
Tiba waktunya makan siang, semur jengkol bawaan Bu Hesti menjadi menu utama di meja makan rumah Leon.
"Baunya menyengat sekali," gumam Leon begitu semur jengkol terhidang.
Lily mengulas senyum. "Jika kau tidak suka, aku bisa buatkan lauk yang lain," kata Lily begitu mengambilkan nasi ke piring suaminya.
"Eh jangan bilang gak suka dulu kalau belum mencobanya," ujar Bu Hesti.
Sebenarnya Leon betul-betul tidak suka aroma semur jengkol tersebut, tapi jika ia tidak makan, ia segan dan takut di bilang tidak menghargai mertuanya.
"Iya, Bu. Saya akan coba," jawab Leon.
"Kalau gak usah gak usah maksain makan, nanti takutnya selera makannya hilang!" kata pak Tio mengingatkan.
Lily pun mengambilkan beberapa semur jengkol untuk suaminya.
"Kalau suka, lain kali akan aku buatkan."
"Iya, sayang."
Setelah semuanya mengambil nasi ke dalam piring masing-masing, makan pun di mulai. Di awali doa sebelum makan yang di pimpin oleh pak Tio.
Leon masih ragu mencicipi jengkolnya, tapi kalau dari kuahnya sih ia rasa sangat enak. Mudah-mudahan jengkolnya pun memiliki cita rasa yang lebih enak daripada kuahnya.
"Ayo coba," ujar Bu Hesti, Leon pun mengangguk.
Jengkol itu perlahan masuk ke dalam mulut Leon, perlahan ia menggigit daging jengkolnya sambil menahan aroma baunya.
Usai di gigit, Leon kunyah.
Enak juga. Batin Leon dalam hati.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya, enak?" tanya Lily memastikan.
Leon mengangguk. "Hm ya, enak."
"Syukurlah kalau nak Leon suka," ujar Bu Hesti senang.
"Ingat ya kata ayah tadi, kalau suka jangan minta ibu masakin lagi," sahut pria paruh baya itu.
"Kan ada Lily, ya Lily lah nanti yang masakin kalau gak bi Ratih," timpal Lily.
"Ya bagus kalau begitu," jawab pak Tio.
Mereka melanjutkan makan siang, Leon makan dengan lahap. Dan semur jengkol bawa Bu Hesti pun habis di makan oleh keempat orang tersebut.
***
Malam harinya, Leon di beri kabar buruk oleh salah satu karyawannya di kantor. Ia benar-benar terhenyak mendapat kabar buruk tersebut.
Leon menatap istrinya dengan perasaan duka, hal tersebut membuat Lily semakin penasaran.
"Ada apa, Leon? Cepat katakan, apa yang terjadi? Siapa yang meninggal?" tanya Lily tidak sabar.
"Ibunya Drew," jawab Leon.
"Innalilahi wa inna ilaihi rojiun.." Lily membungkam mulutnya.
Meski Lily tidak kenal siapa ibunya Drew, tapi entah kenapa ia mendengar berita ini merasa berduka sekali.
"Kasihan Drew, dia pasti hancur sekali hatinya sekarang. Bagaiman kalau kita ke rumah duka turut berbelasungkawa," usul Lily.
"Iya, ayo. Tapi tunggu, aku kabari si Gemoy dulu," ujar Leon.
__ADS_1
Ia mengetikan pesan singkat pada Chika dan tidak lupa mengirim alamat rumah yang di tinggali ibu Drew.
Setelah itu, mereka bersiap-siap pergi.
Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di rumah duka, terlihat suasana rumah ramai di padati para warga di sana. Sayup-sayup terdengar suara tangisan dari dalam rumah beriringan dengan suara beberapa orang yang mengaji surat Yasin.
Begitu masuk ke dalam rumah duka, ternyata Chika sudah ada di sana menenangkan Drew yang saat ini sedang rapuh. Kehilangan sosok ibu adalah sesuatu yang paling menyakitkan, dunia seolah ikut pergi. Leon dan Lily cukup paham apa yang di rasakan Drew sekarang.
"Tuhan lebih sayang pada ibumu, kau harus ikhlas, ya. Kalau kau seperti ini, justru ibumu yang akan sedih," ucap Chika begitu menenangkan Drew.
Gadis itu mengusap kedua bahu Drew dan membiarkan pria itu menangis dalam pelukannya. Chika berusaha menguatkan Drew, sebab ia tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tua.
Leon dan Lily berjalan mendekat ke arah mereka dan mengucapkan turut berduka cita.
"Turut berduka cita, Drew. Kau yang iklhas, ya," ucap Leon.
Drew menarik tubuhnya dari pelukan Chika begitu mendengar suara tuannya. Air mata yang menggenang di pipinya segera ia hapus.
"Turut berduka cita, Drew," ucap Lily.
"Terima kasih tuan, nyonya," balas Drew.
Tangis Drew kembali pecah begitu melihat ibunya terbaring dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Akhirnya Chika mengajak Drew, Leon dan Lily untuk mengaji bersama.
Sekuat apapun, setegar apapun rasanya tetap rapuh, kehilangan sosok ibu, satu-satunya hal yang berharga di dunia. Ada rasa penyesalan yang begitu dalam di dalam benak Drew, yaitu membiarkan dan mengizinkan ibunya tinggal sendiri di rumah usai dari rumah sakit waktu itu. Meski sudah sembuh, seharusnya waktu itu ia bawa ibunya untuk ikut ke Apartemen dan tinggal bersamanya. Tapi apalah daya, penyesalan tinggallah penyesalan.
Bersambung...
...G I V E A W A Y ! ! !...
...Untuk pembaca setia Mengandung Anak CASSANOVA, di sini LEON & LILY akan bagi-bagi hadiah menarik untuk kalian semua. Untuk lebih lanjut, silahkan kalian tonton saja video G I V E A W A Y nya di channel yuotube aku WINDY RAHMAWATI. Atau kalian bisa cari dengan kata GIVE AWAY MENGANDUNG ANAK CASSANOVA....
__ADS_1
...SEMOGA BERUNTUNG JADI PEMENANG 😊...