Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Temukan Dia


__ADS_3

"Kita pulang."


Mendengar perintah Duke of Lumiere, Baron O'Neil yang semula duduk tenang pun mengangguk lalu mengikuti langkah tuannya dari belakang. Dua orang pengawal berada di depan mereka untuk menunjukkan jalan, padahal duke sendiri sudah sering menginjakkan kaki di istana yang otomatis dia sudah hafal dengan seluk-beluk lorong istana. Namun itu semua dilakukan atas nama formalitas.


Dari arah berlawanan, seorang prajurit yang diketahui berasal dari kastil Lumiere tampak berlari cepat. Setelah sampai di depan rombongan duke, dia menunduk dalam. Prajurit tersebut adalah prajurit kepercayaan Duke of Lumiere yang identitasnya sengaja dirahasiakan dari yang lain. Biasanya dialah yang akan menyampaikan berita penting jika Zachary sedang meninggalkan kastil.


"Ada apa ini?"


"Lapor, Your Grace. Terjadi sesuatu di kastil."


"Katakan dengan jelas."


"Beberapa waktu yang lalu pelayan Lady Luvena mengatakan bahwa Her Ladyship tidak ada di dalam kamarnya."


"Mungkin dia bersama saudara-saudaranya yang lain, jangan begitu panik." Zachary ingin melewati prajuritnya itu, namun perkataan selanjutnya lah yang berhasil membuat Zachary naik pitam.


"Maaf, tetapi menurut laporan, semua lord memang mengizinkan Her Ladyship pergi, tetapi entah bersama dengan siapa, itu belum diketahui. Yang jelas tidak sendirian."


Zachary terbelalak. "Mengizinkan pergi? Bahkan Declan juga mengizinkannya meski sudah tahu betul rencana yang sedang kubuat?" ujarnya tidak percaya. Zachary rasa dia begitu mengenal putranya itu. Declan tidak akan pernah bertindak jika perbuatannya tidak memberikan keuntungan bagi Sasania.


Atau Zachary salah menilainya?


"Kau pergilah. Dan Baron O'Neil, perintahkan pasukan menyebar cepat di sekitaran wilayah Lumiere. Seharusnya dia belum pergi jauh, setidaknya temukan dia sebelum sore atau kalian semua mendapatkan hukuman!"


"Baik, Your Grace!" jawab mereka serempak.


"Biasanya Declan dapat diandalkan, tapi kali ini apa yang terjadi." Zachary memijit pelipisnya yang berdenyut. Pria itu kembali melangkah keluar menuju kereta kudanya yang sudah menunggu di undakan tangga terakhir. Dengan pikiran kacau.


Setelah semua ini selesai, Zachary berjanji akan memberikan hadiah kepada mereka berempat karena sudah terlibat dalam masalah sebesar ini. Masalah yang mereka perbuat bukanlah masalah internal Lumiere lagi, melainkan masalah terkait dengan keuntungan Sasania sendiri.

__ADS_1


Khusus Eve. Gadis onar yang tidak pernah mau menuruti keinginan Zachary akan dihukum dua kali lipat atau bahkan lebih dari yang lain.


Itulah akibatnya jika berani melawan.


...----------------...


Siang itu Hudson kembali sibuk dengan rutinitasnya. Matahari semakin tinggi sehingga dia memutuskan untuk melupakan perkamen-perkamen itu sejenak, melangkah keluar untuk menghirup udara segar. Bersama beberapa pengawal, tujuannya kali ini adalah taman barat, taman kesukaan sang ratu karena di sana berdiri sebuah paviliun cantik yang dikelilingi bunga hasil karya ratu terdahulu sekaligus ibu dari putra mahkota, Ratu Sophia.


Dan benar saja dugaannya. Dari jauh, Hudson sudah mengenali siluet tubuh berlekuk nan indah itu. Ashley tampak duduk membelakangi, terlihat sibuk menata batang-batang bunga yang disusun di dalam sebuah buket besar bersama dua pelayan setianya.


"Sepertinya Yang Mulia Ratu sedang sibuk."


Ashley buru-buru berbalik. Begitu melihat sosok suaminya mendekat, senyumnya merekah tak kalah cantik dibanding bunga-bunga yang dipegangnya. Wanita muda itu berdiri lalu memberi salam hormat.


"Tidak menyangka Yang Mulia Raja akan kemari. Jika tahu begitu, saya akan membuat buket bunga lebih banyak," ujar Ashley senang.


"Jadi buket itu bukan untukku?" Hudson mengernyit kala Ashley membalasnya dengan anggukan kepala. "Lalu untuk siapa?"


