
"Baik, nona yang diculik. Sekarang aku ingin bertanya. Dari sini, di mana letak kamar Ethan."
Eve menengok ke arah kanan, tepatnya pada sebuah jendela besar dengan ukiran meliuk-liuk sedang terbuka lebar.
"Itu?"
"Jendela ruang tamu pribadinya," ujar Eve menambahkan. "Dari sini jaraknya cukup jauh untuk bisa mencapai kamar utama Ethan."
"Baiklah kalau begitu. Kita akan menerobos masuk melewati jendela ruang tamunya saja." Dengan sigap, Lucas menarik pinggang Eve mendekat ke arahnya. "Pegangan!"
Eve belum sempat melayangkan protes dan pertanyaan, tiba-tiba saja merasa tubuhnya ringan di udara. Sesaat seolah waktu berhenti berdetak, dia bisa melihat dengan jelas taman Lumiere di bawah kakinya. Rasa takut sama sekali tidak ia rasakan, justru perasaan bebas yang selama ini terkungkung di dalam dirinya perlahan kembali subur dan semangat.
"Sudah sampai." Lucas tersenyum geli melihat Eve yang masih melingkarkan tangannya dengan tatapan terpana. "Lady, aku peluk sekali lagi, boleh, ya?"
"Eh?"
Eve mengerjap. Sedetik kemudian dia sadar lalu mendorong dada Lucas tanpa berperasaan. Aduh, kenapa jadi dirinya yang malu?!
Bukannya marah, Lucas justru memeluk lehernya gemas. "Ah, lucunya calon istriku."
"Putra Mahkota, Lady Luvena, apa yang kalian lakukan di sini?"
Kedua orang penyusup itu sama-sama mengalihkan pandangan menuju daun pintu. Di sana terlihat Ethan yang berdiri dengan setelan biru gelap tengah menatap keduanya cengo.
"Halo, calon kakak iparku. Ini kejutan! Bagaimana, apakah kau senang akan memiliki adik ipar sepertiku?" Lucas bersuara ramah.
"Kakak ipar?!" Ethan terbelalak. "Sejak kapan kalian berdua...."
"Ceritanya panjang," ujar Lucas, "bagaimana, apakah ada perkembangan mengenai pemimpin Ksatria Nyx? Kau tidak mungkin melupakannya, 'kan?"
"Saya sudah tahu siapa orangnya."
"Benarkah?"
"Pemimpin Ksatria Nyx itu...."
Ethan melirik adiknya, kemudian beralih kembali kepada Lucas.
"Anda sendiri, putra mahkota."
Lucas menampilkan sebuah senyum. Senyum puas lebih tepatnya. Dia menepuk pundak Ethan, cukup bersahabat.
"Selamat, tambang emas di desa Macsmare menjadi milikmu!"
Eve terperangah menyaksikan bagaimana kedua orang itu saling berinteraksi tanpa adanya rasa canggung. Apalagi setelah mendengar tambang Desa Macsmare ikut terlibat, Eve yakin ada sesuatu yang tengah dilakukan dua orang ini.
"Anda harus menjelaskan semua ini, putra mahkota." Ethan terlihat masih belum percaya. "Pasukan sebesar itu ... benaran milik Anda?!"
"Kau mengira aku tidak mampu?" Lucas dengan santainya duduk di sebuah kursi kayu pahat yang diletakkan di pojok ruangan.
Ethan menggeleng. "Tidak, tidak. Saya tahu Anda sangat mampu untuk itu. Hanya saja, saya merasa sangat terkejut. Bukan bermaksud meremehkan, tetapi Yang Mulia Raja saja tidak bisa mendapatkan informasi apalagi sampai menyetir Ksatria Nyx. Dan Anda ... ternyata adalah dalang di baliknya?!" Pria itu tidak repot-repot untuk menutupi kekagumannya. "Sejak kapan Anda membentuk Ksatria Nyx, putra mahkota?"
"Dari dulu aku tidak pernah betah di istana. Sebagai ganti dari rasa kebosanan ku, maka terbentuklah Ksatria Nyx," jelasnya ringan. "Aku bisa mendidik mereka lebih keras. Melampaui batas kekuatan mereka sebagai manusia. Berbeda dengan prajurit istana yang cepat lelah bahkan sering mengeluh di belakang. Tentu mereka itu jauh lebih lemah dari Nyx-ku."
