
Ini seperti mimpi di siang bolong. Saat berada di kota beberapa hari yang lalu, Eve dengar sendiri bagaimana orang-orang menyebut Duke of Lumiere penuh puja. Termasuk dirinya sendiri saat melawan nona bangsawan, dengan percaya diri berpura-pura dekat dengan sang duke dan berhasil memukul mundur wanita itu. Tapi ternyata ... ah, Eve Tidak pernah menyangka bahwa dirinya benar-benar memiliki hubungan darah dengan pria paling disegani se-kota itu. Oh, sungguh keajaiban.
Tadi malam adalah malam terakhirnya berada di desa. Eve memutuskan begadang bersama Margaret sambil memperhatikan garis-garis bintang di serambi rumah mereka. Obrolan mereka mengalir lancar. Margaret juga sempat mengisahkan beberapa kejadian di masa lalu yang beberapa cukup mengejutkan Eve—salah satunya adalah Bibi Sese yang ternyata adalah pelayan Margaret yang paling setia.
Eve kagum terhadap Sese yang mau bersusah payah hidup seperti semula dari nol bersama Margaret. Tapi Eve enggan menunjukkan kekagumannya itu pada Sese. Nanti wanita tua itu berkepala besar.
Eve tidak menaruh dendam kepada Bibi Sese. Sungguh. Dia adalah bibi terbaik, hanya saja dia bermulut pedas seperti cabai merah yang Paman Johan tanam di kebunnya.
Dan mengenai ucapan terakhir Margaret yang sebelumnya dia berpura-pura tertidur, Eve juga mendengar semuanya. Alasan mengapa duke akhirnya mau menerimanya sebagai putri tunggal Lumiere. Setelah berpikir matang, Eve tahu apa yang harus dia lakukan setelah berada di kastil.
Eve berencana menggagalkan pernikahannya dengan siapapun itu yang berada di Brodsway. Lalu merebut kekuasaan Duke of Lumiere. Menurutnya, ayah tidak berhati seperti Zachary harus disingkirkan agar Margaret serta Sese bisa kembali bersamanya. Selain Eve, rencana tersebut tidak ada yang tahu. Hanya Eve seorang dan mungkin juga Tuhan yang tahu. Sejauh ini, dia tidak ingin berbagi hal sepenting itu kepada siapapun.
Tadi pagi, satu desa sudah berpamitan. Semua teman-temannya yang mayoritas laki-laki itu merasa kehilangan, terutama Garlein yang berjanji akan bertemu kembali Eve suatu saat nanti. Paman Johan, Bibi Sarah, dan warga lainnya tanpa diminta memberikan hadiah kenang-kenangan untuk Eve. Mereka semua menyayangi Eve. Walau nakal, tidak pernah sekalipun si gadis pirang itu menunjukkan sikap angkuh. Padahal, warna rambut pirang pada zaman itu merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi kaum wanita karena warna itu biasanya hanya dimiliki oleh bangsawan yang elegan.
Tapi rahasia mereka masih aman. Tidak ada satupun yang tahu siapa ayah Eve sebenarnya. Margaret pandai memutar kata sehingga siapapun yang bertanya tentang hal itu, mereka tidak akan mendapatkan jawabannya.
Cuaca hari ini mendung, sama seperti suasana hati Eve yang takut bagaimana nasib dia kedepannya. Mendengar cerita tentang Duke of Lumiere— walau dia sudah diakui, Eve tahu bahwa pria itu pasti masih membencinya. Eve juga membencinya, bahkan lebih.
Saat kereta berhasil memasuki kota yang kemarin Eve kunjungi, kesunyian bentangan alam yang berhelatkan gerbang masuk perlahan pecah dengan keriuhan pekikan dan tawa riang masyarakat. Rumah-rumah klasik bertingkat dibangun di sisi-sisi jalan yang dibatasi kebun kecil. Pemandangan yang dulu hanya bisa Eve lihat dengan perasaan iri kini sudah menjadi miliknya.
__ADS_1
Orang-orang itu perlahan menepi saat kereta yang Eve naiki membelah lautan manusia tersebut. Bisik-bisik saling menerka mengudara. Menanyakan, siapa wanita muda yang kini duduk di dalam kereta formal milik keluarga Lumiere itu.
Tulisan besar di sisi gerbang menarik perhatian Eve. Carringtown, nama ibukota Sasania yang sebentar lagi akan menjadi tempat tinggalnya ini dipenuhi oleh prajurit yang berlalu-lalang memeriksa bawaaan orang-orang. Tapi mereka mengenali kereta yang Eve tumpangi. Tanpa mengecek isinya, mereka mempersilakan Eve beserta rombongan untuk masuk ke dalam ibukota.
