MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
HANGATNYA KELUARGA


__ADS_3

Hari ini Bu Hesti meminta sang suami untuk mengantarkannya ke rumah putri dan menantunya. Sebab sudah lama juga beliau ini tidak bertemu. Bu Hesti betul-betul rindu mereka.


"Ibu yakin mau bawa semur jengkol untuk makan siang di sana?" tanya pak Tio ragu.


"Ya iyalah, yah. Ini buktinya sudah ibu bawa di kotak makan," jawab Bu Hesti seraya mengangkat kantong kresek belang yang terdapat kotak makan berisi semur jengkol buatannya.


"Kalau Leon gak suka, bagaimana?"


"Kalo gak suka ya gak usah ikut makan. Gitu aja di bikin repot ayah ini."


"Ya sudah, ayo naik!"


Bu Hesti pun naik ke atas motor usai pak Tio hidupkan mesinnya. Sebenarnya Leon sudah menawari ayah mertuanya itu mobil, hanya saja pak Tio menolak dengan alasan tidak bisa menyetir. Jika di terima untuk pajangan depan rumah saja, takutnya membuat warga sekitar iri dengki.


Pak Tio menggunakan jalan alternatif menuju rumah Leon, sehingga perjalanan tidak perlu memakan waktu banyak.


Pak security rumah Leon langsung membukakan pintu gerbangnya begitu tahu siapa yang datang.


"Assalamu'alaikum.." salam dari luar rumah membuat bi Ratih yang sedang bersih-bersih ruang tamu berhenti sejenak.


"Walaikumussalaam.." jawab Bi Ratih seraya berjalan ke arah pintu, begitu di buka muncul dua orang yang tak asing.


"Eh Bu Hesti sama pak Tio. Sok atuh silahkan masuk..!"


"Iya, bi. Terima kasih."


"Lily nya ada?" tanya Bu Hesti kemudian.


"Ada, tuan Leon juga ada. Mau bibi panggilkan?"


"Iya, boleh."


"Kalau begitu, tunggu dulu di sini, ya. Bibi panggilkan dulu sama mau di buatin minum apa?" tawar bi Ratih.


"Gak usah repot-repot, bi," tolak Bu Hesti.


"Eh tapi kalau mau bikinin kopi, saya gak akan nolak," timpal pak Tio.


"Hehe.. Siap, pak Tio!"


Bi Ratih melipir dari sana, sementara Bu Hesti dan pak Tio menunggu di ruang tamu.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Leon dan Lily muncul.


"Ibu.." panggil Lily.


Bu Hesti bangun dari duduknya menyambut pelukan sang putri. Ia menciumi puncak kepala Lily dan menghujani wanita itu dengan ciuman di bagian kening.


"Ibu rindu sama kamu, nak," ungkap Bu Hesti.


"Iya, Bu. Lily juga sama, rindu ibu, rindu ayah juga," Lily berganti memeluk sang ayah.


Melihat kehangatan keluarga istrinya, membuat Leon merasa ia tak seberuntung itu. Tapi tak apa, yang terpenting sekarang dia pun sudah menjadi bagian dari keluarga mereka.


"Nak Leon apa kabar? Kemarin-kemarin Lily sempat bilang nak Leon sakit," tanya Bu Hesti.


"Alhamdulillah sehat, Bu. Iya, kemarin sempat sakit, demam biasa," jawab Leon.


"Makanya jangan terlalu kecapean, nak."


"Iya, bu."


"Kalau cuma demam, minum kontreksin aja," sahut pak Tio.


Mereka yang mendengar pun tertawa di buatnya.


"Eh kata siapa kontreksin cuma buat anak kecil? Buktinya banyak kok orang dewasa yang minum obat itu," kata pak Tio.


"Ih kayak saya atuh, pak. Sudah tua gini suka minum kontreksin kalo sakit," sahut bi Ratih begitu datang membawakan kopi.


"Tuh kan! Bi Ratih aja minum konstruksi," ucap pak Tio merasa menang.


"Ah yang benar saja, bi?" tanya Bu Hesti tidak percaya.


"Iya, saya minum kontreksin karena saya susah kalau urusan minum obat," jawab Bi Ratih.


"Makanya ayah bilang juga apa, sedia kontreksin sebelum sakit!"


"Hahaha.." semua orang tertawa.


"Oh ya, ini ibu bawakan semur jengkol untuk nanti makan siang. Nak Leon suka semur jengkol kah?" Bu Hesti mengeluarkan kotak makan dari dalam kantong kresek yang di bawanya.


Leon memandang ke arah istrinya. Sebelumnya ia belum pernah makan yang namanya semur jengkol, ia hanya sekedar tahu namanya saja.

__ADS_1


"Sebelumnya belum pernah coba, jadi belum tahu suka atau tidaknya," jawab Leon.


"Ya sudah kalau begitu nanti cobain aja, ayah jamin kamu pasti bakal nagih. Tapi ingat, jangan minta ibu yang masakin lagi," kata pak Tio membuat semua orang kembali tertawa kecil.


"Sebelumnya ibu minta maaf ya, karena gak bisa datang kemari untuk jenguk nak Leon waktu sakit," ucap Bu Hesti.


"Iya, tidak apa-apa," jawab Leon.


"Oh ya, Ly. Kamu tahu gak, kemarin ayahmu beliin test pek. Ayahmu ini makin ngada-ngada aja," kata Bu Hesti.


"Test pek?" ulang Lily.


"Iya, katanya ayahmu ingin ibu hamil lagi. Ada-ada aja kan ayahmu ini, sudah tua bentar lagi gendong cucu, eh malah mau punya bayi lagi."


"Ya kan daripada ibu sebentar-sebentar rindu Lily, mending buat lagi aja," sahut pak Tio.


"Wajarlah ibu rindu sama Lily, dia kan putri kita," balas Bu Hesti.


"Ya itu, mending kita buat lagi saja."


"Ih, ayah ini selalu gak mau kalah."


Lily dan Leon tertawa kecil mendengar perdebatan mereka. Tapi bukan perdebatan yang berujung pertengkaran, namun perdebatan yang semakin mengeratkan hubungan agar tetap harmonis.


"Oh ya, ngomong-ngomong kamu belum isi lagi, nak?" tanya Bu Hesti penasaran.


Lily menggeleng. "Belum, Bu. Mungkin belum di kasih lagi aja."


"Kalau begitu nak Leon yang semangat dong bikinnya, biar cepat jadi," tambah pak Tio.


"Iya, ayah tenang aja. Kalau urusan itu aku ahlinya," sahut Leon di acungi jempol oleh pak Tio.


Obrolan pun terus berlanjut, canda tawa selalu menyertai setiap obrolan mereka.


Bersambung...


...JANGAN DI SKIP..!!!...


...G I V E A W A Y ! ! !...


...Untuk pembaca setia Mengandung Anak CASSANOVA, di sini LEON & LILY akan bagi-bagi hadiah menarik untuk kalian semua. Untuk lebih lanjut, silahkan kalian tonton saja video G I V E A W A Y nya di channel yuotube aku WINDY RAHMAWATI. Atau kalian bisa cari dengan kata GIVE AWAY MENGANDUNG ANAK CASSANOVA. ...

__ADS_1


...SEMOGA BERUNTUNG JADI PEMENANG 😊...


__ADS_2