
Emely menangis sesenggukan dalam pelukan sang putra setelah ia di diagnosa sebagai penderita kanker serviks. Lily bisa melihat seberapa takutnya wanita paruh baya itu begitu mengetahui penyakitnya yang berbahaya.
Leon membiarkan mamanya menangis dalam pelukannya, dan setelah cukup lama ia mulai melepaskan pelukan tersebut secara perlahan.
"Ma ... Mama jangan takut, ya. Mama berdoa sama Tuhan agar di beri kesembuhan," tutur Leon.
Emely menggeleng hebat, ia tidak butuh motivasi dalam situasi seperti sekarang. Sebab ia tahu jika posisinya sebentar lagi akan menghadap kematian.
"Mama tidak mau mati, Leon. MAMA TIDAK MAU MATIII ....!!!" teriaknya histeris.
Leon kembali memeluk mamanya cukup erat, berusaha menyalurkan kekuatan. Tetapi mamanya kini meronta, Emely benar-benar ketakutan.
"Tidak, ma. Mama jangan berpikiran seperti itu. Mama pasti sembuh, mama pasti sehat seperti semula," ujar Leon berusaha menenangkan.
Wanita paruh baya itu terus saja histeris, Leon meminta Lily untuk memijat tombol darurat agar Dokter segera datang ke sana.
"Ma .. Mama tenang, ya ..!" ucap Lily ikut menenangkan mertuanya.
Tidak berapa lama, Dokter dan suster pun datang ke ruangan tersebut. Melihat kondisi pasiennya, Dokter meminta suster untuk mengambil suntikan dan memberinya obat penenang.
"Aku tidak mau mati ... Aku tidak mau mati ...!!" teriak Emely saat Dokter hendak menyuntikan penenang untuknya.
Usai di suntik obat penenang, Emely tidak lagi meronta. Wanita paruh baya itu langsung tertidur. Suster segera menyelimuti sekujur tubuh Emely sampai leher.
Sementara Leon dan Lily keluar, Leon menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada mamanya.
"Benar, ibu anda mengidap penyakit kanker serviks dan penyakit itu cukup berbahaya," kata Dokter menjelaskan.
"Lalu tindakan apa yang akan Dokter ambil?" tanya Leon.
__ADS_1
"Kami akan melakukan operasi. Tapi, sepertinya kecil kemungkinan untuk ibu Emely sembuh. Maka dari itu, pihak keluarga di harapkan banyak berdoa."
"Ya Allah ..." Lily membungkam mulutnya mendengar penjelasan Dokter.
Sementara Leon memegang kedua sisi kepalanya lalu mengusap wajahnya sedikit kasar.
"Separah itukah, Dok? Tapi selama ini mama saya tidak pernah mengeluh kesakitan atau coba periksa ke Dokter."
"Mungkin gejala yang di alami ibu anda tidak terlalu berat atau ibu Emely yang menganggap gejala yang timbul itu spele."
"Tapi tidak semua penderita kanker serviks itu meninggalkan, Dok?"
"Benar. Itu hanya prediksi kami, tapi urusan maut itu sudah menjadi urusan Tuhan. Maka dari itu saya menyarankan pihak keluarga untuk tidak putus berdoa untuk kesembuhan ibu Emely."
Leon bernapas sedikit lega. Ia berharap semoga ada keajaiban dan mama Emely bisa sembuh dan selamat.
***
"Ibu kenapa? Ayah perhatikan ibu itu gelisah sekali. Cerita sama ayah ada apa?" tanya serta pinta pak Tio.
Bu Hesti menghela napas sebelum akhirnya menceritakan hal yang ia khawatirkan.
"Begini, yah. Jadi, nak Leon itu pulang karena mamanya sakit. Makanya tadi nak Leon dan Lily itu pergi untuk jenguk. Tapi sampai sekarang mereka belum pulang juga," jelas Bu Hesti pada suaminya.
"Ya mungkin mereka sudah pulang ke rumahnya, Bu. Leon kan tinggal berjauhan sama Lily seminggu, ya bisa jadi mereka sedang melepas rindu di rumahnya sendiri," jawab pak Tio.
"Ayah ini, pikirannya kemana-mana."
"Kemana-mana gimana. Pikiran sama hati ayah ini tidak pernah kemana-mana. Meski raga ayah sedang dimana, tapi pikiran dan hati ayah tetap di rumah untuk ibu seorang," pak Tio mencubit ujung dagu Bu Hesti yang bulat.
__ADS_1
"Iiihhh... Apa sih ayah ini. Orang lagi ngomong serius malah godain ibu..!"
"Biarin lah, sekali-kali. Kan godain istri sendiri, kalau ayah godain istri orang, baru gak boleh."
"Awas saja kalau berani godain perempuan lain selain ibu, ayah tidur di teras dan puasa empat puluh hari empat puluh malam..!" ancam Bu Hesti sembari beranjak dari sana.
"Iyaaaa..."
Pak Tio terkekeh melihat istrinya yang kesal terhadap dirinya. Meski usia sudah tidak lagi muda, tetapi rumah tangga mereka selalu di bumbui oleh racikan yang membuat rumah tangga tidak hambar.
***
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un ..." ucap seorang polisi begitu melihat salah seorang terpidana meninggal akibat adu jotos dengan napi yang lain.
"Kita harus segera hubungi keluarganya," usul polisi yang lain.
"Tapi semenjak kejadian keributan kemarin, pihak keluarganya sulit sekali untuk di hubungi. Bahkan saat pihak kita memintanya untuk datang, sampai saat ini tidak ada satupun yang datang," sahut polisi pertama.
"Tapi kita harus tetap menghubungi keluarganya. Terserah mereka mau datang atau tidak, yang terpenting pihak kita tidak di salahkan."
"Iya. Kalau begitu segera hubungi keluarganya..!"
"Baik."
Dari kejauhan, lawan adu jotos napi yang meninggal itu tersenyum penuh kemenangan. Lantaran orang yang selalu saja memancing keributan itu kini sudah tidak ada lagi di bumi ini.
"Makanya, jangan pernah memancing amarahku Xander Bagaskara," ujarnya disertai dengan senyum yang mengerikan.
Bersambung...
__ADS_1