
Sore itu kastil Lumiere terasa sepi. Usai berdandan cantik, Lady Britney memutuskan untuk berjalan-jalan di taman karena dia begitu merindukan rumah besarnya ini. Taman yang berada di bagian barat kastil tampak berbeda dari yang ia ingat. Rasa-rasanya di sini ditanami bunga mawar berduri, bukan bunga aster berwarna-warni dan juga ditambah air mancur di tengah-tengah kumpulan bunga tersebut.
"Apakah bunga-bunga ini baru ditanam, Dorothy?"
Pelayan muda yang sering mengikuti kemana pun Lady Britney berada itu mengangguk. "Benar, My Lady. Bunga-bunga ini ditanam langsung oleh Lady Luvena."
Kegiatannya yang mengagumi keindahan bunga-bunga tersebut mendadak terhenti. "Lady Luvena melakukannya?"
"Beliau suka beraktivitas di luar ruangan, My Lady."
"Tidak, bukan itu alasannya. Dia hanya kurang kerjaan." Lady Britney terkekeh membayangkan bagaimana nasib Eve selanjutnya. Gadis kecil, siap-siap saja untuk kewalahan dengan tugas yang dia berikan. Nanti.
"Bersama His Grace, aku akan menambah agenda kegiatannya agar lady kecil itu tidak kesepian lagi." Kemudian wanita itu memperhatikan sekelilingnya. "Oh iya. Di mana His Grace sekarang?"
"Eum ... His Grace sudah pergi sejak dini hari tadi, My Lady," jawab Dorothy takut-takut.
"Seharusnya dia meminta izin kepadaku," ujarnya murung. "Mengapa bisa menjadi seperti ini, mengapa His Grace terlihat tidak menghormati ku lagi?!"
"Akibat penjelasan saya, Anda salah paham." Dorothy langsung bersimpuh dengan sebelah lutut yang diletakkan di tanah. "Tolong hukum saya, Nyonya. His Grace tidak mungkin sama seperti yang Anda pikirkan!"
"Ah, kau sedang menawariku untuk bersenang-senang, ya?" Lady Britney tersenyum lebar sembari memainkan jari-jarinya yang lentik. Merasakan basa-basinya dianggap serius, Dorothy merasa tak enak. "Pas sekali. Selama di luar kastil aku jarang menghukum seseorang, tidak ada mainan yang cocok untukku. Untung sekali ada kau di sini, Dorothy. Setidaknya aku tidak mati kebosanan."
"N-nyonya...."
"Katakan padaku, kau lebih senang disayat atau dicambuk?" suaranya mendayu sopan layaknya seorang bangsawan. Namun, suara indah itu adalah mimpi buruk bagi Dorothy.
"I-itu ... sayaā"
"Ah, My Lady. Anda di sini?"
Lady Britney mendongak. Mengetahui putra pertamanya dari keluarga Lumiere mendekat, dia tidak bisa menahan senang. Yah, mau bagaimana pun, karena Ethan dan juga Beckett lah sehingga dia bisa tinggal nyaman di sini. Dia harus bisa menyenangkan kedua putranya yang sudah besar ini.
Dan di antara Ethan dan Beckett, jujur saja Lady Britney lebih menyayangi Ethan. Secara fisik, putranya itu lebih mirip dengan dirinya ketimbang sang duke.
__ADS_1
"Ethan, astaga. Aku sudah pulang sejak kemarin tapi mengapa kau baru datang hari ini?" ujarnya setengah merajuk. Melupakan Dorothy yang masih gemetar di bawah kakinya.
"Aish, tugasku sangat banyak, My Lady. Bahkan tadi malam aku baru bisa terlelap setelah matahari hampir muncul," kekeh Ethan lalu memeluk sayang ibunya tersebut. Seliar-liarnya Lady Britney, Ethan tidak pernah menyangkal bahwa wanita inilah yang pernah berjuang untuk melahirkan dirinya ke dunia ini. Tidak ada alasan bagi Ethan untuk membencinya.
"Kalian bertiga sama saja. Tidak menganggap aku ada," sambung Lady Britney lagi, kesal.
"Tidak ada yang berpikiran seperti itu. Bagi kami, Anda adalah segalanya." Ethan tersenyum tipis. Menatap sang ibu yang memiliki tinggi badan sekitar dua jari di bawah bahunya. Benar-benar mungil untuk seukuran wanita dewasa. "Ngomong-ngomong, Anda akan pergi ke mana?"
"Aku mengelilingi taman, lalu berencana menghampiri His Grace tetapi tidak jadi." Dia mengibaskan tangannya. "Sudahlah, mungkin memang takdirku selalu sendiri. Jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja. Jika kau sibuk, aku mengizinkanmu pergi. Sana, selesaikan pekerjaanmu."
Ethan menggeleng, "Biarkan aku menemani Anda."
"Bukannya kau sibuk?"
