
Satu Minggu berlalu, itu artinya satu Minggu lagi Leon sudah bisa pulang. Urusan pekerjaannya berjalan dengan lancar. Dan sore ini pria itu baru saja selesai meeting dengan para petinggi perusahaan. Ia duduk di sofa yang ada di kamar Apartemen.
Leon menghembuskan napas sedikit kasar, ia merogoh ponselnya dari saku balik jas berniat menghubungi istrinya. Tetapi sebuah pesan masuk membuat tubuhnya seketika menegang.
08xxx:
Selamat siang, tuan Leon. Kami dari lapas XX ingin memberitahukan jika saudari Emely saat ini sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Medika.
Pesan tersebut di kirim sekitar tiga jam lalu. Ada beberapa panggilan tak terjawab juga di sana. Leon menggenggam ponselnya erat-erat seraya memejamkan matanya untuk beberapa saat.
"Ya Tuhan.. Mama sakit," gumamnya di serati hembusan napas kecil.
Leon bingung dengan situasi sekarang. Posisinya ia tidak meninggalkan urusannya. Tapi ia berjanji akan segera menjenguk sang mama begitu sudah kembali.
Leon mendial nomer sang istri, menempelkan benda pipih itu ke dekat telinganya.
"Halo, sayang..." ucap Leon begitu sambungannya terhubung.
"Iya, halo. Sudah selesai meeting ya?" tanya Lily dari sebrang sana.
"Sudah. Oh ya, sekarang kau dimana?"
"Aku baru saja akan mengabariku kalau sekarang aku sedang di Rumah Sakit," jawab Lily seketika membuat perasaan Leon tidak karuan.
"Di Rumah Sakit? Sedang apa? Kenapa kau tidak memberi tahuku sebelumnya? Apa yang terjadi denganmu, sayang?" cecar Leon dengan perasaan cemas.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Aku baru saja cek kandungan, sayang."
Leon menghela napas lega, ia pikir ia akan mengalami kejadian hal yang sama lagi seperti sebelumnya.
"Bagaimana hasilnya? Kandunganmu baik-baik saja, kan? Maaf ya aku tidak bisa menemanimu saat cek kandungan pertama," ucap Leon dengan perasaan penuh rasa bersalah.
"Iya, tidak apa-apa. Yang terpenting bayi yang ada di dalam kandunganku alhamdulillaah sehat."
"Syukurlah kalau begitu, aku ikut bahagia dengarnya. Oh ya, kau ke sana bersama siapa? Sendiri?"
"Aku sama ibu," jawab Lily.
"Rumah Sakit mana?"
"Medika."
"Hm, kenapa?"
Leon terdiam sejenak. Ia masih bingung harus mengatakan perihal sakit ibunya atau tidak pada Lily. Ia tidak ingin membuat istrinya kepikiran dan stress. Lebih baik tidak usah dulu dan tunggu sampai ia pulang.
"Tidak, tidak apa-apa."
"Ya sudah kalau begitu aku tutup teleponnya, ya. Aku harus ambil vitamin dulu sebelum pulang," pamit Lily.
"Iya, sayang. Hati-hati, ya. Sehat-sehat di sana," pesan Leon.
__ADS_1
"Iya, kau juga. Assalamu'alaikum.."
"Walaikumussalaam.."
Sambungan telepon pun di matikan. Leon terlihat berpikir sejenak. Kini ia tahu harus menghubungi siapa untuk mengecek mamanya yang sedang berada di Rumah Sakit.
***
Gadis cantik yang baru saja turun dari mobilnya segera pergi menuju kamar rawat inap atas nama Emely dengan langkah tergesa. Setelah di beri kabar oleh kakak sepupunya itu, Chika langsung pergi ke Rumah Sakit untuk mengecek keadaan Emely.
Sebelumnya, Leon sudah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi terkait kasus Xander dan Emely. Awalnya Chika terkejut lantaran sejauh ini kakak sepupunya baru cerita hal ini.
Begitu melihat ada dua polisi yang bertugas di depan kamar rawat inap, Chika langsung menghampiri ke sana. Sebab ia yakin jika itu pasti kamar rawat inap tantenya.
"Permisi, pak. Apa ini kamar rawat inap Tante Emely?" tanya Chika pada kedua polisi tersebut.
"Benar. Anda siapa?"
"Aku keluarganya," jawab Chika.
Kedua polisi itu saling memandang. Sebelumnya memang ada konfirmasi dari Leon jika akan ada sepupunya yang datang.
"Ya sudah, anda boleh masuk. Tapi tunggu, saudari Emely sedang dalam pemeriksaan Dokter," ujar polisi tersebut.
"Iya, terima kasih, pak."
__ADS_1
Chika duduk di deretan bangku besi yang ada di depan kamar rawat inap tersebut. Kemudian ia mengirimkan pesan pada kakak sepupunya jika ia sudah berada di sana.
Bersambung...