MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
KANEBO KERING


__ADS_3

Lily mengajak Leon untuk mampir ke rumah orang tuanya yakni pak Tio. Entah kenapa Lily merasa ia harus mengatakan sesuatu pada ayah dan ibunya itu.


"Kalau tahu kalian mau mampir, ibu pasti akan masak lebih banyak," kata Bu Hesti saat mereka sudah duduk berkumpul di ruang tengah.


"Tidak usah repot-repot, Bu. Lagipula kami sudah makan sebelum lanjut jalan kemari," sahut Leon.


"Tapi kan nanti ikut makan lagi, ya," tawar Bu Hesti, Leon dan Lily pun menganggukan kepalanya.


"Ada apa mampir kemari? Tumben," timpal pak Tio yang baru saja muncul habis dari kamar mandi.


"Tidak ada apa-apa, ayah. Aku kangen sama ayah," sahut Lily dan memeluk tubuh ayahnya begitu pak Tio sudah duduk.


"Sama, ayah juga kangen. Tadinya ayah ajak ibu kamu untuk buat anak lagi, eh katanya malu. Padahal kan buatnya gak di tempat umum."


"Hahahaha... Lagian ngapain juga ayah," ujar Lily masih menahan tawa.


"Tahu tuh ayah kamu, nak. Ada-ada aja pikirannya, padahal sebentar lagi juga kan kita mau punya cucu. Ngapain buat anak lagi," timpal Bu Hesti.


"Pokoknya ibu mau anak lagi aja, kalau cucu kan milik mereka, dan di rumah kita tetap kesepian," sahut pak Tio tak mau kalah.


Leon senyum-senyum sendiri melihat begitu akrabnya Lily dengan kedua orang tuanya. Leon jadi merasa, ternyata terlahir di keluarga berada itu tidak menjamin seseorang menjadi anak yang bisa di bilang beruntung. Dan teruntuk kalian yang terlahir di keluarga kurang mampu pun, jangan pernah berpikir kalian ini tidak beruntung. Selama memiliki orang tua yang perhatian, pengertian, kalian harus bersyukur. Sebab di luaran sana banyak juga anak seperti Leon yang merindukan sosok keluarga.


Usai makan malam, Lily membantu ibunya menggoreng pisang. Dan ia hidangkan begitu di meja depan begitu sudah matang. Tak lupa, Lily pun membuatkan kopi untuk kedua pria yang ia sayang.


Setelah selesai, Lily mengajak ibunya untuk ikut gabung berkumpul lagi di ruang tengah.


"Ayah, ibu, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan dengan ayah dan ibu," kata Lily tiba-tiba begitu keheningan menyelinap di antara mereka.


Semua orang merasa penasaran dengan apa yang akan di katakan wanita tersebut, termasuk Leon.


"Katakan saja..!" ujar pak Tio usai menyeruput kopi hitamnya.


"Iya, nak. Bicarakan saja," timpal Bu Hesti, wanita paruh baya itu sudah tidak sabar mendengar apa yang akan di katakan putrinya.


"Memangnya apa yang di katakan olehmu pada mereka?" bisik Leon.


Lily tidak menjawab pertanyaan suaminya, ia menanggapinya dengan senyum sebelum kemudian mengatakan apa yang menjadi tujuannya datang ke rumah tersebut.


Lily berusaha menyusun kata supaya ayah dan ibunya bisa menerima dengan baik apa yang akan ia sampaikan pada mereka, juga tidak sampai menyinggung perasaan Leon.


"Mmm.. Jadi begini, ayah, ibu. Akhir-akhir ini kan rumah tangga aku hampir saja di terpa masalah atas perbuatan teman lama aku itu. Jadi, aku ingin ayah dan ibu ke depannya tidak sampai terprovokasi dengan apapun yang nantinya bisa saja dia katakan tentang sesuatu yang menjelek-jelekan suami aku," ucap Lily berjaga-jaga.

__ADS_1


Pak Tio dan Bu Hesti masih mencerna baik-baik apa yang di sampaikan putrinya barusan. Tetapi Leon langsung paham akan maksud istrinya.


"Kau tidak perlu melakukan itu untuk melindungi aku, sayang.." bisik Leon tepat di telinga Lily.


Lily menggeleng. "Tidak apa-apa, Leon. Aku melakukan ini demi keutuhan rumah tangga kita," jawab Lily juga dengan sedikit berbisik.


"Maksud kamu, kamu takut jika Hiko memperngaruhi kami?" tanya pak Tio memperjelas perkataan putrinya.


Lily pun menganggu membenarkan. "Iya, ayah. Aku takut, dia melakukan berbagai upaya agar tujuannya berhasil. Maka dari itu sekarang aku minta ayah ataupun untuk tidak sampai terpengaruh olehnya. Aku hanya berjaga-jaga saja, takutnya apa yang aku takutkan ini kejadian," sambung Lily.


