
Chika memutuskan untuk menginap malam ini di rumah Leon. Sementara pemilik rumah sedang mandi, ia mengajak Lily untuk sekedar berbincang-bincang di ruang tamu.
"Menurut kak Ly, kak Leon itu orangnya gimana, sih? Emang benar, kak Ly bisa jatuh cinta sama orang nyebelin seperti kak Leon?"
Lily tersenyum mendengar pertanyaan Chika. "Leon memang terkadang menyebalkan, Chik. Dia sering menggoda, bercanda, juga iseng. Meski demikian, aku suka," jawab Lily.
"Iya, kak Ly. Kak Leon itu tidak bisa sekali saja tidak gangguan aku kalau kita bertemu. Dia pasti saja bikin aku itu kesal sama dia," ungkap Chika.
"Mungkin itu juga salah satu cara dia melupakan sejenak rasa sakitnya. Sebab Leon sudah cerita semuanya mengenai keluarganya yang cuek dan bahkan tidak perduli akan kehadirannya."
"Benar, kak Ly. Maka dari itu, kak Leon beruntung sekali memiliki istri seperti kak Lily ini. Kak Ly sudah cantik, baik, pengertian, dan juga perhatian sama kak Leon," puji Chika.
"Ah kamu ini terlalu berlebihan."
"Tidak, kak Ly. Memang kenyataannya begitu, kan? Selain itu, body kak Lily ini yang buat kak Leon betah memandang dan tentunya ehm ehm.."
"Apa tuh?"
"Kak Ly juga pasti paham lah maksud aku. Hehehe..."
Mereka menghiasi obrolan kecil dengan canda dan tawa. Tak jarang pula Chika menggoda Lily, menanyakan bagaimana rasanya saat berhubungan dengan Leon, dan lain sebagainya.
***
Keesokan harinya.
Leon, Lily, serta Chika tengah sarapan bersama. Chika tak henti-hentinya memuji masakan istri kakak sepupunya itu.
"Pantas saja kak Leon tergila-gila pada kak Ly, ternyata selain pandai memanjakan bawah perut, kak Ly juga pandai memanjakan isi perut kak Leon," ujar wanita itu.
"Oh tentu saja," sahut Leon.
Lily hanya tersenyum menanggapi pujian Chika. Sampai akhirnya ada seseorang yang mengetuk pintu rumah mereka.
"Siapa yang bertamu sepagi ini? Tidak sopan sekali..! gerutu Chika.
"Kalau begitu aku bukakan pintunya dulu, ya, siapa tahu penting," pamit Lily, ia hendak beranjak dari kursi makan tetapi segera di cegah oleh Chika.
"Kak Ly di sini saja, biar aku yang ke depan bukakan pintunya."
"Tidak perlu, kamu sarapan aja."
"Tidak apa-apa, kak Ly. Biar aku saja, ya. Kak Ly temani kak Leon sarapan saja. Ok?!"
Chika pun beranjak dari sana bergegas untuk membukakan pintu. Begitu di buka, muncul sosok pria tampan di baliknya yang membuat Chika terpesona.
"Selamat pagi.. Tuan Leon nya ada?" tanya pria itu yang tak lain adalah Drew.
Chika terpaku pada ketampanan pria di hadapannya. Bibirnya mengembangkan senyum dan matanya sama sekali tidak berkedip.
Drew memetik jari di depan wajah Chika menyadarkan wanita itu.
__ADS_1
"I-iya a-ada. Tunggu sebentar, ya..!" jawab Chika dengan terbata.
"Baik."
"Duduk dulu, duduk dulu. Aku panggilkan kak Leon. Sebentar, ya..!"
Drew pun menganggukan kepalanya. Sementara Chika dengan cepat memberi tahu Leon.
"Kak.. kak Leon.." panggil Chika membuat Leon dan Lily sedikit panik begitu Chika teriak-teriak memanggil.
"Ada apa?" tanya Leon.
"Itu.. Di depan ada tamu istimewa," ujar Chika.
"Tamu istimewa?"
"Iya," jawab Chika membenarkan.
"Siapa?"
"Iihh.. Tamu istimewa. Tampan, mempesona, pokoknya istimewa. Ayo cepat temui, kasihan dia menunggu lama," Chika menarik tangan Leon untuk segera beranjak dari sana.
Begitu sampai di ruang tamu, sekarang Leon paham siapa tamu yang di maksud Chika.
"Ya sudah kau pergi temani istriku sarapan," usir Leon.
"Aku temani kak Leon saja ya di sini," jawab Chika dengan pandangan tertuju pada Drew.
"Hah, serius?"
