
Sesuai kesepakatan, esok harinya ketiga orang itu bersiap-siap untuk pergi ke desa di mana Eve pernah tinggal. Pekerjaan Zachary yang notabenenya tidak pernah habis, pada akhirnya dilimpahkan sementara kepada Baron O'Neil walau pria tua itu sempat memprotes dan tidak setuju dengan dalih punggungnya akan sakit jika duduk diam saja dalam beberapa jam. Bersama Rai, mereka diminta bekerja sama menyelesaikan masalah-masalah kecil. Sisanya akan Zachary selesaikan usai dia kembali dari perjalanannya.
Sejak dini hari, kereta mulai bergerak. Sambil memperhatikan awan yang jauh di atas sana, Zachary baru saja terpikir. Kenapa bisa-bisanya dia mengikuti permintaan Eve yang konyol begitu saja? Benar-benar bukan seperti dirinya.
Lagipula, apa keuntungannya pergi ke sana. Tidak ada!
Zachary mengarahkan tatapannya kembali ke dalam kereta. Di seberang tempat duduknya saat ini, tampak Eve tengah sibuk menjepit rambut Ethan yang lebat pendek menggunakan jepit rambut miliknya. Beckett tampak cekikikan sambil menyodorkan beberapa jepit dan ikat rambut warna-warni di kedua tangannya, sedangkan Declan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya yang jahil.
Ethan? Jangan ditanya. Dia benar-benar tidak berdaya terhadap bujuk rayu Eve yang memaksanya seperti ini dengan alasan bosan. Pria itu sambil beberapa kali melirik tajam ke arah Beckett, namun saat matanya tidak sengaja bersibobok dengan manik biru Eve, dia akan berusaha tersenyum manis. Sedikit dipaksa.
Omong-omong tentang Ethan dan Beckett, kedua orang itu langsung memaksa ikut ketika tahu Eve ingin kembali ke desanya. Zachary yang lelah melarang, akhirnya terpaksa membawa kedua putra keras kepalanya itu untuk ikut serta dalam rombongan mereka, dengan hati yang jauh dari kata lapang.
Menambah beban saja. Sungguh.
Melihat bagaimana tersiksanya Ethan, Zachary tersenyum tipis. Ternyata keputusannya untuk mengajak Ethan dan Beckett tidak terlalu buruk. Kedua kakak konyolnya itu mungkin bisa menenangkan hati Eve yang sangat khawatir akan kesehatan ibunya.
"Akh! Eve, tolong pelan-pelan. Rambutku rasanya mau rontok!" pekik Ethan dengan mata berair saat Eve berhasil menjepit anak rambutnya yang baru tumbuh. Benar-benar adik durhaka!
"Ck, jangan disentuh!" Eve menepis tangan Ethan yang ingin melepaskan jepit rambut warna-warni yang menempel di kepalanya. "Menatanya bukan gampang. Selain menghargai ku, kau juga berubah menjadi lebih cantik, Ethan. Benar-benar terlihat seperti seorang lady yang siap pergi ke debutante."
Sontak mereka tertawa walau Beckett lah yang suaranya paling keras. Sudut matanya mengeluarkan butiran air, tidak tahan dengan perubahan gaya berbusana Ethan yang jungkir balik.
Wajah Ethan memerah, dirinya semakin kesal tatkala Beckett yang berperan sebagai pangeran berpura-pura mencium punggung tangannya. "Lady, kecantikan mu yang tiada tara telah membuatku terpesona. Untuk itu, maukah kau menikah denganku?"
"Sialan!" Ethan menghempaskan tangan Beckett disertai ekspresi jijik yang kentara. "Menjauh dariku!"
Duduk di sudut bangku, Declan menghela napas. "Eve, Beckett, cukup. Ini kelewatan." Dengan wajah datarnya, dia melirik Ethan yang mengharapkan pembelaan. "Tidak lihat bagaimana Ethan hampir meneteskan air matanya karena kalian?"
"Salah jika aku mengharapkan pembelaan dari saudara-saudaranya si bungsu Lumiere," ujar Ethan mendengus lalu berusaha melepaskan jepit rambut di kepalanya satu-persatu.
__ADS_1
"Tapi kau 'kan saudaranya juga."
"Tidak semaniak kalian," sahutnya lalu menarik kepala Eve, menjepitnya di antara ketiak. Balas dendam. "Rasakan!"