Ashley mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali ia bertemu dengan gadis kecil Lumiere itu. Ah, sudah lama sekali. Terlebih, saat itu Eve dimonopoli oleh Raja untuk menemaninya bermain catur, hampir seharian. Setelah mengingat hal itu, Ashley merasa kesal kembali.


Eve itu temannya, bukan teman Yang Mulia!


"Setelah ini saya ingin pergi mendatangi kastil Lumiere, apakah boleh?" sambungnya penuh harap.


"Lady Luvena tidak bisa menemanimu untuk sementara waktu." Hudson berdehem kecil, mengalihkan tatapannya dari sang istri. "Nanti malam adalah acara pernikahannya."


"Menikah?!" Ashley terkejut bukan main. Matanya senantiasa membuntuti kemana pun Hudson pergi sampai pria paruh baya itu memutuskan untuk duduk di sebuah bangku dekat air mancur. Ashley buru-buru menghampirinya.


"Apa maksudnya ini, kenapa begitu terburu-buru? Apakah itu memang permintaan dari Eve sendiri?"

__ADS_1


Pertanyaan beruntun itu membuat Hudson menghela napas.


"Itu perintahku kepada Duke of Lumiere agar menikahkan mereka secepatnya. Dengan cara apapun, mereka harus menikah."


"Tapi kenapa?" Ashley terlihat belum puas.


"Agar putraku Lucas berhenti mencintai gadis itu."


"Cinta?" Ashley mengerjap. Jujur saja, seumur hidupnya, dia tidak pernah tahu apa itu cinta.


Sehingga Ashley tidak pernah mengerti posisi Lucas. Dia tidak pernah berada di posisi mencintai seseorang sampai rela berjuang. Yang dia tahu, hidupnya berubah menjadi ratu dari seorang pria yang sebenarnya lebih patut menjadi ayah ketimbang menjadi suami.


"Mungkin menceritakan sesuatu padamu bisa membuat hatiku sedikit lebih lega." Hudson tersenyum tipis. Setelah itu dia menceritakan bagaimana taruhannya bersama Lucas dimulai. Kerajaan menjadi jaminan. Hudson tahu dia gila, tetapi sudah terlambat untuk membatalkannya taruhan, kan. Yang bisa dia lakukan adalah berusaha sebaik mungkin agar Lucas menghentikan serangannya ke Brodsway.


"Jika Eve menjadi bagian dari Brodsway, aku yakin Lucas akan mengalah dan akan membiarkan Brodsway tetap berdiri demi orang yang dicintainya. Maka dari itu aku ingin Eve menikah dengan pangeran Brodsway itu secepatnya," jelas Hudson sedikit khawatir. Terlihat jelas dari pandangannya yang kadang terasa kosong, namun masih berusaha untuk tetap kuat.


"Seharusnya Anda tidak seberlebihan ini," nasihat Ashley lalu menyentuh bahu suaminya. "Putra mahkota sekarang tidak memiliki sekutu di belakangnya. Bagaimana bisa dia membabat habis Brodsway sendirian?"


"Sedikit banyak aku mulai mengenal anak itu. Jika dia menyanggupi, berarti dia benar-benar sanggup." Tatapannya kembali berubah cemas. "Apalagi sejak awal, taruhan itu berasal dari idenya. Aku merasa sesuatu yang sangat besar berdiri di belakangnya dan tinggal menunggu waktu, dia dapat menghapus segalanya. Tapi entah itu apa, aku sendiri pun tidak tahu. Tetapi yang pasti Lucas akan berhasil menaklukkan Brodsway jika aku hanya diam menonton."


Ashley diam mendengarkan. Di dalam hati, dia tidak bisa menampik kehebatan dari anak tirinya itu.


"Lucas tidak sedangkal itu, Ashley. Jika disuruh memilih, antara Duke of Lumiere dan putra mahkota, maka akan aku katakan tanpa ragu bahwa putra mahkota lah yang lebih berbahaya. Pria itu tumbuh sendiri menjadi pribadi yang tenang. Seperti samudra. Namun tidak dapat diketahui seberapa dalam kekuatannya. Dan itu sungguh membuatku takut."


Untuk pertama kalinya, Hudson berani mengatakan ketakutan terbesarnya kepada orang lain. Bukan raja dari negeri lain ataupun para pemberontak yang semakin banyak akhir-akhir ini, melainkan putranya sendiri.


"Aku juga cukup tahu diri. Jika pada akhirnya dia berhasil menjadi raja, tentu dia akan jauh lebih baik dariku. Aku tahu betul."


Lebih seperti monolog, tapi inilah yang Hudson sukai dari Ashley. Dia adalah pendengar yang baik.

__ADS_1


"Sayangnya aku tidak bisa menyerahkan takhta secara cuma-cuma kepadanya. Ashley ... aku masih ingin menjadi raja."


__ADS_2