Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Menangkap Ikan


__ADS_3

"Loh, Eve, itu kau?" Rooney Alves tersenyum lembut di balik kipasnya yang dibuka lebar. "Kapan kau kembali?" ujarnya lagi berbasa-basi.


"Sudahlah, Rooney. Tidak perlu beramah-tamah padaku hanya karena kau ingin mengincar orang ini." Eve menarik tangan Duke of Lumiere, sedangkan pria itu tersenyum tipis, memilih diam saja dengan segala tingkah laku putrinya. "Jika tidak ada lagi yang kau perlukan, lebih baik pergi."


Rooney berusaha tenang. Jangan sampai dirinya terpancing emosi lalu membalas perkataan jahat yang dilontarkan Eve. "Kalau boleh tahu, memangnya kau ada hubungan apa dengan tuan ini sampai berani melarang ku mendekatinya?"


Eve melongo. Apakah si Rooney ini buta? Jelas-jelas fisik Eve secara keseluruhan hampir serupa dengan Zachary kecuali gender mereka. Sekali lihat pun, orang-orang pasti akan langsung tahu jika mereka memiliki ikatan darah yang kental. Atau bisa jadi Rooney sudah menyangka dari awal, tapi dia tidak terima dan ingin mengetahuinya langsung dari mulut Eve.


Dan begitu juga dengan semua orang yang menonton. Seolah begitu menanti apa yang akan Eve ucapkan.


"Jangan berani-berani mengganggunya jika kau tidak ingin wajahmu habis dicakar mama."


Sudah jelas, kan? Jika Rooney masih belum mengerti, Eve tidak akan segan-segan untuk memukul kepala wanita itu menggunakan tangannya sendiri. Dia bersungguh-sungguh.


Berusaha mengakhiri perdebatan, Zachary akhirnya berdehem. "Sudahlah, tidak ada yang perlu diributkan. Ini hanya kesalahpahaman. Sekarang kalian bisa pergi kembali melanjutkan aktivitas masing-masing, karena urusan kami di sini bukan untuk ditonton," ujarnya menengahi. Mendengar hal itu, sebagian warga yang hanya diliputi penasaran perlahan kembali ke pekerjaan mereka, begitu juga dengan Rooney. Wanita itu mendengus kesal lalu pergi dengan pinggul yang sengaja digoyangkan ke kiri dan ke kanan.


"Obat sudah datang. Tabib menyarankan agar Margaret terlebih dahulu mengonsumsi ikan air tawar segar, tetapi kiriman bahan mentah dari kastil kemarin semuanya mengandung pengawet." Setelah itu Zachary memperhatikan sekitarnya. "Di daerah sini, di mana letak pasar?"


"Tidak ada pasar di sini."


"Apa?!"


Eve mengernyit ke arah Ethan yang baru saja terlepas dari gadis-gadis yang memujanya. "Bisakah kau bersikap baik dan berhenti membuatku kesal?"


"Apa salahnya, aku hanya bertanya!"


"Tapi reaksimu itu sungguh berlebihan!"


"Sudah, cukup!" Oh Tuhan, Zachary merasa kepalanya mulai berdenyut.


"Dia yang duluan menyinggungku," balas Eve lalu menghembuskan napasnya keras-keras sambil membuang muka.


"Jadi bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan ikan air tawar yang His Grace maksud?" tanya Declan berikutnya.


Eve tersenyum jahat. Berikutnya, ia berlari ke dalam rumah, mengeluarkan beberapa pancing ikan yang dia dapatkan dari gudang, lalu membawanya ke luar.

__ADS_1


"Yang jelas, kita akan pergi memancing!"


"Eve, untuk kali ini cobalah serius." timpal Beckett yang mengernyit. Bagaimana pun mereka semua hampir tidak pernah melakukan hal membosankan seperti menunggu ikan memakan umpan pancingan. Dan khususnya, Beckett tidak sudi memegang 'tongkat' kotor itu dalam waktu lama.


"Siapa yang ingin bercanda?"


Usai mengucapkan hal itu, tanpa menghiraukan kegelisahan saudara dan juga sang duke, Eve berbalik pergi dengan alat-alat pancing itu sambil bersenandung. Merasakan tiupan angin sepoi-sepoi yang sangat dirindukannya itu perlahan menyapa surai pirangnya sampai terhempas lembut. Setiap jalan bebatuan yang dipijaknya mengingatkan Eve tentang masa lalu. Saat-saat dia bermain bersama anak desa lainnya. Apalagi bersama Garlein, teman pertamanya di sini, di Clingeer.


Gadis itu masih ingat betul bagaimana pertemuannya dengan kawan terbaiknya. Dan sekarang ... Eve juga merindukannya.


"Eve, ternyata kau sudah kembali, ya?"


