
Tidur nyenyak Eve terganggu saat sorot cahaya matahari menerobos masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka. Dia mengerang pelan lalu duduk dengan mata yang masih tertutup. Sakit kepala kembali menghantamnya. Efek dari arak yang dia minum kemarin malam nyatanya masih berbekas walau akal sehatnya sudah kembali.
Eh, aku di mana. Dan siapa yang mengantarku kemari? Apa aku tidur sambil berjalan?
Gadis pirang itu memindai setiap inci kamar asing yang dia tempati. Kamar bernuansa hitam putih dengan sebuah ranjang besar berbentuk lingkaran yang dia duduki, juga beberapa meja kecil di sampingnya menyadarkan Eve bahwa dirinya masih berada di istana. Kastil Lumiere tidak memiliki nuansa kamar yang seperti ini, dia tahu betul hal itu sebab seluruh bangunan kastil sudah selesai ia jelajahi.
Eve memegangi kepalanya. Berusaha mengingat kejadian kemarin dengan sisa rasa pening masih terasa.
Usai meninggalkan Declan, Ethan dan dirinya langsung menuju barak pelatihan sambil diselingi obrolan ringan. Sesekali kakak sulungnya itu melemparkan candaan yang dibalas Eve dengan tawa lembut. Ini istana, ingat. Walaupun bar-bar, Eve berusaha untuk menghindari masalah di kandang macan.
Di lapangan yang cukup luas, Eve melihat banyak pria berkumpul membentuk lingkaran besar yang di dalam lingkaran tersebut berdiri salah seorang yang Eve kenali. Beckett. Suara gesekan antar pedang dan teriakan semangat memenuhi indra pendengarannya, menandakan bahwa di tempat tersebut sedang terjadi pertarungan persahabatan. Tempat ini jelas dikhususkan untuk kalangan pria karena tidak mungkin ada lady terhormat yang mau menonton. Tapi mengapa Ethan mengajaknya kemari?
Jatuhnya pedang yang Beckett pegang menjadi tanda bahwa kemenangan diperoleh oleh pihak lawan. Ethan melirik adik perempuannya itu. Menyadari tidak ada ekspresi sedih atau sebagainya dari wajah manis Eve, dia tidak tahan untuk diam saja.
"Apakah kau tidak marah kepada orang yang berhasil mengalahkan Beckett?"
"Aku? Biasa saja." Eve melipat kedua tangannya di depan dada. Mata birunya yang cemerlang itu masih fokus pada gerak-gerik lawan Beckett yang mencoba membantu kakaknya itu untuk berdiri. "Menang dan kalah adalah hal biasa. Lagipula pertarungan persahabatan seperti ini tidak akan membuat Beckett mati, kan. Apa yang perlu aku takutkan."
Ethan mengerjap. Biasanya wanita akan bersikap melankolis saat ditempatkan pada posisi Eve saat ini. Beckett kalah dan tidak menutup kemungkinan ada cidera yang membekas di kulitnya untuk beberapa hari ke depan. Reaksi normal wanita seharusnya menangis tersedu-sedu, atau pun marah dengan orang yang menjadi lawan Beckett karena dianggap melewati batas.
Inilah adiknya. Wanita yang sangat unik. Wanita? Ah, Ethan menjadi ragu untuk menyebut Eve bagian dari kaum lemah lembut itu.
"Yah, setidaknya kau masih menyayangi Beckett dengan berkata seperti itu."
"Di bagian mananya aku mengatakan sayang kepada Beckett?"
__ADS_1
"Kau tidak ingin dia mati, kan," sahut Ethan menggoda.
"Tentu saja aku tidak akan membiarkannya mati di sini." Eve menoleh, "Dia memiliki hutang sepuluh butir permen padaku. Sampai Beckett bisa menggantinya dengan harga yang sesuai, aku tidak akan membiarkannya meninggalkan dunia ini dengan tenang!"
Ethan merinding. Andai Beckett mati lebih dulu, Eve mungkin menjadikan kakaknya itu sebagai hantu penasaran.
Setelah pertarungan persahabatan itu berakhir, Beckett yang menyadari kehadiran Eve di depan gerbang ganda langsung saja menyambutnya. Pria bersurai pirang sebahu itu meringis, kemudian merasa kecewa kepada dirinya sendiri.
"Aku bingung mau mengucapkan apa, tetapi saat melihat Lulu di sini sambil memperhatikan kekalahan ku, rasanya aku ingin membenamkan diri di dalam pasir hisap," ujar Beckett sungguh-sungguh.