Pak Tio mengangguk-anggukan kepalanya paham. "Iya, iya mengerti maksud kamu, nak."


"Tapi, menjelek-jelekan bagaimana maksud kamu, nak?" tanya Bu Hesti, sedikit penasaran dengan apa yang putrinya takutkan.


Leon menggeleng memberi kode pada Lily agar tidak melanjutkan kalimatnya. Sebab jika ada sesuatu yang terjadi, Leon siap menanggung semuanya. Tetapi Lily tetap akan maksud dan tujuannya, yaitu melindungi keutuhan rumah tangganya.


"Seperti yang ayah dan ibu tahu, dia pasti akan mengatakan Leon laki-laki yang tidak benar. Hanya karena Leon melakukan satu kesalahan padaku, aku takut jika hal itu bisa di jadikan kesempatan untuk dia menjelekan-jelekan Leon pada ayah dan ibu. Ayah dan ibu paham kan maksud aku?"


"Iya, kamu tidak usah khawatir. Mana mungkin kami akan percaya sama orang yang memang berniat menghancurkan rumah tangga putri ayah," jawab pak Tio.


"Iya, sayang. Ibu dan ayah insha Allah tidak akan terpengaruh oleh apapun yang nantinya Hiko sampaikan pada kami," tambah Bu Hesti.


"Syukurlah kalau ayah dan ibu mengerti apa maksud aku," ucap Lily merasa lega.


Setelah mereka pergi, Bu Hesti masih berdiri di ambang pintu.


"Ayo masuk, Bu. Sudah malam, tidur," ajak pak Tio.


"Ibu tuh merasa ada sesuatu yang memang Lily sembunyikan, maka dari itu dia sampai ketakutan dan meminta kita untuk berjaga-jaga," ucap Bu Hesti.


"Apapun itu, yang terpenting kita tidak boleh sampai terpengaruh dengan ucapan yang keluar dari mulut orang lain. Ayo masuk..!" tutur pak Tio.


Bu Hesti menghembuskan napas. "Iya."


***


Saat ini Leon sedang berada di ruangannya. Tiba-tiba saja Drew masuk setelah beberapa saat ia panggil untuk datang ke sana.


"Bagaimana kondisi ibumu? Sudah membaik?" tanya Leon begitu Drew sudah duduk di sofa single di dekatnya.


"Alhamdulillaah, sudah lebih baik dari sebelumnya meski belum begitu stabil."

__ADS_1


"Ok. Kalau begitu, nanti sore kau bisa temui klien di kafe xxx, ya!"


"Baik, tuan," jawab Drew patuh.


Tidak ada lagi pembicaraan di antara keduanya. Biasanya, setelah itu Drew akan beranjak dan keluar dari ruangannya, tetapi kali ini tidak. Seperti ada yang akan pria itu bicarakan.


"Kenapa?" tanya Leon membuyarkan Drew yang beberapa saat tampak melamun.


"Hm? Tidak ada apa-apa, tuan," sahut pria itu.


"Ya sudah, kalau begitu kau bisa keluar dari ruanganku."


"Mmm.. Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu, tuan," kata Drew terdengar ragu-ragu.


"Apa? Tanyakan saja!"


"Mmm.." Drew terlihat ragu, namun ia merasa harus bertanya. "Gadis yang di rumah tuan itu siapa? Apakah dia-"


"Itu adik sepupuku. Dan kau harus tahu jika aku sudah tidak lagi bermain wanita," pungkas Leon.


Drew menghela napas. Ia pikir jika tuannya mengkhianati istrinya secara terang-terangan.


"Memangnya kenapa? Kau naksir pada adik sepupuku?" cetus Leon.


Dengan cepat Drew menggeleng. "Ti-tidak, tuan."


"Tapi adik sepupu naksir padamu. Kau mau?"


Drew semakin di buat gugup dan salah tingkah.


"Kalau kau mau, nanti aku katakan padanya jika kau masih single. Soalnya saat itu aku bilang kalau kau sudah punya calon istri," imbuh Leon.


"Ak-aku.. Aku kembali ke ruanganku, tuan," pamit Drew.


Pria itu saking salah tingkahnya sampai tidak sengaja tersandung kaki kursi. Leon sampai terkekeh melihat asisten pribadinya yang sangat kaku itu. Padahal memiliki seorang pasangan itu sangatlah menyenangkan.


"Dasar kanebo kering..!"


Bersambung...


...LIKE, KOMEN, VOTE VOTE VOTE. ...

__ADS_1


...Tekan LOVE untuk menambahkan ke rak favorit agar dapat notifikasi ketika bab selanjutnya di publish. ...


^^^Follow juga akun media sosial @wind.rahma^^^


__ADS_2