Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Janji Beckett


__ADS_3

Salah jika ada yang mengira Pulau Carmelion memiliki pemandangan yang indah menawan. Nyatanya, pulau kecil yang katanya tidak subur itu hampir sembilan puluh delapan persen daratannya dikelilingi benteng besar melingkar dengan runcing tombak yang ditancapkan di setiap puncak benteng. Selain menyeramkan, sepertinya tidak ada lagi hal yang dapat digambarkan dari tempat ini.


Namun, selain tempatnya yang 'unik', sesuatu yang berhasil membuat Eve maupun Beckett terpana adalah; kapal ini. Mereka berhasil masuk ke dalam benteng menggunakan kapal, bukan berhenti di depan sehingga tidak perlu susah-susah mengangkut barang ke dalam. Yang mengatakan bahwa Pulau Carmelion adalah pulau kecil, matanya pasti rabun!


Tetapi yang mengatakannya adalah yang punya tempat ini, Lucas sendiri.


"Berapa uang yang dihabiskan Putra Mahkota untuk membangun pulau ini." Beckett belum selesai akan keterpanaannya. Barisan prajurit yang tengah berlatih tak jauh dari mereka sedikit membuatnya merinding. "Aduh!" Pria itu mengaduh saat mendapati Eve dengan sengaja memberikan bogem mentah di bahunya. "Tidak berperasaan!"


"Bukan saatnya memikirkan uang!"


"Aku hanya penasaran. Memang apa masalahnya."


"Jika ucapanmu itu didengar Ethan, kau pasti akan diejeknya sebagai anak miskin." Eve memutuskan berbalik pergi mencari tangga untuk menuruni kapal. " 'Gaya bicaramu seperti orang susah saja' mungkin kira-kira begitu."


"Sialan, jangan meniru kelakuannya!"


"Loh, kenapa?"


"Karena aku kesal."


"Tapi aku senang membuatmu kesal."


"Eve, awas kau, ya!" Beckett mengejar Eve yang sudah jauh berjalan meninggalkannya. Namun hampir dekat dengan gadis itu, Beckett malah memperlambat laju langkah kakinya sambil tersenyum sungkan.


Putra Mahkota sudah ada di sini? Astaga, sejak kapan dia berdiri di samping Eve?!


Apakah dia melihat kelakuan aneh barusan? Apakah Putra Mahkota akan menjauhinya setelah ini karena merasa jijik? Sial, pikiran buruk terus menghantui Beckett ditambah lagi senyum mengejek yang dilemparkan Eve kepadanya.


Adik tidak tahu diri, memang!


"Kapal untukmu sudah disiapkan, Lord Beckett."


"Eh?" Beckett mendongak saat Lucas menyebutkan namanya. "Kapal apa, Your Highness?"


"Kau harus kembali, 'kan?" Beckett dapat melihat bagaimana Lucas mengeratkan pelukannya kepada Eve seolah mengatakan padanya, bahwa gadis itu akan baik-baik saja selama bersamanya.


"Duke of Lumiere tentu semakin curiga jika kau menghilang terlalu lama." Lucas menatap calon kakak iparnya itu dari atas ke bawah. "Dan juga ... silakan ganti pakaianmu dengan yang lebih layak, atau nantinya penjaga di kastil Lumiere menyangka mereka sedang kedatangan seorang gelandangan."


"Putra Mahkota, ucapanmu terlalu jahat. Begini-begini, aku masih layak dilihat." Beckett memperhatikan penampilannya sekali lagi. Baju bekas berbahan tipis dipadukan celana selutut tanpa alas kaki. Ah, rasanya dia ingin menarik ucapannya barusan.

__ADS_1


Sementara Lucas, dia sudah kembali rapi dengan setelan coklat muda dan pedang yang disarungkan di pinggang. Yah, kalau begini Beckett sedikit mengakui keunggulan Lucas dibanding dirinya. Tetapi jika sudah rapi seperti biasanya, mungkin dirinya dan Lucas beda tipis tampannya.


"Tapi, Your Highness. Saya ingin keliling-keliling di sekitar sini, seperti yang Anda janjikan. Sekalian. Kalau nanti-nanti takutnya memerlukan waktu bertahun-tahun lagi atau bahkan tidak pernah."


"Kataku, kan, melihat-lihat, bukan keliling-keliling. Barusan kau sudah melakukannya jadi seharusnya kau sudah bisa pulang sekarang."


Beckett mengejar langkah keduanya dengan wajah tertekuk.


"Ah, Your Highness tidak adil. Eve dibiarkan tinggal di sini sementara aku diusir!"


