Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Sisi Lain Declan yang Mengerikan


__ADS_3

"Kalian dari kota?"


Declan mendongak begitu pertanyaan tersebut meluncur dari bibir Garlein. Umpan miliknya kebetulan sudah selesai dipasang. Dengan langkah ringan pria muda itu segera menyusul Garlein dan Eve yang sudah lebih dulu duduk di pinggir jalanan kayu yang menjorok ke arah sungai. Sementara Ethan dan Beckett masih sibuk berdiskusi, memikirkan cara agar umpan mereka berpeluang besar dimakan oleh ikan-ikan mahal seperti tuna atau salmon. Padahal mereka sadar bahwa mereka akan memancing di sungai, bukan di laut.


"Bisa dibilang begitu," jawab Declan abstrak. Dia memutuskan duduk di samping Eve lalu ikut melemparkan kail masuk menyatu di dalam sungai.


"Carringtown?"


"Sepertinya kau penasaran sekali, ya."


"Tentu saja karena sahabatku bersama kalian," ujarnya sedikit marah. "Belasan tahun sudah berlalu. Kalau benar-benar keluarga, di mana kalian saat Eve dan Bibi Margaret susah?"


"Garlein, sudahlah. Masa lalu tidak perlu di ambil pusing. Kita hanya perlu memperbaiki masa kini dan kedepannya, kan. Jadi tidak perlu lagi ada pertanyaan yang seperti itu." sergah Eve menengahi.


Declan, menghiraukan ucapan Eve malah membalas. "Kami tidak memerlukan pendapat orang asing," ujarnya dingin, "jadi simpan saja umpatan mu itu dalam-dalam. Tidak ada yang memerlukannya."


Garlein terkekeh, sarkas. "Oh, anak manja ini sombong sekali rupanya."


"Jika tidak mengetahui keseluruhan kehidupan orang, lebih baik tutup mulutmu itu karena kau tidak tahu apa-apa."


"Kalian bisa diam? Bagaimana ikannya mau mendekat jika sejak tadi kalian terus saja berisik?!"


Kedua pria di sampingnya akhirnya bungkam. Walau sedikit kesal, tapi Eve cukup lega bisa menghentikan pertengkaran keduanya.


Tetapi perkataan Eve barusan hanya berefek sementara.


"Omong-omong apa katamu tadi, aku tidak tahu apa-apa? Tolong bercermin. Kau yang tidak tahu apa-apa tentang Eve!" Garlein berdiri, menarik kerah baju Declan kasar. Sedangkan Declan sama sekali tidak memberontak. Dia justru membiarkan Garlein mengucapkan kalimat-kalimat yang membuatnya sebagai seorang kakak semakin merasa bersalah.


"Kalian mencampakkannya. Sekali saja, tolong diingat-ingat. Pernahkah sekali saja kalian kemari sebelumnya? Tidak, kan?!"


"Aku bahkan yakin betul kau tidak tahu apa yang Eve suka dan yang tidak dia sukai. Kau dan ayahmu itu ... sama saja!"

__ADS_1


"Kenapa diam saja, ha? Sudah menyadari letak kesalahanmu di mana?!" Garlein mengguncang kedua bahu Declan. "Jawab aku, bodoh!"


"Garlein, jangan gila—"


Sebelum Eve menyelesaikan ucapannya, Declan yang awalnya diam tanpa basa-basi langsung mengayunkan telapak tangannya yang mengepal tepat mengenai dagu Garlein. Sebuah bogem mentah berhasil bersarang di sana, menyebabkan mata lawannya berkunang-kunang dan bibir bagian bawah mengeluarkan darah. Entah bibirnya sobek atau ada salah satu gigi yang patah. Selanjutnya tanpa perlawanan berarti, Garlein yang kebetulan membelakangi sungai berhasil terjun bebas menghantam air.


"Dec, apa yang kau lakukan?!" Eve panik setengah mati.


"Kenapa dia masih betah di bawah sana? Anak manja ini belum puas membuatnya kesakitan," balas Declan, tanpa ekspresi.


"Apakah kau tidak merasakan penyesalan sama sekali?!" Eve semakin panik ketika Garlein belum muncul ke permukaan. "Declan, bantu dia kembali ke daratan sebelum kau membunuhnya!"


"Setelah penghinaan yang baru saja ku dapatkan, apakah dia layak untuk ditolong?" Declan mendesis. "Sudahlah, lupakan saja. Orang banyak omong kosong seperti Garlein itu memang pantas di beri pelajaran. Jika kau khawatir aku akan dijatuhi hukuman karena membunuhnya, maka itu tidak perlu. Sejauh ini bukan dia orang pertama yang aku bunuh."


