
Xerr memejamkan mata, menikmati sapuan angin yang berhasil menerbangkan anak rambutnya, memberikan rasa tenang dan damai. Dari jarak yang setinggi ini, dia dapat menyaksikan Sasania dari jauh. Bangunan istana dan kastil Lumiere memang yang terbesar, tapi Xerr yakin betul bahwa kenyamanan yang ditawarkan oleh kedua tempat itu jauh berbeda dengan pegunungan yang dia pijaki saat ini.
Ya, Xerr tahu betul sebab dia tinggal di salah satu tempat paling besar tersebut.
Melupakan pikirannya barusan, Xerr berbalik lalu menghampiri sebuah pusara yang ditandai batu besar berukir mewah tertancap di dalam tanah. Diusapnya nama yang tertera di sana,
Royal Majesty, Queen Sophia Roosevelt
"Apakah ibunda merasa kesepian?" Xerr berjongkok, berusaha untuk mendengar suara Sophia dari dalam sana walau ia tahu hal itu mustahil. "Aku juga."
"Sejak His Majesty memutuskan menikahi wanita lain dan menggantikan posisi ibunda di hatinya, istana serasa bukan rumah lagi bagiku," ungkapnya disertai senyum tipis, "apalagi setelah tahu bahwa His Majesty tetap akan menjadikanku sebagai penerusnya, rasa bersalah selalu menghinggapiku kepada Pangeran Felix. Selama ini dialah yang dijadikan tumbal, menduduki posisi semu bernama putra mahkota agar musuh-musuh terkecoh dan hanya memikirkan cara untuk membunuhnya, lalu melupakan pangeran lain khususnya aku. Mau bagaimana pun, dia lebih berhak atas takhta. Benar, kan, ibu?"
"Makanya, jika ibunda ingin marah setiap kali tahu aku kabur dari istana, ingatlah terus akan alasanku barusan. Semua tindakanku ... pasti ada alasannya." Xerr mendongak, memperhatikan cahaya matahari yang berusaha menerobos setiap celah daun maple untuk bisa mencapai tanah. "Aku hanya ingin His Majesty membenciku karena dianggap lalai, kemudian para pendukung ku akan beralih mendukung pangeran lain yang lebih berkompeten. Dengan begitu, aku bisa hidup damai di sini, bersamamu. Tanpa harus memikirkan bagaimana cara untuk bertahan hidup di hari esok dan seterusnya."
"Yang terakhir. Selamat ulang tahun." Xerr dengan semangat membuka kotak buket yang baru saja dia beli. Dulu yang dia ingat, saat pemakaman sang ratu, orang-orang memberikan banyak bunga anyelir. Xerr tidak tahu apa bunga kesukaan Sophia sehingga sampai saat ini dia masih mengikuti kebiasaan saat pemakaman; menyerahkan bunga anyelir putih.
Berbeda dari ekspektasinya, senyuman lebar Xerr mendadak surut setelah melihat isi kotak ternyata berbeda dengan bunga yang dia pesan. Sebuah buket bunga cantik berwarna merah muda dan putih, jelas bukan bunga pesanannya. Lalu apa ini, apakah pesanannya tertukar?
"Bunga tulip?" Xerr mengeluarkan buket bunga itu dari dalam kotak dengan perasaan bingung. "Jelas-jelas aku memesan bunga anyelir putih—"
Ingatan Xerr kembali ke beberapa jam yang lalu saat dirinya memesan bunga di toko Madam Fiona. Si mata biru itu! Tidak salah lagi, buket bunga pesanan mereka kemungkinan besar sudah tertukar!
__ADS_1
"Tuhan sepertinya mendukungku, ibu. Sekarang aku memiliki alasan untuk menerobos masuk ke dalam gerbang Lumiere." Xerr sempat terkekeh geli. Dia kembali memasukkan bunga tulip segar itu di dalam kotak, lalu berdiri. Untuk yang terakhir kali, dia mengusap puncak pusara sang ibu.
"Sampai kapanpun, aku akan menyayangimu."
...----------------...
Brak!
Declan tidak bersusah-payah untuk mendongak. Dia tahu betul siapa orang yang bisa bersikap sebegitu beraninya terhadap dirinya yang jelas-jelas berstatus sebagai seorang pewaris resmi. Rai terlihat ingin melarang Eve masuk karena sebelumnya memang belum diizinkan. Namun dengan gerakan tangannya, Declan memaklumi hal tersebut dan menyuruh Rai kembali menutup pintu.