Semua ini terlalu asing, seperti bukan kehidupannya lagi. Menjauhkan tatapannya dari arah jendela, Eve menghela napas. Dia tidak bisa melakukan apa-apa jika sekarang semua perhatian tertuju padanya.
"Setelah menjadi putri Duke of Lumiere, lupakanlah kehidupanmu yang ada di sini. Jangan bertindak sesukamu walau kau ingin. Musuh ayahmu banyak, jangan sampai karena tingkahmu sang duke dalam masalah."
Eve mengepalkan tangan. Jika bukan karena Margaret, dia tidak akan sepenurut ini. Lagipula dia tidak akan membiarkan musuh duke berani menyerang penguasa Lumiere itu melalui dirinya karena Eve sendiri juga adalah musuh. Dengan berpura-pura tunduk, Eve ingin menjadi musuh dalam selimut. Saat Duke of Lumiere sibuk dengan urusannya, dia akan mencari celah dan menyingkirkannya tanpa ampun.
Tapi ambisi Eve sepertinya tidak akan berjalan mulus setelah melihat seseorang yang ia rasa familiar berdiri di depan pintu sambil melipat kedua tangannya. Memperhatikan Eve keluar dari kereta lalu menghampirinya.
Eve menatapnya datar, "Berani sekali bersikap seperti ini di hadapanku. Apa kau tidak tahu siapa aku?" Eve menepuk dadanya penuh kebanggaan, "Putri tunggal Duke of Lumiere. Sekarang minggir, aku mau masuk!"
"Jangan bohong. Kau pembunuh bayaran, kan. Atau kau ingin memeras keluargaku? Haha, jangan berpura-pura, dasar siluman rubah!"
"Orang ini benar-benar," desis Eve saat Beckett yang melotot kekeuh tetap berdiri di ambang pintu. "Minggir! Badanmu terlalu besar sampai-sampai aku tidak bisa lewat. Memangnya apa hak mu melarang ku, hah? Paling-paling kau cuma anak kusir di sini, jadi jangan sok berkuasa!"
Berdasarkan nasihat Garlein kemarin, Eve sebenarnya sudah tahu siapa orang yang berdiri di depannya ini. Salah satu putra Lumiere pastinya. Tapi kembali ke topik awal, ini Eve. Dia memang suka memancing keributan.
__ADS_1
"Anak kusir katamu?" Kemarahan Beckett semakin memuncak. Rasa tidak sukanya terhadap Eve semakin besar dan mungkin akan meledak. "Apakah dengan mengatai diriku kau berpikir bisa masuk ke dalam kastil dengan mudah, begitu?"
"Tidak juga. Aku sebenarnya tidak berminat tinggal di sini." Eve melirik bangunan besar itu dengan tatapan malas. "Ah, sudahlah. Terima kasih karena sudah melarang ku untuk tinggal di sini. Setidaknya aku memiliki alasan untuk kembali ke rumahku yang berkali-kali lipat jauh lebih nyaman."
Eve berbalik meninggalkan Beckett yang terperangah. Gadis itu menuruni tangga, bersiap untuk masuk kembali ke dalam kereta sebelum sebuah suara menginterupsinya dari jauh.
"Jika kedatangan mu kemari untuk His Grace, maka menghadap lah kepadanya sekarang juga. Bukan pergi seenaknya."
Eve melirik orang yang barusan bersuara itu dengan sinis. Dia memiliki surai hitam, dan lagi-lagi wajahnya tak kalah angkuh dari si pirang sebahu.
"Bukan aku yang ingin lepas tanggung jawab. Tapi pria itu." Eve menunjuk Beckett telak, "Dia yang menghalangi jalanku."
Ethan menggeleng pelan, memberikan isyarat kepada Beckett yang akhirnya memberi jalan walau ia sempat mendengus keras. "Cepat masuk sebelum tubuh kecilmu itu ku lempar keluar dari dinding kastil."
"Kasar sekali. Sepertinya aku memang harus pulang—"
"Beckett tidak akan mengulanginya lagi. Nona, silakan masuk," sahut Ethan yang berusaha ramah. Dirinya yang diembankan amanah untuk memastikan Eve berada di kastil sebelum Zachary pulang. Jangan sampai hanya karena kekesalan Beckett dan ucapannya barusan, Eve berubah pikiran dan kembali ke rumahnya.
Eve tersenyum penuh kemenangan saat dia berhasil masuk dan melewati Beckett. Pria itu dengan jelasnya masih mengibarkan bendera perang. Eve tidak takut, justru ia menganggap Beckett sebagai mainannya selama di sini.
__ADS_1
Ini baru permulaan. Di tahap selanjutnya, Eve akan memastikan semua saudaranya itu bertekuk lutut padanya dan mereka akan benar-benar kalah dalam perebutan kekuasaan duke selanjutnya.