MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
Hari H Pernikahan


__ADS_3

Pernikahan merupakan suatu yang di nanti-nantikan oleh setiap pasangan di muka bumi. Tentu saja hari pernikahan menjadi kebahagiaan untuk mempelai pria dan wanita juga kedua belah pihak keluarga.


Berbeda halnya dengan Leon, satu sisi ia merasakan kebahagiaan, di sisi lainnya ia merasa sangat sedih lantaran kedua orang tuanya benar-benar tidak datang di hari pernikahannya dengan Lily.


Meski Lily bukanlah kekasih ataupun wanita yang ia inginkan juga cintai, setidaknya Leon sedang berusaha untuk menerima kehadiran Lily sebagai istri plus ibu dari calon anaknya.


"Kenapa? Apa kau menyesal menikah denganku?" tanya Lily ketika melihat pria yang kini sudah berstatus sebagai suaminya itu tidak bergairah sejak akad selesai.


Leon tidak menjawab pertanyaan Lily, lebih tepatnya ia tidak tahu jika Lily sedang bertanya padanya. Sebab pikirannya kini tertuju pada kedua orang tuanya. Ia berharap mereka akan datang meski acara sudah selesai nanti. Tapi tidak ada tanda-tanda jika mereka akan datang. Lagi dan lagi untuk ke sekian kalinya Leon harus mengubur harapannya tentang orang tuanya itu.


"Leon.." panggil Lily lirih dengan menyentuh punggung tangan pria yang duduk di sampingnya.


"Hm?" Leon menoleh, ia berusaha tersenyum dan terlihat baik-baik saja. "Ada apa?"


"Kau kenapa? Aku perhatikan sejak tadi kau melamun. Karena orang tuamu?" tebak Lily.


Leon tersenyum, ia tidak mau terlihat sedih di depan Lily. Ia bangun dari duduknya dengan menarik pergelangan tangan Lily.


"Ayo berdansa!" ajaknya.


"Aku tidak mau.. Leon..!" Lily menolak tetapi pria itu tidak juga melepaskan pergelangan tangannya.


Mereka kini berdiri di antara tamu undangan yang sedang asik menikmati alunan musik. Ada bu Hesti dan pak Tio juga di sana yang sedang asik bercanda sambil berdansa.


"Leon, tapi aku-"


"Pelan-pelan saja!" pungkas pria itu.


Sesi dansa, lampu memang sengaja di redupkan. Jadi orang yang memang ingin ikut berdansa tidak canggung.


Leon mengalungkan tangan Lily ke lehernya, sementara dia memegang kedua sisi pinggang Lily. Perlahan, mereka mulai mengikuti irama dan berusaha menikmatinya.


Meski sudah menjadi istri Leon, Lily masih tetap canggung bahkan tidak berani menatap pria di hadapannya. Ia berusaha untuk menunduk atau memandang ke arah lain.


"Cantik," puji Leon, membuat Lily menatap pria itu sekilas kemudian kembali menatap ke arah lain dengan perasaan salting.

__ADS_1


"Biasa aja," sahut Lily.


"Bajunya," sambung Leon.


Lily terbelalak, ia mengerucutkan bibirnya merasa malu karena ia pikir Leon memuji dirinya.


Leon tersenyum melihat ekspresi wanita di hadapannya. Melihat orang-orang di sekelilingnya tampak asik dengan dirinya masing-masing memberi kesempatan untuk Leon menikmati waktu berdua dengan Lily.


Tangan yang semula memegang pingang Lily kini mulai naik ke atas dan berhenti di tengkuk. Lily yang menyadari hal tersebut segera menatap ke arah prianya. Dengan sekejap bibir Leon menempel di bibir Lily yang membuat pemiliknya membulatkan mata.


"Mmmppp.." Lily menggerakan bola matanya sebagai kode ia merasa segan jika harus melakukam adegan seperti sekarang di hadapan umum.


Leon tak memperdulikan hal tersebut, lagipula itu acaranya. Terserah dia mau melakukan apa, toh sudah sah ini.


