
Leon mendorong keranjang belanja di Supermarket, sementara Lily memilih bahan masakan.
"Kenapa harus milih-milih? Ambil saja ikan yang besar!" tanya Leon saat Lily melihat satu-persatu ikan yang berjajar.
"Aku harus lihat mata sama ingsangnya, kalau masih merah berarti masih segar," jawab Lily tanpa menoleh ke arah pria yang berdiri di sampingnya.
Leon menaikan alisnya sebelah, ia tidak begitu tahu tentang hal demikian. Yang pasti ia merasa kagum memiliki istri sepintar Lily.
Selama hampir lima belas menit menghabiskan waktu hanya untuk berbelanja, Leon dan Lily memutuskan untuk pulang usai membayar total belanjaannya.
Tidak terasa, waktu sudah menunjukan pukul lima sore. Sepulang dari Supermarket, Leon memilih untuk tidur di sofa kamar. Sementara Lily menata bahan masakan yang tadi ia beli di kulkas. Tidak lupa mereka juga tadi membeli perlengkapan alat memasak, maupun bumbu dapur.
Lily memutuskan untuk mandi lebih awal, mumpung Leon masih tidur. Sebab jika ia mandi bisa menghabiskan waktu kurang lebih lima belas menit.
Sepuluh menit berlalu, kelopak mata Leon mulai bergerak perlahan terbuka. Ia menggeliatkan badannya lalu bangun duduk bersandar di sandaran sofa.
Terdengar suara air gemericik dari arah kamar mandi, ia berpikir mungkin Lily sedang mandi. Tidak lama kemudian suara air tersebut berhenti, dan pintu kamar mandi terdengar di buka.
Dengan cepat Leon membaringkan tubuhnya lagi dan memejamkan mata. Lily keluar dengan tubuh yang terbalut handuk biru muda sebatas paha. Rambutnya di bungkus handuk kecil yanh khusus di gunakan untuk mengeringkan rambut usai keramas.
Lily berjalan menuju lemari besar dengan langkah perlahan. Ia memastikan Leon jika suaminya masih tertidur.
"Hhh.. Aman.." ucap Lily, ia bisa dengan leluasa memakai pakaian tanpa harus ke ruang ganti.
Leon membuka matanya sebelah, Lily tampak berdiri membelakanginya. Ia seketika membungkam mulut pada saat Lily membuka handuk yang membalut tubuh mungilnya.
Oh Tuhaaan.. Semok sekali istriku.. ujar Leon dalam hati.
Lily segera memakai ****** *****. Tetapi ia lupa mengambil beha dari lemari. Ia menoleh ke arah Leon sebentar, memastikan jika suaminya masih terlelap. Leon dengan cepat menutup matanya dan pura-pura tidur.
"Lelap sekali tidurnya. Baguslah," ujar Lily, ia berjalan ke arah lemari lalu mengambil beha berwarna merah muda miliknya.
Leon kembali membuka matanya sebelah, kini Lily tengah menggunakan beha tersebut dengan posisi berdiri menyamping. Leon tidak bisa menahan sesuatu yang membuat tubuhnya seketika memanas. Terlebih melihat ukuran gunung kembar milik Lily yang besar dengan boba berwarna pink semakin membangkitkan sesuatu dari balik celananya.
"Cepat pakai bajunya atau kau akan ku terkam!"
Mendengar seruan yang berasal dari pria yang ia pikir sedang tertidur membuat Lily ketar-ketir. Lily segera meraih handuknya dan ia gunakan kembali untuk membungkus dirinya.
"Hei.. Kau mengintip?" tanya Lily panik, apalagi saat Leon bangun dan memberi senyum nakal padanya.
Lily melangkah mundur saat Leon berjalan menghampirinya. "Kau pura-pura tidur?"
__ADS_1
Leon tak menghiraukan pertanyaan Lily, ia terus berjalan sampai tubuh wanita itu mentok di tembok.
"Leon berhenti, kau mau apa?"
Leon menghentikan langkah tepat di depan Lily. Ia meletakan tangannya di tembok untuk mengurung istrinya.
"Leon, aku sedang hamil. Jangan meminta gitu-gitu dulu, ya, please!" Lily menelungkupkan tangannya memohon.
Ucapan Lily membuat Leon tertawa kecil, terlebih ekpresi Lily selalu berhasil membuat dirinya merasa gemas.
"Sudah terlanjur bangun, sayang. Sedikit saja, ya!" bisik Leon tepat di telinga Lily.
Kedua bola mata Lily membulat. Ia merasakan hawa hangat yang berasal dari napas memburu Leon yang terhempas ke lehernya.
"Aku sulit menahannya!" keluh Leon, ia menggesek-gesekan ujung batang hidungnya ke bahu Lily.
