
Ini jelas buruk. Sangat buruk. Sejak Eve mengingat kejadian kemarin, tak lama Declan muncul dari balik pintu memanggilnya dengan nada acuh untuk sarapan bersama anggota keluarga Lumiere lain dan para pangeran —Putra mahkota dan Pangeran Clainton— namun setelah itu, kakaknya bersikap dingin bahkan enggan mengakui keberadaan Eve di sampingnya. Eve bicara, Declan tidak merespons. Sama seperti berbicara dengan manekin. Walau begitu Eve tersenyum penuh kemenangan saat Beckett berniat untuk mengajaknya pulang satu kereta, tapi Declan kembali melarang adik tirinya itu bersama Eve. Lalu mengajak adiknya yang paling cantik itu untuk pulang bersama.
Saat pintu istana di buka, barisan kereta kuda Lumiere sudah siap di anak tangga terbawah. Mereka sudah berpamitan dengan pemilik istana, namun sang raja justru merasa kehilangan saat keponakan baru yang paling disayanginya itu akan pulang secepat ini.
"My Lord!"
Declan menoleh dan seketika wajah datarnya digantikan dengan raut kesal. "Apa yang Anda perlukan, Jenderal Nicholas?"
"Selamat pagi, Lady Luvena." Jenderal Nicholas tersenyum lebar sembari menatap Eve yang langsung diamankan Declan tepat di belakang punggungnya. "Saya hanya ingin mengantarkan kepulangan Anda. Tidak lebih."
"Aku tahu maksudmu itu, Tuan Jenderal." Declan memincing, "Jangan pernah sekalipun berpikir bahwa aku akan membiarkanmu mendekati adikku."
"Masalah masa sekolah dulu, janganlah kau jadikan dendam sampai sekarang." Sang jenderal tertawa. "Jika sebelumnya aku tahu kau memiliki seorang adik perempuan yang cantik, aku tidak akan menjadikanmu sebagai musuh bebuyutanku, My Lord."
"Kalian dulunya bermusuhan? Wah, bagaimana ceritanya. Aku mau dengar!"
"Tentu saja aku akan menceritakannya. Tapi karena kalian sudah ingin pulang, bagaimana jika aku saja yang mengunjungi kastil kalian? Pasti akan lebih menyenangkan."
Declan menatapnya datar. Modus!
Declan menoleh ke arah adiknya. "Eve, masuklah duluan."
Eve berdecak. Padahal dirinya sangat ingin menonton keributan di pagi hari yang cerah ini. Akhirnya dia menggeleng, "Biarkan aku di sini."
"Kami ingin membicarakan hal penting tentang keluarga Lumiere." Declan menatap Nicholas tajam, menekankan nama keluarganya agar sang jenderal tahu diri dan tidak ikut campur. "Berdua." Tekannya lagi sembari melirik adiknya. "Aku tidak berminat mengajak siapa pun ikut bersama kami. Jadi permisi."
Eve melambaikan tangan tatkala Declan menariknya lembut dan memasukkan dirinya ke dalam kereta. Setelahnya Declan ikut masuk di dalam kereta yang sama lalu meninggalkan pelataran istana.
__ADS_1
Memandangi kereta yang semakin menjauh itu, Jenderal Nicholas tersenyum penuh misteri. "Calon pengantinnya Pangeran Julius boleh juga."
...----------------...
"Aku sudah berjanji pada Beckett untuk pulang bersama tapi akhirnya aku kembali duduk di sini." Eve memperhatikan Declan yang terlihat sibuk dengan beberapa perkamen di tangannya. Tampak tidak terusik sama sekali walau sudah beberapa kali roda kereta menabrak lubang besar di tengah jalan. "Pasti ada alasannya, kan. Katakan saja."
"Tentang Viscount Aslein itu." Declan merapikan pekerjannya. Berbicara hal sensitif seperti ini memang lebih baik dibicarakan di luar kastil. Terlalu banyak telinga di sana. "Kapan kalian bertemu dengannya? Sampai berani mendekati mama, apakah dia tidak tahu jika orang yang diinginkannya itu adalah duchess Lumiere?"
Eve mengangkat kedua bahu. "Saat Viscount Aslein melamar, mama tidak ditemani siapa-siapa. Malamnya, kebetulan saat mama menceritakan hal itu kepada Bibi Sese, aku menguping—" Gadis itu mengerjap, kemudian melemparkan senyum ringisan, "Maksudku menyimak diam-diam."
