Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Taruhan


__ADS_3

Semenjak kejadian di istana tempo hari, Eve menjaga jarak dengan siapa pun. Khususnya Pangeran Julius, dan syukurnya sejauh ini pria itu tidak mengganggunya lagi. Entah dia sudah sadar dari bogeman Lucas atau belum, Eve tidak peduli. Yang jelas kejadian mengerikan di taman waktu itu sungguh menekan mental Eve sampai ke titik terendah.


Dia tidak menceritakan perbuatan biadab Pangeran Julius itu kepada siapa pun, termasuk ketiga saudaranya. Eve takut mereka akan bertindak di luar dugaan dan menyebabkan semua rencana hancur. Hanya Lucas yang mengetahui detail kejadian. Dan hanya pria itu yang bisa menenangkan dirinya dan dengan sabar menjelaskan dampak buruk dari perbuatan Pangeran Julius jika dia dibiarkan.


Sudah seharian Eve menangis. Tidak ada yang mengetahuinya, bahkan para pelayan.


Dan untuk pertama kalinya setelah hari itu, akhirnya Eve berani membuka jendela. Sejenak udara dingin yang berhasil menerpa dirinya terasa begitu menghipnotis, begitu sejuk sampai tanpa sadar Eve berjalan ke arah balkon.


Eve mendongak. Jauh di atas awan sana, dia melihat seekor burung tengah berputar-putar tepat di atas kepalanya. Lama-kelamaan burung itu justru terbang semakin rendah dan alhasil mendarat dan bertengger di pegangan balkon.


Eve mendekat kala menyadari ada segulung kertas yang terikat di kaki burung tersebut. Begitu terlepas, burung yang memiliki bulu coklat itu kembali terbang lalu hilang di antara awan-awan putih yang menggantung indah siang itu.


Burung pengantar surat?


Kertas kekuningan yang diikat dengan tali merah itu dengan cepat dibukanya. Sebuah tulisan rapi yang ditulis tergesa-gesa —terlihat dari setiap gores pena— membuat Eve serius membaca.


Lady Luvena, bagaimana kabarmu?


Saya ragu apakah Anda masih mengingat saya atau tidak. Tapi saya adalah Jenderal Nicholas, kita pernah bertemu di istana dan mabuk bersama sampai Lord Lumiero mengamuk, masih ingat, kan, haha!


Dan itu juga yang menyebabkan saya tidak bisa mengunjungi Kastil Lumiere. Sebenarnya bisa, tetapi Lord Lumiero selalu menghalangi saya untuk bertemu Anda. Saya harap Anda juga merasakan rindu yang sama.


Siang ini saya tidak lagi berada di ibukota. Seperti biasa, untuk menjalankan tugas. Sebenarnya saya ingin mengucapkan salam perpisahan, tetapi sepertinya saat Anda menerima surat ini, saya sudah pergi jauh.


Pesan saya, jagalah kesehatan. Mau bagaimana pun, sebentar lagi pernikahan Anda akan dilaksanakan. Ah, iya, saya juga sudah merelakan Anda untuk Pangeran Julius demi Sasania yang sama-sama kita cintai.


Jangan khawatir, keadaan hati saya baik-baik saja meski kita tidak bisa bersama. Huhu, aku mencintaimu!


Jenderal Nicholas, satu-satunya pria yang memakai ikat rambut setiap saat.


"Jenderal Nicholas...." gumam Eve sembari memperhatikan nama pria itu sekali lagi. Dia ingat betul siapa dia dan yang namanya jenderal, sudah pasti sering membantu mengamankan wilayah Sasania.


Tetapi mengapa kali ini dia berkata pamitan, padahal sebelum-sebelumnya dia tidak pernah melakukan hal yang sama.


Aneh. Pasti terjadi sesuatu.


Eve kembali memasuki kamar lalu menyambar jubah polos yang biasa dia gunakan untuk menyusup di jalanan ibukota, lalu bersiap pergi.


Dia berencana diam-diam menuju istana. Sekadar untuk memastikan keadaan Lucas. Karena dia tahu, sedikit banyak pria itu juga terlibat dalam keanehan Jenderal Nicholas kali ini.


