
Kini Leon dan Lily sudah dalam perjalanan pulang. Leon senang mendengar ungkapan rasa sayang Lily terhadapnya. Sepanjang perjalanan, ia tak henti mengembangkan senyum yang membuat Lily merasa malu sendiri.
"Oh, ya, bagaimana nasibmu jika pada saat itu aku tidak datang menyelamatkanmu," ujar Leon tiba-tiba dan kembali membahas awal pertemuan mereka.
"Kenapa membahas hal itu lagi, sih?"
"Kau kan yang mulai tadi," sahut Leon.
"Tapi ya sudahlah, jangan di bahas lagi. Aku tidak sanggup membayangkannya jika aku benar di terkam oleh pria tua itu," Lily bergidik jika teringat akan kejadian itu.
"Tapi kenapa kau mau jika aku yang terkam?"
"Itu karena kau tidak memberiku peluang untuk kabur. Andai saja aku bisa kabur, aku pun tidak mungkin mau memenuhi syaratmu itu."
"Jika aku memberimu celah, maka sampai sekarang aku tidak akan pernah memiliki kesempatan sebuah takdir baik, yaitu kau," balas Leon.
Lily tersenyum. "Sekarang aku percaya, jika bersama orang yang tepat di waktu yang salah itu memang benar adanya."
Leon menatap istrinya seraya tersenyum, sebelum akhirnya kembali menatap lurus ke depan pada jalan.
***
Drew membaringkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidur di Apartemen. Kedua matanya menatap langit-langit kosong. Bibirnya mengulas senyum begitu wajah gadis yang ia temui di rumah tuannya melintas dalam pikiran.
Seketika dirinya tersadar dan langsung menepis pikiran tersebut.
"Tidak, aku tidak boleh memikirkan wanita. Aku harus fokus pada pekerjaanku baru menata masa depan," ujarnya.
Drew bangun dan meraih segelas air putih di nakas, ia meneguknya sampai habis. Berulang kali ia menepis wajah gadis dalam pikirannya, tetapi senyum itu terus muncul seakan menghantui.
Drew memejamkan mata, tapi justru wajah dan senyuman itu seakan terlihat jelas. Ia kembali buka kedua matanya dan mengambil ponsel yang tergelatak di atas meja sofa untuk mengalihkan perhatian.
Ada notifikasi pesan masuk di layar ponselnya, begitu ia buka berasal dari nomer yang tidak ia kenal.
08xxx:
Hai..
Sebuah kata singkat yang membuat Drew mengernyitkan dahinya.
"Nomer siapa ini?" pikirnya.
"Tidak penting..!" ujarnya lagi.
Begitu akan membuka aplikasi tempat ia sering menonton video, pesan yang berasal dari nomer yang sama kembali masuk ke dalam ponselnya.
08xxx:
Turut berduka cita atas gagalnya pernikahanmu.
Lagi-lagi Drew di buat terheran oleh pesan tersebut. Mungkin itu pesan nyasar yang kebetulan masuk ke nomer hp nya. Sebab setahu dia, dia tidak pernah menyebarkan nomernya pada siapapun.
Pesan itu kembali masuk ke ponselnya, dan sekarang Drew semakin di buat terheran sekaligus penasaran.
08xxx:
__ADS_1
Semoga aku bisa menggantikan calon istrimu itu.
"Calon istri? Pernikahan?" pikir Drew.
Tiba-tiba saja ia teringat akan ucapannya tuannya yang mengatakan jika ia sudah punya calon istri.
"Apakah dia..-" Drew mencoba menerka-nerka, dan saat itu juga pesan singkat kembali muncul di room chat-nya.
08xxx:
Aku Chika, adik sepupu kak Leon.
Drew membulatkan matanya, tangannya sedikit bergetar memegang ponsel usai membaca pesan terakhir. Baru saja ia berniat mengalihkan perhatian dari wajah dan senyum yang menghantuinya, tetapi justru gadis itu malah benar-benar hadir dalam kehidupannya.
Drew tidak tahu harus senang atau apa. Yang pasti, detak jantungnya kini berdegup kencang tidak normal.
Sementara di tempat lain, Chika tengah senyum-senyum sendiri dan tak sabar menunggu balasan chat dari sang pujaan hati. Pria itu benar-benar berhasil membuatnya membuat keputusan untuk tidak kembali lagi ke Prancis.
"Entah sejak kapan aku bisa tertarik dengan laki-laki secepat ini?" gumamnya.
Chika mendekap ponselnya di dada, sudah hampir lima belas menit tetapi pesan tak kunjung mendapat balasan. Padahal centang dua sudah berubah warna menjadi biru. Apakah pria itu memang tidak mudah membalas pesan chat dari orang asing.
"Baiklah kalau kau tidak mau juga membalas chat-ku. Aku akan video call saja," ujar Chika.
Gadis itu membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan, juga membenarkan piyama tidurnya yang berwarna merah muda itu.