Lamunan Eve pecah begitu mendengar suara seseorang yang sangat ia kenali. Perlahan bibirnya terangkat, membentuk senyuman manis yang mustahil bisa dilupakan oleh siapa pun yang melihatnya. Tanpa menunggu lama, Eve langsung saja melepaskan alat-alat pancing yang dia bawa lalu berlari penuh kerinduan.


"Garlein! Astaga, kau semakin tinggi saja!" Eve memeluknya sekilas kemudian mencebikkan bibir saat tahu pria di depannya itu lagi-lagi berhasil membuat dirinya semakin terlihat pendek.


Di bawah pohon apel, Garlein tertawa lalu mencubit kedua pipi Eve gemas. "Kau juga. Semakin gendut saja," ujarnya diakhiri senyum tipis, "walau begitu, aku malah semakin suka kepadamu."


"Garlein, jangan mulai bercanda lagi," balas Eve memperingatkan.


Tidak lama kemudian, dari arah belakang Eve, muncullah tiga orang pria yang membuat Garlein mengernyit. Orang asing. Dua orang memiliki surai pirang yang sama seperti Eve, sedangkan yang satunya lagi memiliki surai hitam yang berkilau.


"Mereka siapa?"


Eve berbalik sebentar. "Oh, mereka saudaraku," ujarnya santai, "tidak perlu khawatir. Semuanya baik, kok."


"Saudara kandung?"


Eve mengangguk dan menyadari kedua tangan Garlein mengepal erat. Eve cukup mengerti apa yang tengah temannya itu rasakan. Dengan tubuhnya itu, Eve harus berjinjit agar bisa berbisik kepada Garlein yang juga bersedia membungkukkan tubuhnya. "Tenang saja. Di antara kalian, kau lah yang paling mengenalku dengan baik."


Garlein memandang ketiga orang itu sambil mendengus. Oh, jadi begitu. Syukurlah Eve tidak terlalu memihak saudara-saudaranya yang terlihat manja itu.


Bagaimana tidak dikatakan manja, dibandingkan laki-laki di seluruh Clingeer, kulit mereka jelas yang paling bersih dan terawat. Lebih-lebih lagi si pirang sebahu, saking putihnya Garlein bisa melihat kemerahan di kedua pipinya. Entah dikarenakan cuaca yang memang sedang terik-teriknya atau memang tipe kulit Beckett yang memang seperti itu dari sananya, tapi menurut Garlein dia tetaplah tampak seperti wanita.


"Siapa dia, Eve?"

__ADS_1


"Dia sahabatku, kak," jawab Eve terhadap saudara kandungnya. "Garlein, dia adalah saudara keduaku. Namanya Dec—"


"Namaku Dec. Panggil saja seperti itu," potong Declan cepat.


Eve yang mengerti bahwa Declan berusaha menutupi identitas mereka pun berlanjut mengenalkan Beckett dan Ethan. "Kalau yang itu, kakak ketiga. Namanya Beck, di sebelahnya itu kakak tertua, dia Han."


"Dan kakak-kakak, dia ini Garlein. Sekali lagi ku tekankan, dia adalah teman terbaikku. Jadi jangan sesekali membuat masalah dengannya, mengerti?"


"Aku mengerti, Eve." Declan menghela napas. "Oh, iya. Bagaimana dengan sungai yang kau maksud? Kita harus mendapatkan ikannya secepat mungkin, kan?"


Ethan mengangguk. "Ya, lebih baik tidak perlu menunda-nunda lagi. Ayo kita ke sana."


Eve merasa janggal. Tadi yang menolak ajakannya 'kan mereka, tapi kenapa sekarang justru terlihat mereka yang begitu antusias menangkap ikan sedangkan Eve justru diposisikan sebagai orang yang bersalah karena suka menunda-nunda. Dasar saudara sialan!


"Kalian mau menangkap ikan?"


Ucapan Garlein tersebut sontak memecah keriuhan keempat Lumiere.


"Kebetulan aku ingin menangkap ikan juga, bagaimana jika kita semua pergi bersama?" Garlein tersenyum miring sembari mengangkat pancingannya, angkuh. "Sekalian memastikan siapa yang hebat menangkap ikan di antara kita." Sekali lagi, dia memandang remeh. "Bagaimana, apakah kalian menerima tantangan ku, para pria manja?"


...----------------...


Hello!


Udah lama gak update nih, gimana kabarnya? Sehat-sehat aja, kan?😩


Akhir tahun sudah di depan mata nih, rencananya kalian bakal liburan, kah?🤔


Kalau aku si paling-paling streaming anime seharian plus nyelesain si Eve ini. Me time dikamar emang paling the best🤣


Btw, sudah ada gambaran siapa yang akan jago nangkap ikan di episode selanjutnya? Siapa prediksi kalian dan kenapa?🤔


Jangan lupa tulis nama jagoan kalian itu di kolom komentar😆


See you next episode 👋

__ADS_1


__ADS_2