Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Pergerakan Yang Mulia Raja


__ADS_3

"Sepertinya tidak per—"


"Karena kalian sudah mengetahui keberadaanku, rasanya tidak perlu lagi bersembunyi."


Belum selesai Eve menyampaikan kekhawatirannya, Declan muncul dari balik pilar raksasa yang berdiri di pojok halaman dekat lampu taman. Tatapannya yang datar itu sekilas tidak menampakkan emosi, tetapi tinggal selama beberapa bulan bersama membuat Eve cukup mengenal kakak kandungnya itu. Ia tengah memikirkan sesuatu terhadap Lucas.


"Ah, Lord Lumiero," sapa Lucas santai. "Sebenarnya aku ingin menculik Lady Luvena dari sini. Apakah kau merasa keberatan, atau justru ingin bergabung bersama kami?"


"Saya sudah mengetahui tujuan Anda datang kemari."


Lucas mengangguk-angguk. "Wajar. Lord Lumiero, kan, mendengar pembicaraan terakhir kami dengan Lord Ethan."


Declan terkejut. "Dari mana Anda tahu?"


"Tidak penting. Sekarang kami ingin keluar dari sini. Apakah kau bisa membantu?"


"Declan, jika tidak bisa membantu setidaknya tolong jangan halangi kami...." lirih Eve waspada.


Tatapan Declan terarah padanya. Mata biru itu memonitori adiknya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Sama sekali tidak ada persiapan.


"Kau yakin ingin pergi bersama orang ini?"


Eve mengangguk. Lucas segera mendekap bahunya.


Declan mengambil sesuatu di balik jubah luarnya. Sebuah kertas kuning yang digulung menggunakan pita hitam. Ia menyerahkan kertas tersebut kepada Lucas.


"Seluruh penjagaan sedang diperketat sampai ke perbatasan. Entah sampai kapan, saya kurang tahu pasti. Untuk membantu kalian terbebas dari wilayah Lumiere, ini adalah peta jalur teraman agar kalian bisa sampai ke seberang menggunakan pesiar atau mungkin menyewa kapal feri sendiri." Kemudian dia kembali mengambil sesuatu dari dalam saku. "Dan untuk Eve."


Declan menarik tangan adiknya itu lalu meletakkan sebilah belati di atas telapak tangannya. Belati sepanjang lengan bawah itu terlihat simpel, sehingga mudah untuk dibawa kemana-mana.


"Jaga diri. Aku tidak ingin mendengar sesuatu yang tidak ingin ku dengar."


Eve mengerjap, cukup tidak percaya dengan apa yang baru saja Declan lakukan. Mendukungnya untuk pergi. Kemudian dia tertawa.


Declan mengernyit, "ada yang salah?"


Eve menggeleng. "Tidak, tidak," ujarnya masih berada di sisa tawanya. "Bilang saja kalau kau tidak ingin aku mati. Begitu saja susah."


"Iya. Jangan mati. Itu saja sudah cukup buatku."


Tanpa diduga, Declan menarik tubuh Eve merapat padanya. Eve terbelalak, terlebih lagi dia dapat merasakan elusan lembut penuh kasih sayang Declan di atas kepalanya.


Declan mengurai pelukan. "Lebih baik kalian pergi sekarang sebelum jadwal pergantian prajurit habis." Dia menatap Lucas penuh harap.


"Saya mohon dengan sangat. Jaga Lady Luvena baik-baik. Saya tahu, dia pandai menggunakan pedang walau kebisaannya itu tidak pernah ditampakkan di kastil ini. Tapi bagi saya ... Anda tetap harus menjaganya lebih dari kami." Declan menatap rumit. "Itulah risikonya jika Anda masih nekat membawa Eve keluar dari sini. Bagaimana, apakah Anda masih berani?"

__ADS_1


"Hanya itu?" Lucas terkekeh. "Mudah saja. Bahkan tanpa peta ini pun, aku dapat keluar dengan melumpuhkan pasukan Lumiere hanya menggunakan satu tangan. Eve akan selalu aman bersamaku."


"Saya akan ingat janji Anda."


Declan memejamkan mata sejenak. Laki-laki seharusnya tidak lemah, tetapi perasaan kehilangan untuk pertama kalinya ia rasakan pada sosok gadis kecil yang tidak pernah tumbuh bersama dengannya itu. Padahal hanya perpisahan sementara, kan. Mengapa harus ada perasaan kehilangan seolah mereka tidak akan pernah bertemu lagi?


"Kalau begitu...." Eve tersenyum kecil. Menguatkan. "Selamat tinggal."


...----------------...


"Kudengar Pangeran Julius sudah siuman."


Hector yang mendengar bariton tegas yang terkesan seperti pernyataan itu mengangguk pelan. Nasibnya sedang tidak mujur hari ini. Yang pertama, Putra Mahkota tidak ada di tempat. Sejak tadi malam dan bahkan tanpa meninggalkan pesan apapun padanya. Yang kedua, berhadapan dengan Duke of Lumiere. Seorang pria yang memiliki keangkuhan setinggi langit sehingga atmosfer di sekitarnya pun rasanya kurang nyaman. Dan tentu saja orang ini tidak bisa disinggung, yang ada kepala sediri yang akan tergantung.


"Tadi pagi—maksudnya ... dari tadi pagi beliau sudah bangun, Your Grace."


Mereka sama-sama melewati setiap lorong istana dengan Hector sebagai pemandu jalan. Padahal sejak tadi malam pinggangnya masih sakit akibat membawa setumpuk perkamen menuju ruangan Putra Mahkota yang baru, namun rasa sakit itu seolah menguap setelah melihat Duke of Lumiere dari kejauhan. Wajah datarnya itu saja sudah menjadi keajaiban bagi sebagian orang, termasuk Hector salah satunya.


