
Tak terasa waktu terus bergulir. Dalam waktu satu bulan, istana berhasil disulap total dengan sentuhan elegan nan berkelas. Tidak sampai di sana, jalanan setapak yang biasanya hanya dilewati oleh rakyat pun juga ikut dihias dengan pernak-pernik warna-warni.
Dengan semua euforia itu, Semua orang seolah melupakan putra mahkota sebelumnya. Pangeran Felix yang pergi entah kemana. Menurut mantan putri mahkota, Pangeran Felix sejak awal memang ingin turun dari jabatannya. Namun permintaan tersebut tidak pernah disetujui oleh raja yang alhasil membuatnya menderita tekanan mental bahkan sampai melampiaskan penyakitnya itu kepada putra sulungnya.
Untuk putranya yang satu itu, raja bahkan telah membuat pasukan khusus untuk mencarinya.
Siang ini, Eve hanya uring-uringan di dalam kamarnya. Tidak ada yang bisa dia kerjakan, selain membaca buku yang beberapanya menggunakan bahasa asing. Untuk pelajaran tata krama dan sebagainya, duke meliburkan Eve sampai acara peresmiannya selesai.
Eve menghela napas. Kembali meletakkan buku kecantikan di atas meja, dia berbaring di sebuah sofa panjang dengan kedua kaki yang diangkat menyandar ke dinding.
Bosan!
"My lady...." gumam pelayan Eve yang terkejut karena tingkah unik majikannya.
"Jangan hiraukan aku, anggap saja aku ini vas bunga jadi hanya ada kau seorang diri di sini." Eve memejamkan mata.
Karena pelayan tersebut masih terbilang baru dan dia juga tidak berani membantah, pun pada akhirnya hanya mengangguk kaku dan kembali mengelap lantai serta perabotan yang ada di kamar tersebut. Walau perbuatannya jauh melanggar etika, dia berusaha tutup mata atas apa yang sudah menjadi kegiatan Eve saat ini.
Sebuah ketukan pintu menginterupsi kegiatan anehnya itu. Eve buru-buru bangkit sembari memasang sepatunya kembali sebelum berlari ke depan.
"Your Highness!" Manik biru Eve melebar begitu tahu siapa yang berada di balik pintu kamarnya.
"Bolehkah kita bicara sebentar?" Pinta Lucas disertai senyum tipis. "Ini tentang acara peresmian mu."
"Sebenarnya itu acaramu, Pangeran. Bukan acaraku."Ia tertawa kecil. "Ah, iya. Pasti Anda sekarang sedang sibuk tetapi berusaha meluangkan waktu kemari. Maaf sudah menyita waktu Anda. Bagaimana jika kita berbicara di perpustakaan saja?"
Eve ingin berbalik, mengatakan kepada pelayannya bahwa dia bisa istirahat lebih cepat. Sebelum Eve berhasil masuk, Lucas menangkap pergelangan tangannya.
Eve tersentak. Tatapan mereka saling bertubrukan, selama beberapa detik.
"Pangeran...."
"Bisakah kau bersikap seperti dulu?" bisik Lucas tepat disampingnya. "Hanya ada kita berdua. Masa bodoh dengan panggilan hormat, panggil saja namaku."
Sial, genggaman tangan Lucas yang dingin rasanya seperti mengantarkan rasa beku ke dalam tubuhnya. Eve mengangguk pelan. "M-maaf, Luke. Aku hanya mencoba bersikap seperti bangsawan pada umumnya. Aku tidak tahu hal itu justru membuatmu tidak nyaman."
"Aku tidak menyalahkan mu, tetapi bisakah kau berikan sedikit sikap spesial kepadaku?" Lucas akhirnya melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Eve. Sedikit berberat hati. "Dengan sikap kaku itu, entah mengapa membuatku berpikir seolah kita tidak pernah dekat. Padahal kau sendiri tahu ... bagaimana perasaanku."
Lucas membuang muka.
Dan Eve melongo.
"Perasaan apa?"