"Lalu apalagi?"
"Kau tahu sendiri, kan. Bagaimana reputasi Viscount Aslein di mata publik? Selirnya saja ada dua puluh. Bayangkan, dua puluh! Mana mungkin mama mau menjadi ke-dua puluh satu!" Eve menceritakan penuh semangat. "Memang orang-orang begitu tidak tahu malu. Baru bergelar viscount saja sudah berani bertindak gila. Bagaimana jika sudah menjadi raja? Ck, mungkin seluruh wanita di Sasania akan dijadikannya gundik."
Declan mengangguk singkat. "Aku akan memberi viscount itu sedikit pelajaran."
Tidak. Dia tidak boleh takut sebab dirinya adalah duke selanjutnya. Eve yakin hal itu.
"Selain Viscount Aslein, ada beberapa orang lagi yang perlu diberi pelajaran."
Eve mendongak, mata birunya bergerak awas. "Siapa?"
"Ethan, Becket ...." tatapannya kembali menusuk. "Dan juga dirimu, adik." Eve meneguk ludahnya susah payah. "Akan aku pastikan kalian mendapatkan ganjaran atas apa yang sudah kalian perbuat di istana. Selanjutnya, His Grace juga harus tahu mengenai hal ini."
"Saat itu aku hanya mengikuti keinginan Jenderal Nicholas, sama sekali tidak berniat mabuk." Gadis itu bersidekap, sambil mencibir pelan berupa gumaman. "Tidak bisa ku percaya ternyata dirimu bisa sekejam ini pada adik sendiri."
"Makanya, jangan mudah mengikuti kemauan orang lain. Bisa jadi dia ingin memanfaatkan dirimu. Belajarlah dari kesalahan ini," balas Declan lagi, "sekarang katakan. Apa keinginan terakhirmu sebelum aku hukum."
__ADS_1
"Tolong letakkan karangan bunga di atas makam ku nanti. Sudah itu saja," jawabnya asal. Toh, Declan tidak akan mungkin berani menyakitinya.
Di luar dugaan, Declan justru mengangguk. "Ya sudah. Sekarang juga kita akan membeli bunga nya."
Eve yang awalnya terpejam tiba-tiba terduduk lalu melotot horor. Apakah Declan serius ingin membunuhnya hanya karena mabuk satu kali? Catat, satu kali!
"K-kakak...." cicit Eve ngeri. "Kau tidak serius dengan ucapan mu, kan?"
Declan melongokkan kepalanya ke luar jendela. "Di persimpangan jalan sebelum kastil ada toko bunga. Kita berhenti di sana sebentar." Declan kembali duduk tenang seperti semula saat mendapat anggukan dari kusir yang mengantarkan mereka. "Apa aku terlihat main-main?"
Eve tidak percaya bahwa dirinya memiliki saudara seorang psikopat gila!
"Ibu akan membunuhmu jika tahu apa yang akan kau perbuat padaku," ancam Eve was-was. Meski begitu, tatapannya tidak lepas sama sekali dari Declan. Takut kalau-kalau saudaranya itu akan membunuhnya sekarang juga. Jalanan sepi dan pengawal yang di bawa jumlahnya tidak seberapa.
Ya Tuhan, tolong berikan waktu beberapa tahun lagi untuk berhadapan dengan Declan. Dirinya belum siap. Dalam hal bela diri, jelas mereka bukanlah tandingan yang sepadan.
"Aku sempat mengira kau tidak takut mati, Eve." Declan berusaha menyembunyikan tawanya yang hampir meledak. Wajah mengerikan Eve sekarang sangat membuatnya terhibur. Tidak-tidak, dirinya bahkan hampir tidak pernah memiliki ekspresi jelas seperti itu.
"Hidup hanya diberikan satu kali, bagaimana bisa aku main-main!" sergah Eve lantang. "Jika kau berani membunuhku, aku akan ...."
"Akan apa?" tantang Declan.
"Akan ... menggentayangi dirimu setiap hari!"
"Oh ya?" pria muda itu menaikkan sebelah alis. "Baiklah. Aku akan menunggu kedatangan arwahmu di kastil Lumiere. Setiap berkunjung, pastikan kau membawa sesuatu untukku, mengerti?"
Eve mendelik. Orang di depannya ini sungguh tidak berperasaan!
__ADS_1