"Ternyata kau memang ingin membunuhku, ya." Eve menyipit, menatap tidak suka. Di kedua tangannya dia membawa sekotak buket bunga yang masih tertutup rapi. "Tega sekali!"
"Saat tinggal di desa, aku selalu diajarkan mama tentang makna segala jenis bunga agar kedepannya tidak pernah terjadi kesalahpahaman," sembur Eve lagi sengit, "termasuk makna dari bunga anyelir putih yang kau berikan padaku itu, kau kira aku tidak tahu?!"
"Bunga anyelir?"
"Ini!" Eve membuka kotak buket itu. Di dalamnya terdapat rangkaian bunga anyelir yang ditata sedemikian rupa lengkap dengan kain brokat putih sebagai hiasan tambahan di bagian tangkai. "Bunga anyelir artinya berduka cita. Ingin mendoakan agar aku cepat mati, begitu?"
"Aku tidak memesan bunga ini, Eve."
"Tidak memesan? Lalu bagaimana dengan ini?" balas Eve lagi sembari menyodorkan bunga itu disertai perasaan kesal.
__ADS_1
"Aku memesan bunga tulip untukmu, bukan bunga anyelir." Declan menghela napas lalu memijit keningnya yang berdenyut. Bisa-bisanya bunga anyelir itu datang bertepatan dengan candaannya kemarin. Sekarang dirinya benar-benar terlihat seperti ingin membunuh adik kandung sendiri. "Percakapan kita kemarin saat di kereta ... itu hanya candaan. Aku tidak akan menghukum dirimu dengan cara menyakiti apalagi sampai membunuh."
Eve termenung. Oh, jadi Declan kemarin hanya bercanda? Tapi sungguh, ekspresinya terlihat sama seperti saat berbicara serius, datar tanpa ada tawa yang menyertai. Seburuk itukah humor kakaknya ini sampai-sampai tidak bisa dideteksi kapan dia akan melemparkan candaan?
"J-jadi buket bunga ini milik siapa?"
Declan mengangkat kedua bahu. "Entahlah," jawabnya asal. Menarik lembut telapak tangan Eve, dia mengajak adik perempuannya itu untuk duduk di sebuah sofa hitam yang terletak di tengah-tengah ruang kerjanya.
"Menyebabkan dirimu salah paham sampai sejauh ini, sepertinya toko bunga itu ingin bangkrut." Walau terdengar begitu mengerikan, nyatanya Declan mengatakan hal itu dengan nada yang terbilang sangat santai. Ia menggulung lengan pakaian formalnya, menampilkan lengan kekar yang dipenuhi urat menonjol khas pria dewasa yang rajin berolahraga. Eve baru menyadari jika kakaknya bisa sekeren ini. Pantas saja wanita di luaran sana saling memperebutkan posisi sebagai pendamping Declan walau sampai sekarang belum jelas kepada siapa Declan akan memberikan posisi paling menguntungkan itu.
"Berapa banyak gula batu yang kau suka?"
"Tiga butir," jawab Eve yang merasa sedikit malu karena sudah menuduh Declan yang tidak-tidak. Apalagi setelah tahu Declan rencananya akan memberikan bunga tulip —melambangkan kasih sayang yang sempurna—, entah mengapa Eve merasa keberadaan dirinya sangat dihargai di sini. "Em, kenapa kau tidak meminta pelayan saja menyiapkan teh untuk kita?"
"Melakukan hal mudah seperti ini lebih menyenangkan jika dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain." Dengan cekatan Declan menuangkan air hangat di dalam masing-masing cangkir, menciptakan percikan-percikan kecil yang saling melompat dan uap hangat yang mengudara jauh. "Walau terlihat kecil, tapi percayalah bahwa apa yang sedang kau lakukan saat ini mungkin akan berguna suatu saat nanti. Bisa jadi berguna di saat-saat sulit ...," ujar Declan sambil memperhatikan Eve yang masih menyimak ucapannya.
"Atau bisa jadi berguna di saat nyawamu hampir direnggut oleh orang lain," tandasnya lagi, "kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam beberapa jam atau pun dalam beberapa menit kemudian, kan."
Eve merinding. Entah sejak kapan obrolan mereka terdengar lebih mengerikan dibanding menceritakan sesosok hantu. Eve mengerti ke mana arah pembicaraan Declan. "Sudah berapa kali kau hampir diracuni oleh pelayan-pelayan yang menyiapkan minuman untukmu, Declan?"
"Lima kali," jawab Declan dengan tatapan menerawang. "Dan percobaan pembunuhan terakhir berhasil membunuh Bibi Dania, pengasuhku sejak ditinggal mama hari itu."
__ADS_1