Mendadak Bangsawan

Mendadak Bangsawan
Berkunjung Kembali


__ADS_3

"Akhir-akhir ini Anda terlalu sering berada di luar istana."


"Hm."


"Tanpa penjagaan yang baik, bisa saja Anda terjebak di dalam bahaya."


"Hm."


"Saya sudah tua, tidak bisa mengimbangi aktivitas Anda yang sering mendadak hilang. Pinggang saya ngilu akan hal itu, Your Highness."


"Ya."


Hector berdehem. Tuannya ini benar-benar....


"Apakah ada sesuatu yang bisa saya kerjakan?" sambung pria berusia enam puluh tahun itu sambil mengamati pekerjaan Lucas yang menumpuk. "Seharian penuh ini Anda tidak bergerak sama sekali dari meja kerja bahkan melewatkan waktu sarapan bersama anggota keluarga kerajaan yang lain. Apakah Anda sedang merencanakan sesuatu?" ungkapnya curiga.


"Ah, benar. Aku perlu bantuan kecil darimu, Hector."


"Bantuan apa?" Dia membenarkan letak kacamatanya. Dengan cepat Hector melupakan kecurigaannya barusan dan berusaha fokus dengan apa yang akan Lucas perintahkan.


"Aku dengar Keluarga Lumiere menambahkan anggota keluarga baru di kastil mereka. Tolong cari siapa dan dari mana anggota keluarga Lumiere yang baru itu berasal." Ia menjeda. "Tidak, cari tahu segalanya tentang orang itu dan beritahu padaku."


"Maksud Anda Lady Luvena?"


Lucas menaikkan sebelah alis, "Kau mengenalnya?"


Hector, pria tua itu mengangguk. "Beberapa hari yang lalu saat Anda sedang berada di luar, Keluarga Lumiere dan juga Lady Luvena itu datang kemari untuk memenuhi undangan Yang Mulia Raja." Pria itu terkekeh, "Dia gadis yang cantik. Sungguh disayangkan Anda melewatkan kesempatan kemarin untuk berkenalan langsung dengannya."


Lucas tersenyum miring. Luvena memanglah gadis yang menarik tetapi Hector salah dengan mengatakan bahwa Lucas melewatkan kesempatan untuk berkenalan dengan sang lady. Mereka sudah dekat, hanya saja gadis pirang itu belum mengetahui siapa Lucas sebenarnya.


"Kabar baiknya, Anda dapat bertemu dengan Lady Luvena itu hari ini, Your Highness."


"Dia kemari?"


Hector mengangguk bahagia. "Yang Mulia Ratu secara khusus mengajaknya berkeliling istana. Di samping itu, Yang Mulia Raja juga sepertinya sangat menyukai Lady Luvena. Beliau berencana mengajak lady baru untuk bertanding catur."

__ADS_1


Lucas mengernyit, "Bertanding catur?" gumamnya heran. Pasalnya, permainan catur bukanlah suatu hal yang perlu wanita lakukan. Dan biasanya juga, permainan tersebut hanya dimainkan oleh kaum pria di saat senggang. Dengan kedudukan sebagai seorang Raja, ayahnya itu tidak mungkin pernah ada waktu senggang. Ayahnya bermain catur bersama lady dari Lumiere. Kedua fakta itu benar-benar membuat Lucas terperangah.


"Yang Mulia Raja jika sudah menyukai sesuatu, maka akan sulit membagi waktu." Lucas berdiri usai merapikan perkamen bacaannya ke sudut meja. "Aku akan berada di sana untuk mengawasi mereka. Akrab dengan orang asing sama sekali bukan kebiasaan keluarga kerajaan," alibinya lancar.


Hector, sebagai seseorang yang lebih senior hanya manggut-manggut setuju sambil mengulum senyum lebar. "Kalau begitu Anda juga. Jangan sampai akrab dengan orang asing itu," ujarnya jahil. "Apalagi jika sampai menaruh perasaan. Sebab keluarga kerajaan harus berhati-hati dalam bergaul, kan."


Lucas menatapnya tajam dan dibalas tawa geli oleh pria tua itu.


"Saya tahu Anda tidak akan berbuat demikian," sambung Hector sambil mengusap sudut matanya yang meneteskan sedikit air. "Lady Luvena akan menikah dengan Pangeran Julius dari Brodsway. Anda masih ingat kan akan perjanjian itu? Tidak lucu jika kerajaan kita kembali bertikai dengan Brodsway hanya dikarenakan Anda merebut calon pengantin Pangeran Julius."


Hector kembali tertawa renyah. Pria berumur itu ... sama sekali tidak tahu bahwa isi hati Lucas sekarang merasa tertampar akan ucapannya.


