Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Permintaan Declan


__ADS_3

Dalam seharian penuh, Brodsway berhasil ditaklukkan. Sang raja beserta anak keturunannya juga dibunuh, agar tidak ada dendam darah leluhur melekat pada diri mereka. Wanita-wanita raja mengaku kalah, lalu diasingkan bersama dengan dayang masing-masing.


Udara dingin tidak selamanya buruk. Eve memutuskan keluar dari istana sekadar untuk menikmati taman yang dibangun di sudut berlahan kecil. Pikirannya berkelana, besok rencananya Lucas akan mengumumkan diri sebagai Raja baru di Brodsway, lalu disusul Sasania yang kabarnya juga akan jatuh ke tangan pria itu.


Dua kerajaan berhasil didapatkannya. Bukankah Lucas bisa membangun kekaisaran dengan itu?


"Lady, di sini Anda rupanya."


Tanpa menoleh pun, Eve tahu siapa yang berdiri di belakangnya.


"Terjadi sesuatu, Komandan Utara."


"Bisakah kita bicara sebentar?" Izinnya sungkan. "Lord Lumiero mengirimkan pesan untuk Anda."


Eve mengangguk pelan lalu melangkah pergi diikuti sang komandan yang berjalan di belakangnya. Taman kecil yang terhampar di depan mereka ini cukup unik. Jika pada umumnya taman dipenuhi bunga, maka di sini justru dipenuhi daun-daun berwarna merah, begitu mencolok diantara turunnya butir-butir salju.


Eris yang sibuk memperhatikan tanaman unik itu tidak sadar jika mereka sudah berdiri di depan paviliun batu. Eve sudah duduk di tempatnya, lalu memperhatikan Eris yang masih berdiri di tempat.


"Kau bisa duduk, komandan."


Eris menghampiri Eve lalu memutuskan duduk dengan jarak yang cukup jauh dari wanita itu. Udara dingin untuk sementara mengambil alih suasana. Sampai Eve angkat bicara.


"Bagaimana dengan misi yang aku berikan. Apakah berhasil?"


Eris mengangguk. "Namun, ada satu yang tidak berhasil."


Lalu cerita demi cerita mengalun begitu saja dari bibir Eris. Dari sulitnya memasuki kastil, sampai kejadian di mana ketiga lord Lumiere yang enggan beranjak dari penjaranya. Eve yang tahu bahwa ketika saudaranya itu pasti memiliki rencana lain, hanya diam sembari mengangguk sesekali. Sampai Eris mengatakan tujuan utamanya ingin bertemu Eve secepat mungkin.


"Dan ya ... Lord Lumiero meninggalkan pesan untuk Anda." Eris mengambil sesuatu di balik pakaiannya. Sebuah kertas kusam yang terlipat diserahkan kepadanya untuk dibaca. Seperti biasa, tulisan tangan Declan sangat rapi padahal tempatnya untuk menulis surat ini saja pasti sangatlah tidak memungkinkan.

__ADS_1


Untuk Lady Luvena Lumiera,


Bagaimana kabarmu di tempat baru bersama Putra Mahkota? Aku harap, kabar baik lah yang akan kau tuliskan untuk membalas suratku ini. Setelah kau pergi, semuanya berlalu dengan cepat. Kami bertiga di tahan dan duke sendiri tampaknya semakin frustasi setelah kehilangan jejak dalam pencarian mu.


Eve, duke bukanlah orang seburuk yang kau pikirkan.


Sampai di situ, Eve berpikir sebentar. Apa tujuan Declan saat menulis surat ini. Mengapa seolah ... Declan memihak Zachary.


Duke, walaupun terlihat emosian dan sering tak terkendali, namun hatinya sudah tertambat pada putri kecilnya yang sekarang sedang melarikan diri. Dia merindukanmu, Eve. Dan selalu begitu. Dia tidak pernah mengungkapkannya dan mungkin selamanya pria itu akan diam mengingat egonya yang terlalu besar hanya untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Aku secara khusus, memohon kepadamu. Bagaimana pun dan apapun yang terjadi, jangan pernah sekali pun kau membenci ayah kita. Perlu diketahui, dia sudah menyesal atas perbuatannya.


