
Walau seharusnya matahari sudah naik sampai di atas kepala, berhubung Brodsway juga sedang dilanda musim salju, maka langit sampai saat ini masih terlihat gelap. Di sepanjang sudut bangunan lampu-lampu bulat tampak dipasang rapi untuk memperjauh jarak pandang. Untungnya, musim salju baru saja dimulai di sana sehingga kapal-kapal masih bisa berlayar tanpa khawatir laut sudah berubah menjadi lantai beku.
Eve mengikat rambutnya asal lalu kembali memakai pelindung kepala dari besi lengkap dengan zirah tebal berbulu domba di bagian pundak. Usai melepaskan tambatan tali kudanya, dia menuntun kuda tersebut keluar dari kapal penyeberangan. Eve telah sampai di Brodsway. Tempat di mana Ksatria Nyx berkumpul sekaligus medan perang yang harus dihadapi.
Mata biru itu menyapu sekitarnya. Walau dingin, tidak sedikit masyarakat yang memilih beraktivitas di sekitar sini. Di bagian kanan terlihat banyak penjual arak murah ditemani ledakan emosi tak terkontrol dari pelanggannya. Pelabuhan milik Brodsway ini terlihat sangat santai sama seperti hari-hari biasa. Tidak tahu jika pada hari ini, pemerintahan mereka akan digantikan.
"Anda berasal dari mana, tuan."
Eve menoleh begitu menyadari kehadiran seorang pria pendek memberikan tatapan sengit padanya. Sekali lihat saja, Eve sudah tahu bahwa orang ini memiliki niat buruk terhadap dirinya.
"Pulau seberang. Aku kemari untuk menemui adikku," alibinya lancar.
Pria itu mengangguk percaya. Dia masih mengira bahwa Eve adalah laki-laki dari caranya berpakaian.
"Pakaianmu terlalu bagus. Apakah kau ... bangsawan?"
Eve menjawabnya iseng. "Bagaimana jika jawabannya iya?"
"M-mohon maafkan saya!" Tiba-tiba pria itu bersujud di depan kaki Eve dengan tubuh gemetar.
Melihat respon berlebihan, Eve tentu saja terkejut. Apalagi setelah orang itu sujud padanya. Tiba-tiba suatu pertanyaan melintas di otaknya.
Apakah bangsawan di Brodsway sangat semena-mena terhadap rakyat biasa sampai-sampai saat bertemu bangsawan saja mereka harus bersujud?
"Ya ampun, aku bukan Tuhan." Walau nada bicaranya tenang, Eve sebenarnya tidak bisa meredakan jantungnya yang berdegup kencang.
Terima kasih, berkat ajaran Declan yang bicara apa saja selalu datar, kali ini dia bisa mempraktekkannya di Brodsway agar terlihat seperti seorang bangsawan sungguhan.
"Berdiri!" perintah Eve lagi dengan suara yang diberat-beratkan.
"B-baik!" Pria itu langsung saja berdiri, namun masih menundukkan kepala.
__ADS_1
"Siapa namamu."
"J-joule, My Lord."
"Namamu akan ku ingat. Sekarang enyahlah—"
"Ah, kau sudah datang rupanya."
Semua orang yang menonton ikut mengalihkan perhatian menuju seseorang yang baru datang bersama kuda coklatnya. Semua semakin gemetar, apalagi pria yang baru saja bermasalah itu.
"Jenderal Nicholas?" gumam Eve terheran-heran. Bukankah saat mengirimkan surat, dia bilang akan berurusan dengan para pemberontak Sasania. Lalu mengapa tiba-tiba dia sudah ada di Brodsway?
"Teman lama, mengapa tidak langsung menuju mansion saja. Kami sudah lama menunggu, lho." Nicholas mendekat lalu mendekap bahunya akrab, persis seperti teman lama.
"Aku baru sampai." Eve menghela napas. Melupakan dekapan akrab sang jenderal, dia kembali menuntun kudanya sampai ke jalan utama.
Seiring dengan langkahnya yang berat akibat pakaian tebal yang ia gunakan, sayup-sayup Eve mendengar cercaan pedas yang dia yakini berasal dari Jenderal Nicholas. Eve menoleh, dan dilihatnya pria yang ingin berbuat jahat padanya tadi sudah bersujud kembali di atas tanah yang dipenuhi salju.
Jenderal Nicholas yang baru saja menyadari bahwa Eve sudah pergi jauh, akhirnya mengerjap. "Eh, tunggu!"
Mengabaikan Nicholas yang berlari di belakangnya, kini Eve sudah sampai di jalan utama. Berbeda dari pelabuhan yang tampak ramai, di sini justru terlihat kosong. Bahkan kota sangat sepi seperti kota mati.
"Akhir-akhir ini orang-orang jarang beraktivitas di jalan utama," ucap Nicholas seolah bisa membaca isi pikiran sang lady.
"Mengapa? Terjadi sesuatu?"
"Sama seperti yang hampir menimpamu tadi. Perampas. Mereka merajalela dimana-mana."