Ethan mengangguk semangat. "Rumor yang beredar pasti benar. Katanya, satu Ksatria Nyx sama dengan kekuatan sepuluh orang prajurit kerajaan!"
__ADS_1
"Ralat, satu orang ku sama dengan kekuatan dua puluh orang prajurit kerajaan."
"Ternyata bukan sebagai anggota, malah kau yang menjadi pemimpin mereka. Nyx yang dikagumi Yang Mulia Raja itu benar-benar milikmu?" Eve bertanya sekali lagi.
"Sebentar lagi juga akan menjadi milikmu, cantik. Semua milikku akan menjadi milikmu," goda Lucas menatap dalam.
Ethan berdehem. "Di sini bukan tempat untuk berduaan."
"Cepat-cepat lah mencari pasangan, Lord." Lucas menghela napas.
"Ah, iya. Izinkan saya bertanya, putra mahkota!"
Lucas berdecak. "Dari tadi kau sudah bertanya."
Sebagai respon, Ethan justru tertawa.
"Jika pemimpinnya Anda sendiri, lantas mengapa Anda memerintahkan saya untuk mencari informasi yang jelas-jelas sudah Anda ketahui jauh lebih baik dari orang lain?"
"Menanyakan tujuanku?" Lucas tersenyum tipis, hampir tidak terlihat.
"Sebenarnya aku sedang kekurangan orang berkompeten yang bisa dipercaya. Dan jujur saja, Lord. Kau memenuhi semua kualifikasi yang aku inginkan sebagai seseorang yang akan duduk sebagai tangan kananku.
Aku tidak pernah menawarkan sesuatu lebih dari sekali. Jadi bagaimana, apakah kau bersedia bekerja sama denganku?"
Ethan mengernyit. "Bagaimana caranya Anda bisa mengetahui saya ini bisa dipercaya atau tidak?"
"Semenjak aku memerintahkan mu untuk mencari pemimpin Ksatria Nyx, tidak ada satupun kejanggalan yang terjadi di sekitarku. Dari situ aku menyimpulkan, bahwa kau tidak pernah membocorkan apapun mengenai kesepakatan kita berdua kepada orang lain."
"Kejanggalan?"
"Dan harus kuakui, ketajaman informasimu boleh juga. Tepat dan cepat." Lucas menilai teliti sampai-sampai Ethan merasakan kebanggaan yang membuncah di dadanya. Dia merasa keberadaannya dihargai.
Sudah mendapatkan tambang yang kaya akan sumber daya alam, sekarang ditawari kursi tinggi sebagai tangan kanan secara rahasia? Orang bodoh mana yang akan menolak, tentu saja Ethan setuju!
"Anda dapat mengandalkan saya, Yang Mulia." Ethan meletakkan tangannya yang mengepal di depan dada, lalu berlutut tepat di depan Lucas dengan wajah tertunduk.
Eve takjub melihat begitu mudahnya Lucas menaklukkan orang lain di bawah kakinya. Terlebih lagi, orang itu adalah kakaknya sendiri!
Lucas merogoh sakunya lalu mengambil sesuatu. Sebuah benda yang tidak asing. Lencana kentaur besi yang pernah dia lihat saat menyaksikan keramaian festival lilin bersama Lucas. Sekaligus benda yang berhasil meyakinkan Eve bahwa Lucas itu adalah anggota Ksatria Nyx. Garis bawahi, anggota.
"Luke."
"Hm?"
"Kenapa lencana milikmu dibuat dari besi, sedangkan pasukan lain memakai lencana emas?" Eve akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal di pikirannya.
"Sebagai pengecoh," balas Lucas sembari memainkan jemari Eve yang lentik. "Mereka tidak akan pernah mengira jika pemimpin Ksatria Nyx akan mengenakan benda yang kualitasnya jauh di bawah pasukannya, 'kan. Contohnya dirimu. Walau pernah melihat benda ini sekali, akan tetapi tidak menyangka jika aku adalah orang yang selama ini dicari-cari mereka."
"Tetapi itu tidak penting. Karena kau bisa mencari ku di hatimu," sambung Lucas lagi.