"Biar aku sendiri yang masuk." Zachary memberikan gestur mengusir kepada Hector setelah mereka sampai di depan pintu kamar Pangeran Julius. Melihat isyarat itu, Hector segera menunduk lalu berusaha pergi secepat mungkin.


"Tunggu."


Hector ingin mengumpat, namun dia urungkan. Ia hanya tidak ingin tensi darahnya kembali naik.


"Kau pelayannya putra mahkota, kan."


"Benar."


"Di mana putra mahkota sekarang?"


Hector tersenyum kaku. Itulah penyebab utama mengapa Hector sebisa mungkin ingin menjauhi Duke of Lumiere. Pria ini mahir membaca kebohongan orang lain.


Sehingga Hector tidak bisa berbohong padanya.


"Putra mahkota sedang pergi. His Royal Highness tidak mengatakan apapun kepada saya."


"Tanpa meninggalkan pesan?"


"Benar, Your Grace."


"Pergilah."


Lagi, Hector tentu saja tidak membuang kesempatan. Ia buru-buru pergi dari sana, meninggalkan Zachary yang masih bergelut di dalam pikirannya sendiri.


Putra mahkota itu cerdik. Kira-kira apa yang sedang dia rencanakan?

__ADS_1


Tanpa disuruh, seorang pengawal yang berada di sisi pintu membukakan pintu kamar Pangeran Julius setelah tatapan Zachary mengarah padanya. Pintu berukir dedaunan itu terbuka, menampakkan sebuah ruangan gelap yang sedikit lembab seolah sudah berbulan-bulan ruangan itu dibiarkan terkunci.


"Bagaimana kabarmu, Pangeran?"


Julius yang awalnya masih memejamkan mata sontak bangun. Ia buru-buru duduk sopan dan merasa tidak enak saat dilihatnya Zachary berjalan ke arah jendela dan membuka gorden merah yang menutupinya.


"Jauh lebih baik dari tadi pagi, Your Grace," sahutnya lemah.


"Aku harap kejadian baru-baru ini tidak mengubah keputusanmu untuk melamar putriku." Zachary memandang ke arah luar. Walau begitu, tatapannya tampak kosong. "Terkadang seorang wanita juga harus mendapatkan hukuman yang sama seperti pria agar mereka terbiasa hidup disiplin."


"Anda menghukum Lady Luvena?" Pangeran Julius terbelalak. "Walau tidak ada bukti, tetapi sungguh bukan dia pelakunya. Saat bersama Lady Luvena, seseorang tiba-tiba datang lalu memukul kepala saya dari belakang. Saya bersumpah, bukan Lady Luvena, dia tidak patut dihukum!"


"Lalu siapa lagi, hanya ada kalian berdua pada saat itu yang berada di taman." Zachary berbalik. Menatap remeh pangeran lemah yang berbaring di atas kasurnya itu.


"Setelah kejadian itu, Lady Luvena adalah satu-satunya saksi sekaligus pelaku. Tidak ada yang bisa dituduh selain dirinya dan juga, dia tidak akan bisa terbebas dari hukum Sasania, kecuali...."


"Kecuali apa?"


"Nikahi dan bawa dia pergi dari sini. Dengan begitu Lady Luvena akan terlepas dari peraturan Sasania dan hukuman dapat dibatalkan."


Tanpa sepengetahuan Julius, Zachary menghela napas. Semua ini perintah Raja, dan untuk pertama kalinya Zachary tidak bisa berkelit.


Menjalin hubungan dengan Brodsway memang cukup menguntungkan. Tetapi bukankah semuanya bisa dilakukan secara perlahan? Mengapa Yang Mulia Raja tiba-tiba menitahkan Duke of Lumiere untuk menikahkan putri bungsunya itu paling lambat sampai dua hari ke depan?


Putra mahkota tiba-tiba pergi dan Yang Mulia Raja juga bergerak cepat. Apakah telah terjadi sesuatu di antara mereka berdua?


"Kalau itu tentu saya setuju!" Pangeran Julius tampak berbinar bahagia. Inilah yang dia tunggu-tunggu sejak awal. "Kapan kami bisa menikah?"


"Nanti malam. Gereja Lumiere," putus sang duke mutlak. Sekarang tugasnya hanyalah memastikan apakah Eve sudah siap untuk acara mendadak ini atau belum. Suka ataupun tidak, Eve tidak dapat menolak.


"Persiapkan dirimu, pangeran." Setelah itu tanpa pamit, Zachary keluar dari kamar Pangeran Julius dengan langkah lebarnya.


...****************...


Halo, semua ◉‿◉


Maaf baru up. Dah lah, author kebanyakan alesan jadi ga usah dikasih tau lah yaa kenapa aku jadi telat up karena itu juga gak penting untuk di kepoin😩


Sepertinya target kita yang katanya sebelum Ramadhan cerita ini selesai, gagal guys. Episode masih cukup banyak, dan Ramadhan sudah di depan mata. Semoga ceritanya enggak nyampe Idul Fitri aja udah😭🙏🏻


Btw, aku kasian sama si duke ini. Ngerencanain pernikahan anaknya sendiri, padahal anaknya udah keburu kabur, itu gimana ceritanya woi. Ya kali si pengantin wanitanya diganti? Terus diganti sama siapa? Sama Beckett?😭


Nantikan episode selanjutnya yang bikin duke darah tinggi. Antara Raja sama putra mahkotanya, kira-kira siapa yang bakalan berhasil?😆


See you next episode👋😉

__ADS_1


__ADS_2