Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Pulau Carmelion


__ADS_3

"Menumpang kapal orang lain dan meminta mereka untuk mengambil rute yang berbeda memang cara yang unik."


"Selagi ada uang, semuanya bisa diselesaikan dengan cepat."


"Oh, ya. Jadi kekuasaan mu selama ini hanya seputar uang, begitu?"


"Bukan hanya, tapi uang adalah jalan penengah jika kedua belah pihak tidak ingin ada kepala yang melayang."


Beckett sendiri hanya bisa memperhatikan bagaimana kedua orang —yang katanya saling mencintai— itu kini sedang berdebat dan tak terlihat ada tanda-tanda yang mau mengalah. Sekarang sudah dini hari dan mereka masih terombang-ambing di tengah laut, tidak jelas mau kemana. Seharian penuh mereka habiskan hanya dengan duduk di pojok kapal untuk menghindar pandangan penumpang lain. Tidak salah lagi, penyebabnya karena salah satu dari mereka adalah penumpang ilegal. Eve.


"Sudah, sudah. Kalian ini sebenarnya mau menculik diriku kemana?"


Eve mendelik, "menculik? Bukankah kau sendiri yang mengatakan ingin mengikutiku sampai ke tujuan?"


"Kalau tahu kalian tidak memiliki tujuan, mana mungkin aku mau ikut."


"Tenang, sebentar lagi akan sampai. Karena kalian adalah orang yang ku percaya, jadi silakan melihat-lihat pulauku itu sampai puas. Tapi ingat, sebelum besok Lord Beckett harus sudah pergi atau Duke of Lumiere akan menaruh curiga lebih dalam padamu."


"Kau seolah-olah merahasiakan keberadaan pulau itu dari semua orang sedangkan orang-orang yang berada di kapal ini nantinya juga akan tahu saat melihat kita turun di sana. Jadi untuk apa berpura-pura lagi?" Ucapan Eve itu diangguki Beckett yang memiliki pemikiran serupa.


"Ah, apakah aku belum mengatakan, bahwa semua orang yang ada di kapal ini adalah orang ku?"


Beckett maupun Eve sama-sama mengerjap. Tunggu, apa maksudnya.


"Astaga, Luke. Untuk apa kita seharian duduk diluar jika tahu mereka adalah orangmu juga!"


Eve dengan perasaan dongkol keluar dari tong tempat seharian ini dia duduk diam. Wajahnya kusut, wajar saja mengingat bukan sebentar dia bersembunyi di dalamnya. Pantas saja sejak awal Lucas tampak santai, bahkan Eve sempat melihat bagaimana dia bisa menyempatkan diri berbincang bersama salah satu penumpang lain.


"Kenapa kita di luar? Oh, itu karena aku ingin berbincang lama bersama kalian berdua— Eh, kenapa keluar? Nanti kedinginan, loh."


"Terserah." Usai mengucapkan hal tersebut, Eve masuk ke dalam kapal dengan langkah lebar. Meninggalkan Lucas dan Beckett yang masih betah diluar.

__ADS_1


"Memangnya aku salah?"


"Jika wanita sudah mengatakan 'terserah', berarti Anda salah." Beckett mengucapkannya sembari tertawa.


"Yah, mereka selalu benar. Seperti itulah wanita." Lucas menuangkan anggur mahal berusia seratus dua puluh tahun itu ke dalam dua gelas kaca tak jauh darinya.


"Mau minum sebentar?"


Beckett tampak menimbang-nimbang. "Kalau sedikit sepertinya tidak masalah."


"Pilihan bagus. Kalau begitu kita teman." Lucas menyodorkan segelas anggur yang sebelumnya telah ia isi setengah. "Jujur saja, Lord. Sebenarnya aku pernah merasa tertarik berteman denganmu sejak kita masih kecil. Sayangnya kau jarang main ke istana, ya?"


Bukannya tersinggung, Beckett justru tertawa. "Apa yang menarik dari saya. Selain anak hasil hubungan tidak sah, saya tidak bisa melakukan apa-apa. Saya tidak bisa sehebat Lord Lumiero ataupun selicik Lord Ethan. Andai tidak ada kata Lumiere di akhir nama saya, mungkin sekarang saya tidak berada di sini."