Selanjutnya Declan terkekeh, ganjil. "Atau jangan-jangan dia lah anak manja yang sesungguhnya? Hanya ditinju sekali langsung kehilangan nyawa?"


Bibir Eve bergetar. Declan sebelumnya tidak seperti ini. Dia seperti orang yang berbeda, seolah nyawa manusia tidak ada artinya sama sekali.


Untuk menyelamatkan Garlein, Eve tahu kakaknya itu tidak bisa diandalkan. Tanpa menunggu lama, gadis bersurai pirang itu segera menerjunkan diri ke dalam sungai yang kedalamannya belum diketahui tanpa menggunakan alat bantu apapun.


Terlambat. Eve sudah masuk ke dalam sungai saat Declan meneriakkan namanya. Tanpa pikir panjang, Declan berlari kembali ke darat untuk mengambil sesuatu untuk membantu Eve keluar dari sungai.


Sementara itu Eve terus melawan arus. Memperhatikan sekelilingnya dengan jarak pandang yang dekat. Air di sungai tersebut memang bersih, namun tidak jernih sehingga ia kesulitan mencari Garlein.


Setelah beberapa waktu dia habiskan di dalam sungai, Eve merasa begitu lega saat melihat tubuh Garlein berada tidak jauh dari tempatnya berenang. Eve memegangi tangan pria itu, dingin. Matanya masih setia terpejam tidak peduli sudah berapa banyak air yang masuk ke dalam paru-paru. Dengan tenaga ekstra, Eve melingkarkan lengan Garlein di bahunya kemudian mencoba berenang ke atas.


Ini hanya dugaan Eve, tapi menurutnya Garlein pingsan akibat bogem mentah yang Declan berikan.


"Eve, tangkap!"


Sebuah drum kosong yang diikat dengan seutas tali segera Declan lemparkan ke arah adiknya itu. Eve yang sudah lemah tidak bisa berenang lebih jauh. Dia hanya mengharapkan bantuan Declan yang bersusah-payah menariknya dan Garlein agar kembali ke daratan.

__ADS_1


"Pakai." Declan menyampirkan luarannya untuk Eve yang basah total.


Dia beralih menatap Garlein yang belum sadarkan diri. Dengan keterampilan yang dimiliki, Declan menekan dada Garlein dengan tempo yang sama sampai pria itu berhasil memuntahkan semua air sungai yang tidak sengaja ia minum.


"Eve, lebih baik kau kembali saja ke rumah biar aku yang mengurus orang ini," ujar Declan setelah mereka berhasil membuat Garlein kembali sadar.


"Apa lagi yang ingin kau lakukan padanya?" Eve menyipit, curiga.


"Hanya mengantarkannya kembali ke rumah. Tidak lebih." Dengan cekatan Declan memapah tubuh Garlein yang masih lemah. "Tetapi jika orang ini kembali membuat masalah, aku tidak akan segan-segan memberikannya tinju yang kedua."


"Kalau begitu aku ikut kalian saja."


"Kenapa? Kau khawatir aku benar-benar akan membunuhnya?"


"Kalau sudah tahu alasannya lebih baik tidak perlu bertanya lagi," tukas Eve sembari berdiri pelan-pelan. Tubuhnya kedinginan. Air sungai yang dalam ternyata tidak sehangat permukaannya.


"Hei, kalian!"


Dari jauh suara keras Beckett dapat terdengar walau wujudnya belum tampak.


"Coba tebak, apa yang kami dapatkan!" sambung Ethan tak kalah keras.


Sebenarnya baik Declan maupun Eve sama-sama tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendengarkan celotehan Ethan dan Beckett. Mereka sedang membawa orang sakit, tidak bisa berlama-lama. Tapi setelah Beckett mengangkat apa yang dibawanya, tanpa disadari kedua orang itu —Declan dan Eve— tercengang sekaligus takjub.


"Lihat, kami mendapatkan ikan yang besar untuk Bibi Margaret. Ah, tidak. Mungkin kebanyakan jika dia makan ikan sebesar ini sendirian. Kita harus membantunya untuk menghabiskan ikan ini nanti!"


...----------------...


Jadi jawaban episode kemarin itu Ethan sama Beckett, ya. Bukan Garlein wong anaknya aja abis babak belur gara-gara nyinggung si songong Lumiere ahahah🤣


Kalau jadi Eve, kalian lebih milih Garlein si tetangga yang selalu ada atau Declan si abang yang berusaha menebus kesalahannya di masa lalu?🤔

__ADS_1


Komentar dan like jangan lupa, yaa😆


See you next episode👋


__ADS_2