"Perampas?" Eve tertawa geli mendengarnya. "Perampas mana yang begitu tahu bahwa yang dihadapinya adalah bangsawan, justru langsung bersujud memohon ampun? Seharusnya itu kesempatannya untuk mendapatkan lebih banyak harta ketimbang merampas milik rakyat biasa, kan."
"Di sini, bangsawan sangat dilindungi kerajaan," jelas Nicholas. Sedikit malu mengatakannya. "Jika bangsawan sudah melapor, dalam beberapa jam perampas akan ditemukan lalu dihukum mati di alun-alun agar semua orang dapat menonton. Berbeda dari rakyat biasa, meski melapor seribu kali pun, tidak akan ada respon yang baik kepada mereka."
__ADS_1
"Keadilan di sini sudah sangat parah." Eve menumpukan kaki di atas pijakan kudanya, dan dalam sekali percobaan dia dapat naik dan duduk tenang di atas kuda hitam tersebut. "Memang sudah saatnya Brodsway bergabung bersama Sasania. Jenderal, sebagai penduduk asli Brodsway, apakah kau sepemikiran denganku?"
"Raja dan pangeran yang sekarang tidak ada yang bisa diharapkan. Daripada mereka, saya lebih mempercayai Putra Mahkota Lucas. Jadi apa boleh buat?" Jenderal Nicholas menyusul menaiki kudanya lalu berjalan di depan untuk menentukan arah.
"Ikuti saya, lady."
Eve mengangguk. Perjalanan mereka dimulai saat Jenderal Nicholas menarik kekang kudanya untuk berlari menembus dinginnya udara yang menyelimuti Brodsway, bersama dengan Eve yang mengekor di belakang.
Mengetahui suhu Brodsway yang selalu berada di bawah nol derajat, Eve memutuskan untuk membawa kuda Friesian milik Lucas yang tahan berlari di tempat bersuhu ekstrem. Walau begitu, Eve tetap saja memasangkan pelana tebal agar Friesian ini dapat merasakan sedikit kehangatan. Warna bulunya yang hitam begitu kontras saat berlari di bawah guyuran partikel salju putih bersih yang tidak terlalu lebat.
Setelah menempuh kurang lebih satu jam perjalanan tanpa henti, mereka akhirnya sampai di sebuah kamp yang didirikan di balik gunung sehingga tidak akan ada yang sadar akan kehadiran para ksatria Nyx sebagai tamu tak diundang di Brodsway. Usai menitipkan kuda, Nicholas mengantarkannya menuju tenda paling besar dan terletak di tengah-tengah formasi kamp.
Sebenarnya saat mereka bertemu di pelabuhan, sudah banyak hal yang ingin Nicholas tanyakan kepada gadis itu. Seperti, mengapa dia lebih memilih Lucas. Bagaimana cara mereka bertemu, dan lain sebagainya. Berita tentang hubungan cinta sang putra mahkota yang tiba-tiba tentu saja begitu mengejutkan baginya. Terlebih lagi, wanita yang diincar Putra Mahkota adalah gadis yang sama dengan yang disukainya hingga detik ini.
Sakit? Ah, tidak juga. Jujur, Nicholas jauh lebih lega Eve bersama Lucas ketimbang harus menikah dengan Pangeran Julius. Setidaknya gadis itu akan aman, meskipun bukan bersamanya.
"Eve, akhirnya kau sampai juga. Maaf, tidak bisa menjemputmu di pelabuhan."
Lucas yang baru saja Nicholas bicarakan di dalam hati itu —entah hanya kebetulan atau memang sudah menunggu sejak tadi— tiba-tiba saja keluar dari tenda disertai senyum hangat, khusus untuk Eve-nya. Tanpa menghiraukan Nicholas, dia menghampiri Eve. Melepaskan pelindung kepala yang dipakai, lalu mengelus kepalanya penuh kehati-hatian.
"Wah, gaya rambutmu cukup unik," komentarnya dengan mata seolah terbelalak.
Mendengar nada ejekan tersebut, Eve tak segan-segan menampar bahunya untuk meluapkan kekesalan. Lucas mengaduh, namun sebenarnya tamparan itu tidak sakit sama sekali.
"Begitu, ya, caramu menyambut kedatanganku."
"Eh?" Lucas yang menyadari bahwa Eve benaran kesal, akhirnya menarik tangan wanita itu untuk dihangatkan di dalam kantong mantelnya yang lebih tebal. "Tanganmu dingin sekali. Karena cuaca selalu seperti ini, pasti sangat sulit sampai bisa kemari, ya, apalagi sendirian. Di mana Eris? Apakah dia meninggalkanmu. Anak itu, sepertinya harus diberi pelajaran biar dia tahu apa akibatnya bermain-main denganmu," geram Lucas tak main-main.
Kedua orang itu berjalan bersisian masuk ke dalam tenda, meninggalkan Nicholas yang masih betah berdiri di tempatnya dihiasi tatapan datar, sulit diartikan.
Ah, mengapa mencintai seseorang harus sesulit ini?
__ADS_1