MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
KEPERGIAN LEON


__ADS_3

Rencananya hari ini Lily akan pergi ke rumah orang tuanya, tetapi Leon meminta hari esoknya saja. Sebab hari ini Leon ingin menghabiskan waktu berdua dulu, sebelum dirinya benar-benar pergi ke luar kota.


Sore ini mereka jalan-jalan di sebuah taman kota yang kebetulan ramai pengunjung, kebetulan ini hari Minggu. Banyak anak-anak yang berlarian kesana kemari membuat mereka semakin tidak sabar menanti kehadiran si buah hati.


"Lihat, deh, anak laki-laki itu," Leon menunjuk bocah laki-laki berusia sekitar dua tahun yang sedang asik bermain bersama kedua orang tuanya. "Betapa beruntungnya dia."


Lily memandang wajah suaminya dari samping. Pria itu tersenyum getir melihat bocah laki-laki yang tidak jauh dari pandangannya.


"Aku janji akan membuat anakku jauh lebih beruntung daripada itu," imbuh Leon.


Leon menatap kedua manik mata istrinya, lalu berpindah menatap perut datar sang istri. Ia berharap, semoga kehamilan kali ini tidak lagi bermasalah sampai menyebabkan sesuatu yang buruk seperti sebelumnya.


***


Keesokan harinya, Leon pergi. Pria itu menekuk kedua lututnya di lantai, mengecup perut datar Lily cukup dalam.


"Sayang... Ayah pergi dulu, ya. Sehat-sehat, ya di sana, nak," ucap Leon sang sang buah hati di dalam perut istrinya.


Setelah berpamitan dengan sang buah hati, Leon lekas bangkit berdiri dan mencium kening ibu dari calon anaknya.


"Aku pergi dulu, sayang. Jaga dirimu baik-baik selama aku tidak ada," ucap serta pesan Leon pada Lily.


"Iya, kau juga. Setelah urusanmu selesai, cepatlah kembali."


"Itu pasti."


Lily mencium punggung tangan suaminya.


"Nanti kau pergi ke rumah ayah dan ibumu di antar mantan supir mamaku, ya."


"Iya. Hati-hati di jalan, ya."


"Iya, sayang. Love you," Leon mencium bibir Lily sekilas dengan sangat lembut.


"Love you more, Leon."

__ADS_1


Leon menyunggingkan sebelah sudut bibirnya membentuk sebuah senyum. Setelah itu ia memasukan kopernya ke dalam bagasi, lalu masuk ke dalam mobilnya. Lily membalas lambaian tangan Leon sebelum akhirnya pria itu benar-benar pergi dari pelataran rumah.


Lily hendak masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap, namun suara seorang wanita yang terdengar membuat keributan bersama security rumah membuatnya mengurungkan niat untuk masuk ke dalam.


Lily memicingkan matanya untuk melihat siapa wanita yang sudah berani membuat keributan sepagi ini di rumahnya. Ternyata begitu di lihat dari jarak dekat, ia spontan terkejut.


"Kau-" tunjuk Lily pada wanita itu, menghentikan adu mulut wanita tersebut dengan security rumahnya.


Wanita menoleh di serati dengan seringai jahat, wanita itu maju selangkah. Namun segera di cegah oleh security.


"Jangan sembarangan masuk ke rumah ini!" ucap security itu dengan tegas.


Wanita itupun akhirnya menurut, yang terpenting ia sudah bertemu dengan tujuannya.


"Mau apa kau kemari?" tanya Lily.


"Jangan takut, aku datang kesini hanya untuk memberi tahu sesuatu penting yang selama ini tidak kau ketahui," ujar wanita itu.


Lily tidak boleh terpancing oleh ucapan wanita tersebut. Sebab ia tahu jika wanita itu pasti berniat untuk menghancurkan rumah tangganya, sama seperti ketika dia menghancurkan rumah tangga mama Emely dan papa Xander.


