
Chika merasa sedikit kecewa lantaran malam itu Drew tidak jadi mengajaknya pergi ke rumah sang calon mertua. Padahal malam itu ia sudah dandan seanggun dan elegan mungkin. Tapi tidak apa-apa, itu tidak membuatnya berkecil hati.
"Drew sedang apa, ya?" pikirnya.
Chika mengambil ponselnya yang tidak jauh dari jangkauan tangan. Ia membenarkan posisi tidurnya ke posisi yang lebih nyaman. Setelah itu ia mulai mengetikan chat lalu di kirim pada Drew.
Di tempat lain, Drew baru saja selesai mandi dan mengganti pakaian. Ia hendak duduk santai di sofa yang terdapat di kamarnya. Tetapi bunyi notifikasi membuatnya harus melangkah ke arah nakas yang berada di samping ranjang tempat tidur.
Chika:
Hai..
Drew mengulas senyum usai membaca pesan singkat tersebut, ia segera mengetikan balasan lalu duduk di tepi ranjang sambil menunggu balasan chat selanjutnya.
Ting..
Ponselnya kembali mengeluarkan bunyi notifikasi, buru-buru ia lihat layar ponselnya.
Chika:
Aku baru selesai maskeran. Kau sedang ada?
Drew:
Oh.. Aku baru selesai mandi.
Chika:
Kok gak ajakin aku?
Drew:
Hah???
Drew menelan salivanya dengan susah payah begitu membaca balasan chat dari Chika. Seketika pikirannya traveling kemana-mana sampai negara Jepang.
Suara notifikasi pesan lagi membuyarkan pikiran Drew.
Chika:
Aku hanya bercanda [Emoticon Nyengir]
Drew menghela napasnya lega, ia pikir Chika ini serius.
Drew:
Sudah makan?
__ADS_1
Chika:
Belum.
Drew:
Kenapa?
Chika:
Belum lima kali [Emoticon Nyengir lagi]
Drew tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Pantas saja Chika ini memiliki tubuh berisi, rupanya dia memang doyan makan. Meski demikian, berisi di sini bukan berarti menggambarkan Chika ini gemuk, tapi lebih
ke monntok dan semmox.
Drew:
Kenapa belum tidur? Ini sudah malam.
Lima menit kemudian, Chika tidak lagi membalas pesannya. Tapi ia lihat Chika masih online.
Drew:
Kok tidak di balas?
Chika:
Drew terkekeh, ternyata Chika ini gadis yang menyenangkan. Chating mereka berlanjut hingga larut malam, dan Drew pamit untuk tidur lebih dulu sebab keesokan harinya ada meeting dengan klien penting.
***
Pagi harinya, Lily tidak kunjung mendapati suaminya ke ruang makan. Biasanya, begitu ia selesai membuat menu sarapan pria itu sudah muncul. Tapi sekarang belum kunjung menampakan batang hidungnya.
"Kok Leon belum keluar kamar juga? Apa dia masih memakai pakaian?" pikir Lily.
Sepuluh menit berlalu, Leon belum juga datang ke ruang makan untuk sarapan. Akhirnya Lily memutuskan untuk mengecek ke ke kamar.
Begitu sampai di kamar, ia mendapati suaminya masih terbaring di atas tempat tidur.
"Leon, kau belum bangun?"
Lily berjalan menuju tempat tidur, lalu ia duduk di tepi ranjang. Lily mendapati wajah Leon yang tampak sedikit pucat, ia cemas di buatnya.
Lily menempelkan punggung tangannya ke dahi Leon, suhu tubuh Leon panas sekali. Lily semakin khawatir dan cemas.
"Ya Tuhan, Leon.. Kau demam.."
__ADS_1
Kecemasan Lily kian menjadi, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang. Ia bergegas pergi mengambil kompresan. Ia kembali dengan langkah terburu-buru.
Lily memasukan handuk kecil ke dalam air di mangkuk, lalu di tempelkan ke dahi Leon usai memerasnya.
"Semoga panasnya cepat turun, ya..!" harap Lily di antara kekhawatirannya.
Tidak sampai satu menit, handuk itu sudah kering. Lily kembali melakukan hal yang sama berulang kali dan berharap agar suhu tubuh Leon kembali normal.
"Sayang.." panggil Leon lirih, namun cukup terdengar jelas oleh Lily.
"Iya, Leon. Aku di sini," sahut Lily.
Leon membuka matanya perlahan, sampai ia bisa melihat dengan jelas wajah istrinya yang terbalut rasa khawatir akan dirinya.
"Aku baik-baik saja," ucap pria itu dengan senyum yang mengulas bibir pucatnya.
"Baik-baik saja bagaimana, Leon? Kau demam. Aku cemas."
Leon berusaha untuk bangun, Lily segera membantu pria itu dan menumpuk beberapa bantal untuk di jadikan sandaran.
"Terima kasih, sayang," ucap Leon.
"Iya. Kalau panasnya tidak turun juga, kita ke rumah sakit, ya?!"
Leon menggeleng. "Tidak perlu. Aku baik-baik saja."
"Tapi, Leon-"
"Selama kau ada untukku, aku akan merasa jika aku baik-baik saja."
Lily menghela napas panjang. Jujur ia sangat khawatir dengan keadaan Leon, tapi Leon masih bisa mengatakan dirinya baik-baik saja.
"Kalau begitu aku ambilkan sarapan untukmu, ya. Tunggu sebentar!"
Lily beranjak dari sana dan kembali dengan membawakan roti sandwich.
"Kalau kau mau bubur, aku bisa buatkan."
"Aku tidak sakit, sayang. Mungkin aku hanya kelelahan," jawab pria itu.
"Ya sudah, kalau begitu makan dulu sandwich nya, ya!"
Leon mengangguk menurut. Lily membantu suaminya makan roti sandwich tersebut. Sementara Leon tak henti-hentinya menatap kedua manik mata indah istrinya dengan ulasan senyum. Ia beruntung memiliki istri yang mau merawatnya ketika dalam kondisi kurang baik seperti sekarang.
Bersambung...
...SUKA, KOMEN, HADIAH, VOTE. ...
__ADS_1