MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
TUJUH BULAN


__ADS_3

"Saya minta maaf karena kemarin belum bisa datang kemari untuk berkunjung," ucap Bu Hesti saat beliau bertemu dengan mamanya Leon.


"Iya, tidak apa-apa. Saya berterima kasih banyak kepada ibu Hesti dan pak Tio karena masih mau menyempatkan diri mengunjungi saya di sini," balas Emely.


"Saya yang seharusnya meminta maaf kepada Bu Hesti dan pak Tio, atas sikap saya selama ini yang kurang berkenan. Saya betul-betul minta maaf," imbuhnya.


"Iya, Bu Emely. Sama-sama, saya juga meminta maaf jika ada perkataan kami yang kurang baik."


Emely merasa jauh lebih lega sekarang. Meminta maaf merupakan hal tersulit dalam hidupnya, akhirnya menjadi sesuatu yang bisa juga ia ucapkan. Beruntungnya, mereka memiliki hati yang lapang, mau memaafkan kesalahannya maupun alm suaminya.


Kemudian mereka kembali berbincang, mengenai calon cucu yang saat ini Lily kandung. Emely juga mengungkapkan betapa bersyukurnya ia memiliki menantunya sebaik putri mereka.


***


Tidak terasa, usia kehamilan Lily kini sudah menginjak yang ke tujuh bulan. Sesuai dengan niat awal, Leon ingin membuat acara yang jauh lebih besar di rumahnya.


Tidak hanya itu, Leon pun menyewa seorang potoghrafer terbaik untuk memotret dan mengabadikan momen saat Lily hamil besar.


Di ruangan yang sebelumnya mereka dekor, pemotretan itu di mulai. Seorang asisten potoghrafer ikut memandu gaya apa saja yang bagus untuk di potret.


"Coba pakai gaya yang rata-rata di lakukan. Tuan Leon bisa menekuk kedua lutut di lantai, tangannya memegang kedua sisi perut nyonya Lily, lalu cium perut nyonya Lily dengan mata terpejam. Jangan lupa senyumnya juga, ya," kata asisten itu memberi arahan.


Leon mencoba mempraktekan apa yang di minta oleh mereka.

__ADS_1


"Kalau untuk nyonya Lily, bisa menumpukan tangannya di atas tangan tuan Leon di kedua sisi perut," imbuh asisten itu.


"Baik, kak," jawab Lily.


Mereka pun memulai sesi pemotretan itu. Setelah gaya tersebut berhasil di ambil, asisten itu kembali memberi arahan agar Leon berdiri di belakang Lily seraya memeluk perut besar tersebut. Mereka pun menurut saja.


Bu Hesti, pak Tio, Chika, Drew serta bi Ratih yang ada di sana ikut bahagia melihat sesi pemotretan tersebut. Sampai akhirnya asisten tersebut memberi kesempatan agar keluarga ikut melakukan pemotretan bersama di sesi terakhir.


Sesi pemotretan itu di lakukan selama kurang lebih dua jam. Dan hasilnya sangat memuaskan. Tetapi potoghrafer itu akan memberikan hasilnya dua hari ke depan. Lantaran harus melakukan editing dan lainnya.


Sebelum pergi, photografer itu berpamitan bersama asistennya. Leon dan Lily mengucapkan banyak terima kasih. Setelah mereka pergi di antar Drew ke depan, Leon dan Lily kembali ke kamar untuk mengganti pakaian.


"Selamat tujuh bulan kehamilan, sayang ..." ucap Leon saat Lily baru saja duduk di tepi ranjang.


Lily tersenyum dan menatap pria yang berdiri di hadapannya sembari membelai rambutnya dengan lembut.


Leon memeluk istrinya, cukup lama. Ia juga meninggalkan sebuah kecupan singkat di pangkal kepala istrinya.


Seperti acara Empat bulanan sebelumnya, acara tujuh bulanan saat ini pun sebenarnya sama saja. Di adakan pengajian yang di pimpin oleh ustadzah dan di hadiri oleh ibu-ibu komplek. Tidak hanya itu, Leon dan Lily juga mengundang anak-anak yatim piatu. Ada acara siraman juga dengan kembang tujuh rupa.


Acara pun selesai pukul delapan malam. Melihat wajah istrinya lelah, Leon buru-buru mengajak Lily untuk beristirahat.


"Ibu sama ayah pulang?" tanya Lily pada Leon.

__ADS_1


"Ibu sama ayah aku suruh nginap saja. Kasihan, mereka pasti lelah. Chika sama Drew juga aku suruh nginap," jawab pria itu seraya menyelimuti tubuh istrinya.


"Mereka kan belum muhrim, sayang."


"Kan tidak sekamar. Chika tidur di kamar atas, Drew di kamar tamu."


"Ohhh ..."


Lily pikir jika Leon juga meminta Drew dan Chika tidur di kamar yang sama.


"Ya sudah, sekarang kau tidur. Istirahat, ya. Aku mau ke depan sebentar." Leon mengecup kening Lily.


"Kemana?"


"Mau temani ayah sama Drew dulu, gak enak kalau pribumi malah tidur."


"Oh, iya. Tapi jangan sampai larut malam, ya."


"Iya, sayang."


Leon pun beranjak dari sana, sementara Lily memejamkan kedua matanya untuk tidur.


Beberapa detik kemudian, ia sontak membuka matanya kembali. Tiba-tiba saja perutnya terasa keram. Tapi ia berusaha menahan dan tidak panik. Seperti yang di pesankan Dokter sebelumnya, bisa jadi itu kontraksi palsu. Jadi tidak perlu panik atau takut, cukup mengatur napas dan banyak-banyak menghirup oksigen. Selain itu, Lily juga meminum setengah air putih di gelas yang selalu tersedia di nakas.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian, jeramnya sudah tidak lagi terasa. Semuanya sudah kembali membaik. Lily menghembuskan napas lega. Setelah itu, barulah ia tidur.


Bersambung...


__ADS_2