
"Nyonya, kumpulan pria yang tergila-gila kepadamu itu sudah berbaris di depan pintu!"
Margaret, sama seperti hari biasa, setiap pagi selalu sibuk dengan segelas susu dan koran edisi terbaru di kedua tangannya. Matanya mengamati setiap inci tulisan, cukup terkejut saat tahu bahwa sebentar lagi raja mereka akan digantikan dengan putra mahkotanya.
Tanpa mempedulikan pekikan Sese yang kebingungan, Margaret buru-buru beranjak untuk menemukan pelayannya —yang lebih mirip dikatakan sebagai teman— itu yang sudah bersiaga di depan pintu rumah mereka.
"Sese, Sese. Coba lihatlah ini. Kau tidak akan mempercayainya!" Dia menyerahkan koran yang memuat artikel penting itu dengan ekspresi senang bukan main.
"Nyonya, maaf. Bukan saatnya kita memikirkan berita di luar sana saat di depan rumah kita saat ini sedang—"
"Raja Hudson, saudara Duke of Lumiere resmi mangkat!" potong Margaret semangat.
"Mangkat, ya. Oh— tunggu— apa?! Bagaimana bisa?!" Sese melotot tak percaya.
"Sebentar lagi Putra Mahkota lah yang akan naik takhta," beritahu Margaret lagi, dengan mata berbinar. "Lalu coba tebak, siapa yang akan menjadi ratu baru kita?"
"Nyonya, jika disuruh menebak, mana saya tahu. Semasa muda, saya hanya melayani Anda sampai sekarang. Nama-nama bangsawan, saya tid—"
"Eve, Sese. Eve. Lusa, dia akan dinobatkan sebagai Ratu Sasania!" pekik Margaret tak tertahankan.
"Benarkah? Anda tidak berbohong?!"
Sese, berteriak kegirangan sampai-sampai bulir air mata jatuh dari pelupuk matanya. Kedua wanita itu berpelukan erat sembari meloncat-loncat penuh sukacita. Mereka tidak dapat menyangka, Eve bisa sejauh ini. Memilih jalan takdirnya sendiri dan juga memilih jodohnya sendiri.
Eve tidak akan menjadi putri kerajaan tetangga, sebab dia akan menjadi ratu di kerajaannya sendiri.
Eve juga tidak perlu menetap di Brodsway, sebab baik negeri itu maupun negerinya sendiri, Eve sudah mendapatkan keduanya.
"Sebagai tanda syukur, kita harus membuat perayaan besar!" Margaret masih menggebu-gebu, namun sekarang ia tak sendiri.
"Benar, satu desa juga harus merayakan hal ini. Dan yang terpenting, sudah saatnya orang-orang tahu, siapa Eve sebenarnya. Dia bukanlah gadis biasa, melainkan calon ratu! Astaga, Eve kecil yang dulu suka menangis karena dijahili Garlein setiap hari, siapa sangka akan menjadi pemimpin negeri ini!"
"Gadis kecil kita itu sudah dewasa. Jujur, aku sangat ingin bertem—"
__ADS_1
"Nyonya Margaret, apakah keadaan Anda di dalam baik-baik saja? Kami mendengar ada keributan besar! Jika ada sesuatu, tolong panggil saya!"
Kesenangan mereka terganggu oleh ketukan pintu dari arah luar. Ah, Sese melupakan mereka sesaat. Semakin hari, jumlah pria pengagum Margaret semakin banyak. Namun sampai saat ini, sang duchess masih enggan untuk mengenal pria baru.
"Nyonya, bagaimana dengan mereka?"
"Usir saja," pinta Margaret, jengah. "Jika dibiarkan, sampai siang pun mereka tetap betah berdiri di luar."
Margaret berniat kembali duduk di kursinya untuk kembali mengamati berita-berita Eve melalui surat kabar. Ia ingin tahu banyak, walau Eve belum sempat mengunjunginya. Margaret bisa memaklumi hal tersebut. Mengingat dia sebentar lagi akan menjadi ratu, pasti persiapan penobatan dan pesta pernikahan telah menghantuinya tepat di depan mata.
Margaret yang pernah menjadi duchess, mengetahui seribet apa semua itu. Apalagi Eve.
"Nyonya, nyonya!"
Panggilan Sese kembali menarik perhatian Margaret.
"Seseorang yang mengaku membawakan pesan dari Eve berdiri di depan pintu. Saat aku persilakan, dia menolak. Dia berkata tidak ingin dibukakan pintu kecuali jika itu Anda."
Jika terbukti bohong, Margaret tidak akan segan-segan menendang selangkangannya. Janji.
Margaret kembali bangkit dari tempat duduknya lalu sedikit berlari ke arah pintu. Tanpa mengecek lewat jendela, langsung saja didorongnya handel pintu ke bawah. Tetapi, setelah mengetahui siapa orang itu, Margaret justru diam mematung. Apalagi ekspresi merasa bersalah yang terpatri jelas di wajahnya, benar-benar menyesakkan untuk Margaret.