"Lain kali belajar lebih peka." Lucas menghembuskan napas kesal. Dia kemudian berbalik meninggalkan Eve yang masih berdiri di depan pintu.
"Tunggu apa lagi? Bukankah kita akan ke perpustakaan?"
"Benar. Tunggu aku!" Eve berlari mengejar Lucas, melupakan pelayannya. Kebetulan di hari itu Lucas sedang dalam suasana hati yang baik untuk menjahili seseorang. Dia tersenyum misterius. Maka dari itu, begitu jaraknya dan Eve semakin dekat, Lucas sengaja berhenti mendadak yang akhirnya menyebabkan Eve mencium punggungnya dengan sempurna.
__ADS_1
"Heh, kenapa malah berhenti?" protes Eve sambil mengusap dahinya, sebal.
Lucas mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya sehingga membentuk simbol peace di udara. "Sengaja. Soalnya hidungmu ini kecil." Lucas menunjuk wajah Eve yang lebih kecil darinya. "Lebih baik dibenturkan saja, biar ukurannya semakin kecil."
"Oi, aku tidak pernah mengampunimu, Lucas." Eve menggebu-gebu.
Lucas mengangguk cepat. "Aku senang kau tidak mengampuniku."
"Dasar tidak waras!"
Eve segera menerjang Lucas, sama seperti yang sering dia lakukan terhadap ketiga saudaranya yang usil minus Declan. Asik menguyel-uyel pipi Lucas, gadis itu tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai di depan pintu perpustakaan. Dan Declan yang membukakan pintu hanya bisa menggeleng pasrah akibat perbuatan adiknya.
"Tolong maafkan lady galak ini, pangeran." Declan berusaha melepaskan Eve dari Lucas namun sepertinya tidak membuahkan hasil.
"Biarkan dia seperti ini." Bukannya marah, Lucas justru tertawa lepas sesaat setelah memperhatikan wajah marah Eve yang berusaha menumbangkan dirinya. "Benar-benar seperti anak kecil."
"Ekhem!" Declan menatap tajam adik kandungnya.
Sayangnya itu tidak berpengaruh.
Declan terpaksa mengambil tindakan. Mengangkat kedua tangan Eve lalu menariknya seperti gerobak dorong, dia tersenyum sekilas kepada Lucas. "Mari masuk, Pangeran."
"Lepaskan, biarkan aku memberi pelajaran kepada orang yang ingin menenggelamkan hidungku!" pekik Eve tidak terima begitu Declan dengan tenang memaksanya duduk di sebuah sofa.
"Daripada ribut, lebih baik kau baca saja buku-buku ini." Ethan meletakkan beberapa tumpuk buku tebal bersampul tua. "Kami ingin membahas sesuatu, hanya sebentar." Ethan melirik Lucas yang baru saja berjalan mendekat dengan sebuah buku bersampul merah di tangannya. "Pangeran tidak keberatan, kan, berdua bersama Eve di sini?"
Lucas melempar senyum tipis. "Tidak masalah."
"Em ... Maksudnya menjauh versi mereka itu apa?"
Awalnya Lucas berharap banyak saat saudara-saudara Eve itu secara tidak langsung memberikan dirinya kesempatan untuk berbicara berdua saja dengan gadisnya. Namun setelah mengetahui makna pergi versi Ethan, ekspresi Lucas menggelap. Pasalnya, ketiga orang itu hanya duduk tak jauh dari mereka.
Jadi sebenarnya untuk apa izin segala?
Ya ampun, Lucas memijit pelipis. Putra-putri Duke of Lumiere tidak ada yang normal. Meski begitu, dia tetap mencintai salah satu dari mereka. Untuk meredakan kepusingan yang datang tiba-tiba itu, Lucas berusaha kembali fokus kepada bacaannya. Mungkin bicara empat mata dengan Eve bisa dilakukan nanti di saat yang lebih tepat.
"Luke."
"Hm?"
"Katanya aku akan menikah, ya?"
Lucas mendongakkan kepalanya dari buku yang ia baca. Kilatan kesal sempat terpatri samar-samar di kedua bola mata abu-abunya itu, "Ya."