Declan Cassius Lumiero


"Apa maksudnya ini," gumam Eve berusaha menerka.


Apakah terjadi sesuatu? Atau duke sendiri yang menyuruh Declan menuliskan surat ini untuknya. Ah, opsi kedua terdengar mustahil.


Declan tidak tahu. Dia tidak tahu bagaimana sulitnya Margaret dan Eve. Sepanjang hidupnya, dia selalu dimanjakan dengan harta berlimpah, kan.


Dan apa katanya? Menyesal. Hah, lucu sekali. Tetapi hanya menyesal tanpa membantu apa-apa sangatlah tidak berguna.


Eve benci. Dia benci duke karena telah menyakiti ibunya. Lalu, memisahkan mereka yang selama ini terus bersama. Dalam sekejap, mengakui Eve sebagai putrinya demi kepentingan kerajaan padahal selama ini ... kemana saja perginya dia?


Eve kembali menatap Eris. "Apakah kau mengetahui sesuatu mengenai Duke of Lumiere akhir-akhir ini?"


"Duke of Lumiere...." Eris mencoba mengingat-ingat nama itu di dalam kepalanya.


"Oh, benar. Komandan Timur pernah menceritakan His Grace kepada saya. Kalau tidak salah kejadiannya bertepatan dengan hari kedatangan Anda di Carmelion."


Eve diam namun tatapannya menuntut untuk tahu. Maka dari itu, Eris melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Beberapa jam setelah kapal Anda dan Ketua berangkat, His Grace baru saja sampai di pelabuhan. Gesturnya tenang, namun Komandan Timur yang sudah terlatih tentu saja tahu bahwa duke sendiri sedang merasa gelisah. Dia menyuruh anak buahnya untuk bertanya kepada Komandan Timur yang saat itu sedang menyamar menjadi penjaga kapal untuk rakyat biasa. Dan sukses, Komandan Timur berhasil memberikan rute yang berbeda kepada mereka melalui bantuan temannya."


Eve masih berusaha mencerna. Rasa sakit hati yang tersisa mencegah dirinya untuk percaya, apalagi khawatir.


Oh, ya. Tentu saja duke gelisah. Dirinya tengah berusaha mencari boneka Lumiere yang kabur. Hubungan Sasania dan Brodsway juga memburuk setelahnya. Tentu saja. Itu alasannya, kan. Tidak ada yang lain.


"Entah apa yang dipikirkan mereka sampai meminta hal konyol ini." Eve tertawa sumbang.


Apakah tidak ada yang mengerti dirinya? Eve ingin menuntut keadilan. Jika di masa lalu duke mencampakkan dirinya dan sang ibu, maka Eve juga akan berbuat demikian. Mencampakkan duke lalu melupakan hubungan darah diantara mereka, persis seperti kejadian belasan tahun silam.


Apakah bisa dengan semudah itu memaafkan? Tidak. Aslinya Eve bukanlah orang pemaaf yang berhati suci. Dia ingin duke merasakan sakit yang sama seperti yang diderita ibunya.


"Saking bencinya, aku berniat menghanguskan Kastil Lumiere," gumam Eve lagi menggemertak gigi.


"Anda dapat melakukannya."


Eve menatap Eris yang juga balik menatapnya disertai senyum lebar.


"Cukup bicarakan hal ini kepada Ketua, maka dalam dua hari biarkan Ksatria Nyx bergerak untuk mewujudkan impian Anda."


"Hanya kiasan. Aku tidak akan melakukannya," ujar Eve lalu menarik napas panjang.


"Bagaimana pun suramnya kastil itu untukku, tetapi masih tersimpan beberapa kenangan ibu di dalamnya. Tidak boleh dimusnahkan, tetapi yang kuinginkan, biar aku sendiri yang memutuskan kapan kepala keluarga mereka bisa berganti posisi."


"Kalau begitu bersiaplah untuk meraih posisi yang lebih tinggi lagi, Lady," ujar Eris memberitahu.


"Tenang saja." Sebagai jawaban, Eve tersenyum tipis. Ia tahu betul maksud Eris. Posisi ratu.


"Sebentar lagi, semuanya akan terwujud satu-persatu."

__ADS_1


__ADS_2