"Heh, apa yang kau lakukan?! Cepat lepaskan sebelum keringat dan noda di ketiak mu menempel padaku!" pekik Eve berusaha melepaskan diri dari kakak bodohnya namun bukannya berhasil, perlawanannya itu justru mendukung gelak tawa saudara dan ayahnya.
Wajahnya padam. Namun bukan Eve namanya jika menyerah. Saat jurus terakhir diluncurkan, Ethan masih bergeming. Tidak kehabisan akal, sebelum dirinya kehabisan nafas, Eve memandang sendu ke arah Zachary yang menontonnya.
"Ayah, tolong aku," ujarnya dengan ekspresi hampir menangis.
Zachary membeku. Entah mengapa hatinya menghangat dan ... nyaman. Karena peraturan kebangsawanan yang ketat, ketiga putranya bahkan hampir tidak pernah memanggilnya dengan panggilan serupa, terlebih lagi Eve yang sejak awal membencinya. Tidak, itu wajar. Zachary tidak pernah meminta gadis kecil itu untuk menerima kehadirannya setelah kejadian di masa lalu. Di mana dia mengkhianati Margaret, lalu mengusirnya.
Dirinya memang pantas dibenci.
"Your Grace?" gumam Eve setelah panggilan sebelumnya tidak digubris.
Perlahan Ethan melepaskan Eve dari ketiaknya. Begitupun Beckett yang berdehem canggung dan Declan yang senantiasa melipat kedua tangannya di depan dada.
Sepi
Eve membenci suasana dingin ini. Tanpa pikir panjang, dia mendekati Zachary, kemudian menempelkan sebuah jepit rambut berwarna biru di atas surai pirang sang duke.
Suasana berubah mencekam.
"Apa ini."
Ketiga saudaranya yang lain hanya diam menonton dengan mata membola. Tidak menyangka Eve berani memberikan jepit rambut sialannya itu kepada duke yang temperamennya dikenal buruk. Tanpa diketahui, ketiganya sama-sama berdoa di dalam hati agar sesuatu yang buruk tidak menimpa adik mereka. Ibarat membangunkan macan yang sedang tertidur, Eve benar-benar sudah melakukannya!
"Seperti ucapan mu, bercanda boleh asalkan tidak berlebihan, jadi tidak masalah, kan? Lagipula, menghibur orang yang sedang sakit itu menyenangkan, terlebih lagi jika orang itu adalah orang spesial. Mama spesial untukku, tapi aku berharap dia juga spesial untukmu." Eve tersenyum lebar sembari membenarkan beberapa anak rambut Zachary yang diterpa angin. "Warna jepit rambut itu cocok dengan warna matamu, Your Grace. Sungguh serasi."
__ADS_1
"Spesial?" Zachary tertawa kecil.
"Ada yang salah?"
"Kita tidak akan datang sebagai Keluarga Lumiere, akan tetapi kita akan menyamar sebagai kerabat jauh Eve yang miskin dan biasa-biasa saja, tanpa embel-embel bangsawan." Ini dia yang Zachary tunggu-tunggu. Sebuah kebebasan. "Setuju atau tidak, kalian harus setuju karena sudah memaksakan diri untuk ikut kemari."
Beckett melongo, "Orang miskin katamu? Seperti apa, kita saja pergi menggunakan kereta sebagus ini. Mana mungkin orang percaya kita miskin!"
Ethan mengangguk setuju, "Orang buta sekalipun juga bisa mengetahui identitas kita jika menggunakan pakaian sewangi ini."
"Aku tidak mengatakan kita ke sana menggunakan kereta dan pakaian yang sekarang kita kenakan."
"Ap-Apa?!"
"Di perbatasan orang ku sudah menunggu. Kita akan menukarkan kereta, bawaan, dan pakaian di sana." Zachary tersenyum miring. "Aku sudah menyiapkan segalanya. Tidak akan ada orang yang tahu tentang hal ini. Jadi sebaiknya, bersikaplah dengan normal."
"Jadi selama ini kita bersikap tidak normal, ya, Your Grace?"
"Eve!"
......................
Akhirnya mood menulis kembali!🤯
Secercah rasa bersalah mungkin sudah terbit di hatinya Zachary tuh, haha.
Gimana, apa kalian dukung Zachary balikan sama Margaret, atau tetap menjalankan balas dendam seperti di awal aja?
Komen di bawah👇🏼👇🏼
__ADS_1