
Eris, dengan gampangnya melangkahkan kaki masuk lebih jauh ke dalam kastil Lumiere meski tiga orang prajurit berusaha menghadang jalannya. Dia berusaha ke sana, mereka juga ke sana. Eris berusaha ke sini, mereka juga ikut ke sini. Lelah dibuntuti, pria bersurai hitam itu berdecak sebal, lalu berteriak.
"Ethan, Beckett, di mana kalian? Cepat kemari dan tolong bantu aku sebentar!"
"Tuan, tolong jangan membuat keributan di sini. Jika Anda memang benar tamu His Lordship, mohon bersikaplah sebagaimana mestinya," peringat salah satu prajurit yang cemas jika tuan mereka merasa terganggu dengan teriakan Eris barusan.
"Aku berteriak karena kalian mempersulitku, tahu. Aku datang kemari untuk mengabarkan sesuatu dari Yang Mulia Ratu untuk saudara-saudaranya. Dan fakta lainnya, Ethan dan Beckett itu saudaraku juga. Kalian mengerti?!"
Ketiga prajurit itu saling tatap dengan dahi mengernyit. Bingung, lebih tepatnya. Dasar, orang aneh.
"Anda sudah diperbolehkan masuk, bukan berarti Anda juga diperbolehkan mengarang cerita khayalan. Putra-putri duke sebelumnya hanya ada empat orang, dan bukan lima."
"Siapa yang bilang aku adalah putra Duke of Lumiere sebelumnya?"
Ketiga prajurit kembali dilanda keheranan. Apa maksudnya. Semakin ke sini, semakin terlihat jelas bohongnya.
"Demi keamanan kastil, lebih baik Anda pulang saja. Kami tidak memerlukan orang pembohong besar berada di sini, lalu bicara seenak hati seperti mengatakan sebuah lelucon. Anda bisa mengatakan hal yang sama di kedai arak, atau apapun itu. Beberapa orang mabuk mungkin akan mempercayainya. Jadi, silakan keluar dan mohon pengertiannya, tuan."
"Astaga, apakah aku perlu menjelaskan garis keturunan leluhurku dulu baru kalian percaya?" sentak Eris kesal bukan main. "Minggir, aku ingin bertemu— ah, itu dia orangnya, tepat sekali. Dec— maksudku, Duke of Lumiere! Tolong!"
Declan yang baru hitungan bulan menggantikan posisi Zachary menjadi Duke of Lumiere, awalnya berniat pergi ke aula. Begitu menoleh ke arah Eris yang dihalangi oleh tiga orang prajurit tepat di depan pintu masuk, pria itu menaikkan sebelah alisnya.
"Lepaskan dia."
"Tapi, Your Grace. Dia sudah mengaku-ngaku sebagai saudara Anda," ujar salah satunya meminta pertimbangan agar orang sejenis Eris ini tidak diperkenankan masuk ke dalam kastil lagi.
"Dia memang bukan saudaraku, namun saudara seibu bagi Lord Ethan dan Lord Beckett," jelas Declan, lalu memperhatikan Eris yang ... tampil berbeda. Sedikit perasaan simpati Declan rasakan. Tidak ada lagi Eris yang biasanya menggunakan zirah perang dan terlihat gagah berani. Sekarang, pria itu justru memakai gaun span berwarna hitam dengan riasan asal-asalan.
Sudah laki-laki, memakai riasan pula. Benar-benar membuat sakit mata. Declan tahu betul siapa yang bisa melakukan hal memalukan seperti ini kepada mantan Komandan Utara Ksatria Nyx.
__ADS_1
Tidak lain, Yang Mulia Ratu sendiri.
"Your Grace, saya tidak akan berlama-lama karena saya kemari hanya untuk memberitakan berita darurat." Eris akhirnya bisa bernapas lega setelah ketiga prajurit itu menurunkan tombak yang mereka gunakan.
"Terjadi sesuatu?"
"Itu ... Anda tahu, kan, bahwa Yang Mulia Ratu saat ini tengah hamil muda?" Eris mengatakannya pelan-pelan.
"Ya, lalu?"
"Her Majesty menginginkan sesuatu dari Anda. Apakah Anda keberatan? Itulah yang sempat Yang Mulia Ratu katakan."
Jujur, sebenarnya Declan merasa merinding jika Eve lagi-lagi meminta sesuatu darinya. Terakhir kali, wanita itu tidak segan-segan membuat dirinya menceburkan diri di danau istana hanya untuk mencari sebelah antingnya yang sengaja dilarutkan. Permintaan bayi, ujarnya. Sebagai calon paman, Declan tidak bisa membantah permintaan —yang disertai desakan dari Ethan dan Beckett— itu demi membuat adik kecilnya kembali tertawa.
