MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
Cerita Masa Ngidam Bu Hesti


__ADS_3

Tujuh hari sudah kepergian ibunda tercinta Drew, pria itu masih di selimuti oleh rasa sedih. Meski Chika terus berusaha membuat Drew keluar dari zona kesedihan, tapi tetap saja tidak mudah.


Akhirnya hari ini Drew memutuskan untuk kembali bekerja, setelah sebelumnya ia mengambil cuti dan Leon tidak mempermasalahkan hal itu. Setidaknya dengan bekerja, ia bisa sedikit saja fokus pada hal lain.


"Drew, nanti temani aku meeting dengan klien di perusahaan milik Cahya Gemilang, ya!" pinta Leon dari sambungan telepon.


Usai mengiyakan, sambungan telepon pun di matikan. Drew kembali fokus pada layar laptop di atas meja hadapannya, setelah pekerjaannya itu selesai barulah ia bersiap-siap untuk pergi dengan Leon.


Sementara di tempat lain, Lily baru saja memberi kabar bahagia mengenai kehamilannya pada kedua orang tuanya. Betapa bahagia sekali Bu Hesti begitu mendengar putrinya tengah mengandung lagi.


"Ibu turut bahagia dengarnya, nak. Semoga bayinya sehat-sehat di dalam sana, kamu juga jaga kesehatan dan jangan sampai stress," pesan Bu Hesti pada Lily yang duduk tidak jauh darinya.


"Kalau ayah bisa milih, ayah ingin sekali cucu laki-laki," sahut pak Tio.


"Laki-laki atau perempuan itu tidak penting, yang penting kan sehat dan tidak kurang apapun," jawab sang istri.


"Itu kan ayah bilang kalau ayah bisa milih, Bu.. Ayah hanya berharap," sahut pak Tio lagi.


"Iya, ayah, Leon juga sama ingin anak laki-laki katanya. Tapi apapun jenis kelaminnya, kami akan tetap terima," ujar Lily.


"Yaaa semoga aja nantinya memang laki-laki," harap pak Tio.


"Oh ya, kamu sudah makan, nak?" tanya Bu Hesti.


"Sudah, tadi aku sebelum ke sini sarapan dulu, kok," jawab Lily.


"Mulai sekarang harus sering-sering makan, ingat kan sekarang ada dua orang dalam tubuh kamu."


"Iya, ibu. Tapi hamil aku sekarang itu gak seperti yang pertama, sekarang lebih ke sering mual kalau nyium bau masakan."


"Iya, ibu paham. Waktu ibu hamil kamu juga begitu, bahkan ibu gak bisa makan nasi selama tiga bulan di trimester pertama. Maunya yang asam-asam semacam rujak."


"Iya tuh ibu kamu dulu waktu hamil maunya aneh-aneh aja, masa ayah tengah malam suruh manjat pohon mangga orang cuma karena alasan ibu kamu ngidam mangga bekas tupai. Ibu yang hamil, ayah yang repot," sahut pak Tio.


Lily tertawa melihat ekspresi ayahnya yang terlihat kesal jika mengingat masa itu, bu Hesti pun ikut tertawa.

__ADS_1


"Ya kan mangga bekas gigitan tupai itu manis banget, ayah. Ibu sering tuh jaman masih gadis mungutin mangga bekas tupai yang jatuh. Manisnya beda, manis banget. Makanya ibu dapat anak yang manis juga seperti putri kita ini," sahut Bu Hesti.


Lily tersenyum mendengar kalimat terakhir sang ibu.


"Terus yang lebih parahnya lagi, nak. Ayah suruh beli asinan Bogor langsung dari daerah Bogor-nya. Untung waktu itu gak jauh dari sini ada yang jualan asinan Bogor, ayah beli aja yang itu. Tapi ayah waktu itu tidur dulu di bangku si pedagangnya, biar lama dan kesannya beneran ke Bogor," kata pak Tio menceritakan tentang dahulu.


"Jadi waktu itu yang ibu makan bukan asinan asli Bogor?"


"Ya bukanlah, ya kali ayah jauh-jauh ke Bogor cuma buat beli satu bungkus asinan aja. Buang-buang ongkos," jawab pak Tio.


"Ih.. Berarti ayah tipu ibu."


"Biarin lah, kan sudah lama ini."


Bu Hesti mencubit lengan suaminya, sementara pak Tio tertawa cekikikan. Lily mengulum senyum melihat betapa hangatnya keluarganya. Memiliki orang tua yang hubungannya sangat harmonis.


"Jadi pesan ayah buat kamu, janganlah ngidam yang membuat suami kamu merasa kerepotan. Ibumu jangan di tiru, ya!"


"Iya, ayah. Insha Allah Lily gak akan repotin suami, tapi kalau Lily repotin ayah, boleh gak?"


"Apalagi itu, SANGAT TIDAK BOLEH!"


"Hehehe.. "


***


Pulang meeting dengan klien, Leon membelikan kue crepes untuk Lily. Sudah lama juga dia tidak membelikan kue kesukaan istrinya. Lily pasti akan sangat senang.


Di perjalanan, Leon mendial nomer istrinya. Menanyakan apakah Lily sudah pulang dari rumah orang tuanya. Ternyata belum. Jadi ia harus pergi dulu ke sana untuk menjemput.


Setelah menempuh waktu hampir setengah jam, Leon sampai di rumah mertuanya.


"Assalamu'alaikum.." Leon memberi salam seraya mengetuk pintu.


Pintu pun terbuka, muncul Lily di baliknya.

__ADS_1


"Mau langsung pulang atau mampir dulu?" tanya wanita itu.


"Pulang langsung saja, ya."


"Oh, ya sudah kalau begitu aku pamit sama ayah ibu dulu."


"Iya."


Leon duduk di kursi yang ada di teras, sementara Lily masuk ke dalam rumah berpamitan pada ayah dan ibunya.


"Mau langsung pulang? Kenapa gak mampir dulu?" tanya Bu Hesti begitu keluar rumah menemui menantunya.


Leon bangun dan mencium punggung tangan ibu mertua. "Lain kali saja ya, Bu. Oh ya, ayah kemana?"


"Ayah lagi mandi."


"Mandi wajib?"


"Eh kok mandi wajib, sih," sahut Bu Hesti tahu jika menantunya itu hanya bercanda.


"Kalau begitu salam untuk ayah, Bu. Kami pamit pulang, ya. Lain kali main lagi kemari," pamit Leon, kembali mencium punggung tangan Bu Hesti.


"Iya, hati-hati, ya."


"Iya, Bu. Aku pulang, ya. Assalamu'alaikum.."


"Walaikumussalaam.."


Lily dan Leon masuk ke dalam mobil, Bu Hesti baru masuk ke dalam rumah setelah mobil menantunya sudah pergi meninggalkan pelataran rumah.


"Astagfirullahaladziim... Ayah..!!" Bu Hesti memekik kaget begitu melihat suaminya berjalan ke kamar tanpa sehelai benang di tubuhnya.


"Ayah lupa bawa handuk," jawab pria paruh baya itu sembari melipir.


Bu Hesi hanya geleng-geleng seraya menghembuskan napas.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2