MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
Keguguran


__ADS_3

Leon melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan ia sampai menerobos lampu merah saking buru-burunya. Bukannya mempersingkat waktu, justru ia sekarang harus berhadapan dengan polisi yang mengerjarnya.


"Mama saya kecelakaan, istri saya pendarahan. Aku tidak punya waktu untuk menunggu lampu sampai hijau!" seru Leon, ia tidak terima dengan dua polisi yang menyalahkan dirinya.


"Tapi anda sudah melanggar peraturan lalu lintas," sahut polisi.


"Iya, aku tahu aku salah. Sekarang apa yang kalian inginkan? Uang?"


Leon merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet. Ia menarik salah satu tangan polisi, menaruh uang tersebut ke atas telapak tangan.


"Apa ini maksudnya?"


"Maaf, aku tidak punya waktu lama. Ada dua orang yang sedang meregang nyawa, aku harus buru-buru pergi," Leon masuk lagi ke dalam mobilnya.


Kedua polisi itu segera mencatat plat nomer mobil Leon, agar mereka bisa memanggil pria itu langsung ke kantor polisi.


Di depan, ada sebuah pertigaan. Arah kiri menuju rumah sakit tempat mamanya kini di tangani Dokter, arah kanan menuju rumahnya. Leon harus segera memutuskan mana yang lebih dulu ia temui.


Setelah beberapa saat berpikir, ia membelokan mobilnya ke arah kanan. Lily lebih membutuhkan pertolongannya.


Sepuluh menit kemudian, ia sampai di pelataran rumah. Ia keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah dengan langkah tergesa. Sayup-sayup ia mendengar tangisan bu Hesti dari arah dapur.


Begitu ia datang, ia di suguhkan oleh pemandangan buruk. Lily terkapar di pangkuan bu Hesti dengan darah yang sudah mengalir di lantai. Wajah Lily tampak pucat seakan darah telah habis.


"Ya Tuhan, Lily.." ucap Leon lirih, ia langsung lari dan menghampiri istri dan mertunya.


"Lily.." Leon mengambil alih Lily dari pangkuan bu Hesti, ia membopong tubuh wanita itu berniat untuk membawanya ke rumah sakit.


"Nak Leon, tolong segera bawa Lily ke rumah sakit, nak," pinta bu Hesti di antara isak tangisnya.


"Baik, bu. Aku minta tolong pada ibu untuk ambilkan beberapa pakaian Lily, kamar kami sebelah sana," pinta Leon di angguki oleh bu Hesti.


Leon berjalan menuju mobilnya dengan tergesa-gesa, meski tubuh Lily lumayan berat. Ia memasukan Lily ke bagian jok belakang, kemudian menunggu bu Hesti agar wanita paruh itu yang menjaga Lily di belakang.


"Sudah, bu?" tanya Leon begitu bu Hesti lari ke arahnya.


"Sudah," jawab bu Hesti, beliau membawa beberapa pakaian Lily tanpa wadah saking paniknya.


Bu Hesti pun masuk ke dalam mobil, ia meletakan kepala Lily di pangkuannya. Leon juga kini sudah masuk ke mobil tersebut, tanpa membuang waktu lama ia langsung menancap gas.


Sampai di rumah sakit, suster dan perawat rumah tersebut segera membawakan brangkar pasien. Lily langsung di bawa ke ruang UGD untuk di tangani Dokter. Ia dan bu Hesti berharap agar Lily baik-baik saja begipula dengan janinnya.


Setelah beberapa saat menunggu, seorang Dokter wanita keluar dari ruangan tersebut. Leon langsung bangkit berdiri dari deretan bangku besi yang tersedia di depan ruangan.


"Dok, bagaimana kondisi janin dan istriku? Apa keduanya baik-baik saja?" cecar Leon tak sabar menunggu jawaban Dokter, bahkan saking lamanya ia ingin sekali memaki Dokter tersebut.


"Tenang dulu, tuan. Kami minta maaf karena janin yang ada di dalam rahim istri anda tidak bisa di selamatkan," terang Dokter.


"Innalilahi.." ucap bu Hesti.

__ADS_1


"Sepertinya istri anda mengalami benturan yang cukup keras, sehingga membuatnya keguguran," sambung Dokter.


"Tapi istriku baik-baik saja kan, Dok?"


"Istri anda kehilangan banyak darah. Sehingga membutuhkan banyak darah saat ini. Saya akan meminta suster untuk memeriksa stok darah yang cocok dengan golongan darah beliau."


"Selain itu, istri anda juga harus melalui tahap pembersihan rahimnya. Karena jika tidak di bersihkan akan berakibat buruk juga pada beliau," imbuh Dokter.


"Lakukan yang terbaik untuk istriku, Dok!" pinta Leon.


"Baik, kami selalu memberi yang terbaik untuk pasien-pasien kami," jawab Dokter itu.


Sambil menunggu kondisi Lili selanjutnya, Leon memutuskan untuk memeriksa keadaan mamanya yang kebetulan di larikan ke rumah sakit yang sama. Tapi sebelum itu, ia menanyakan penyebab keguguran Lily pada ibu mertuanya.