"Ya, akan selalu sibuk jika aku tidak pandai meluangkan waktu. Lagipula Anda jarang kemari. Setidaknya biarkan aku menemani walau sebentar."
"Ya sudah, ayo kita pergi ke ruang baca," ajak Lady Britney semangat.
"Siapa bilang aku ingin mengganggu?" Dia tersenyum miring, "justru aku akan membuatnya lebih fokus untuk belajar. Em, Ethan, menurutmu lebih bagus mana antara belajar selama dua belas jam tanpa henti atau seharian penuh namun diberikan waktu istirahat selama satu jam?"
Pria itu tersentak, "Anda ingin belajar keras?"
"Bukan untukku, tapi untuk Lady Luvena." Sang lady tersenyum misterius. Pikirannya berkelana. Ah, rasanya senang sekali melihat putri dari wanita menyedihkan itu ikut menderita sama seperti ibunya. Siapa suruh berani melawan, lihat saja, Luvena itu akan dibuatnya menderita.
"Dia selalu meremehkan aku. Sekali-kali, dia harus diberi pelajaran," sambung Lady Britney lagi sembari berjalan anggun membelah taman untuk mendapatkan jalan terdekat.
Ethan tetap mengikutinya, namun pria itu diam.
"Dia pikir siapa dirinya sampai berani mengangkat wajah di depanku?" Lady Britney mengangkat dagunya tinggi sambil menepuk dada dengan bangga. "Aku Lady Britney, calon istri Duke of Lumiere di masa depan. Jika ada duri di jalanku, aku tidak akan segan untuk membuangnya jauh-jauh. Termasuk lady sialan itu. Kalau perlu, dia mati saja!"
"Lady!"
Lady Britney berbalik, "ya, sayang?"
__ADS_1
"Apakah Anda mengerti apa maksud dari ucapan Anda barusan?" tanya Ethan dingin.
Lady Britney mengamati wajah putranya lekat-lekat. "Tentu saja aku mengerti. Suatu saat jika Lady Luvena masih menentang ku, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhnya."
"Anda patut bersyukur karena sudah mengatakannya di hadapan saya." Ethan menarik napas panjang. Sudah cukup, emosinya mulai tidak stabil. "Jika itu Declan ataupun Beckett, kemungkinan besar ucapan Anda akan disampaikan kepada His Grace. Jika hal itu sudah terjadi, maka Anda tidak akan dapat lari dari hukuman."
"Ethan ... aku mengira kau memihak ibu ...." ungkapnya lirih. Lady Britney tertunduk, air matanya meluruh untuk meluluhkan hati sang putra. Namun sayangnya hal itu sepertinya berbuah sia-sia.
"Aku akan memihak yang benar. Terlepas itu bukan keluargaku ataupun orang lain yang tidak aku kenal. Dan di sini, Anda lah yang salah. Berniat membunuh merupakan tindakan buruk, lebih-lebih lagi Lady Luvena adalah calon pengantin Pangeran Julius dari Brodsway. Jika Anda membunuhnya, sama saja Anda mengibarkan bendera perang antara Lumiere melawan Brodsway dan Sasania sendiri."
"Anda tidak ingin hidup susah, kan?" tandas Ethan mendengus kasar, "Kalau begitu diam saja. Nikmati harta Lumiere dan jangan berbuat apa-apa. Itu sudah sangat membantu."
Selepas menceramahi sang ibu panjang lebar, Ethan berbalik pergi dengan hati yang dongkol. Dari balik bahunya, sang lady terus-terusan memanggil namanya sama seperti anak kecil yang tidak kebagian permen.
Ethan mengira Lady Britney sudah berubah, maka dari itu dirinya ingin mengakrabkan diri dengan sang ibu. Namun perkiraannya salah, Lady Britney justru ingin berbuat yang tidak-tidak terhadap putri tunggal Lumiere. Kesayangan semua orang. Apakah wanita itu mengalami gangguan mental? Oh, ayolah, bahkan ibu dari Declan dan Eve menyambut dirinya dan Beckett sama seperti putra sendiri. Tetapi mengapa ibu kandungnya sendiri tidak berperilaku sama, menganggap Luvena seperti putrinya sendiri? Bahkan dengan Declan, Lady Britney sering mengancamnya.
Oh, Tuhan. Sampai kapan Lady Britney akan tinggal di sini bersama kami? keluh Ethan di dalam hati.
...****************...
Done!
Ohayou minna~
Berapa hari gak update, nih? Eh, engga, deng. Sudah mingguan kayaknyaš¤£
Sorry telat update. Bukan telat aja sih, tapi telaaaaattttttt bangettš©
Terhitung dari tanggal 1 kemaren author ada urusan di luar kota, sibuk sampai-sampai lupa istirahat dan berakhir sakit sampai hari ini. Bener-bener gaada waktu buat kalian hiksrot maaf yaaaaš¤§
Doain aku cepat sehat, ya. Biar updatenya kembali lancarš¤©
See you next episodeš
__ADS_1