"Hm, cepat sana pergi..!"
Chika pun akhirnya pergi melipir kembali ke ruang makan dengan perasaan kecewa. Baru kali ini ia tertarik dengan pria dalam pandangan pertama, tapi sayangnya itu calon suami orang.
"Ada apa, Drew?" tanya Leon begitu sudah duduk.
"Hari ini aku minta cuti, tuan. Sebab ibuku sedang sakit dan sepertinya harus di bawa ke rumah sakit," ucap Drew meminta izin.
"Oh, ya sudah. Tidak apa-apa."
"Terima kasih, tuan. Hanya itu yang saya sampaikan, kalau begitu saya pamit permisi."
"Ok, silahkan. Salam untuk ibumu, semoga cepat sembuh. Nanti aku tranfer ke rekeningku untuk tambahan biaya rumah sakit," ucap Leon.
" Iya, tuan. Terima kasih banyak," ucap Drew.
"Sama-sama," balas Leon.
***
Di tempat kediaman pak Tio.
__ADS_1
"Ibu masih gak nyangka kalau Hiko berbuat seperti itu pada Lily, ayah," ujar Bu Hesti saat mereka tengah duduk di ruang tengah rumah.
"Ayah juga. Dia memang baik, tapi di balik kebaikannya ternyata ada sesuatu."
"Mungkin karena dia terlalu kecewa, sebab memendam perasaan selama ini pada Lily. Dan begitu ia kembali, ternyata Lily sudah menikah, terlebih saat ia tahu asal mula terjadinya pernikahan Lily dengan nak Leon," lanjut Bu Hesti.
"Iya, Bu. Tapi jika Hiko itu benar-benar baik, seharusnya dia tidak sampai melakukan hal itu. Seharusnya dia menghormati Leon sebagai suami Lily. Bukannya malah menjelek-jelekan sampai bilang Leon tidak pantas untuk Lily dan dia yang lebih pantas untuk menjadi suaminya," tutur pak Tio.
"Iya, ayah."
"Kalau anak itu datang lagi ke sini, jangan pernah bukakan pintu untuknya. Dia benar-benar sudah buat ayah marah," pesan pak Tio.
"Iya, ayah. Kalau begitu, minum lagi kopinya, udah hampir jam tujuh, ayah gak mau kerja?"
Pak Tio pun meneguk kopinya sampai tandas, setelah itu berpamitan pada istrinya untuk bekerja.
"Hati-hati, yah..!" teriak Bu Hesti begitu suaminya sudah menyalakan motor.
Bu Hesti kembali menutup pintu rumahnya, setelah itu membereskan cangkir dan piring bekas singkong goreng di meja.
Di tempat lain, seorang wanita tidak sengaja bertabrakan dengan pria yang berjalan tergesa-gesa di sebuah kafe.
"Maaf," ucap pria itu kemudian berlalu.
Wanita itu tidak terima pria barusan pergi begitu saja. Kelihatannya, pria itu seperti banyak masalah, ia mengejar langkah pria tersebut sampai ke mobil.
"Hei.. Tunggu..!" teriaknya, lalu menghalangi pria tersebut ketika hendak masuk ke dalam mobil.
"Menyingkirkan..! Aku tidak ada waktu untuk hal yang tidak penting," ujar pria itu.
"Apa? Tidak penting? Hei, baru saja kau menabrakku dan kau harus tanggung jawab."
"Lalu apa maumu sekarang? Uang?" Pria itu merogoh dompet di saku celananya, tetapi segera di cegah oleh wanita di hadapannya.
"Tidak, simpan saja uangmu. Lagipula, aku hanya bercanda. Kenapa kau menanggapinya terlalu serius. Aku pikir, kau banyak masalah," tebak wanita itu.
"Bukan urusanmu!" Pria itu menggeser wanita yang berdiri di depan pintu mobilnya, tapi lagi-lagi ia di halangi untuk masuk.
"Kau bisa ceritakan apa masalahmu padaku, supaya beban pikiranny sedikit berkurang. Tidak usah takut ataupun khawatir, aku akan membantumu jika aku mampu," tawar wanita itu.
Pria itu menatap wanita di hadapannya dengan tatapan memicing. Sebenarnya siapa wanita itu, kenapa dia begitu tertarik dengan masalahnya.
Wanita itu mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, namaku Ava," ucapnya dengan senyum yang mengembang sempurna.
Pria itu pun menjabat tangan wanita di hadapannya. "Hiko."
Bersambung...
...LIKE, KOMEN, VOTE VOTE VOTE. ...
...DAN HADIAH KOPI ...
__ADS_1