"Tidak masalah, saudaraku. Jika kau malu, kau bisa menangis di bahuku." Tanpa izin, Eve menarik kepala Beckett yang lebih tinggi darinya lalu memaksa pria itu untuk bersandar di bahu kecilnya.
Melihat tindakan berani dari seorang wanita asing, tentu para prajurit di sana terkesiap. Lebih-lebih lagi lawan Beckett tadi, Jenderal Nicholas. Pria itu maju, mengatakan rasa penasaran prajurit lain akan status Eve atas putra-putra Lumiere itu.
"My Lord, siapakah gadis itu?"
Pasalnya, semua putra Lumiere dikenal tidak bisa di dekati oleh perempuan. Mendengar pernyataan lugas dari bibir Beckett yang sering lari saat debutante, tentu membuat seisi barak heboh dan tidak percaya.
"Tenang, tenang. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan." Gumaman yang awalnya mengudara begitu banyak kini senyap tidak bersuara. Mereka menatap Ethan dengan penasaran tertinggi. "Semuanya, perkenalkan dia adalah putri tunggal Lumiere, adik bungsu kami yang baru saja pulang ke rumah. Lady Luvena Lumiera. Semoga kalian bisa bersikap hormat padanya sama seperti kalian menghormati kami. Mungkin beberapa hari lagi, perayaan resmi untuk menyambut kedatangan Lady Luvena di keluarga Lumiere akan diadakan."
"Hai!" Eve tersenyum cerah melambaikan tangannya penuh antusias. "Karena kalian semua adalah teman kakak-kakak ku, maka otomatis kalian menjadi temanku juga. Senang berkenalan dengan kalian semua. Panggil saja akuโ"
Beckett membekap mulut Eve lalu mendesis, "Jangan katakan nama panggilan mu kepada mereka. Cukup kami yang memanggilmu begitu."
Kakak posesif bertambah satu? Ok, Eve bisa menghadapinya.
__ADS_1
"Senang bisa mengenal Anda, Lady Luvena. Saya Jenderal Nicholas, jenderal yang bertugas di sayap Utara sekaligus pelatih Lord muda Lumiere."
Seorang pria dengan rambut putih terurai panjang menarik perhatian Eve. Mata hijaunya yang cerah terlihat seperti rumput segar di pagi hari. Dia menyarungkan pedangnya kembali lalu menghampiri ketiga Lumiere. Mengerti tatapan Eve tidak berkedip sekalipun saat memperhatikannya, pria itu terkekeh lalu bergerak mengecup punggung tangan bungsu Lumiere.
"Ada apa, Lady. Apakah Anda terpesona dengan ketampanan saya?" tanyanya percaya diri.
"Kenapa kau menumbuhkan rambut sampai sebegitu panjang?" Eve mengutarakan kekagumannya. Tangannya yang lain terulur untuk menggenggam beberapa helai anak rambut si pria. "Aku pernah membaca jika tradisi rambut panjang untuk kaum pria hanya diterapkan di Brodsway, bukan di Sasania."
"Saya memang berasal dari sana. Saat saya berusia lima tahun, ayah memutuskan untuk menetap di Sasania." Jenderal Nicholas tersenyum lebar. Jarang ada wanita yang mengetahui apa penyebab dari rambutnya yang dibiarkan memanjang lurus. Pengetahuan yang dimiliki si bungsu Lumiere memang mengesankan. Bisa dibilang ... sang jenderal tertarik. Jika menikah dengan wanita yang seperti ini, hidupnya mungkin tidak akan membosankan karena mereka bisa membahas berbagai macam topik yang menarik.
Eve dinilainya berbeda.
Mata pria itu kemudian berpindah menatap Ethan. "Adikmu sepertinya sangat menyenangkan, My Lord. Bagaimana jika kita berempat mengobrol sebentar sambil minum-minum?"
......................
Selamat malam mingguan di Noveltoon para jomblo๐คฃ
Engga deng canda๐
Ada orang baru nih yang bakal ngerebut Eve dari ketiga kakaknya yang garang. Kalau kalian, lebih milih Jenderal Nicholas, calon suami Eve di Brodsway, atau pemeran utama pria yang belum muncul-muncul ke permukaan?๐ค
Atau lebih milih author, barangkali?๐
Tinggalkan jejak kalian dengan komen di bawah๐๐ผ๐๐ผ
__ADS_1
See u next episode ๐๐