"Berkecil hati hanya akan membuatmu diam ditempat, Lord. Seharusnya kau juga bisa berkembang sama seperti saudaramu yang lain, kan? Atau bahkan mungkin bisa melebihi mereka."


Beckett terenyuh. "Melebihi mereka?"


Tampan, salah satu keturunan Lumiere, dan juga pandai berbicara membuat Beckett menjadi salah satu bujangan paling diincar oleh setiap debutan. Ibu-ibu sosialita banyak yang memperebutkannya sebagai calon menantu. Selain tidak pernah absen di setiap acara debutante, caranya dalam merayu wanita juga menyebabkan Beckett sebagai pria pujaan. Sayang, sampai hari ini belum ada satupun yang berhasil memikat hati pria ini mau bagaimana pun cantiknya sang debutan.


Mulutnya benar merayu, namun hatinya tidak pernah tersentuh. Belum ada yang berhasil menggeser posisi Eve di dalam hatinya. Gadis kecil itu masih menjadi yang terpenting, entah sampai kapan namun Beckett berharap itu berlangsung selamanya.


Jujur saja, Beckett sendiri merasa tersaingi oleh kedatangan Lucas diantara mereka. Dia dan Eve.


"Bagaimana, Lord. Mau bergabung bersamaku?"


"Saya ... Yang Mulia?" Beckett menunjuk dirinya sendiri ragu.


Lucas mengangguk.


"Percayalah pada dirimu sendiri."

__ADS_1


...----------------...


Eve perlahan membuka matanya tatkala mendengar suara-suara ribut yang berasal dari luar kapal. Pagi sudah menjemput walau matahari belum naik sepenuhnya. Gadis itu menggosok mata lalu mendudukkan diri. Begitu menoleh dia menemukan Beckett tengah tertidur pulas tak jauh dari tempatnya.


"Cepat, turunkan barang-barangnya!"


Seruan dari luar cukup memberikan informasi bahwa mereka telah sampai di tempat tujuan. Eve berubah semangat. Membayangkan tempat seperti apa yang akan mereka tempati untuk sementara waktu, dengan tergesa-gesa dia menggoyang bahu Beckett sampai si empunya mengerang kesal.


"Beckett, ayo, bangunlah. Kita sudah sampai. Apakah kau ingin tidur di kapal ini sampai besok?" ujar Eve tak kalah jengkel masih berusaha membangunkan.


"Sebentar lagi."


"Sebentar bagimu itu sampai setengah hari. Tidak, tidak, bangun sekarang atau aku sendiri yang akan menyeretmu keluar!"


"Tadi malam aku tidak bisa tidur. Kau dul—akh!"


Belum selesai mengutarakan penjelasan, Eve dengan tidak berperasaannya menarik kaki Beckett sampai pria itu sukses terjengkang dari atas kursi. Pria itu tidur dalam keadaan duduk bersandar. Kemarin sudah berbaik hati membiarkan Eve menguasai tempat tidur, sekarang ditambah lagi sikap tidak berakhlak dari adik yang —sialan— disayanginya itu.


"Sekarang. Juga." tekan Eve masih menyeret kaki Beckett keluar menuju ke luar.


"Baik-baik, sekarang juga. Tapi tolong lepaskan kakiku!"


"Jika aku lepaskan, kau pasti kabur. Jangan harap aku bisa percaya dengan akal-akalanmu lagi." Eve berdiri di ambang pintu. Tangannya terulur untuk mendorong pintu dan setelah berhasil dibuka, hasilnya mengejutkan. Sebuah pemandangan yang jauh dari ekspektasinya telah menyambut kedatangan mereka.


"Aku tidak akan kabur, janji. Jika aku benaran kabur kau boleh—"


"Beckett, coba lihat apa yang ada di depan kita...." Kembali melakukannya tanpa perasaan, Eve dengan seenak hati melepaskan kaki Beckett sampai terdengar benturan keras yang beradu dengan lantai kayu kapal.


"Ck, apa, sih."


Beckett buru-buru bangun sebelum Eve kembali melanjutkan kelakuan jahanamnya. Sama seperti Eve, Beckett tidak dapat berkata-kata setelah melihat bentukan asli dari Pulau Carmelion. Sebuah pulau yang tidak pernah dituliskan di peta, ternyata memiliki pemandangan yang seperti ini!

__ADS_1


__ADS_2