
Seorang wanita dengan penampilan seksi dan pakaian super ketat turun dari mobil di halaman gedung perusahaan yang di pimpin oleh Leon. Ia berjalan hendak masuk ke dalam gedung tersebut, tetapi dua security yang bertugas berjaga segera mencegah.
"Maaf, nona tidak bisa masuk!" ucap salah satu security dengan tegas.
"Jangan menyentuhku!" Wanita tersebut menepis tangan security.
"Aku ingin bertemu dengan Leon, biarkan aku masuk!" pintanya memaksa.
"Sebelumnya sudah ada janji?" tanya security kedua.
"Ini bukan urusan pekerjaan, ini urusan pribadi. Jadi aku tidak perlu membuat janji dengannya. Biarkan aku masuk!"
"Tetap tidak bisa. Lagipula tuan Leon hari ini tidak masuk kantor."
Wanita itu diam sejenak. "Bohong! Aku akan memeriksanya sendiri ke ruangannya."
Kedua security itu segera menarik lengan wanita tersebut, sebelumnya Leon sudah memberi pesan pada kedua security-nya agar tidak membiarkan siapapun masuk ke perusahaannya. Terutama orang asing.
"Silahkan pergi sebelum kami terpaksa melakukan kekerasan!" usir security dengan tegas.
"Lepaskan aku! Lepaskan!"
Dua security menyeret wanita tersebut sampai benar-benar masuk ke dalam mobilnya.
"Pergi dari sini atau kami akan melakukan hal yang lebih buruk!"
"Iya, iya, aku pergi," balas wanita itu tak kalah sengitnya.
Wanita tersebut pun pergi bersama mobilnya usai di usir paksa. Setelah itu saah satu security segera menghubungi tuannya untuk memberi tahu atas apa yang terjadi siang ini.
***
"Kita makan siang di luar saja, ya. Nanti sekalian pulangnya beli bahan masakan," ajak Leon pada Lily yang baru saja selesai menata pakaian ke dalam lemari besar.
"Iya," jawab Lily nurut saja.
Kedua bola mata Leon terpaku pada perut Lily yang terlihat semakin buncit.
"Aku akan cari asisten rumah tangga untuk rumah ini. Tidak mungkin juga kau yang melakukan semua tugas rumah," ujar Leon.
Lily berjalan dan duduk di tepi ranjang dekat suaminya. "Aku saja yang cari," usul Lily.
"Kenapa? Kau takut aku cari ART yang masih muda, cantik, gemoy seperti adik sepupuku?" goda Leon.
"Iiihh.. Bukan seperti itu..!" seru Lily.
"Aku tahu kau takut aku akan bermain dengan wanita lain, benar kan?"
"Aku tidak berpikiran seperti itu!"
"Aku juga tahu awalnya kau cemburu dengan Chika. Ngaku saja!"
Lily menyubit pinggang pria itu. "Iiiihhh.. Tidak, tidak!"
__ADS_1
"Aaaww.." Leon memekik geli, ia heran kenapa Lily hobi sekali menyubit pinggangnya.
Dering panggilan masuk yang berasal dari ponsel Leon menghentikan mereka. Pria itu segera mengambil ponselnya di atas nakas yang menampilkan nama security.
"Security," Leon memperlihatkan layar ponselnya pada Lily, setelah itu ia mengangkat telepon tersebut.
"Iya, ada apa?"
"Halo, tuan. Baru saja ada wanita cantik, berpenampilan seksi, datang ke kantor. Dia memaksa ingin bertemu dengan tuan Leon."
Leon melirik ke arah Lily, memastikan jika istrinya tidak sampai mendengar apa yang di bicarakan security di telepon.
"Kalian ingat pesanku?"
"Tentu saja, tuan. Kami sudah mengusirnya. Dan sekarang wanita itu sudah pergi."
"Bagus."
Leon mematikan sambungan teleponnya.
"Ada apa?" tanya Lily penasaran.
"Tidak ada apa-apa," jawab Leon dengan senyum kecil meyakinkan Lily. "Kalau begitu kau siap-siap, kita pergi makan sekarang. Aku tunggu di mobil, ya!"
"Iya."
***
Tok tok tok..
"Apa kabar, bu Hesti?" ucap seorang pria di balik pintu seraya mencium punggung tangan wanita tersebut.
"Baik. Kamu mau cari Lily?" jawab dan tanya bu Hesti.
"Iya, bu. Lily nya ada?" tanya pria itu.
"Mmm.. Masuk dulu, yuk!" ajak bu Hesti.
"Tidak usah, bu. Saya tidak lama juga," tolak pria itu.
"Oh, begitu. Mmm.. Lily-nya sedang tidak ada di rumah, Hiko. Memangnya ada perlu apa, ya?"