"Ekhem!"
"Ya, ya, Lord Ethan. Ini." Lucas mendengus sebelum memberikan lencana besi itu kepada Ethan.
"Apa yang harus saya lakukan dengan ini?"
__ADS_1
"Sebenarnya lencana besi itu adalah lencana cadangan tetapi bentuknya lebih dikenali oleh para ksatria dibandingkan lencana kentaur asliku," jelas Lucas datar.
"Serahkan lencana itu kepada Jason, pria plontos yang menjual perhiasan wanita di pasar arah selatan. Dia yang akan membawamu ke suatu tempat."
Eve melotot. Pria yang waktu itu menunjukkan banyak aksesori padanya ... ternyata juga salah satu Ksatria Nyx?!
Ethan sempat mengernyit walau akhirnya tetap mengangguk. "Dilaksanakan, Yang Mulia."
"Bukankah ini cukup berbahaya, Luke? Bagaimana jika ada seseorang dari Ksatria Nyx yang membocorkan rahasia bahwa pemimpin mereka adalah putra mahkota Sasania sendiri?"
"Anggota Ksatria Nyx tidak ada yang mengetahui statusku sebagai putra mahkota. Tenang saja." Lucas melirik Ethan sejenak. "Terkecuali Lord Ethan dan satu orang lagi yang paling ku percaya."
"Ah, iya. Kita sudah berbicara banyak tetapi belum ada teh hangat yang menemani." Ethan berdiri sebelum Lucas mencegahnya.
"Tidak perlu, Lord. Kami hanya sebentar, tidak ada niat bertamu lebih lama." Lucas berdiri, membawa Eve di sampingnya.
"Kenapa terburu-buru?"
"Oh, apakah aku belum bilang? Sebenarnya niatku kemari untuk menculik Eve. Jika berlama-lama takutnya akan ketahuan," jawab Lucas tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Oh, menculik, ya. Kalau begitu tidak masalah."
Eve hampir protes andai Ethan tidak melanjutkan ucapannya.
"Eve berhak bahagia dengan pilihannya sendiri. Dan pilihannya jatuh kepada Anda, Yang Mulia.
Sebagai kakak, saya hanya bisa berpesan; jangan pernah menyakiti perasaan adik kecil saya ini. Jika sampai itu terjadi, kami bertiga mungkin tidak akan bisa mengontrol diri. Saya harap Anda mengerti akan kekhawatiran kami."
"Uwaa, jangan mengatakan hal yang bisa membuatku menangis, Ethan!" Eve berlari lalu memeluk kakak pertamanya itu. Tanpa malu, Ethan membalas pelukan yang sama eratnya.
Eve tidak tahu berapa lama dia akan pergi meninggalkan semua saudaranya....
"Jangan menyusahkan His Royal Highness, mengerti?" pesan Ethan disertai senyum hangat.
"Tidak, dia yang akan menyusahkan ku kelak. Seharusnya kau mengatakan hal itu kepadanya, bukan padaku!"
Ethan meringis, "baik-baik, His Royal Highness yang akan menyusahkan mu."
"Eve, sepertinya kita tidak punya banyak waktu lagi." Lucas mengalihkan tatapannya dari luar jendela. Seseorang sepertinya sudah menaruh curiga terhadap keberadaan mereka berdua. "Bagaimana, sudah siap?"
Eve mengangguk. Sebelum pergi, dia kembali menoleh. Dilihatnya Ethan yang memaksakan diri untuk tersenyum.
"Selamat tinggal."
...----------------...
Kalau Lucas nyulik Eve, bisa lah yaaa Bang Declan nyulik aku jiaaakhh🤣
Sejauh ini, sudah jelas, kan, yaaa siapa suhunya di Mendadak Bangsawan mueheheh😎
Yang kemaren ada yang nebak kalau Lucas sendiri pemimpin Ksatria Nyx, selamat hadiahnya seratus juta rupiah~ jeng jeng jenggg
*canda ya ges ya
Gimana, apakah ada pesan dan kesan untuk para pemain Mendadak Bangsawan nan kece kebanggaan kita ini? Jangan lupa tulis di komentar, bestie🤩👍🏻
__ADS_1
See you next episode👋😉