"Hei, Lucas menyuruhmu lekas pulang justru karena mengkhawatirkan mu," sahut Eve yang sudah menahan jengkel sejak tadi. "Lagipula, berikan kami alasan yang kuat mengapa kau tetap ingin tinggal di sini. Oh, atau kau mau menggantikan posisiku, begitu?"


Sontak Beckett dan Lucas menatap Eve horor. Mereka berdua adalah lelaki normal!


"Apa?!"


"Ck, pulau sebagus ini rugi untuk dilewatkan," bujuk Beckett tak mau kalah.


"T-tapi...."


"Eve, sepertinya kita tidak bisa memaksa kakakmu ini." Lucas menghela napas. Percuma berdebat jika keduanya sama-sama keras kepala.


"Eve...." Lucas melepaskan dekapannya untuk memberi ruang kepada dua orang kakak beradik yang sering bersama itu.


Beckett membawa Eve ke dalam pelukannya. Jika begini ... rasanya semakin berat untuk melepaskan Eve pergi jauh dari sisinya.


"Bodoh, Beckett. Kau bodoh!" Eve berusaha memukul dada kakaknya walau dia tahu, tenaga yang dia keluarkan sama sekali tidak memberi bekas untuk Beckett. "Aku menyuruhmu lekas kembali karena khawatir His Grace akan berbuat macam-macam padamu atau dengan yang lain. Jika aku egois ... jika aku egois, kalian bertiga akan kubawa dalam perjalanan panjang ini agar kita bisa melewatinya bersama.


Tapi tidak bisa. Situasi menyuruh kita berpisah sementara. Tolong, tolong mengertilah," ucap Eve melemah, seiring dengan pukulannya yang juga terhenti.


"Berhenti menangis. Wajahmu berubah jelek, tahu."


"Aku tidak menangis!"


Beckett tertawa renyah. "Lalu kenapa ini ada air mata?" Dia mengusap air yang berada di pelupuk mata adiknya disertai senyuman jahil.


"Kemasukan debu," balasnya asal.


"Debu mana yang—"

__ADS_1


"Beckett!" sentak Eve yang kembali kesal.


"Baik-baik, semuanya salah debu," sahut Beckett angkat tangan. Nanti yang ada akan semakin susah jika Eve kembali menangis.


Tentu saja semakin susah. Selain merasa bersalah, Beckett juga merasakan aura membunuh dari pawang adiknya yang sejak tadi menatap lamat ke arah mereka.


"Kalau begitu aku akan pulang." Beckett memberikan senyum terbaiknya sebelum berbalik pergi meninggalkan mereka berdua. Dipegangnya kedua bahu Eve, lalu untuk kedua kalinya, Beckett memberikan pelukan perpisahan.


"Your Highness, saya percayakan adik yang ganas ini kepada Anda. Jika dia berani macam-macam, segera panggil Duke of Lumiere untuk menjinakkannya."


Lucas mengangguk disela-sela senyum gelinya. Hubungan persaudaraan Eve dan Beckett benar-benar berbeda dari hubungan Eve dengan saudaranya yang lain.


"Jaga diri baik-baik, kesayangan kami. Makan harus teratur, tidur yang cukup, lalu patuh kepada Putra Mahkota. Jangan membuatnya kesusahan, tahu."


Usai mengatakan semua pesannya panjang lebar, Beckett melambaikan tangan lalu berbalik pergi menuju kapal yang sudah dipersiapkan Lucas sebelum kedatangan mereka.


"Tunggu!"


Langkah Beckett terhenti.


"Bisakah aku meminta satu hal lagi, Beckett?"


"Kau ini, seperti meminta tolong kepada orang lain saja." Pria itu terkekeh. "Minta tolong apa?"


"Jika terjadi sesuatu yang buruk kepada kalian bertiga, tolong kirimkan sinyal kemari," ujar Eve yang tiba-tiba merasa khawatir. Dia tahu Duke of Lumiere tidak akan mungkin diam jika mengetahui putra-putranya ikut membantu Eve melarikan diri.


Dan juga, semuanya harus berjalan sesuai dengan rencana, harus.


Beckett mengernyit, "sesuatu yang buruk? Dari His Grace?"


Eve mengangguk.


"Tenang saja. Tunggu dalam tiga hari, jika tidak ada burung elang yang terbang mengelilingi langit, berarti kami baik-baik saja."


"Berjanjilah untuk tidak menutupi apapun."


Beckett sempat terdiam. Namun, akhirnya dia menjawab,


"Aku berjanji."

__ADS_1


__ADS_2