"Halo ... Duchess. Apa kabar?"
Margaret mendatarkan ekspresinya lalu berbalik kembali menutup pintu sedikit lebih keras. Pintu kecil itu terkunci, tepat di depan wajah Zachary yang tercenung akibat perbuatan tak ramah yang ia dapatkan.
Zachary menghela napas. Dia sudah merelakan jabatan duke kepada Declan, dan juga sudah mengurus Lady Britney —sampai akhir hidupnya— dengan baik. Tugasnya selesai. Maka sudah sepatutnya dia kembali memperjuangkan cintanya di sini.
Meski beribu penolakan dari Margaret, tidak masalah. Sebab di masa lalu, tidak terhitung sebanyak apa dosa Zachary kepadanya. Wanita spesialnya yang selama apapun, tidak pernah terlepas dari hati juga pikirannya sekuat apapun Zachary mencoba membohongi diri sendiri.
"Oi, kau merebut antrian."
Zachary menoleh ke belakang. Dia menatap tajam kepada barisan pria-pria yang betah berdiri di depan rumah istrinya ini. Terutama yang baru saja menegurnya. Seorang pria buncit yang memiliki tinggi hanya sebatas bahu Zachary, dia terlihat tidak ada apa-apanya.
__ADS_1
Tampan juga tidak.
"Siapa kau berani menegurku?"
"Hah, kau tidak tahu siapa aku?" Pria buncit itu tertawa sampai-sampai perutnya bergoyang naik turun. "Perkenalkan, aku Mr. Basset*. Dulunya aku adalah wali kelas favorit Eve sebelum dia pindah mengikuti ayahnya. Oh, atau jangan-jangan kau juga tidak tahu siapa Eve?! Dasar bajingan, jika menyukai seseorang sebaiknya kenali juga anggota keluarganya yang lain!"
Dia lagi-lagi tertawa. Zachary muak mendengar suaranya yang jelek. Maka dari itu, hanya memerlukan sedikit tenaga dengan mengepalkan tangan, Mr. Basset berhasil dibuatnya terkapar di atas tanah. Sebuah tinju main-main —menurut Zachary— berhasil bersarang tepat di pipi kirinya.
"Mau tahu nama lengkap Eve?" Zachary menunduk, matanya yang sejak dulu menyiratkan emosi menyeramkan, tentu bukanlah hal biasa yang bisa Mr. Basset lawan.
Pria buncit itu semakin menggigil ketakutan saat dengan gampangnya, Zachary menarik kerah bajunya yang memiliki lipatan rapi demi bertemu Margaret. Dalam sekejap, penampilannya berubah acak-acakan.
"Lady Luvena Calisteé Lumiera. Putri bungsu dari Duke of Lumiere yang sebentar lagi akan menjadi ratu bersama dengan calon suaminya, Putra Mahkota. Fakta yang satu itu, apakah kau mengetahuinya?"
Mr. Basset terbelalak. "T-tidak ... saya b-benar-benar t-tidak tahu," jawabnya gemetar.
"Lalu, sekarang kau sudah mengerti, kan. Seperti apa status wanita yang ingin kau dekati saat ini?"
Zachary belum melepaskan cengkeramannya pada kemeja pria itu.
Mr. Basset buru-buru mengangguk cepat. Sejenak dia melirik ke belakang, mengapa tidak ada yang berani menolongnya dari terkaman pria mengerikan ini.
"Dan biar ku beritahukan satu fakta lagi. Margaret bukanlah wanita lajang sehingga kalian boleh berlomba-lomba memperebutkannya. Masih ada aku, suami sahnya dan belum ada surat cerai di antara kami. Sampai hari ini. Siapapun itu, jika ingin merebut Margaret dariku, cepat kemari dan hadapi aku!"
Kumpulan penggemar Margaret itu terdiam kaku. Saling tatap untuk memikirkan kapan waktu terbaik untuk kabur secepat mungkin. Jika Eve adalah putri dari Duke of Lumiere dan Margaret adalah duchess yang sah, maka orang yang berdiri di hadapan mereka ini tidak lain, dan tidak bukan adalah....
"Aku. Zachary Lumiero tidak akan membiarkan kalian menginjakkan kaki lagi di sini. Jika besok-besok kalian masih bersikeras dan datang lagi, jangan salahkan aku jika kalian pulang dalam keadaan patah tulang!"
...****************...
*Guru yang paling dihindari Eve. Keberadaannya di dalam cerita ini pernah disinggung sedikit di episode 3
extra part lainnya menunggu, ingat ini random. Sepertinya enggak ada menceritakan Lucas-Eve lagi, kalaupun ada, paling-paling di narasinya aja. Ditunggu, yaaa💖
__ADS_1