Ibu hamil sangat menyusahkan. Jika begini, Declan sepertinya harus berpikir ulang untuk mengambil duchess. Untuk sementara melajang adalah pilihan terbaik.
"Yang Mulia Ratu ... menginginkan apa?"
"Di pekarangan?!" Declan tak habis pikir.
Eris, dengan polosnya mengangguk. "Dan kopinya harus ditanam langsung oleh Anda, Your Grace. Setelah tumbuh, rencananya Her Majesty akan kemari untuk memetiknya sendiri."
"Tapi permintaannya itu cukup mustahil. Yang pertama, kopi lebih cocok ditanam di daerah dua musim, jelas tidak cocok untuk kita yang melalui empat musim dalam setahun. Lalu yang kedua, kopi dengan kualitas terbaik memerlukan waktu delapan sampai sebelas bulan baru bisa mencapai kematangan sempurna untuk dipetik. Dalam jangka waktu selama itu, bukankah dia sudah melahirkan? Seharusnya tidak ada keinginan-keinginan aneh lagi, kan?"
Semenjak Eve hamil, Declan berubah menjadi pria cerewet. Terkadang begitu mengkhawatirkan adik bungsunya, namun di lain sisi dia juga dapat protes, sama seperti sekarang.
Eris menggeleng lemah. "Saya tidak tahu apa-apa mengenai wanita hamil, Your Grace."
"Ck, kau ini sama sekali tidak bisa diandalkan."
__ADS_1
"Toh, saya belum memiliki istri jadi masih wajar jika tidak tahu-menahu lebih lanjut tentang hamil muda. Lain halnya dengan Pangeran Clinton."
Declan yang mendengar nama seseorang yang tidak asing baginya itu sedikit penasaran. Sebelah alisnya naik. Dengan kedua tangan dilipat di depan dada, ia berdehem.
"Mengapa malah membicarakan Pangeran Clinton. Apakah tujuanmu kemari untuk menghujat seseorang dari belakang?"
"Ah, maafkan saya." Eris menggaruk kepalanya sembari meringis, "soalnya saya yakin Anda belum mengetahui berita terbaru dari His Highness. Masih beberap—"
"Memangnya apa yang His Highness lakukan," sambar Declan masih dengan kepura-puraan. Seolah tak peduli.
Eris diam-diam menahan tawanya yang hampir meledak. Duke baru ini ... bilang saja kalau ingin tahu. Mungkin harga dirinya untuk bergosip juga terlalu tinggi, sama seperti ayahnya.
"Pangeran Clinton terkena skandal. Dia sudah menghamili wanita desa dan sebentar lagi, mungkin berita buruk ini akan menyebar ke seluruh Sasania." Eris memberikan senyum lebar. "Anda adalah orang beruntung yang bisa tahu berita ini lebih awal, Your Grace. Untuk sementara, hanya orang-orang istana yang mengetahuinya— eh, Omong-omong, di mana kedua saudara saya? Sejak tadi dipanggil namun tidak menyahut sama sekali."
"Sejujurnya aku tidak peduli. Mau Pangeran Clinton menghamili siapapun, bukan urusanku. Lalu mengenai Ethan dan Beckett, bukankah mereka masih bekerja di istana, masih berada satu lingkungan denganmu. Mengapa kau bisa lupa?" Sungguh, bicara kepada Eris ini sedikit menguras emosi.
Eris yang baru saja diingatkan, akhirnya terbelalak. "Oh, Anda benar. Di benak saya, merasa dua orang itu masih berkeliaran di kastil ini, maka dari itu datang kemari."
Declan hanya menatapnya datar.
"Kalau begitu saya pamit dulu, Your Grace. Takutnya Yang Mulia Ratu sedang membutuhkan saya sebagai lawan bertarungnya. Jika saya tidak berada di tempat, bisa-bisa His Majesty memarahi saya."
Declan tersenyum kaku. "Bertarung?"
Ia mengangguk, "dengan tangan kosong," jawab Eris bangga.
Mendengar penjelasan tersebut, Declan syok setengah mati. Namun ia tidak berkata apa-apa selain, "Ya, silakan. Pergilah. Tapi hati-hati, jangan sampai menyakiti calon keponakanku atau kau sendiri yang akan mati."
Pangeran Clinton telah menghamili wanita dan aku tidak tahu? Ah, tidak boleh percaya omongan Eris begitu saja. Aku harus bertanya langsung kepada orangnya.
__ADS_1
Usai memastikan Eris sudah pergi, Declan berbalik menatap para pengawalnya.
"Kalian, carikan bibit kopi terbaik yang bisa tumbuh di sini, sesuai perintah Yang Mulia Ratu. Lalu ... siapkan kuda, aku ingin pergi ke istana sekarang juga, mengerti?"