"Memangnya apa yang terjadi sampai Lily bisa keguguran, bu?"


Bu Hesti mengusap air matanya yang tak kunjung surut, ia berusaha mengontrol diri agar bisa menjelaskan yang terjadi pada menantunya.


"Ibu juga tidak tahu pasti, nak Leon. Tadi ibu di antar ayah ke rumah nak Leon, karena ibu kangen dengan Lily. Tapi pada saat ibu ketuk-ketuk pintu dan mengucap salam, tidak ada sahutan. Terus ibu dengar suara rintihan Lily dari dalam, ibu langsung masuk dan menemukan Lily sudah terkapar di lantai mengalami pendarahan," jelas Bu Hesti.


Leon mengerutkan keningnya terheran. "Apa ada sesuatu yang menyebabkan Lily bisa terjatuh, atau terbentur seperti yang Dokter katakan?"


"Iya kalau itu ibu sempat berpikir jika Lily sepertinya terpeleset. Karena ada banyak minyak di lantai, dan kemungkinan perut Lily membentur meja makan."


Leon diam sejenak, dalam kepalanya sibuk memikirkan banyak hal.


"Ya sudah kalau begitu ibu tunggu dulu di sini, aku mau ngecek keadaan mamaku yang kebetulan di larikan ke rumah sakit ini," pamit Leon.


"Mama kecelakaan, bu."


"Innalilahi.. Ya Allah.."


"Aku pamit sebentar, ya."


"Iya, nak, iya."


Bu Hesti membungkam mulutnya mendengar dua kabar buruk sekaligus.


"Nak Leon pasti hancur sekali hatinya," gumam wanita paruh baya itu.


Leon menelepon supir pribadi mamanya yang tadi memberinya kabar kecelakaan. Kata sopir itu, mamanya sudah bisa di pindahkan ke ruang VVIP lantaran lukanya tidak begitu serius.


Leon masuk ke ruangan yang supir pribadinya beri tahu barusan. Ia mendapati mamanya terbaring sendiri dengan perban di bagian kening dan juga tangannya.


"Mama.." Leon melangkah ke arah ranjang pasien dengan perasaan cemas.


"Leon.." ucap wanita itu lirih, ia merasa senang putranya datang menengok.


"Mama pikir kau tidak akan kemari," ujar wanita itu.

__ADS_1


"Kenapa bisa kecelakaan?" tanya Leon.


Emely terdengar menghela napas, sebelum kemudian menjelaskan yang terjadi pada putranya.


"Ada pengendara motor yang nabrak ketika mama buka pintu mobil," jelasnya.


"Jadi siapa yang salah?"


"Pengendara motor itu lah, masa mama? Harusnya dia lihat kalau mama akan keluar dari mobil," seru wanita itu.


"Mama lagi berhenti di bahu jalan?"


"Iya."


"Sebelah mana?" tanya Leon menyelidik.


"Kiri," jawab Emely.


Leon menghembuskan napas. Dari awal mamanya cerita memang sepertinya ada yang salah.


"Itu berarti mama yang salah."


Emely tidak terima Leon ikut menyalahkan dirinya. "Pengendara motor itu yang salah!" ujar Emely ngotot.


"Mama berhenti di sebelah kiri, sementara mama keluar dari pintu bagian kemudi sebelah kanan. Harusnya mama lihat apakah ada kendaraan di belakang sebelum turun!"


"Kenapa kau ikut menyalahkan mama! Sudah jelas-jelas pengendara itu yang salah. Kau hanya datang untuk menyalahkan mama, sebaiknya kau pergi saja!" usir Emely, ia tidak terima Leon ikut menyudutkan dirinya.


"Harusnya mama senang aku ada di sini. Aku meluangkan waktu untuk orang yang tidak bisa meluangkan waktunya untukku. Sekarang aku tanya, dimana papa saat mama terbaring di rumah sakit sekarang?"


Emely bergeming.


"Papa pasti menggunakan senjata sibuk sebagai alasannya," imbuh Leon.


"Papamu mungkin lagi di jalan, papa pasti datang untuk lihat kondisi mama," sahut Emely.


"Mama lihat saja, apa papa akan datang?"


"Dalam keadaan mama seperti sekarang, harusnya mama sadar, siapa yang ada untuk mama. Aku atau papa?" sambung Leon.


"Cukup, Leon. Jangan bikin mama tambah pusing. Lebih baik kau keluar saja, mama ingin beritirahat!" usir Emely lagi.


"Ok, aku pergi," pamit Leon meninggalkan mamanya yang terbaring di sana.


Leon menutup pintu ruangan tersebut, di sana ada supir pribadi mamanya yang tengah menunggu.


"Kalau ada apa-apa hubungi aku lagi!" pesan Leon pada supir tersebut sebelum akhirnya ia pergi ke tempat dimana Lily berada.


Bersambung...

__ADS_1


...Jangan Lupa Tekan Love agar di tambahkan ke rak Favorit, biar nanti pas aku publish bab selanjutnya kalian dapet notifikasi. ...


__ADS_2