
Leon berusaha menenangkan mamanya di dalam pelukan. Wanita paruh baya itu terisak saat Leon mengatakan yang sejujurnya. Pahit, tapi itulah kenyataan.
"Kenapa tidak bilang dari awal, Leon? Kenapa? Kenapa malah sembunyikan hal ini dari mama? Seburuk apapun papamu, dia masih tetap suami mama," ucap Emely di antara Isak tangisnya.
Lily yang menyaksikan hal itu ikut merasa sedih. Meski ia tahu bagaimana kejamnya sikap papa mertuanya semasa hidupnya.
Leon menangkap kedua pipi mamanya. Ia menatap dalam kedua manik mata sang mama.
"Ma .. aku minta sama mama. Iya aku tahu aku salah karena sudah menyembunyikan sejauh ini tentang kepergian papa. Tapi saat itu waktunya tidak pas untuk aku ceritakan pada mama. Posisinya mama sedang tidak baik-baik saja, aku tidak ingin membuat keadaan mama semakin memburuk," jelas Leon.
Leon menghapus kedua air mata yang jatuh di kedua pipi mamanya.
"Sekarang mama tidak perlu menangisi papa lagi, ya. Kalau mama masih sayang sama papa, lebih baik mama do'akan saja. Papa lebih butuh itu di banding air mata mama," imbuh pria itu.
Emely menganggukan kepalanya. "Iya, Leon."
Leon menghela napas lega, akhirnya mamanya tidak lagi histeris seperti tadi. Yang sangat ia khawatirkan adalah luka bekas operasi. Meski mamanya sudah kelihatan sehat, tapi tidak tahu luka di dalam sudah pulih sepenuhnya atau belum.
Setelah melihat keadaan mamanya lebih baik dari sebelum ia datang, barulah Leon mengatakan maksud kedatangannya ke sana.
__ADS_1
Leon memberi sebuah isyarat agar Lily yang mulai bicara pada mamanya. Lily pun mengangguk paham akan maksud suaminya.
"Oh ya, ma. Aku datang ke sini karena ada sedikit rejeki makanan untuk mama." Lily memberikan rantang empat susun yang sedari tadi ia pegang dalam pangkuan ke mama mertuanya.
"Jadi hari ini aku sama keluarga istri aku ini sedang mengadakan acara syukuran empat bulanan kecil-kecilan, ma," tambah Leon.
Emely menerima rantang tersebut kemudian langsung membukanya satu persatu.
Ia mendongak seraya memberi senyum haru pada kedua orang yang saat ini ada di hadapannya. Terutama pada Lily.
"Jadi hari ini usia kehamilan menantu mama sudah empat bulan?" tanya wanita paruh baya itu membuat Lily dan Leon terkaget-kaget mendengarnya.
"I-iya, ma .." jawab Lily gugup.
Emely menaruh makanannya di meja, kemudian ia bangkit menghampiri Lily. Ia merentangkan kedua tangannya membuat Lily sedikit bertanya-tanya.
"Peluk mama, sayang ..." pinta Emely dengan sambutan senyum yang hangat.
Lily melirik ke arah suaminya, pria itu menganggukan kepala sebagai isyarat mengiyakan. Barulah Lily bangun dari duduknya, dan menerima pelukan sang mama mertua.
__ADS_1
Emely memeluk Lily begitu erat, ia menumpahkan tangis di bahu Lily begitu mengingat sikap dan perilaku buruknya selama ini.
"Maafkan mama ... Maafkan mama, sayang ..." ucap Emely seraya membelai lembut rambut Lily.
"Iya, ma. Tidak apa-apa. Aku tidak merasa di jahati oleh mama," balas Lily.
Bahagia rasanya melihat istri dan mamanya akur seperti ini. Ini merupakan harapan terbesar Leon. Semoga yang paling ia semogakan akhirnya Tuhan kabulkan. Tanpa sadar, setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Leon saking terharunya.
"Leonard Bagaskara putraku, kemari nak..!"
Emely melambaikan tangan agar Leon ikut bergabung dalam pelukan mereka. Dengan senang hati, Leon bangun dari duduknya kemudian mereka saling memeluk satu sama lain. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan.
"Maafkan mama, anakku ... Selama ini mama sudah menjadi ibu yang buruk bagimu. Ibu yang terobsesi oleh harta yang mencelakakan yang merenggut peran mama sebagai seorang ibu dari anaknya. Maafkan mama, sayang ... Maafkan mama ..." ucap Emely tiada henti merapalkan kata maaf.
Leon melepaskan pelukan mereka perlahan, lalu menatap kedua wanitanya secara bergantian.
"Aku menerima permintaan maaf mama. Sebab aku tidak butuh lagi masa lalu itu. Aku bangga, bahagia memiliki mama yang mau mengakui kesalahannya seperti sekarang. Dan tentunya itu tidak terlepas dari dukungan Lily serta campur tangan Tuhan."
"Terima kasih, Leon. Terima kasih sudah mau berlapang dada memaafkan mama. Terima kasih Lily. Terima kasih Allah ... Aku sangat bersyukur atas nikmatmu ..."
__ADS_1
Bersambung...