Eve membuka kunci kamar. Namun sebelum Eve berhasil meraih gagang pintu, dari arah luar seseorang lebih dulu menekan handel pintu ke bawah. Begitu pintu terbuka, tampak duke dan kakak kandungnya tengah berdiri di depan sana.


"Lady Luvena, kita perlu bicara."

__ADS_1


...----------------...


"Pelayan baru saja mengatakan bahwa kau datang pagi-pagi buta ke kamarku." Raja memegangi kepalanya. Efek minuman beralkohol masih begitu mengganggu, padahal beberapa waktu sudah terlewati. "Ada apa, putra mahkota?"


"Saya ingin mengatakan sesuatu yang penting, tentu saja." Lucas membenarkan posisi duduknya. "Jadi, ini mengenai pangeran dari negeri asing itu...."


"Apa masalahmu?"


"Keputusan membangun persahabatan dengan mantan musuh masih mengganggu pikiran saya, Yang Mulia. Apakah pernikahan Lady Luvena tidak terlalu cepat? Maksud saya, hubungan kita dengan Brodsway tidak sebaik itu untuk mempercayakan keamanan dan keselamatan salah seorang bangsawan tinggi dari negeri kita untuk tinggal di sana dalam kurun waktu selamanya. Ini tidak adil, Lady Luvena bisa saja diperlakukan buruk terlebih lagi ... dia baru." Lucas menghela napas. "Mohon Anda pikir-pikir lagi tentang tanggal yang tepat untuk pertunangan mereka. Tentu saja tanggalnya juga sesuai dengan kesepakatan awal bersama Duke of Lumiere."


"Masalahnya, tidak ada cara lain yang bisa menjauhkan kita dari peperangan selain menjalin hubungan keluarga dengan Brodsway." Raja dengan santai menghidupkan cerutu miliknya. Mengisap dalam, sebelum menghembuskannya kembali di udara dalam bentuk asap-asap tipis. "Memangnya kau memiliki cara lain selain itu?"


"Tentu saja."


"Katakan, jika aku boleh tahu."


"Saya ingin merebut kerajaan mereka. Dengan begitu tidak akan ada perang lainnya lagi, Brodsway menjadi milik kita."


Usai mendengar pemikiran putranya, sang raja seperti tersedak asapnya sendiri. Lucas tidak peduli, ia masih duduk tenang di kursinya.


"Pemikiranmu cukup ekstrem." Raja berdehem. "Aku tidak berpikir untuk mengibarkan bendera perang. Tidak, selagi aku masih hidup."


"Tetapi keputusan Anda yang selalu menghindari setiap peperangan sering dianggap pengecut oleh negara lain, Yang Mulia," tandas Lucas tanpa melembutkan kata-katanya yang kelewat jujur.


"Aku tidak peduli. Mau pengecut atau tidak. Hal paling penting, semuanya baik-baik saja, iya, kan?"


"Rakyat sejujurnya mengharapkan pekerjaan yang layak juga perlindungan yang terjamin. Tetapi kemana perginya menteri-menteri yang mengurus semua itu, dan juga anggaran? Anda hanya terfokus pada hubungan antar negeri lain dan menghiraukan mereka. Membuat pesta mewah dalam satu malam hanya untuk menghibur dan mengemis apresiasi dari mereka," kritik dari Lucas terus berlanjut. Dia tidak akan menahan diri lagi sekarang karena statusnya adalah putra mahkota, dia berhak ikut andil dalam mengatur pemerintahan.


Raja terdiam. Belum selesai masalah yang lalu, sekarang datang masalah baru lagi yang disebabkan oleh putra mahkotanya yang terlalu kritis dalam berpikir. Dirinya merasa frustasi. "Lalu aku harus apa?!"


"Saya ada saran, namun sedikit kejam. Saya tidak yakin raja lemah lembut seperti Anda mau menerimanya."


"Pulangkan Pangeran Julius. Umumkan perang akibat perbuatan bejatnya, lalu biarkan saya yang mengurus sisanya termasuk tim-tim pasukan dan perbekalan. Setelah ini, nama Anda tentu saja akan dikenang baik dalam sejarah." Lucas tersenyum tipis, "mudah, kan."


