan rumah apalagi jika tamunya hanya seperti Keluarga Aslein." Eve melirik Declan yang ikut menatapnya lurus. "Benar, kan, Declan?"


"Baguslah jika kau berpikir begitu." Zachary kemudian berdiri, Baron O'Neil yang berdiri di sampingnya sejak tadi dengan sigap membantu memundurkan kursi yang duke itu duduki. "Ikut aku. Sementara yang lain, sama seperti biasa tolong kontrol pembangunan Lumiere. Lihat apakah pekerjaan mereka berjalan lancar atau tidak. Ingat, tidak perlu membantu Luvena. Biar aku sendiri yang mengajarinya."


Setelah menyelesaikan ucapannya, Zachary berlalu pergi diikuti Baron O'Neil. Eve yang awalnya menghembuskan napas lelah, kali ini memutuskan untuk mengalah sebelum sang duke kembali mengamuk. Dengan gerakan malas-malasan, akhirnya gadis muda bergaun ungu itu ikut mengekori Zachary. Dan sekali lagi, pria itu hampir menyemburkan amarahnya kembali karena anak perempuan satu-satunya itu belum juga mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"Kita tahu bagaimana cara His Grace menertibkan anak-anaknya," bisik Ethan yang duduk di sebelah Declan. "Apakah kau tidak takut jika adikmu akan disakiti olehnya?"


"Aku lebih takut jika tensi darah His Grace naik," ungkap Declan jujur, "jika kau lupa, adik kita itu cukup ... yah, menyebalkan. Jika tidak memiliki kesabaran yang tinggi, mungkin seseorang yang menghadapinya akan mati di tempat."


Ethan mengerjap. "Setelah memikirkannya baik-baik, aku sepemikiran denganmu," ucapnya setelah beberapa saat. Dia lalu beralih menatap Beckett. "Hei, kenapa kau malah mau membantu Eve, Beckett? Bukankah seharusnya kau menawarkan bantuan itu kepada His Grace."


"Tidak-tidak, mau bagaimana pun Lulu haruslah ditemani," ujarnya bersikeras. Dengan gerakan tiba-tiba, Beckett bangkit dari tempat duduknya. Menggebrak meja makan dengan penuh tekad membuat kedua saudaranya menjengit kaget. Meski begitu, Declan masih bisa mempertahankan raut datarnya. "Walaupun His Grace akan marah, aku akan tetap menemani Eve. Dan kalian berdua!" Dia menunjuk Declan dan Ethan bergantian. "Jangan sekalipun berpikir untuk menghentikan ku!"


Ethan meringis sedangkan Declan menatap adik seayahnya itu prihatin. Kedua orang itu saling melempar tatapan. Setelah Declan memberikan perintah melalui sorot matanya, Ethan yang mengerti maksud saudaranya itu segera mengangguk. Dia berdiri, lalu mencekal Beckett dari belakang.


"E-eh, apa-apaan ini?!" Beckett berusaha melepaskan cekalan Ethan namun hasilnya nihil. "Cepat lepaskan aku!"


"Tidak ada yang akan menemani Eve. Kita semua akan pergi, sama seperti permintaan His Grace." Declan berdiri. "Ayo, jangan membuang-buang waktu lagi."


"Ini pemaksaan!" jerit Beckett sebelum Ethan membawanya pergi dari sana, menyusul Declan yang sudah lebih dulu melangkah keluar.


...----------------...


"Ya, Your Grace."


"Jangan lupakan tata krama."


"Baik, Your Grace."


"Selalu tampilkan kesan terbaikmu."


"Tentu, Your Grace."


"Hindari masalah."


"Aku tidak pernah membuat masalah, Your Grace."

__ADS_1


Dari balik dokumennya, Zachary mendongak. Menatap Eve dengan alis terangkat.


"Maksudnya, tidak pernah membuat masalah kecil, Your Grace." Eve tersenyum lebar, menampilkan gigi putihnya yang berseri.


"Untuk yang satu itu aku setuju." Zachary kembali berfokus kepada berkas-berkasnya yang menumpuk seperti karung gandum yang kosong. Eve yang kebetulan duduk di depannya hanya bisa duduk bosan. Keluarga Aslein itu ... kalau ingin berkunjung, ya berkunjung saja. Tidak perlu membuatnya sampai menunggu lama seperti ini!


Apalagi satu ruangan bersama Duke of Lumiere. Bukan, maksudnya hanya berdua. Iya, berdua, tanpa ada orang lain seperti biasanya. Untuk pertama kalinya, Eve ingin berubah menjadi vas bunga di pojok ruangan saja.


"Bagaimana kabar Margaret."


Eve terdiam. Kenapa tiba-tiba menanyakan ibunya? "Mama baik-baik saja. Anda tidak perlu mengkhawatirkannya."


Zachary mengangguk. Untuk pertama kalinya dia bisa berbicara normal bersama Eve. "Aku sudah mengantarkan dua puluh gerobak bahan makanan dan berpeti-peti emas dan permata ke rumahnya. Seharusnya makanan dan harta sebanyak itu bisa membuatnya bertahan hidup tanpa bekerja selama beberapa tahun."


"Jika maksud Anda mengirimkan semua itu sebagai bentuk terima kasih karena mama bersedia menyerahkan saya ke dalam keluarga Lumiere, maka itu tidak perlu."


"Luvena, jangan mulai ...,"


"Mama tidak butuh itu semua." Eve menatapnya sungguh-sungguh. "Setelah ini aku berjanji tidak akan membuatmu marah lagi dan mengikuti semua perintah mu betul-betul. Aku juga tidak akan berbuat onar, ataupun meresahkan Keluarga Lumiere asalkan Anda mengabulkan satu permintaanku."


"Biarkan mama tinggal di sini."


...****************...


Tolong maklumi abangnya Eve yang rada somplak itu😩🙏🏻


Gimana nih, apa kalian setuju Margaret tinggal di kastil Lumiere lagi?🤔


Trus kalau suatu saat ketemu Lady Britney mesti gimana, dong?😩


Komen below😆👇🏻

__ADS_1


__ADS_2