"Oh bahkan kau sudah tahu namaku? Baguslah kalau begitu. Jadi aku tidak perlu mengenalkan diri lagi padamu."


"Lebih baik kau pergi dari sini, aku tidak ingin membuang-buang waktuku untuk hal yang tidak penting seperti meladenimu," usir Lily dengan nada yang terdengar tegas.


"Benarkah tidak penting? Aku rasa ini sangatlah penting bagimu untuk tahu siapa aku, dan ada hubungan apa antara aku dengan Leon," ucap Ava.


Lily mengernyit mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan wanita itu. "Apa maksudmu?"


"Rupanya kau penasaran juga," cetus Ava.


Lily tersadar jika ia mulai terpancing dengan tujuan wanita itu. Tidak, ia tidak boleh terpancing oleh Ava.


"Aku bilang pergi sekarang juga! Tidak ada gunanya kau di sini," usir Lily sekali lagi.


"Ok, aku akan pergi. Tapi sebelum itu, kau harus dengar apa yang ingin aku sampaikan padamu. Deal?"

__ADS_1


"Seret saja wanita ini, pak!" titah Lily pada security yang berdiri tidak jauh darinya.


"Baik, nyonya."


Pak Security hendak menyeret Ava, dan Lily akan kembali ke dalam rumah. Tetapi teriakan Ava membuat Lily berhenti melangkah dan kembali menoleh.


"LEON CASSANOVA DAN AKU SALAH SATU WANITA YANG PERNAH LEON TIDURI..!!"


Kedua mata Lily terbelalak, ia menatap Ava dengan tatapan tajam.


"Jangan mengada-ada! Kau pikir aku akan percaya denganmu? TIDAK AKAN PERNAH..!!" balas Lily.


Ava tersenyum menyeringai. "Kau pikir aku mau apa melayani pria tua seperti Xander? Tidak. Bukan itu target utamaku. Tapi Leon. Sentuhan dan semua yang dia berikan untukku membuatku candu. Maka dari itu, jika Leon tetap tidak ingin melakukannya lagi denganku, terpaksa papa-nya yang aku jadikan mangsa."


Tubuh Lily bergetar mendengar fakta baru dari wanita tersebut. Wanita yang mengaku pernah di tiduri oleh suaminya. Entah kenapa meski ia berusaha untuk tidak terpancing, tetap saja hatinya sakit mendengar langsung pengakuan dari wanita yang selama ini pernah Leon tiduri.


Plaakk...


Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Ava. Entah kekuatan dari mana Lily mampu melakukan hal itu. Yang jelas, amarahnya memuncak dan perasaannya benar-benar kacau.


Ava tidak melawan. Melihat Lily marah seperti ini adalah tujuannya.


"Mulai sekarang, sebaiknya kau tinggalkan Leon. Dia tidak baik, dan dia lebih pantas denganku. Berikan Leon untukku..!"


"Jangan pernah bermimpi..!!" jawab Lily dengan nada bicara terdengar gemetar.


"Ok, tapi kau harus ingat. Aku tidak sendiri, aku bersama temanmu yang bernama Hiko akan berusaha memisahkan kalian. Bahkan kita sudah membuat kesepakan."


"Hiko? Jangan bohong, kau bahkan tidak mengenal siapa dia."


"Terserah kau mau percaya atau tidak. Yang penting, aku sudah mengatakan yang sebenarnya padamu. Dan satu yang harus kau ingat, seorang CASSANOVA tidak akan pernah bisa di percaya. Dia akan tetap pada prinsip utamanya. Dan aku pastikan, Leon akan bepetualangan lagi bersama banyak wanita, termasuk aku. Sampai kapanpun Leon tidak akan pernah puas dengan satu wanita. Aku harap kau paham akan maksudmu. Bye.."


Ava melambaikan tangannya dan pergi begitu saja dari sana. Sedangkan Lily mematung di tempat dengan perasaan hati yang berkecamuk.


"Tidak, aku tidak boleh percaya dengan ucapan dia begitu saja. Tidak, tidak boleh."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2