"Sudah aku katakan sejak awal, aku tidak ingin mengibarkan bendera perang melawan negeri mana pun. Jangan keras kepala!" Terlihat jelas urat-urat leher sang raja menonjol. Kemarahan terhadap putranya sejak tadi sudah dia tahan. "Lagipula perbuatan bejat apa yang kau maksud?"


"Dia mencoba mengambil keuntungan dari Lady Luvena."


"Lady Luvena adalah calon istrinya, apa yang salah dari itu?"


"Ck, Anda ini...," decak Lucas sedikit kesal. Dasar, Raja kolot! "Ah, begini saja. Bagaimana jika kita taruhan?"


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Saya akan mengambil separuh wilayah Brodsway tanpa menggunakan sedikit pun bantuan dari Anda. Jika gagal, maka silakan lanjutkan pemikiran aneh Anda dan saya berjanji tidak akan mengganggu. Tapi jika berhasil...." Lucas menyeringai.


"Saya berhak mendapatkan kursi raja secara sukarela dari Anda, bagaimana?"


"Ini taruhan besar." Sebagai peringatan terakhir, Lucas menambahkan. "Saya sudah memperingatkannya sejak awal, loh. Jadi jika sudah terjadi, jangan sampai menyesal."


Raja berpikir sejenak. "Tanpa bantuan siapapun bahkan itu dari jenderal atau prajurit istana?"


Lucas mengangguk yakin.


Raja kembali berpikir. Selama ini prestasi yang Lucas dapatkan sedikit banyak juga berasal dari prajurit istana yang tangguh. Jika dia tidak memegang pasukan manapun, mana mungkin dia akan menang. Tetapi resikonya ... mungkin Lucas akan dijatuhi hukuman gantung oleh Brodsway karena berani mengganggu keamanan mereka. Ah, baik menang taruhan atau tidak, dua-duanya sangat merugikan. Antara kehilangan takhta atau justru kehilangan sosok Lucas yang menjadi pedang bayangannya.


Tetapi mengenal Brodsway yang merupakan wilayah bersalju setiap tahun, mungkin mereka akan menerima barter dengan pasokan makanan penghangat jika nantinya Lucas tertangkap. Entahlah, sekuat apapun raja, dia tidak bisa menghentikan Lucas dan ambisinya. Setidaknya hanya cara itu yang bisa dia lakukan andai putra mahkotanya ini tertangkap dan dijadikan tahanan.


Setidaknya biarkan Lucas merasakan efek jera. Setelah itu, barulah dia bisa berpikir damai dan menghindari perang sama sepertiku, ujar Hudson di dalam hati.


"Aku sudah cukup gila dengan menyetujui taruhan konyolmu ini." Rajs tersenyum geli. "Pulanglah dengan anggota tubuh yang lengkap."


"Anda sudah menyetujui taruhan ini. Tidak boleh ada yang mundur sampai hasilnya terlihat."


"Kau boleh mundur, putra mahkota."


"Saya pantang menarik ucapan." Lucas menjawab lugas. "kalau begitu saya permisi, Yang Mulia. Bersiap-siaplah turun dari takhta," ujarnya dengan nada mengejek.


"Anak durhaka, aku doakan kau tidak berhasil!" sahut raja begitu Lucas sudah berada di ambang pintu lalu pergi dengan langkah lebar.


Hudson menghela napas. Semoga saja taruhan ini tidak menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


Di depan pintu begitu Lucas keluar, tangan kanannya sudah menunggu dengan patuh.


"Bagaimana hasilnya, putra mahkota?"


"Tua bangka itu menyetujuinya." Lucas terkekeh. "Lebih mudah dari perkiraanku."


"Setelah ini, apa yang harus kita lakukan?"


"Kau bisa menyusul pasukan lebih dulu." Pria itu berjalan menjauh. Ah, sekarang hatinya sungguh lapang. "Aku ingin menculik seseorang."


"Menculik?!"


"Tenang saja, aku akan meminta izin darinya terlebih dahulu sebelum menculik."


"Kalau boleh tahu, siapa yang akan Anda culik?"

__ADS_1


"Calon istriku," jawab Lucas singkat namun begitu menggemparkan bagi tangan kanannya itu.


Calon istri, tunangan saja belum ada, lalu sejak kapan putra mahkota dekat dengan wanita?!


__ADS_2