Tanpa menunggu lama lagi, Chika tekan ikon video call yang terdapat di layar room chat. Dari layar hp memantulkan dirinya, sepertinya ia sudah terlihat cantik.
Video call pertama tidak di jawab, tetapi hal tersebut tidak membuat Chika menyerah. Chika akan terus berusaha sampai Drew mengangkat video call-nya.
"Tidak, aku tidak boleh mengangkat video call-nya. Sebaiknya aku reject saja."
Drew mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, bukannya menekan tombol merah, ia justru malah menekan tombol hijau yang membuat panggilan pun terhubung.
Drew memejamkan mata merasa sudah aman.
"Hai.. Selamat malam.."
Mendengar sapaan tersebut membuat Drew terkejut bukan main, ia buka kedua matanya dan di lihatnya layar ponsel yang menampilkan gambar seorang gadis dengan piyama yang seksi. Apalagi senyuman yang merekah itu berhasil menghipnotis dirinya.
Drew menggerakan mulutnya tetapi sulit untuk bicara. Akhirnya ia tekan tombol merah untuk mematikan panggilan.
"Kontrol dirimu, Drew. Kendalikan dirimu," ucap pria itu seraya mengatur deru napasnya yang mulai terdengar memburu.
Di kamar Chika, gadis itu tampak kesal lantaran Drew malah mematikan sambungan video call-nya. Padahal baru saja ia senang lantaran bisa melihat wajah tampan pria itu.
"Ya Tuhan.. Tampan sekali dia.."
Chika memeluk ponselnya di dada. Mulai sekarang ia bertekad untuk mendapatkan pria itu apapun caranya. Yang terpenting Drew luluh dan jatuh ke dalam dekapannya.
"Mulai malam ini aku putuskan untuk kembali tinggal di Tanah Air. Aku tidak akan kembali lagi ke Prancis. Kecuali, aku pergi ke sana untuk bulan madu dengannya," ujarnya.
Chika memejamkan mata membayangkan jika ia benar bisa mendapatkan Drew sampai menikah dan bulan madu. Ah rasanya pasti akan senang sekali.
Sebelum tidur, Chika mengetikan pesan untuk kakak iparnya.
__ADS_1
Chika Gemoy:
Terima kasih kak Leon sudah memberiku nomer telepon-nya. Baru saja kami vc-an.
Leon senyum-senyum membaca pesan singkat dari adik sepupunya itu.
"Cepat sekali dia pergerakannya," ujar Leon.
Lily yang melihat suaminya senyum-senyum sendiri tentunya merasa penasaran.
"Ada apa? Apa ada hal yang lebih menarik daripada aku?" tanya Lily merasa di abaikan.
"Tentu tidak, sayang. Ini aku dapat chat dari si Gemoy, katanya dia baru saja vc dengan Drew," jawab Leon tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.
"Chika dengan Drew?" Lily sedikit bingung.
"Hm, Lily sedang kasmaran dengan Drew. Sampai berhasil vc-an dengan kanebo kering."
Lily di buat semakin bingung oleh kalimat suaminya. "Maksudmu Drew mau cuci mobil?"
Leon melirik ke arah istrinya. "Bukan begitu, sayang. Jadi, kanebo kering itu sebuatan dariku untuk Drew. Sebab Drew ini tipe pria yang kaku, seperti kanebo kering," jelas Leon.
"Ooohhh..." Lily mengangguk-anggukan kepalanya paham akan maksud Leon.
"Kau punya panggilan sayang untuk mereka, si Gemoy dan Kanebo kering. Tapi kau tidak punya panggilan sayang untukku," kata Lily sedikit iri.
Leon menaruh ponselnya di atas nakas dan menatap istrinya cukup lekat.
"Ok, aku kasih panggilan sayang untukmu."
"Apa?" tanya Lily tidak sabar.
"Tukang Cubit," katanya sembari menyentuh ujung batang hidung Lily.
Saat itu juga Lily mencubit pinggang Leon. "Iiihh.. Kok tukang Cubit, sih..?!"
"Tuh kan, memang beneran tukang Cubit kau ini," kata Leon.
Lily kembali mencubit pinggang suaminya sampai terdengar teriakan-teriakan menggelikan di dalam kamar.
"Aaaww.. Geliii.. sayaaang.."
Lagi-lagi harus bi Ratih. Bi Ratih yang tidak sengaja melintas kamar mereka mendengar teriak-teriakan dari dalam kamar yang setengah terbuka.
"Eh, nyonya teh lagi ngapain tuan Leon ya. Sampai tuan teriak-teriak kegelian," pikirnya.
Bi Ratih membungkam mulutnya sembari menahan tawa.
"Mungkin nyonya teh lagi mainin sosis tuan kali, ya. Waduh, galak juga nyonya teh ternyata. Hihihi..."
Bersambung...
...LIKE, KOMEN, VOTE VOTE VOTE. ...
...Tekan LOVE untuk tambah ke rak favorit. ...
__ADS_1
...Dan jangan lupa untuk HADIAH KOPI...