"Saya hanya ingin menawarkan Lily untuk jadi partner bisnis saya di bidang kuliner. Kebetulan saya dengar Lily sudah resign dari pekerjaan lamanya," kata pria itu.
"Ohh.. Tapi maaf sekali, nak Hiko. Lily sudah dapat pekerjaan baru," ujar bu Hesti bohong.
"Begitu, ya. Sayang sekali saya terlambat datang kemari. Kalau begitu, saya permisi, bu!" pamit pria yang bernama Hiko itu.
"Iya."
Hiko kembali mencium punggung tangan bu Hesti sebelum pergi. Wanita paruh baya itu memandang Hiko pergi sampai hilang dari pandangannya. Hiko itu sendiri merupakan teman lama Lily, bu Hesti tentu saja mengenalnya.
Sementara di restoran tempat kini Leon mengajak Lily makan siang. Kini mereka tengah memilih menu makan masing-masing. Usai memilih menu, tidak lama kemudian pesanan mereka pun di antar ke meja.
__ADS_1
"Ini salah satu restoran favoritku, makanannya enak-enak," ujar Leon pada saat mereka hendak memulai makan.
Lily pun mulai menyendok makanan di piringnya, meski ia tidak terlalu suka makan menu di restoran, tapi Leon benar jika makanan di restoran ini enak sekali.
"Hmmm.. Kau benar," jawab Lily setuju.
Dari kejauhan, seorang pria tengah memperhatikan wanita yang tengah makan di meja yang tidak jauh dari tempatnya. Ia memicingkan kedua matanya guna mematikan apa wanita yang ia lihat itu benar seperti dugaannya.
"Lily..?" panggilnya lirih.
Wanita yang ia maksud pun menoleh, ia tersenyum senang melihat teman lamanya kini berada di depan matanya.
"Hiko.." pekik Lily, ia pun tak kalah senangnya bisa bertemu dengan teman lama.
Senyum Hiko memudar seiring dehaman Leon memberi tanda agar tidak hanya mereka berdua yang ada di sana.
"Dia siapa, sayang?" tanya Leon.
"Hah?" Lily bukan tidak mendengar pertanyaan Leon, tapi ia terkejut mendengar panggilan pria itu untuknya.
Hiko menatap pria yang baru saja memanggil Lily dengan sebutan 'sayang'. "Dia pacarmu, Ly?"
"Bukan..! Mmm... Maksudku... Leon, kenalkan ini Hiko teman lamaku. Dan kamu Hiko, kenalkan ini suamiku," Lily mengenalkan mereka agar tidak ada kesalahpahaman yang terjadi.
"Hah, suami?"
"Iya, aku suaminya. Kenapa?" sahut Leon.
Hiko menatap ke arah Lily, setahu dia Lily belum menikah. Tetapi kenapa ada pria yang mengaku sebagai suaminya, Lily pun tidak menyangkal perkataan pria itu.
"Maaf aku lupa mengundangmu, Hiko. Aku pikir kamu masih di luar negeri," ucap Lily.
"Iya, tidak apa-apa, Ly. Kalau begitu, selamat ya atas pernikahan kalian berdua," Hiko mengulurkan tangannya pada Lily.
"Tarik lagi tanganmu, istriku tidak boleh bersentuhan dengan pria lain selain suaminya!" ucap Leon cukup membuat Lily terkejut.
Dengan berat hati Hiko pun menarik kembali tangannya. "Oh ya, maaf."
"Kalau begitu anda bisa pergi? Kami mau melanjutkan makannya!" pinta Leon.
"Iya, maaf sudah mengganggu waktu kalian. Oh ya, Ly, ini cabang restoran-ku. Kamu bisa makan sepuasnya di sini tanpa bayar. Itung-itung traktir karena udah lama gak ketemu," kata Hiko.
Tentu saja Leon tersinggung oleh perkataan pria tersebut. Hal itupun seketika menghilangkan selera makannya.
"Terima kasih atas tawarannya. Tapi, jangankan untuk membayar makan, membayar restoran ini pun saya mampu," kata Leon.
"Sudah, jangan terlalu ambil hati. Hiko, terima kasih atas tawarannya, ya!" ucap Lily.
"Iya, Ly. Sama-sama. Aku permisi," pamit Hiko lagi.
Entah kenapa, Leon merasa sangat kesal dengan pria itu. Ia mengajak Lily untuk pulang saja.
"Kita lanjut makan di rumah saja, ya. Sekarang kita beli bahan masakannya."
__ADS_1
Lily yang hendak menyendok makanan ke dalam mulutpun di urungkan. Leon sudah terlebih dulu menarik pergelangan tangannya untuk segera pergi dari sana.
Bersambung...