Lily merasa geli di sekujur tubuhnya atas perbuatan Leon.
"Aku sudah tidak bisa menunggumu," ucap pria itu kemudian menarik tengkuk Lily dengan cepat, ia melahap bibir wanita itu.
"Mmmhhh.." Lily berusaha melepaskan pagutan bibirnya, tapi sayang ia kalah tenaga.
Leon berusaha memberi sentuhan yang lembut agar Lily tidak sampai terluka dan bisa ikut dalam kenikmatan yang ia beri. Leon menyeruakan lidahnya ke dalam mulut Lily dan melilit lidah wanita itu. Awalnya Lily tidak tahu harus berbuat apa, tapi lama kelamaan akhirnya dia bisa mengimbangi serangan dari Leon.
Leon melepaskan pagutan bibirnya. Ia berpindah menciumi leher jenjang Lily sampai satu dessahaan kecil lolos dari mulut Lily. Hal tersebut semakin membangkitkan sesuatu yang sejak tadi berdiri tegak di balik celana. Bagi Leon, Lily merupakan pemilik tubuh paling indah di bandingkan wanita-wanita yang pernah ia jamah.
Leon melempar handuk yang membungkus tubuh Lily, lalu kembali membuka beha yang baru saja terpasang. Ia mulai memainkan boba Lily menggunakan ujung lidahnya, sampai membuat pemiliknya kini terbuai lautan asmara yang menggelora.
"Leoonnnnhhh.." Lily menggigit bibir bagian dalam, tangannya sibuk meremas rambut Leon untuk melampiaskan apa yang saat ini ia rasakan.
Sampai akhirnya mereka sampai di bagian inti, Leon membaringkan tubuh Lily di atas ranjang. Ia melucuti celananya beserta ****** ***** Lily. Tanpa ragu-ragu, ia memasukan benda besar panjang yang sudah mengeras ke dalam lubang surgawi. Di sana kenikmatan mulai mereka rasakan, hingga meloloskan dessahaan dan errangan dari mulut Lily.
***
Pak Tio menghampiri istrinya yang tengah duduk di depan televisi yang menyala. Tatapan bu Hesti tampak kosong, sama sekali tidak menonton ke acara televisi yang tengah berlangsung.
"Bu.." pak Tio memanggil istrinya lirih.
Bu Hesti terlonjak kaget. "Hm, iya ada apa? Lily sudah pulang kerja, yah?"
Pak Tio mengerutkan keningnya dalam.
__ADS_1
"Astagfirullaah.. Ibu lupa," bu Hesti mengusap wajahnya ketika sadar jika putrinya sudah pindah di boyong sang suami.
Pak Tio menghela napas. "Kenapa? Ibu belum ikhlas jika Lily harus tinggal dengan suaminya?"
"Bukan begitu, yah. Ibu benar-benar lupa. Wajar jika ibu kehilangan Lily."
"Iya, bu. Kita do'akan saja semoga Lily bahagia di sana."
"Aamiin.. Ibu selalu berdo'a untuk kebahagiaan putri kita."
Pak Tio mengusap bahu istrinya. Tiba-tiba saja ia jadi kepikiran sesuatu.
"Bu.."
"Iya, ayah?"
"Mmm.. Lily kan sekarang sudah tidak lagi tinggal bersama kita. Rumah kita juga jadi sepi."
"Iya."
"Bagaimana kalau kita buat lagi saja?"
Bu Hesti spontan menarik kumis suaminya yang lumayan di tumbuh bulu lebat. "Ayah ini, ada-ada saja. Ingat, kita sudah tua. Sebentar lagi kita akan punya cucu!"
Bu Hesti geleng-geleng mendengar ide konyol suaminya.
"Yang tua itu kan cuma umur, bu. Ayah masih kuat, kok. Umur hanyalah angka!" sahut pak Tio.
"Apaan sih ayah ini. Enggak, ibu gak mau."
Bu Hesti bangun dari duduknya dan beranjak menuju kamar.
"Halah, gak mau gak mau kok malah duluan ke kamar. Kode keras ini," pak Tio ikut bangkit dari duduknya.
"Ibuuuu.. Tunggu..! Ayah nyusul ke dalam, yaaa..!" teriak pak Tio sambil senyum-senyum.
Tidak ada jawaban dari dalam, berarti benar itu sebuah kode keras untuk pak Tio.
"Yuhuuuu.. Abegean lagi.." ujarnya.
Bersambung...
__ADS_1
...Inget ya buibuu, "Umur Hanyalah Angka!" 😂😂😂...
...Sok atuh di LIKE, KOMEN, VOTE, dan TAMBAHKAN KE FAVORIT. Biar gak ketinggalan ceritanya. Hatur Nuhun. ...