
Lily tersenyum senang melihat mama mertuanya begitu lahap memakan makanan yang ia bawakan.
"Kalau mama mengakui suka dengan masakan aku, aku bisa kirim makanan untuk mama setiap hari," kata Lily membuat wanita paruh baya yang semula menunduk makan kini mendongak.
"Iya, saya suka," jawab Emely terdengar datar.
Lily melirik ke arah suaminya dengan senyum bahagia, Leon bisa merasakan bagaimana bahagianya istrinya saat ini.
Usai Emely selesai makan, Leon meminta waktu sebentar pada petugas yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari meja tempat kunjungan, agar tidak langsung membawa mamanya kembali ke dalam sel. Beruntungnya petugas itu memberi waktu meski hanya lima menit saja.
"Jadi mama tidak membenci aku dan istri aku kan?" tanya Leon setelah beberapa lama terdiam.
Emely bergeming, ia menatap wanita yang sudah menjadi menantunya itu.
"Hm," jawabnya singkat.
Leon tersenyum senang. "Itu berarti mama sudah menerima jika Lily menantu mama?"
Untuk pertanyaan itu, rasanya masih berat. Emely masih belum mau menerima.
Lily tahu jika mama Leon tidak akan semudah itu menerimanya. Tapi tidak apa, yang terpenting sekarang membuat wanita paruh baya itu luluh saja dulu. Itu sudah lebih baik.
"Aku tahu mama pasti masih sulit menerima kenyataan memiliki menantu yang tidak sesuai dengan keinginan mama. Aku terima itu. Tidak apa-apa. Tapi mama harus tahu, jika aku tidak akan pernah mempermasalahkan status mama seperti sekarang ini," ucap Lily membuat hati Emely sedikit terenyuh.
Ya, Emely tidak bisa menerima Lily sebagai menantunya hanya karena masalah ekonomi. Sementara Lily sendiri tidak mempermasalahkan statusnya sebagai napi.
Leon pun di buat tidak percaya Lily bisa mengatakan itu pada mamanya. Ia berharap dengan ucapan barusan bisa membuat mamanya berpikir dan perlahan mau membuka hati untuk Lily sebagai menantu.
__ADS_1
"Waktunya sudah habis, saudari Emely harus kembali ke sel," ujar petugas.
Leon pun mengucapkan terima kasih pada petugas. Sebelum mamanya benar-benar kembali ke sel, Leon berpesan agar mamanya bisa benar-benar berubah setelah ini.
Kini Leon dan Lily berganti pergi ke lapas tempat Xander. Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit dari lapas tempat Emely.
Leon dan Lily menunggu di ruang kunjungan. Untuk Xander, Leon tidak terlalu banyak berharap.
Tidak berapa lama, Xander muncul bersama satu petugas yang membawanya. Tangannya di borgol untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan. Sebab selama di lapas, Xander kerap kali bertengkar dengan teman satu sel. Maka dari itu dia di pindahkan ke sel tikus.
"Pa.." sapa Leon.
Xander menghunuskan tatapan tajam begitu melihat siapa yang datang untuk menjenguknya. Bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai.
"Beraninya kau datang kemari?" ujar pria itu.
Xander menatap Lily dengan penuh amarah dan kebencian. Ia mengambil kotak makan tersebut lalu membantingnya ke lantai sampai nasinya berserakan.
Lily terperanjat kaget dan spontan menjauh, Leon tidak terima papanya bersikap demikian.
"Aku dan istriku datang ke sini dengan baik-baik, pa. Bisakah papa hargai sedikit saja usaha istriku???" seru Leon.
"Hargai kau bilang?" lagi-lagi Xander menyeringai dan berjalan satu langkah ke depan.
"Bagaimana aku bisa menghargai orang yang sudah jelas-jelas membuat hidupku hancur, HAH..???"
"Cukup dan berhenti menyalahkan orang lain atas kesalahan papa sendiri..!! Kenapa papa tidak pernah sadar atas apa yang papa lakukan..?? Kalau papa merasa hidup papa hancur sekarang, itu adalah balasan setimpal yang memang pantas papa dapatkan..!"
__ADS_1
Kedua manik mata Xander menyala merah padam menahan amarah. Meski dalam tangan keadaan terborgol di depan, pria itu tak sungkan-sungkan melayangkan sebuah bogem pukulan pada Leon. Beruntungnya petugas segera mengamankan Xander.
"Bisa-bisanya kau bicara seperti itu padaku? Cuih.. DASAR ANAK TIDAK BERGUNA..! MENYUSAHKAN..! MENYENGSARAKAN..!"
Teriakan makian dan cacian itu Xander lontarkan pada Leon. Petugas segera menyeret pria itu untuk di bawa kembali ke dalam sel.
Leon menghembuskan napas dan menunduk sejenak agar tidak terpancing oleh amarah papanya. Setelah merasa dirinya terkontrol, ia membalikan badan pada istrinya.
"Maafkan atas sikap papaku..!" ucap Leon.
Lily menggeleng. "Tidak, kau tidak perlu meminta maaf. Kau tidak salah."
"Papa sudah melukai hatimu."
"Tidak, Leon. Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu, ya!"
Leon mengangguk. "Terima kasih sudah mengerti, sayang."
"Iya, sama-sama."
Leon memeluk tubuh Lily membawanya ke dalam dekapan. Ia mencium puncak kepala Lily cukup dalam.
Bersambung...
...MAAF ya teman-teman sehari kemarin tidak update, kondisi tubuh aku belum stabil. Do'akan saja agar secepatnya pulih dan sehat seperti sedia kala. ...
...Jangan lupa untuk dukungannya. ...
__ADS_1