Akan aku pastikan kau gagal menikah dengan pangeran Brodsway, Eve. Kau harus bertanggung jawab dan menikah hanya denganku seorang!
"Katanya sebagai seorang putri, aku harus mempunyai banyak keturunan," lanjut Eve kelewat polos. Dan pada akhirnya ia bertanya tentang sesuatu yang tidak boleh dibahas antara laki-laki dan perempuan.
"Lalu bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan bayi?"
__ADS_1
Mendengar hal itu, Lucas melotot. Buku yang dia pegang refleks terjatuh di atas meja sehingga menghasilkan bunyi berdebam. Bukan, bukan buku itu yang membuat Lucas takut. Melainkan tatapan tiga pria yang kini mengarahkan lirikan tajam mereka layaknya tiga ekor harimau kelaparan yang dihadapkan seekor rusa gemuk tak berdaya.
Masalahnya, Eve melemparkan pertanyaan mautnya dengan suara yang cukup keras sehingga ketiga pawangnya itu bisa mendengar ucapannya dengan jelas!
"Apa yang sudah kau ajarkan kepada Eve kami? Dasar bajingan, jangan berani-berani merusak kepolosannya!" sentak ketiganya murka.
"Aku belum menjawab pertanyaannya." Lucas menjawab dengan ekspresi datar, merasa tertuduh. "Kalian ingin aku menjawab sejujurnya sekarang, atau bagaimana?!"
"Jangan!" pekik ketiganya serempak. Declan yang biasanya tenang pun pada akhirnya ikut panik.
Declan berdehem, "itu ... Eve masih terlalu muda untuk mengetahuinya."
"Oh, jadi mendapatkan bayi hanya boleh dilakukan oleh orang yang tua, begitu?" Eve bertanya setelah sebelumnya dilanda kebingungan karena menyaksikan bagaimana saudara-saudaranya merundung pangeran yang sebentar lagi akan menjadi putra mahkota itu.
Sebegitu parahnya kah?
"Benar, ritualnya cukup sulit dan harus rutin dilakukan."
"Pangeran!" Sentak mereka kesal.
"Apa?"
"Ritual? Apakah memerlukan darah seperti ritual pada umumnya, apa konsekuensinya jika ritual yang dilakukan gagal?" Eve semakin penasaran, sedangkan ketiga saudaranya sudah saling waspada terhadap jawaban Lucas selanjutnya.
"Konsekuensinya jika gagal, ritual harus diulangi lagi."
"Cukup!" Beckett menarik tangan Eve sembari memberikan tatapan tajam kepada Pangeran Lucas. "Saya dan Eve sibuk. Permisi!"
"Eh, tapi penjelasannya belum lengkap dan aku belum paham, Beckett. Beckett!"
Samar-samar suara Eve menghiasi lorong kastil.
"Ah, baru kali ini saya panik akibat rasa penasaran Lady Luvena." Declan kembali ke dalam pembicaraan formal, melupakan umpatannya terhadap Lucas yang barusan berani mengatainya bajingan. Baik, lupakan.
"Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan, Pangeran?"
Lucas kembali duduk di sebuah sofa putih. Kaki kanannya diangkat, ditopangkan di atas kaki kiri. Menunjukkan bagaimana dia bisa begitu berkuasa di sini.
"Aku ingin menjadikan Lady Luvena putri mahkota."
Hening. Baik Declan maupun Ethan sama-sama tidak mempercayai apa yang baru saja mereka dengar.
"Maaf, Pangeran. Siapa ... yang menjadi putri mahkota?" tanya Ethan kembali. Mungkin sebelumnya dia salah dengar.
"Lady Luvena," jawab Lucas mantap. "Aku akan bergerak lebih dulu ketimbang Pangeran Julius sialan itu. Harapanku, kalian bisa mendukung keputusanku ini dan bersedia bekerja sama."
...----------------...
Ayo, apa ada yang mau ikutan jadi tim suksesnya Lu-na? Daftarkan diri kalian!😆
__ADS_1
See you next episode👋