
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah lebih baik dari sebelumnya?" tanya Chika saat sedang makan siang bersama Drew.
"Alhamdulillaah... Aku sudah berusaha untuk ikhlas sekarang. Bukankah kau juga yang bilang kalau kita tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan?"
Chika mengulas senyum tipis. "Iya. Dengan begitu, ibumu pasti akan tenang di surga-Nya."
Chika menyeruput minuman miliknya menggunakan sedotan. Ia senang akhirnya Drew tidak lagi kelihatan murung seperti sebelumnya. Syukurlah jika pria itu sudah bisa ikhlas atas kepergian sang ibunda tercintanya.
"Tapi sayang juga, sih. Aku belum sempat berkenalan langsung dengan ibumu," ucap Chika setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Ibuku sudah mengenalmu," jawab Drew.
"Hah, maksudmu?" Chika bertanya balik.
"Meski kau belum sempat berkenalan dengan ibuku, tapi aku sudah mengenalkan aku padanya," jawab Drew membuat Chika terkejut mendengarnya.
"Sungguh?"
"Iya."
"Kok bisa?" tanya Chika penasaran.
Drew menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan.
"Jadi beberapa hari sebelum meninggal, ibuku sempat bertanya apakah aku sudah memiliki calon atau belum. Ibuku sangat berharap bisa hadir dalam pernikahan aku. Di sana, aku kasih tahu saja namamu," terang Drew.
__ADS_1
"Benarkah? Jadi aku ini kau anggap calonmu?" tanya Chika dengan raut wajah senang.
Drew terdiam, tapi ulasan senyum dari bibir pria itu sudah menjadi jawaban untuk Chika.
***
Sementara di tempat lain, Yuna tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang yang baru saja keluar dari minimarket. Begitu di lihat, wajahnya seseorang itu mengingatkannya pada pria yang pernah ia temui bersama Lily di kafe.
"Lo..?" tanya mereka saling tunjuk.
"Eh Lo kan laki-laki yang gak tahu malu itu kan?" tanya Yuna dengan sewot.
"Hati-hati ya kalau bicara. Lo yang gak tahu malu, ikut campur urusan orang!"
"Nah itu, itu Lo gak tahu malu. Mau tahu aja urusan orang. Mending sekarang Lo pergi!" usir Hiko.
"Idih.. Emang gue mau pergi, siapa juga yang mau lama-lama berdiri di depan orang gak tahu malu kayak Lo. Minggir..!"
Yuna menggeser tubuh Hiko dari hadapannya, setelah itu pergi dari sana.
"Sakit tuh orang!" ujar Hiko bergidik sendiri.
Sementara di tempat lain, hari ini Leon sedang menemani istrinya jalan-jalan sambil mencari rujak. Sebab sejak tadi malam Lily ingin sekali makan rujak siang-siang seperti sekarang. Beruntungnya, tidak jauh dari rumah mereka terdapat tukang rujak.
"Enak rujaknya?" tanya Leon begitu melihat istrinya begitu semangat makan rujaknya.
__ADS_1
Leon jadi merinding sendiri membayangkan begitu asamnya mangga muda.
"Enak, mau coba?" tawar Lily.
"Tidak, kau saja. Kalau kurang aku pesankan lagi."
"Ini sudah cukup. Setelah ini aku ingin makan siomay, boleh tidak?" tanya Lily.
Leon mengangguk. "Iya, nanti kita cari, ya."
"Iya, terima kasih, ya. Maaf kalau aku merepotkanmu," ucap Lily.
Leon tersenyum seraya mengusap rambut istrinya. "Aku tidak merasa di repotkan, sayang. Selagi aku mampu, aku pasti akan mengabulkan apapun yang kau inginkan."
"Terima kasih."
"Sama-sama," jawab Leon.
Leon mengecup kening Lily, sebelum akhirnya wanita itu kembali memakan rujaknya.
Bersambung...
...Jangan lupa untuk dukungannya teman-teman. ...
...Selamat hari raya IDUL ADHA🤗...
__ADS_1