Leon semakin memperdalam ciumannya, Lily tak berani memberontak. Ia cukup menerima apapun yang di berikan Leon. Hingga akhinya ia memilih pasrah dengan memejamkan kedua matanya.


Dari kejauhan, Drew mengambil minuman di atas meja. Ia merasa puas karena ia berhasil melakukan tugas dari tuannya. Ia meneguk minuman tersebut, kedua matanya kini menangkap tuannya sedang asyik berciuman.


"Uhukk.. Uhuk..!" Drew terbatuk-batuk.


Drew menatap ke arah pemgantin wanita yang tampak begitu menikmati ciuman tuannya. Ada sebersit rasa kasihan jika nantinya tuannya masih melakukan apa yang selama ini di lakukan pada wanita-wanita demi sepercik kepuasan. Sebab yang Drew tahu, seorang cassanova itu tidak bisa di percaya, jenis pria yang akan mengatakan apapun untuk merayu dan meniduri wanita.


***


Pukul sepuluh malam, acara sudah selesai. Semua tamu undangan sudah pulang usai memberi selamat atas pernikahan Leon dengan Lily.


Mereka memutuskan untuk menginap di gedung malam ini. Begitupula dengan bu Hesti dan pak Tio.


Sepertinya Lily kelihatan lelah. Terlebih wanita itu sedang hamil. Leon meminta Lily untuk istirahat dan tidur.


"Aku belikan pakaian ganti untukmu," Leon memberikan sebuah paper bag berukuran kecil pada Lily.


"Terima kasih," ucap Lily sembari menerima paper pag tersebut.


"Ya sudah, kalau begitu kau mandi dan ganti pakaianmu terus istirahat. Aku keluar dulu sebentar, Drew menungguku di luar."

__ADS_1


"Iya."


Leon pun keluar dari kamar yang terletak di lantai dua gedung tersebut. Ia turun ke lantai satu untuk menemui Drew yang masih stay di sana.


"Terima kasih, Drew. Semua acaranya berjalan dengan lancar," ucap Leon.


"Sama-sama, tuan. Sekali lagi, selamat atas pernikahannya. Semoga samawa sampai tua."


"Iya, terima kasih."


"Oh, ya, ada lagi yang harus aku kerjakan, tuan?" tanya Drew.


"Tidak ada. Kau pulang saja. Besok kau tidak perlu masuk kerja, aku tahu kau pasti cape sudah mengurus semua ini sendiri!"


"Baik, terima kasih, tuan. Kalau begitu saya pamit pulang."


"Silahkan!"


Drew pergi dari sana, kini tinggal Leon sendiri di sana. Ia memandang kepergian Drew sampai hilang dari pandangannya. Leon masih mematung di tempat, pikirannya kembali tertuju pada kedua orang tuanya yang benar-benar tega tidak datang bahkan sampai acaranya selesai.


Leon menghembuskan napas sedikit kasar, lalu memutuskan untuk kembali ke kamar.


Di kamar, Lily yang baru saja membuka gaun pengantin dan hendak pergi ke kamar mandi mengurungkan niat, ponsel di atas nakas terus berdering sejak dua menit lalu. Itu pasti ponsel milik Leon. Lily tidak berani untuk mengangkat teleponnya dan memilih untuk menunggu pria itu kembali ke kamar.


Tapi ia merasa penasaran dengan siapa orang yang terus menerus menelepon ke ponsel Leon. Lily berjalan mendekat ke arah nakas, melihat nama yang tertera di layar ponsel milik Leon yang menyala.


Chika Gemoy


Lily tercengang dan membulatkan mata. Seketika ia merasa tubuhnya mematung. Entah kenapa ia merasakan sebersit rasa sakit melihat nama seorang wanita di layar ponsel Leon.


Ponsel Leon kembali berdering dan menampilkan nama wanita tersebut. Lily menjauh dari sana dan segera pergi ke kamar mandi.


Begitu masuk ke kamar mandi, ia mendengar Leon masuk ke kamar. Tidak lama kemudian, ia mendengar Leon menjawab telepon tersebut.


"Halo Gemoy.."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2