Sebagai balasan sebelum keluar dari ruang kerjanya, Lucas tersenyum tipis. "Aku tahu batasan ku, Hector."


"Baguslah," jawab pria beruban itu sebelum Lucas menutup pintu dari luar. Melangkah pasti melewati satu pilar ke pilar lain dengan tatapan menantang.


"Aku tahu batasan ku. Dan sekarang, aku akan melampauinya. Lihat saja."


...----------------...


Eve sekarang canggung di tempat duduknya. Bagaimana tidak, sosok Yang Mulia Ratu sama sekali berada jauh dari ekspektasinya. Wajah cerah itu menatap Eve antusias, terlihat jelas dari kedua bola matanya yang hijau bak rerumputan segar. Eve taksir usianya baru menginjak dua puluh tahunan, terpaut usia yang sangat jauh dengan suaminya yang bahkan memiliki putra pertama berusia empat puluh tahun.


"Namaku Ashley Roosevelt, kau bisa memanggilku Ashley!" ungkapnya semangat.


"Saya Lady Luvena, Your Majesty. Dari keluarga Lumiere," sahut Eve berusaha ramah. Oh, ayolah, cukup sulit mengakrabkan diri dengan seseorang yang bergelar ratu walau usia mereka lebih cocok menjadi teman sebaya. "Tinggal di istana membuat saya berpikir Anda pastinya tidak pernah kekurangan apapun. Sebagai hadiah pertemanan, saya membawakan ini."


Eve menyodorkan sekeranjang biskuit kering yang ditutupi serbet di bagian atasnya. Ashley menatap keranjang itu dengan mata berbinar, lalu segera merebut dan mencicipi salah satu kue tersebut.


"Astaga, ini enak sekali. Di mana kau membelinya, lady?" ujar Ashley semakin semangat.


"I-itu ... saya tidak membelinya."


"Oh ya?" Dia mengangguk paham. "Kalau begitu, sampaikan salam ku kepada koki yang membuatnya. Rasa krim di kue ini ... benar-benar luar biasa!"


Eve menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bergumam, "Sebenarnya biskuit-biskuit itu buatan saya."

__ADS_1


"Apa?!"


Eve menunduk. Tentu saja dia akan dimarahi. Lady seharusnya merawat diri, bukan memasak. Sebagai wanita nomor satu di Sasania, Ashley berhak memarahinya karena melanggar salah satu peraturan bangsawan.


Tapi perkiraan itu salah,


"Luar biasa! Kalau begitu aku juga ingin belajar darimu!"


"Eh?" Eve melongo. Jika sikap ratu padanya seperti ini, rasanya Eve tidak ingin terlalu segan dengannya.


"Ayo, kita harus meminjam dapur istana dan membuat sesuatu," ujarnya semangat. Dengan terburu-buru bahkan gaunnya sendiri pun belum dirapikan, Ashley meraih telapak tangan Eve untuk mewujudkan keinginan gilanya, yaitu memasak di dapur.


Tapi keinginan ratu itu harus ditelan bulat-bulat saat sosok yang mengundang Eve ke istana justru muncul di depan pintu dengan pelayan yang membawa seperangkat permainan catur berdiri di belakangnya.


"Ratu, jangan membawanya pergi." Dengan gerakan tangan, Hudson menyuruh orang-orangnya untuk mempersiapkan permainan catur yang akan dia mainkan bersama Eve. "Aku yang berkepentingan dengan keponakanku. Mengalah lah sedikit."


"Hanya bermain catur, apa pentingnya?" jawab Ashley sengit.


"Memasak juga. Apa pentingnya? Pelayan juga bisa melakukannya untukmu," sahut Hudson tidak kalah.


"Yang Mulia...,"


"Apa?!" Sahut keduanya keras sampai-sampai Eve kembali menelan kalimatnya. Ya Tuhan, pasangan suami istri ini kenapa malah berdebat!


Eve bimbang. Apa yang harus dia lakukan, bagaimana caranya membuat kedua orang penting ini kembali akur, dan yang terpenting ... apakah ada cara agar Eve bisa terbebas dari situasi rumit ini?!


Untuk pertama kalinya, Eve yang biasanya sering membuat orang sakit kepala, kini ikut merasakannya juga.


...****************...


Hello 👋


Maaf yaa updatenya lamaaaa banget dan mungkin beberapa dari kalian ada yang lupa sama cerita sebelumnya🤧


Sumpah deh bener-bener aku kangen nulis tapi keadaan belum mengizinkan aku produktif di sini. Sekali lagi, maaf yaa semuanya😭

__ADS_1


Jangan lupa, komen below👇🏼😩


__ADS_2